Nona Galak & Tuan Posesif

Nona Galak & Tuan Posesif
Bab 93 season 2 Part 31 Nolan vs Vivian


__ADS_3

Tanpa Vivian sadari. Lexi, orang suruhan Savero mengawasi setiap gerak geriknya.


Di sisi lain Vivian tampak panik setelah mendapatkan teror berupa surat tanpa ada nama pengirim. Gadis itu tentu saja panik, dan raut wajahnya berubah pucat.


from xx


WANITA MUNAFIK, hidup kamu tak akan tenang setelah ini. Akan kupastikan kau sama menderitanya seperti diriku!!!


Vivian meremas surat itu lalu melemparnya ke tempat sampah. Ke luar suara umpatan dari bibir Vivian. Dia lekas menenggak minuman.


"Kamu harus tenang Vi,mungkin saja itu hanya orang iseng. " ucapnya pada diri sendiri.


Vivian membuang nafas kasar,dia tak akan membiarkan rahasianya terbongkar begitu mudah. Dia harus memang wajah polos di depan keluarga Brighton.


drap


drap


"Ehem,apa yang kau rencanakan? " tanya Nolan dengan nada datarnya.


Vivian tersentak kaget melihat calon adik iparnya menemui dirinya di taman villa keluarga Brighton. Wanita itu menampilkan senyumannya kearah Nolan. "Rencana apa yang kau maksud Nolan,tak lama lagi aku akan menjadi kakak ipar kamu lho. " ujar Vivian.


"Cih queen drama,aku tak akan tertipu dengan muka duamu itu Vivian. " sahut Nolan dengan sinis.


Vivian mengumpat dalam hati.Ingin sekali dirinya menampar Nolan namun dia tahan. Gadis itu terus memainkan sikap manisnya di depan Nolan.


"Kalian berbicara apa? " sahut Erland yang datang menyusul.


"Tak ada kak, aku hanya ingin mengenal lebih jauh calon kakak iparku yang lugu, baik dan ramah. " sindir Nolan dengan senyuman miringnya.


"Kakak senang jika kamu bersikap baik dengan Vivi. " sahut Erland. Nolan hanya berdehem setelah itu mengajaknya duduk. Kedua pria itu mengobrol membahas bisnis. Vivian sendiri hanya diam mengamati keduanya secara bergantian.


Vivian juga sesekali ikut nimbrung dalam pembicaraan Erland dan Nolan.


"Kau tahu,aku seperti memiliki keluarga sendiri semenjak mengenal kalian semua. " ungkap Vivian dengan tatapan sendu.


Nolan hanya diam saja tak menanggapi pernyataan Vivian barusan. Seringai terbit di sudut bibirnya,menatap lurus kearah Vivian.


"Apa kamu pernah membully kak Essie? " tanya Nolan.


"Tentu saja tidak,meski kami tak dekat namun kami berteman baik. " jawab Vivian sambil tersenyum.


"Tapi kak Essie pernah bilang jika kamu pernah membuat masalah dengannya? "

__ADS_1


Deg


Vivian terdiam.Hati wanita itu tampak ketar ketir saat ini namun dia bisa memberikan jawaban yang aman. Erland mengenggam tangan tunangan nya itu. "Sudahlah Nolan,aku percaya dengan Vivian jika dia tak sengaja berkata kasar pada Essie. " sahut Erland.


"Kak Erland,kau yakin jika tunangan polos dan baikmu itu benar benar polos? " seru Nolan dengan senyuman mengejeknya.


"Kakak tak ingin berdebat dengan kamu Nolan,sebaiknya hentikan pembicaraan ini. " tegas Erland.


Erland lekas bangkit dan pergi dari sana.Vivi menatap tajam kearah Nolan kemudian menyusul kekasihnya.


Nolan bangkit,pergi meninggalkan kediaman orang tuanya. Pemuda itu melajukan roda empatnya dengan kencang menuju ke tempat tongkrongan.


Skip


Kafe


"Mau pesan apa mas? " tanya seorang pelayan.


"Aku mau. " Nolan terkejut melihat sosok gadis yang kemarin bertubrukan dengannya sewaktu di pemakaman.


"Stik daging dan kopi. " jawabnya santai. Sang pelayan mengangguk dan segera berlalu.


Beberapa menit kemudian pelayan tadi datang mengantarkan pesanan Nolan. Nolan lekas makan siang lebih dahulu.


"Iya,sekali lagi maafkan sikap saya tempo hari Tuan. " ujar gadis itu yang lekas menyebutkan namanya.


Paula Jean


"Baiklah Lala,masuklah ke mobil. " perintah Nolan. Lala mengangguk dan lekas masuk ke dalam mobil Nolan.Sepanjang perjalanan pria itu terus mengajaknya bicara.


Pemuda itu mengantarkan Lala ke rumah sakit. Keduanya pergi ke ruangan rawat ibu Devita. Mereka segera masuk ke dalam dengan pelan,takut menimbulkan suara berisik.


"Sore Bu. " sapa Lala dengan raut cerianya.


"Sayang kamu pulang sama siapa nak? " tanya Bu Devita dengan nada pelannya.


"Oh ini namanya tuan Nolan Bu, dia yang mengantar Lala ke sini. " jawab Lala.


"Panggil saja Nolan Bu. " sahut Nolan dengan sopan. Bu Devita mengungkapkan terimakasih pada Nolan, yang telah mengantar anaknya ke sini.


Keduanya duduk di kursi. Lila memerhatikan interaksi Ibunya dengan Nolan. Gadis itu hanya diam saja,dia memilih menyuapi sang ibu dengan makanan yang dia bawa.


Selesai menyuapi sang ibu, Lila meminta ibunya kembali beristirahat. Gadis itu memilih ke luar di susul Nolan.

__ADS_1


"Hei kenapa raut kamu murung


Lala? "


"Aku enggak papa kok mas,makasih ya udah nganterin aku ke sini dan sekali lagi aku minta maaf. " sesal Lala.


Nolan merasa gadis di sebelahnya saat ini memiliki masalah. Menurutnya Lala gadis yang lugu, polos dan jujur. Berbeda dengan Vivian yang suka mencari perhatian dari keluarganya.


"Kalau soal biaya,biar aku yang bayar La. " sahut Nolan.


"Tapi saya masih bisa bekerja untuk mendapatkan uang.lagipula mas Nolan kok bisa bisanya mau membantu orang yang baru di


kenal. " ceplos Lala dengan kening berkerut.


Nolan tertawa pelan mendengar ucapan polos dari Lala. Tangannya terangkat mengacak acak rambut Lala. Lala mencebikkan bibirnya, menepis pelan tangan Nolan.


Pemuda itu menghentikan tawanya.Dia pun mengungkapkan apa yang dia rasakan saat ini termasuk saat kehilangan sang kakak.


"Kalau pengen nangis,nangis saja mas. Lagipula nangis gak bayar


kok. " ceplos Lala.


Nolan kembali tertawa dengan celetukan Lala. Dia cukup terhibur dengan sikap ceria yang di tunjukkan Lala. Keduanya kembali mengobrol hingga hingga hal random mereka bicarakan.


Satu jam berada di sana,Nolan lekas pamit pulang pada Lala dan ibunya.Setelah kepergian Nolan, dia kembali ke ruangan sang ibu.


Ibu Devita memperhatikan raut wajah putrinya. Wanita paruh baya itu bernafas lega melihat sang anak kembali ceria.


"Nak, setelah ibu sembuh kita pergi ke makam bapakmu ya. " pinta Ibu Devita pada putrinya.


Lala mengangguk patuh. Gadis itu selalu berusaha untuk menyenangkan sang ibu tercinta.


Sementara Nolan telah kembali ke Villa Brighton. Dia bersiul ringan memasuki Villa, mengabaikan daddy dan kakaknya yang tengah bersama Vivian.


dia menghentikan langkahnya, menoleh ke samping dengan senyuman tipis. "Daddy dan kak Erland sudah melakukan kesalahan satu kali.Aku harap kalian tak melakukan kesalahan lagi hanya karena wajah polos seseorang. " sindir Nolan.


Vivian tentu saja menunduk, meremas gaunnya.Erland kembali membelanya dari pada mempercayai ucapan adik bungsunya.


"Its okey, drama picisan ini pasti akan ketahuan kelak. " Nolan berlalu begitu saja menghiraukan panggilan dari kakaknya. Erland mendengus pelan, melihat tingkah menyebalkan adiknya.


"Nolan benar benar keterlaluan


Dad. " protes Erland.

__ADS_1


"Tahan emosi kamu son, lagipula belum tentu yang di maksud Nolan adalah Vivi? " cetus Daddy. Vivi sendiri merasa jengkel dan semakin membenci Nolan.Tentu saja dia tak akan tinggal diam.


__ADS_2