
Malam harinya Morgan mendapat undangan dari salah satu koleganya. Tentu saja pria itu mengajak sang istri tercinta.
Kini mereka telah sampai di sebuah hotel megah. Morgan dan Zarina turun dari mobil, pria itu merangkul sang istri dan membawanya ke dalam.
Mereka langsung menemui Tuan Haidar. Morgan menjabat tangan kliennya itu dengan senyuman tipisnya.
"Terimakasih telah hadir dalam pesta saya tuan Morgan. " ujar Tuan Haidar sambil tersenyum.
"Sama sama tuan, oh ya perkenalkan ini Zarina istri saya. " ungkap nya.
Zarina memperkenalkan dirinya dengan sopan. Dia kembali diam, mendengarkan obrolan sang suami bersama tuan Haidar. Wanita itu membisikkan sesuatu di telinga sang suami.
Morgan tentu saja memberikan izin, dia sangat tahu jika istrinya tak suka dengan pesta seperti ini. Zarina pun lekas pergi ke sudut ruangan.
Wanita cantik itu mengambil minuman sebentar setelah itu pergi ke toilet. Tanpa dia sadari ada yang mengikutinya dari belakang.
Setelah puas Zarina ke luar dari toilet dan terkejut.
"Kau? " ujar Zarina dengan wajah datar nya.
"Halo manis. " Davian bersiul menatap penampilan seksi gadisnya. Pria itu kembali mendekatinya, langsung mendukung tubuh Zarina.
Zarina tentu saja memberontak, wanita itu kembali menendang masa depan Davin dengan keras.
"Pria gila. " umpatnya seraya pergi dari sana. Zarina tampak panik, dia langsung menghambur ke pelukan sang suami.
Morgan tampak kebingungan, dia memeluk pinggang sang istri dengan posesif.
"Ada apa sayang? "
"Davian hendak melecehkan aku boo. " ungkap Zarina takut. Morgan membulatkan mata, pria itu melepaskan istrinya kemudian pergi ke toilet.
Bug
bug
Morgan tampak mengamuk, dia memukuli Davian kemudian menyeretnya hingga ke tengah ruangan.
Bruk Pria itu menghempaskan tubuh Davian dengan keras. Semua orang bertanya tanya dengan kejadian apa yabg terjadi.
"Pria si4l4n ini berniat melecehkan istriku. " geram Morgan. Semua orang terkejut mendengar pengakuan Morgan. Dia kembali menghajar Davian, melampiaskan kemarahannya. Tuan Haidar langsung menarik Morgan, berusaha menenangkannya.
__ADS_1
"Tenangkan diri Anda Tuan Morgan. Mengenai Tuan Davian, sepertinya kerjasama saya dan pria itu akan saya hentikan. " ujar Tuan Haidar.
Morgan menghela nafas panjang, dia langsung menenangkan sang istri. Pria itu menoleh kearah rekan kerjanya.
"Ya saya akan mengakhiri kerjasama saya dengan Davian. Saya tak akan sudi memiliki partner bisnis yang tak bisa menghargai wanita. " cetus Tuan Haidar.
Davian sendiri membulatkan mata mendengar pernyataan Tuan Haidar barusan. Dia lekas bangun, berusaha memohon pada Tuan Haidar. Morgan sendiri tersenyum miring, dia tak perlu bersusah payah menyingkirkan pria brengshake di depannya ini.
Morgan mengajak istrinya dan Tuan Haidar memilih tempat yang nyaman untuk mengobrol. Davian kini menjadi buah bibir di kalangan pengusaha lainnya.
"Maafkan saya Tuan Haidar, karena saya pesta anda berantakan. " ucap Zarina canggung.
"Sudahlah nak, kalian tak salah. Sudah sejak lama saya muak dengan kelakuan Davian. Dia terkenal dengan pria mata keranjang dan memiliki beberapa aib yang
tersebar. " ujar Tuan Haidar.
Morgan dan Zarina hanya diam saja tak menanggapi pembahasan mengenai Davian. Setelah beberapa jam di sana keduanya langsung pamit pulang.
Pasutri itu ke luar dari hotel, Morgan menyuruh istrinya masuk ke dalam mobil. Pria itu mengambil ponselnya kemudian menghubungi Charles.
"Cari aib Davian kemudian sebarkan ke sosial media. " ujar Morgan dengan kejam.
Setelah menyimpan ponselnya, Morgan masuk ke mobil dan melesat kencang.
Tiba di Villa, keduanya lantas masuk ke dalam dan pergi ke kamar. Selesai mengganti pakaian, keduanya langsung beristirahat di atas ranjang.
Mentari pagi membiaskan sinarnya. Pasangan suami istri ini telah selesai dengan aktivitas paginya. Kini mereka berdua di ruang tamu sekarang. Morgan sengaja tak masuk ke kantor, demi menemani wanitanya yang tak ingin di tinggal.
"Sayang, lihat berita panas mengenai Davian menyebar ke mana mana." ungkap Zarina pada sang suami.
"Ini salah satu hadiah terindah untuk pria brengshake itu baby. " sahut Morgan dengan santai. Zarina menoleh, wanita itu menatap suaminya dengan curiga.
Morgan hanya tersenyum santai, pria itu justru mencuri ciuman di bibir Zarina. Zarina menggeleng pelan, dia sangat tahu ini pasti ulah suaminya.
"Kenapa apa kamu tidak tega
baby? " tanya Morgan memancing.
"Buat apa. Lagipula Davian pantas mendapatkan ini semua. Aku sudah muak dengan tingkah lakunya itu. " ketus Zarina.
"Oke mama, jangan marah marah. " kecup Morgan di pipi wanitanya. Zarina kembali memakan saladnya dengan tenang.
__ADS_1
Wanita hamil itu diam saja saat suaminya menciumi dirinya di mana pun. Morgan sendiri asyik mengusap perut wanitanya dengan penuh kasih sayang.
"Aku tak sabar menantikan perutmu membuncit. " bisik Morgan.
Zarina kembali menoleh, dia pun mengusap kepala sang suami seraya tersenyum tipis. Dia kembali duduk membelakangi Morgan, tangannya menyentuh tangan kekar prianya.
"Mommy, Daddy. " Ravella turun dari kamar menghampiri orang tuanya. Gadis manis itu duduk di sebelah orang tuanya.
"Kenapa sayang? " tanya Zarina lembut pada putri sambungnya.
"Oma dan opa mengajakku liburan ke negara K setelah pesta pernikahan mommy dan daddy
nanti. " ungkap Ravella. Morgan dan Zarina tentu saja terkejut. Setelah keduanya berdiskusi, mereka memberikan izin.
Zarina menghela nafas panjang, dia mencium kening putrinya dengan lembut. Dia tentu saja bahagia melihat putrinya terlihat sangat ceria.
Tak lama Mommy Amelia dan Daddy Kenzo datang. Ravella langsung menghampiri oma dan opanya itu. Morgan membiarkan orang tuanya pergi membawa sang anak.
"Villa akan sepi jika Ravella jauh dari kita boo. " gumam Zarina.
"Masih ada aku sayang yang bisa membuat kamu bahagia dan puas dalam hentak hujam. " bisik Morgan mencium telinga sang istri.
Zarina langsung mencubitnya, Morgan hanya tertawa pelan. Pria itu sepertinya sangat suka menjahili istrinya sendiri. Wanita cantik itu hanya bisa mendengus pelan, bisa bisanya suaminya selalu berpikiran kearah itu terus.
Obrolan keduanya semakin absurd dan random. Zarina tertawa pelan dengan ucapan konyol sang suami. Wanita itu membalik tubuhnya, mencium gemas bibir Morgan.
"Sayang mengenai kuliah aku gimana? " tanya Zarina pelan.
Morgan menghela nafas panjang, menyingkap rambut sang istri ke belakang telinga. Pandangan mereka bertemu, saling mengunci satu sama lain.
"Besok kamu bisa kuliah lagi dengan tenang. Tak akan ada hama yang menganggu kamu. " ujar Morgan.
"Selain itu aku akan menyuruh dua bodyguard untuk mengawalmu sayang. "
Zarina sontak membulatkan mata mendengar pernyataan suaminya barusan. Wanita hamil itu berniat protes namun Morgan menggeleng pelan.
"Jangan membantah sayang, ini demi keselamatan kamu dan calon baby kita. " tegas Morgan. Zarina hanya bisa pasrah kala suaminya sudah memutuskan sesuatu.
Cup
Morgan membawa istrinya ke dalam pelukan. Keduanya menikmati momen momen berdua mereka.
__ADS_1