
Morgan kembali datang ke mansion keluarga Romanov. Pria itu langsung menyerahkan buket bunga mawar pada sang pujaan hati. Zarina tentu saja menerimanya, gadis itu langsung menyimpan bunga pemberian Morgan.
"Kita ngobrol di belakang saja. " Zarina berlalu pergi, Morgan mengikutinya hingga ke belakang.
Keduanya duduk di sebuah sofa. Morgan menggenggam tangan Zarina, menatap gadis pujaan nya itu dengan tatapan penuh damba. Zarina tampak salah tingkah, berusaha menyembunyikan kegugupannya.
"Will you be my girlfriend Zarin? " tanya Morgan tanpa basa basi.
Zarina terkejut dengan permintaan Morgan barusan. Dia melihat jika pria di depannya tampak serius dan tak main main.
Beberapa menit berlalu, diapun mengangguk sebagai jawaban. Morgan langsung menariknya ke dalam dekapannya. Zarina membalas pelukan Morgan, diam dian gadis itu tersenyum tipis.
"Kenapa setiap bersama kamu, aku selalu nyaman dan aman Morgan. " batin Zarina.
Gadis itu melepaskan pelukannya. Dia telah memikirkan semuanya, mencoba memberikan kesempatan dan menjalin hubungan dengan Morgan. Morgan memeluknya dari samping, menarik dagu gadisnya kemudian menciumnya lembut.
Zarina terkejut, dia membalas ciuman sang kekasih. Pria tampan itu mengakhiri ciumannya setelah mereka sama sama hampir kehabisan nafas.
Gadis itu tentu saja merasa malu, merutuki kebodohannya. Morgan tersenyum melihat rona merah di pipi kekasihnya.
"Now, you are my girlfriend! " tegas Morgan.
"Tak perlu mengulangnya lagi Tuan Duda. " ketus Zarina. Morgan tersenyum geli mendengar julukan dari sang kekasih. Pria itu langsung menciumnya lagi dan lagi, tak membiarkan bibir manis itu memberontak lagi.
Zarina merasa pusing menghadapi duda tampan yang menyebalkan ini. Terdengar suara helaan nafas panjang ke luar dari bibirnya. Dia kembali membenamkan kepalanya di dada bidang Morgan.
Morgan mengeratkan pelukannya, bibirnya tak henti hentinya melengkung membentuk senyuman samar.
Dering ponsel menyita perhatiannya. Pria itu melepaskan pelukannya, lalu merogoh ponselnya dari dalam saku celana. Terdengar suara decakan pelan dari bibir Morgan.
Tut
Pria itu langsung memilih tombol merah kemudian menyimpannya dalam saku lagi. Zarina mengerutkan kening, dia penasaran dengan siapa yang menghubungi Morgan.
__ADS_1
"Siapa? "
"Hanya orang gila. " jawab Morgan dengan malas. Zarina berdecak pelan, bibir gadis itu mengerucut pelan. Morgan tak menyiakan kesempatan, pria itu kembali menciumnya dengan mesra.
Duda tampan itu menjauhkan wajahnya, pria itu mengungkapkan telah memiliki villa baru tempat untuk dirinya dan Zarina menikah dan hidup bersama kelak. Zarina tentu saja terkejut dengan pemikiran Morgan yang begitu jauh.
Dia ingin sekali membantah ucapan Morgan namun gadis itu mengurungkan niatnya. Lagipula diapun hanya perlu memberikan kesempatan untuk Morgan. Morgan mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya.
Pria tampan itu menarik tangan gadisnya kemudian menyematkan cincin ke jari Zarina. Zarina membulatkan mata mendapati cincin tersemat di jarinya.
"Maksud kamu apa Morgan, kenapa kamu membelikan aku cincin? " tanya Zarina penasaran.
"Ini hadiah kecil dariku untukmu. " ungkap Morgan sambil tersenyum. Pria itu mencium tangan kekasihnya dengan penuh kelembutan. Zarina tampak salah tingkah kala manik cokelatnya bertemu dengan manik kelam milik Morgan.
Gadis itu begitu gugup, apalagi degup jantungnya kian berdebar kencang kala berdekatan dengan Morgan. Zarina berusaha menyangkal rasa asing itu, dia tak ingin di kecewakan oleh seorang pria lagi.
"Aku takut kecewa lagi Morgan, aku hanya ingin mencintai pria yang tulus padaku tanpa ada nafsu di dalamnya. Hal berhargaku hanya aku serahkan pada suamiku kelak nantinya. " ungkap Zarina.
"I know, aku memang benar benar menginginkanmu Baby girl. " ungkap Morgan dengan tatapan seriusnya.
Keduanya lekas masuk ke dalam mansion. Morgan ikut makan malam dengan keluarga Zarina. Kini mereka berkumpul di meja makan, Zarina melayani Morgan layaknya suami istri.
"Kalian sudah cocok jadi suami istri. " ceplos nyonya Hera pada anak dan calon menantunya.
"Ish mommy, aku masih kuliah. " protes Zarina.
"Oh ya kapan, kalian berangkat liburan nya sayang? " tanya Mommy pada putrinya.
"Besok mom. " balas Zarina yang di angguki Mommy Hera.
Setelah itu mereka berempat makan malam dengan tenang tanpa ada obrolan apapun. Lima belas menit berlalu selesai makan malam, Morgan lekas pamit pulang.
Zarina bangkit, dia berinisiatif mengantarkan Morgan hingga ke depan.
Di luar mansion
__ADS_1
Morgan kembali memeluknya. Pria itu menciumnya lagi seakan tak ada puasnya. Dia mengakhiri ciumannya, menatap lekat wajah cantik gadis pujaan nya.
"Rasanya berat, berpisah dari kamu baby. " gumam Morgan. Zarina tertawa mendengar ucapan konyol dari Morgan barusan. gadis itu langsung mencubit hidung mancung dari Morgan.
Dia menarik tubuh sang kekasih kemudian memberikan kecupan manis di bibir Morgan. Morgan tercengang, dia tak menyangka jika Zarina bisa bertindak nakal.
"Pulanglah, bukankah kamu sudah mendapat vitamin c dari aku. " ucap Zarina sambil tersenyum manis.
Gadis itu lekas berbalik dan masuk ke dalam Mansion. Morgan terkekeh, pria itu mengusap wajahnya. Dia lantas masuk ke mobilnya dan melesat pergi.
Sementara di dalam kamar, Zarina menyentuh bibirnya. Dia merutuki kebodohannya, bagaimana bisa dia begitu nakal seperti tadi. Gadis itu menggelengkan kepalanya, dia menaruh ponselnya di atas meja kemudian pergi ke kamar mandi.
Selesai cuci muka Zarina lantas naik ke atas ranjang kemudian mengambil bukunya. Dia menatap cincin yang tersemat di jarinya saat ini.
"Bagaimana aku bisa menahan diri jika sikap kamu begitu manis dan gentle terhadapku Morgan. " gumam Zarina sambil tersenyum.
Huh
Gadis itu memilih fokus pada buku novelnya. Dia tampak serius, namun di sela sela kegiatannya itu. Zarina terbayang perlakuan Morgan padanya. Diapun menepuk jidat nya, kembali melanjutkan membacanya.
Setelah beberapa menit Zarina menaruh bukunya bersamaan dengan ponselnya yang berbunyi. Gadis itu langsung saja meraih ponsel canggihnya itu dengan cepat.
"Morgan. " gumamnya sambil tersenyum.
Zarina lantas mengalihkan obrolan menjadi video call. Dia sibuk mengobrol dengan Morgan, terdengar canda tawa di antara mereka. Gadis itu juga mengucapkan selamat malam yang di balas oleh Morgan.
"Kau sudah mengantuk baby? " tanya Morgan.
"Belum. Aku baru membaca buku novel tadi. " jawab Zarina sambil tersenyum. Dia hanya diam saja saat Morgan mengomelinya.
Gadis itu begitu menghargai setiap perhatian yang di berikan Morgan padanya. Zarina bisa merasakan ketulusan dari sikap Morgan. Dia berharap memang Morgan adalah takdirnya.
Zarina terlanjur nyaman berada di dekat Morgan meski mereka terbilang baru saling mengenal satu sama lain. Diapun mengakhiri panggilan videonya dengan Morgan dan kembali menaruh ponselnya pada tempatnya.
"Terimakasih telah hadir dalam hidup aku Morgan. " ucapnya. Dia kini berbaring di atas ranjang dengan selimut menutupi tubuhnya. Zarina segera memejamkan kedua matanya.
__ADS_1