Nona Galak & Tuan Posesif

Nona Galak & Tuan Posesif
Bab 111 Season 3 Part 15


__ADS_3

Tepat malam harinya di mansion yang di tempati Vivian. Wanita itu asyik makan malam dengan putra kecilnya yang tampan.


"Mama, kapan aku bisa bertemu dengan adik bayi? " tanya Kenzo dengan polosnya.


"Nanti ya sayang setelah pernikahan mama dan papi Theo selesai. " ucap Vivian dengan halus. Kenzo mengangguk setuju, selain tampan dia juga anak laki laki yang manis dan penurut.


Usai makan malam, Kenzo beranjak dan pergi ke kamarnya lebih dulu. Vivian sendiri membereskan meja makan. Setelah cuci piring dia pergi ke kamar sang anak dan membacakan dongeng untuk Kenzo.


Tiga puluh menit berlalu, Vivian segera kembali ke kamarnya. Dia meraih ponselnya, keningnya berkerut melihat nomor asing mengirim pesan padanya.


"Erland? "


Wanita itu tentu saja terkejut, dia masih tak menyangka jika mantan suaminya menghubungi dirinya. Vivian memilih tak menjawab pesan berisi cacian dari Erland.


"Untuk apa dia menghubungi aku, pakai bawa bawa Anyelir segala


lagi. " dengus Vivian.


Vivi memilih menghapus pesan tak penting itu. Dia lekas merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Wanita itu begitu merindukan bayi cantik yang dia lahirkan beberapa waktu lalu.


Wanita cantik lekas memejamkan kedua matanya.


Keesokan hatinya, Vivian sarapan bersama dengan sang putra tercinta. Suara ketukan pintu membuat wanita itu terpaksa beranjak dari duduknya.


Pintu terbuka, kedua matanya membulat sempurna melihat sosok yang dia jauhi. Vivian segera menutup pintunya dengan cepat namun terlambat. Erland berhasil menahannya, pria itu lekas masuk ke dalam mansion.


"Untuk apa kau ke sini? "ketus Vivian.


Erland hanya diam saja, pria itu memperhatikan penampilan sang mantan. Vivian memilih berlalu, bergabung bersama sang anak. Erland sendiri menatap anak kecil di dekat Vivian.


"Kau tak mengizinkanku makan? " tanya Erland.


Vivian hanya diam saja. Dia justru sibuk makan begitu juga dengan Kenzo. Usai sarapan dia mengajak anaknya ke luar. Erland mendengus kesal melihat dirinya di abaikan. Pria itu menyusulnya hingga ke luar.


Vivian langsung memeluk Theo yang datang menjemputnya. Wanita itu enggan menatap kearah Erland mantan suaminya.

__ADS_1


"Jadi begini kelakuan kamu Vi, meninggalkan anak kamu sendiri? " sarkas Erland dengan tatapan sinisnya.


Theo meminta Kenzo masuk ke mobil lebih dulu. Vivian mengusap wajahnya kasar lalu menoleh ke samping.


"Apa kau lupa dengan perjanjian yang kau buat. Aku merelakan bayi yang aku kandung dan lahirkan untuk kamu rawat bersama calon istrimu kelak. " ujar Vivian.


"Anda tak perlu terus menerus mencari kesalahanku. Saya tak berniat menganggu kehidupan Anda, tapi kenapa anda justru datang kemari? "


"Kau hanya perlu membenciku sampai kamu meninggal nanti. " tegas wanita itu.


Theo menggenggam tangan calon istrinya. Setelah merasa urusan selesai dia lekas mengajaknya pergi. Erland sendiri mengepalkan tangan melihat kedekatan Vivian dengan Theo.


"Kau memang tak pantas menjadi ibunya Anyelir. " teriak Erland. Vivian sama sekali tak peduli dengan ucapan Erland mengenai dirinya.


Erland lantas masuk ke mobil, dia memilih pergi dengan membawa kemarahan dan kekecewaan. Pria itu merasa bingung dengan dirinya sendiri.


Setelah mengantar Kenzo ke sekolahnya, Theo menepikan mobilnya di jalan. Pria itu menoleh, menggenggam tangan calon istrinya.


"Jangan dengarkan omongan Erland, kau wanita dan ibu yang luar biasa Vi! "


Setelah tenang dia baru melepaskan pelukannya. Theo memakai kembali sabuk pengaman dan menjalankan mobilnya. Vivian memejamkan nata sejenak. Dia perlu menenangkan diri saat ini, Theo pun membiarkannya.


Setelah terjadi hal seperti tadi, Theo memutuskan menikahi Vivian di gereja hari ini juga. Dia telah menyiapkan segalanya jauh jauh hari. Kini keduanya telah resmi menikah, saat itu pasangan itu tengah mengucap janji suci dan juga menyematkan cincinnya.


Usai menikah sore harinya, Theo dan istrinya segera menjemput Kenzo lalu mengajaknya pindah ke penthouse.


"Mulai sekarang kamu dan mama akan tinggal bersama papa, boy. " ucap Theo pada Kenzo.


"Yeay, sekarang Kenzo punya orang tua yang lengkap, " pekiknya dengan antusias. Theo dan Vivian tersenyum melihat keceriaan yang di tampilkan Kenzo.


Mereka semua lekas naik ke lantai dua. Vivian pergi ke kamarnya lebih dulu, dia membiarkan sang suami membantu sang anak mengganti pakaiannya.


Vivian sendiri telah mengganti pakaiannya. Wanita itu tampak masih bersedih mendengar ucapan Erland yang menyakitkan. Dia hanya bisa menahan kesedihannya seorang diri. Dia ingin sekali memeluk dan menggendong putri kecilnya.


"Mama merindukan kamu sayang, bayi cantik mama. " gumam Vivian.

__ADS_1


Theo datang menyerahkan selembar kertas pada sang istri tercinta. Vivian melihatnya dalam diam kemudian mengambilnya.


"Itu nomor tante Zarina, mantan mertuamu. " ujar Theo.


"Thanks you. " Vivian lekas memeluk sang suami. Theo membalasnya dengan senyuman. Vivian sendiri segera menyimpan nomor ibu mertuanya.


Tak lama dia mulai menghubungi mantan mertuanya. Kini keduanya saling bertukar kabar satu sama lainnya. Vivian langsung menanyakan perihal si kecil Anyelir. Beberapa menit berlalu dia mengakhiri pembicaraan dengan mommy Zarina. Tak berselang lama mantan mertua mengirimkan beberapa photo Anyelir.


"Wajahnya sangat mirip dengan kamu, Vi! " celetuk Theo.


"Ya kau benar Theo. " balasnya dengan senyuman sumringah. Bibirnya tak henti hentinya melengkung membentuk senyuman samar melihat foto bayi cantiknya.


Vivian menghela nafas lega, dia menaruh ponselnya di atas meja. Wanita cantik itu memeluk suaminya, dia merasa beruntung bisa mengenal Theo dalam hidupnya. Dia juga tak berhenti mengumamkan kata terimakasih.


Dia melepaskan pelukannya, lalu mereka ke luar dari kamar. Vivian turun ke bawah lebih dulu dan pergi ke dapur.


Theo sendiri mengajak Kenzo ke ruang tengah dan bermain game di sana. Beberapa menit berlalu, Vivian kembali dan menaruh camilan yang dia bawa di atas meja.


"Mama, tadi pagi siapa uncle yang berbicara dengan mama itu? " tanya Kenzo.


"Dia teman lama mama sayang. " balas Vivian sambil tersenyum. Dia terpaksa berbohong pada sang anak.


Vivian bernafas lega setelah putranya tak lagi bertanya mengenai Erland. Dia memilih menyesap teh yang dia buat sendiri, sementara untuk sang anak dia buatkan jus.


"Theo, tolong selidiki darimana dia tahu keberadaanku! " ujar Vivian.


"Kamu tenang saja sayang, aku sudah meminta bodyguard untuk berjaga. " balasnya dengan santai. Vivian mengangguk, dia telah berjanji tak akan memunculkan dirinya di depan Erland dan keluarga Brighton.


Wanita itu berharap kelak, dia bisa bertemu dengan putri kecilnya yang cantik jelita itu. Lagipula jika dia kembali ke sana, Erland pasti marah dan mencaci makinya lagi.


Theo menggenggam tangannya membuat Vivian tersentak. Dia kembali meminum tehnya lalu menaruhnya di atas meja.


"Oh ya Theo, aku berniat mencari pekerjaan. Bagaimana menurut kamu? " tanya Vivian.


"Tak perlu, biar aku saja yang bekerja sayang. " goda Theo sambil mengedipkan sebelah matanya. Vivian hanya tertawa melihat aksi suaminya barusan.

__ADS_1


__ADS_2