
Daddy Morgan tentu saja syok setelah mendapat kabar dari polisi. Hati pria paruh baya itu hancur setelah mobil putrinya tertabrak dan terbakar.
"Lalu bagaimana keadaan putri saya pak? " tanya Daddy dengan nada bergetar.
"Korban sepertinya di bawa ke rumah sakit. " ungkap polisi.
Daddy mengajak anak dan menantunya langsung menyelusuri seluruh rumah sakit terkenal di sana.
Beberapa jam berlalu, mereka telah menyelusuri rumah sakit. Daddy Morgan tampak kacau setelah mengetahui putrinya di nyatakan meninggal oleh dokter. Erland sendiri juga merasakan hal sama, dia menyesali sikapnya yang akhir akhir ini selalu memojokkan Essie.
Vivian datang menemui calon tunangannya. Dia memberikan support untuk Erland dan keluarga calon tunangannya itu. Tanpa mereka sadari dia tengah tersenyum
miring.
"Sabar ya sayang, biarkan Essie tenang di atas sana. " ujar Vivian dengan senyum penuh kepalsuan.
Erland lekas memeluknya dengan erat. Tak lama Ravella dan mommy datang menyusul, mereka menangis dalam pelukan prianya masing masing.
"Sebenarnya apa yang terjadi Daddy, bagaimana bisa Essie kecelakaan? " tanya Mommy dengan sesegukan.
"Ada yang menabraknya dari belakang mommy, tapi daddy belum bisa menemukan pelakunya. " sesal Daddy Morgan.
Suara tangisan mereka begitu menyayat hati. Namun berbeda dengan Vivian yang justru senang akan kabar kematian calon adik iparnya tersebut.
"Enggak, Essie pasti masih hidup. Enggak mungkin dia ninggalin kita. " pekik Ravella. Wanita hamil itu begitu sayang pada adik adiknya terutama Esther.
Ravella langsung lemas, River tentu saja panik melihat istrinya tak sadarkan diri. Pria itu lekas membopong sang istri dan membawanya ke ruangan lain. Mommy sendiri dan suaminya tampak tak percaya dengan kabar kematian sang anak.
Wanita paruh baya itu seakan merasa dejavu. Dia tak bisa menahan rasa sesak dalam dirinya. Air matanya terus mengucur deras membasahi pipinya.
Dia melepaskan pelukan sang suami. Wanita itu tampak menyalahkan suami dan putranya.
"Karena daddy, putri kita pergi. Seharusnya daddy tak egois dan tak mendiamkan putri kita seperti kemarin. " sentak Mommy emosi. Dia yang paling terluka karena harus kehilangan putri kesayangannya.
Mommy juga menoleh, dan menatap tajam kearah Erland. "Kau sudah puas Erland, beberapa hari ini kau terus menyudutkan adik kamu atas apa yang terjadi padanya? "
"Untuk apa kau menangis nak, bukankah harusnya kau senang adikmu telah tiada. Kau terus mencaci makinya seakan dia aib? " amuk Mommy Zarina.
Huhu
__ADS_1
Wanita paruh baya itu memukul bagian tubuhnya yang terasa nyeri dan sesak. Si bungsu Nolan tentu saja ikut sedih dan menangis, dia langsung menarik sang mommy ke dalam pelukannya.
"Nak, mommy sakit hati dan tak terima atas kepergian kakak kamu. " gumam Mommy tersedu sedu.
"Menangislah mommy, kita semua kehilangan sosok ceria Essie dalam hidup kita. " ungkap Nolan dengan lirih.
Daddy Morgan hanya bisa menyesali semuanya. Dia menatap sendu kearah sang istri yang tampak marah padanya. Erland sendiri memilih pergi dari sana bersama Vivian. Tak kuasa mendengar tangisan ibu tercintanya.
Sore harinya
Kini mereka semua berada di pemakaman. Mommy menangis dalam pelukan anak bungsunya. Setelah cukup lama di sana, Nolan lekas membawa sang mommy pulang meninggalkan daddy mereka.
Daddy Morgan sendiri meminta maaf, pria itu menangis atas sikapnya kemarin pada putrinya. Seandainya dia bisa memutar waktu, dia pasti akan memaafkan sang anak begitu cepat.
Skip
Villa
Mommy Zarina mengurung dirinya di dalam kamar. Wanita itu juga sering menangis, meratapi kepergian putrinya. Ravella dan lainnya terus berusaha membujuknya untuk makan atau ke luar. Hanya Nolan yang bisa membujuk sang mommy.
"Daddy akan membujuk mommy. " ujar Daddy Morgan.
"Jujur aku kecewa sama daddy dan kak Erland yang egois. " ungkap Nolan yang berlalu pergi. Daddy tampak tertampar dengan kalimat yang di ucapkan sang anak. Pria paruh baya itu kembali duduk di sofa dengan gelisah.
Ravella sendiri tak mengatakan apapun. Wanita hamil itu bersandar di tubuh suaminya. Dia berusaha merelakan kepergian adiknya meskipun berat, terlebih saat ini sedang hamil.
River berusaha menenangkan sang istri, memberi dukungan pada Ravella. Dia usap perut buncit sambil mencium pelipis wanitanya.
"Daddy ke kamar dulu nak. " River mengangguk, menatap kepergian sang mertua. Dia kembali fokus pada istri tercintanya.
"Kenapa keluarga kita terpecah belah kayak gini sayang. Aku merindukan kehangatan keluarga seperti dulu. " gumam Ravella.
"Selama ini kami tak pernah bertengkar hebat seperti sekarang. " keluh Ravella. River tentu saja merasakan apa yang tengah di rasakan istrinya saat ini.
Ravella membuang nafas berat, berusaha mengontrol dirinya agar tetap tenang. Dia sangat berharap adiknya masihlah hidup. River sendiri mencium kembali kening istri tercintanya.
"Tenangkan dirimu dan relakan kepergian Essie, sayang. Ingat saat ini kamu sedang hamil, jangan sampai kamu stress dan berakibat pada calon anak kita. " tegur River.
"Iya hubby maafkan aku. " ungkap Ravella. River lekas bangkit, mengajak istrinya menuju ke kamar.
__ADS_1
Di dalam kamar
Mommy Zarina memandangi photo Essie dengan tatapan sendunya. Wanita paruh baya itu begitu kehilangan sosok putri kesayangannya setelah Ravella.
"Kenapa kamu pergi begitu cepat nak. " ungkap Mommy Zarina dengan kecewa.
"Mommy ingin melihat kamu menikah dan bahagia. " gumamnya pelan. Wanita itu membuang nafas berat, berusaha menahan rasa sesak dalam dadanya.
Dia berharap semua ini hanyalah mimpi belaka. Mommy Zarina kembali menangis tersedu sedu di dalam kamarnya.Wanita itu memeluk photo sang anak dengan erat. Dia merasa telah gagal menjadi seorang ibu untuk anak anaknya.
tok
tok
"Mom, Daddy ingin bicara sama kamu. "
Mommy hanya diam saja, tak menanggapi ucapan suaminya. Wanita itu terus meraung, menangis memanggil nama Essie berulang kali.
Terdengar suara ketukan pintu berulang kali yang di lakukan Daddy Morgan. Mommy Zarina terlanjur kecewa dengan sang suami. Ego suaminya membuat dirinya kehilangan sang anak untuk selamanya.
"Mommy sayang sama kamu Essie, maafin mommy nak. "
Beberapa saat kemudian tak lagi terdengar suara ketukan pintu. Wanita itu memilih berbaring di atas ranjangnya sambil memegang photo Essie.
Di belahan negara lain
Essie terbaring di sebuah ranjang pasien. Tak ada siapapun yang menemani wanita itu di dalam ruangannya. Tanpa sadar dia meneteskan air mata di sudut matanya.
Keadaan Essie masihlah tetap sama, dalam keadaan koma.Entah sampai kapan wanita itu akan betah dalam tidur panjangnya?
Cklek
Savero memasuki ruangan kekasih hatinya. Hatinya mencelos melihat keadaan Essie yang tetap sama. Pria itu duduk di dekatnya, tangannya mengenggam erat tangan Essie.
"Aku akan selalu menunggu kamu sayang sampai kamu sadar setelah itu kita akan menikah. " ujar Savero.
"Oh ya aku akan membalas perbuatan orang yang telah membuat kamu koma. " desis Savero dengan tatapan tajam.
Essie masih betah memejamkan mata sampai sekarang. Savero sendiri terus mengajaknya bicara tanpa henti.
__ADS_1