
Malam harinya Erland dan Sachi menghadiri sebuah pesta. Pesta itu di adakan di sebuah hotel. Di sana dia mengenalkan calon istrinya pada teman temannya yang hadir.
"Aku merasa tak nyaman di sini sayang. " bisik Sachi di telinga sang kekasih.
"Kau harus terbiasa baby, setelah menjadi istriku nanti kau akan sering aku ajak ke pesta formal. " ungkapnya sambil tersenyum.
Sachi memilih pasrah, dia pun menggandeng lengan calon suaminya. Gadis itu menunjukkan senyumannya di hadapan teman teman Erland.
drap
drap
"Maaf aku terlambat. " ujar Gerald. Erland dan Sachi menoleh, Sachi tentu saja terkejut lihat sosok pria yang dia hindari sejak tadi pagi.
Erland lekas menyapa dan berkenalan. Pria itu juga mengenalkan Sachi pada Gerald. Wanita itu tampak gugup melihat senyuman yang di tunjukkan Gerald padanya.
"Bisakah kita pergi ke balkon, ada hal yang ingin aku katakan padamu tuan Erland! "
"Baiklah ayo. " jawab Erland dengan santai.
Kini tersisa Sachi sendirian di tengah pesta. Dia sangat panik dan cemas jika Gerald berbicara sesuatu pada Erland.
"Enggak aku harus melakukan sesuatu untuk menghentikan
Gerald. " ujar Sachi. Dia tengah berpikir saat ini.
Sachi lekas menyusul ke balkon dengan buru buru namun ada yang memanggilnya hingga membuat langkahnya terhenti. Sachi menoleh, menyapa para wanita yang mengajak nya berkenalan.
Di Balkon
"Apa yang anda ingin katakan tuan Gerald? " tanya Erland penasaran.
"Bagaimana menurutmu jika calon istrimu tak lagi suci? " tebak Gerald.
__ADS_1
Erland diam membeku mendengar pertanyaan Gerald barusan. Pria itu menatap dingin kearah pria di depannya saat ini. Gerald tersenyum tipis melihat respon yang di tunjukkan Erland barusan.
"Saya tahu siapa dan bagaimana keluarga Anda. Bukankah kau sudah pernah di bohongi, jangan sampai anda kembali di bohongi oleh
wanita. " ceplos Gerald.
"Katakan terus terang, tak perlu bertele tele seperti itu. " sentak Erland menahan emosinya.
"Aku dan Sachi pernah menghabiskan waktu bersama di pulau. Karena membutuhkan uang, dia.. - "
"Hentikan. " Erland tentu saja emosi. Pria itu sangat terkejut dengan apa yang dia dengar mengenai calon istrinya.
Gerald sendiri terus bercerita mengenai masa lalunya bersama Sachi. Erland mengepalkan kedua tangannya dengan kuat. Pria itu berbalik dan melangkah pergi dari sini.
Di juga melewati Sachi begitu saja. Erland meninggalkan hotel tanpa membawa Sachi bersamanya. Wanita cantik itu lekas mengejar calon suaminya.
"Erland. " teriak Sachi namun di hiraukan Erland.
"Si4l4n. " Erland memukul stir mobilnya dengan keras. Pria itu tentu saja marah dan kecewa dengan rahasia yang di sembunyikan Sachi.
Villa Brighton
Erland lekas turun dari mobilnya dan bergegas masuk ke dalam. Dia merasa takdir terus mempermainkan dirinya. Pria itu langsung masuk ke kamarnya di lantai atas.
Di sisi lain Sachi tampak menangis di tinggalkan calon suaminya. Wanita itu memutuskan menginap di hotel. Gerald datang menawari tumpangan namun Sachi menolaknya mentah mentah.
"Kau boleh bangga menghina mantan istri dari Erland namun seharusnya kau berkaca pada dirimu sendiri Sachi! "
"Setidaknya mantan istri calon suamimu itu menyesal dan justru rela berkorban untuk bayi yang di lahirkannya. " cetus Gerald.
"Jadi kau mencari informasi tentang aku dan Erland? " geram Sachi.
"Iya, dan lihatlah topeng polosnya itu akhirnya terbongkar bukan? " ledek Gerald dengan senyuman menyebalkan.
Sachi berniat melayangkan tamparannya namun dia urungkan. Dia memilih pergi, mengabaikan teriakan Gerald yang terus mencemoohnya. Gerald mencibir kebodohan dari Erland Brighton.
__ADS_1
Keesokan harinya, suasana tampak dingin. Mommy dan daddy merasa heran melihat sikap Erland yang tampak berubah drastis.
"Erland, ada apa kenapa kamu diam saja nak? " tanya Mommy dengan raut khawatirnya.
"Aku enggak papa mom. " jawabnya singkat. Mereka kembali sarapan dalam suasana sunyi.
Seusai sarapan, Erland meninggalkan meja makan setelah menciumi pipi putri kecilnya. Mommy dan daddy hanya bisa saling melirik satu sama lainnya. Nolan bangkit dan lekas menyusul kakaknya.
"Sepertinya ada yang di sembunyikan oleh Erland dari kita dad? "
"Entahlah mom, daddy juga tak
tahu. " balas pria paruh baya itu.
Di Kantor
Nolan memperhatikan raut wajah kakaknya. Dia begitu penasaran dengan apa yang di sembunyikan Erland dari dirinya dan orang tua mereka.
"Kalau ada masalah, ceritalah kak! " ucap Nolan.
"Untuk saat ini aku ingin sendiri, Nolan! " ujar Erland dengan wajah datarnya. Nolan membuang nafas berat, dia pun memilih ke luar dari ruangan kakaknya itu. Erland sendiri menekan tombol hingga pintu ruangannya terkunci otomatis.
Erland begitu kecewa dengan kebohongan yang di lakukan Sachi. Dia mengeluarkan ponselnya kemudian mengirim pesan pada Sachi atas pembatalan rencana pernikahan mereka. Setelah itu dia langsung memblokir nomor Sachi agar tak bisa menghubungi dirinya.
"Kenapa para wanita itu sangat suka mempermainkan aku. Apa aku begitu bodoh hingga di permainkan mereka. " gumam Erland.
Samar samar terdengar suara dering ponselnya. Pria itu langsung mengangkatnya setelah tahu siapa yang menghubungi dirinya.
"Saya sudah tahu di mana keberadaan nyonya Vivian berada tuan! "
"Hm! "
"Dia berada di negara Y, nyonya Vivian akan menikahi seorang pria yang menjadi temannya selama ini. " ungkap sang pemberi informan.
"Terus awasi dia. " ujar Erland.
__ADS_1
Erland mengakhiri obrolannya, menyimpan ponselnya kembali ke dalam saku celana. Dia hanya diam saja tanpa mengatakan apapun setelah mengetahui keberadaan mengenai Vivian saat ini.