
Hari berikutnya
Paginya Sasha terbangun. Dia menarik selimut menutupi tubuh polosnya. Wanita itu menoleh ke samping, mendapati calon suaminya masih tertidur. Dia mengusap wajah tampan Marco. Sentuhannya itu membuat Marco terbangun dan membuka matanya.
"Morning." kecup Marco pada bibir wanitanya.
"Morning too. " balasnya. Pria tampan itu menyibak selimutnya dan kembali bergumul mesra di atas ranjang.
Satu jam berlalu percintaan panas itu berakhir. Sasha mencium dadha bidang Marco yang penuh keringat. Marco sendiri terus menciumi Sasha, pria itu begitu mencintai Sasha. Keduanya berpelukan dengan erat, tak ingin saling kehilangan satu sama lainnya.
"Pernikahan kita tetap akan berjalan sayang, aku tak ingin kehilangan kamu dan putri kita. " ujar Marco dengan sungguh sungguh.
"Terimakasih telah menerima aku dan Terry, sayang. " Sasha merasa beruntung bertemu dengan pria sebaik Marco. Dia kembali mendekap tubuh prianya.
Lima menit berlalu, keduanya lekas bangun dan pergi ke kamar mandi. Usai berpakaian dan beres beres, mereka segera ke luar dari kamar dan turun ke bawah.
Kini mereka sarapan bersama di meja makan. Sasha mengulum senyumnya kala melihat calon suaminya memanjakan putri mereka.
Usai sarapan, Marco pamit pergi ke perusahaan. Pria itu menciumi kepala Sasha dan Terry secara bergantian.
"Sayang kamu main lagi sama mbak Tara dulu ya. " ucap Sasha. Terry mengangguk, bocah cantik itu menghampiri pengasuhnya. Sasha segera membereskan meja makan.
Usai membereskan meja makan, Sasha hendak bersantai di ruang tamu namun terdengar suara bell membuat wanita itu melangkah menuju ke depan.
Cklek
Sasha mengerutkan kening melihat seorang wanita dengan pakaian glamor nya berdiri di depan penthouse.
__ADS_1
"Maaf Anda cari siapa? " tanya Sasha.
"Aku Calista, calon tunangan dari Marco. Tante Imelda setuju jika akulah yang harusnya menikah dengan Marco bukan kamu! "
Sasha memilih ke luar dan menutup pintu penthouse. Dia menghela nafas panjang, fokusnya kembali tertuju pada wanita di depannya ini.
"Tapi hubunganku dan Marco sudah sangat jauh dan sebentar lagi akan menikah. Apakah berniat merebut Marco dariku? " cecar Sasha dengan tatapan tajamnya.
Plak
Callista melayangkan tamparan nya. Dia memaki Sasha dengan kata kata kasarnya. Sasha menyentuh pipinya yang panas akibat tamparan Calista padanya. Wanita itu mendengus pelan, dia kembali menatap wajah Calista.
"Wanita rendahan dan kotor seperti i
Kamu tak pantas untuk Marco. Harusnya kamu sadar diri dan pergi dari kehidupan Marco. " geram Calista.
Plak
"Sebaiknya kau pergi dari sini, aku tak menerima tamu yang tak punya sopan santun seperti kamu. Jika kau tak mau pergi terpaksa aku menghubungi Marco. " ancam nya tak main main.
"Kau." tunjuk Calista. Calista berdecak pelan, wanita itu menghentakkan kakinya lalu pergi dari sana. Sasha bisa bernafas lega melihat kepergian Calista.
Sementara di perusahaan Marco marah besar setelah anak buahnya melapor akan kedatangan Calista. Pria itu mengutus orang kepercayaannya untuk memberi pelajaran pada Calista.
"Wanita itu berani beraninya menganggu Sasha. " geram Marco. Pria itu kembali duduk di kursinya dan fokus pada meeting.
Siangnya Sasha datang ke kantor. Saat ini dia berada di ruangan Marco. Marco memeluk wanitanya dengan erat dan memastikan keadaan Sasha. Sasha memegang sisi wajah calon suaminya.
__ADS_1
"Aku enggak papa sayang! "
"Setelah ini aku pastikan Calista tak akan lagi menganggu kamu. " ujar Marco yang membuat Sasha penasaran.
Marco membenamkan bibirnya di atas bibir sang kekasih. Keduanya berciuman dengan mesra di dalam ruangan Marco. Pria itu mengakhiri ciumannya, menatap penuh puja wanitanya.
Keduanya makan siang terlebih dulu. Sasha menyuapi Marco dengan makanan yang dia bawa. Usai makan, Marco menariknya ke atas pangkuan. Pria itu lantas menggendongnya lalu membawanya ke kamar pribadinya.
Bruk
Marco melempar tubuh sang kekasih ke atas ranjang. Keduanya melepaskan helai benang di tubuh masing masing setelah itu melakukan olahraga jungkat jungkit di atas ranjang.
Setelah mencapai puncak kenikmatan Marco mengakhiri kegiatan panas mereka. Sasha masuk ke dalam dekapan prianya kala Marco menarik selimut ke atas.
huh
Sasha mengatur nafasnya yang tersengal. Wanita itu begitu sangat nyaman dan takut kehilangan Marco. Baginya Marco dan Terry adalah segala galanya dalam hidup. Hanya mereka berdua yang menjadi sumber bahagianya.
"Aku takut mami kamu berusaha memisahkan kita sayang. " gumam Sasha.
"Kita sama sama berjuang ya, aku akan selalu melindungi kamu dan Terry. " balas Marco. Sasha mengangkat wajahnya, mengangguk pelan kemudian menciumnya sebentar.
Keduanya lekas bangun dan pergi ke kamar mandi. Usai berpakaian dan beres beres, keduanya ke luar dari kamar pribadi Marco. Sasha membiarkan prianya melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.
Sore harinya mereka berdua pulang. Sepanjang perjalanan keduanya tampak banyak mengobrol dan sharing membahas pernikahan mereka nanti. Marco dan Sasha sempat mampir membeli buah di toko.
__ADS_1
Skip
Keduanya telah kembali ke penthouse, keduanya lekas turun dari mobil dan bergegas masuk ke dalam. Mereka berdua menemui si kecil Terry di ruang tengah.