Nona Galak & Tuan Posesif

Nona Galak & Tuan Posesif
Bab 116 Season 3 Part 20 Kemarahan Theo


__ADS_3

Theo kembali mengamuk di apartemennya. Surat perceraian itu telah sampai di tangannya.


"Kau jahat Vi, kenapa kamu memperlakukan aku seperti ini. " teriak Theo.


Pria itu berusaha menghubungi istrinya namun ponselnya tak bisa di hubungi. Lalu dia mengutus orang untuk mencari tahu keberadaan istrinya berada. Theo mengambil surat itu kemudian menanda tanganinya.


Tok


tok


Theo lekas membuka apartemennya membuka pintu apartemennya.


"Saya ke sini ingin mengambil surat perceraian, Tuan. " ujar seorang pria yang merupakan utusan Erland.


Theo kembali ke dalam dan menyerahkan suratnya. Pria itu mencari informasi mengenai keberadaan Vivian dan Erland namun sang pengacara tak mengatakan apapun.


"Ah sial. " umpat Theo dengan raut kecewanya.


Setelah kepergian pengacara dari Erland. Sachi datang menemuinya, lalu mendorongnya masuk ke dalam. Wanita itu menumpahkan kekesalannya pada Theo.


"Kau gagal menjaga Vivian? " cecar Sachi.


"Iya, justru Vivian di culik dan di sembunyikan Erland. " balas Theo dengan raut kesalnya.


Sachi tentu saja syok, dia mencari cara lain untuk memisahkan Erland dari Vivian. Wanita itu menyalahkan Theo atas kebodohannya. Kini terjadi perdebatan di antara mereka.


Theo sendiri memijit pelipisnya yang terasa pusing. Pria itu memilih duduk d sofa, menenangkan dirinya di sana.


"Cepat cari cara Theo, aku enggak mau kehilangan Erland. " desak Sachi.

__ADS_1


"Bukankah kamu memang sudah kehilangan dia. " cibir Theo dengan tatapan sinisnya.


Sachi tak peduli dengan sindiran dari pria di sebelahnya ini. Wanita itu tampak sangat kesal saat membayangkan bagaimana Erland menghabiskan waktu dengan Vivian. Dia membuang nafas berat, kembali berusaha menghubungi nomor kekasihnya itu.


"Erland ke mana sih. " gerutu Sachi kesal.


"Sudahlah, lebih baik lupakan saja rencanamu itu. Lagipula aku sudah menandatangani surat perceraian antara aku dan Vivi. " ceplos Theo.


Sachi menoleh, wanita itu melotot kemudian memukuli tubuh Theo dengan raut kesalnya. Theo langsung mencekal tangan Sachi dengan sorot mata tajamnya.


"Ayo ke luar, lebih baik jalan jalan dari pada suntuk. "


Theo lekas bangkit, langsung menyeret Sachi ke luar dan mendorongnya masuk ke dalam mobil. Sepanjang perjalanan wanita itu tak henti hentinya berbicara.


Tak ada yang bisa dia lakukan saat ini. Sachi menghembuskan nafas berat. Beberapa menit berlalu mereka sampai di pantai. Keduanya turun dari mobil dan berjalan menuju ke pantai. Suasana tampak ramai, Sachi menatap sekelilingnya.


"Iya memangnya kenapa? " ketus Theo.


"Mau ajak kenalan mereka. " Sachi melenggang pergi. Dia lekas menghampiri para bule yang tengah berkumpul. Theo sendiri memilih duduk, mengamatinya dari jauh.


Dia hanya diam saja saat Sachi berteriak. Wanita itu berlari kearahnya dengan wajah kesal. Theo memperhatikan Sachi yang tengah mengatur nafasnya yang tersengal.


"Ada apa? "


"Gila, ternyata para pria itu sudah punya istri. Tadi aku hampir di gampar oleh istri bule itu. " ungkap Sachi.


Theo tertawa pelan mendengar keluh kesah dari Sachi barusan. Dia melotot, kembali memukuli tubuh Theo dengan brutal. Wanita itu menghentikan aksinya, memilih berbaring di atas kursi panjang.


"Aku nyesel Theo, harusnya aku jujur pada Erland sejak awal. " gumam Sachi.

__ADS_1


"Aku cinta sama dia. Hanya dia yang aku miliki. "


"Tapi aku rasa Erland benar benar tak mencintai kamu Chi. Dia hanya menjadikan kamu pelariannya. " balas Theo.


"Enggak mungkin, aku tahu dia cintanya sama aku. Sementara dia begitu membenci Vivian dari dulu. " ungkapnya penuh percaya diri.


Theo hanya mengedikkan bahunya acuh. Pria itu sudah sering menasehati Sachi agar menterah namun tak dihiraukan. Dia memperhatikan Sachi yang kembali duduk. Keduanya kembali berdiri, menyusuri pantai tanpa alas kaki.


Sepanjang hari keduanya sering berdebat membahas rencana merela selanjutnya. Sachi tentu saja tak akan menyerah mengejar Erland lagi. Hanya Erland yang dia punya, wanita itu tak akan membiarkan Vivian merebut kekasihnya.


"Aku punya rencana yang bagus. " ungkap Sachi.


"Memang rencana apa? " tanya Theo dengan malas.


"Cepat belikan aku minuman lebih dulu baru aku kasih tahu apa rencanaku! "


Theo mendengus pelan,pria itu pergi ke tempat penjual es. Sachi sendiri memilih duduk di bawah pohon, dengan santai menunggu Theo kembali.


Setengah jam berlalu Theo kembali dan menyerahkan es kelapa muda. Sachi langsung menyeruputnya perlahan. Seperti janjinya dia membisikkan rencananya di telinga Theo.


"Rencana ini sangat berbahaya! " peringat Theo dengan wajah seriusnya.


"Aku tak peduli. Kuharap kamu tak akan membocorkan rencana ini pada siapapun. " ujar Sachi. Theo hanya diam saja. Pria itu masih memikirkan rencana yang di bisikkan oleh Sachi barusan.


Pandangannya kembali lurus ke depan. Saat ini pikirannya tengah tak karuan. Di sisi lain dia sangat mencintai Vivian dan ingin memiliki wanita itu.


"Apa yang harus aku lakukan? "


Sachi sendiri diam diam meliriknya di sertai seringai miring.

__ADS_1


__ADS_2