
Sore ini Zarina meminta suaminya untuk di belikan bakso. Morgan tentu saja langsung membelikan apa yang menjadi keinginan istri tercintanya.
Sambil menunggu suaminya kembali, Zarina memilih membaca buku guna menghilangkan kejenuhannya.
Beberapa menit berlalu Morgan kembali, pria itu langsung memanggil pelayan untuk mengambilkan mangkuk dan sendok. Tak lama pelayan datang, menyerahkan apa yang di minta sang majikan.
Setelah menuangkan baksonya ke dalam mangkuk, Morgan langsung memberikan pada sang istri. Zarina menaruh bukunya, mulai mencicipi bakso yang di belikan suami tercintanya.
"Pelan pelan sayang, tak akan ada yang merebutnya. " tegur Morgan sambil mengulum senyumnya.
"Hm! "
"Kenyang. " gumam Zarina sambil mengusap perutnya. Morgan tersenyum kecil melihatnya.
"Kau menginginkan sesuatu lagi sayang? " tanya Morgan yang di tanggapi gelengan oleh istrinya. Zarina bersandar di bahu sang suami. Tangan keduanya saling bertautan satu sama lain.
Ehem
Zarina menjauhkan wajahnya kala asisten dari suaminya datang, Yogi. Morgan mencium keningnya lalu bangkit dan mengajak Yogi ke ruangan kerjanya.
Sementara wanita hamil itu bangkit dan membawa piring kotornya ke dapur. Lalu dia kembali ke depan dan melanjutkan membaca buku.
"Bosen. aku hubungi Fafa deh biar dia dateng! " gumamnya. Zarina meraih ponselnya lalu mencari kontak sang sahabat.
Senyumannya kian lebar, bertepatan dengan sang sahabat yang menghubungi dirinya. Dia langsung menekan tombol hijaunya.
"Halo Fa. " ucap Zarina dengan antusias.
"Maaf nona, pemilik ponsel ini kecelakaan. " ungkap.
"Apa, kirimkan alamat rumah sakitnya. " Zarina lekas bangkit, sakit itu segera bersiap siap lebih dulu. Dia juga mengirim pesan pada sang suami, Zarina takut menganggu kesibukan Morgan saat ini.
Wanita hamil itu meminta sopir mengantarkannya ke rumah sakit. Zarina begitu khawatir dengan keadaan Fafa saat ini.
Skip
Rumah sakit
__ADS_1
Zarina masuk ke dalam ruangan sahabatnya. Wanita itu langsung memeluk Fafa yang terbaring lemah di atas ranjangnya.
"Sebenarnya ada apa Fa, kenapa kamu bisa masuk ke rumah Sakir kayak gini? " tanya Zarina cemas.
"Eze akan menikah dengan gadis pilihan orang tuanya Rin, makanya aku tak fokus hingga menabrak. " ungkap Fafa dengan sendu.
Zarina tentu saja turut prihatin dengan apa yang di rasakan sang sahabat. Dia lantas duduk di kursi, memberikan dukungan pada temannya itu. Matanya tampak berkaca kaca melihat keadaan sang sahabat.
"Maaf, saya juga bersalah dalam masalah ini. " sela seorang pria yang sejak tadi memperhatikan keduanya.
Zarina langsung menoleh, dia melirik kearah sang sahabat. Wanita itu tak mengatakan apapun.
"Perkenalkan saya Christian Grayson. " sapa pria itu. Zarina pun mengenalkan dirinya dan sahabat.
"Saya akan bertanggung jawab hingga kaki nona Fafa sembuh. " sahut Christian.
Pria itu langsung pamit ke luar.Zarina dan Fafa kembali mengobrol dengan santai. Fafa mencari posisi aman dalam berbaring di atas ranjangnya. Dering ponsel Zarina menyita perhatiannya, wanita itu langsung melihat pesan baru.
"Morgan sudah di luar menunggu aku. " ungkap Zarina.
bukan. " tegur Fafa.
"Tapi bagaimana dengan kamu Fa, kamu enggak nginep aja di mansion suamiku? " tawar Zarina yang di tanggapi celengan oleh Fafa. Zarina menghembuskan nafas panjang, sekali lagi dia memeluk pelan sang sahabat kemudian ke luar dari ruangan Fafa.
Sepeninggal sang sahabat Fafa menangis sendirian di ruangannya. Hatinya kembali patah dengan kenyataan jika Ezekiel akan menikahi perempuan lain.
"Hiks, rasa zwnya masih sesak. " gumam Fafa sambil menekan dadanya. Gadis itu buru buru menghapus air matanya.
Chris kembali, setelah mendapatkan izin dari dokter. Pria itu langsung menggendong Fafa lalu membawanya ke luar. Dia membawa Fafa ke mobilnya dan melesat pergi dari sana.
Sepanjang perjalanan, tak ada obrolan apapun di antara mereka. Fafa menatap jalanan dengan pandangan kosong. Sekuat tenaga dia berusaha menekan rasa sesak yang kembali menghantam nya.
Christian membawa Fafa masuk ke dalam mansion. Dia menurunkan gadis itu di ruang tamu. Pria itu juga memberikan ponsel baru untuk Fafa.
"Apa kau lapar Fafa? " tanya Chris.
"Aku enggak ingin apapun, bisakah kamu membantuku ke kamar Chris. " pinta Fafa. Christian langsung menggendongnya lagi lalu membawanya ke kamar. Pria tampan itu menurunkan Fafa di atas ranjang.
__ADS_1
Fafa menaruh ponselnya lalu berbaring dan memejamkan matanya. Christian memperhatikan Fafa yang terlelap, diapun memilih ke luar.
Tepat pukul delapan malam, Christian membawakan makan malam ke kamar Fafa. Pria itu segera menaruhnya di atas meja kemudian membantu Fafa yang hampir kehilangan keseimbangan.
"Seharusnya kau panggil saja aku. " ujar Christian.
"Aku enggak mau menyusahkan kamu terus Chris. " cicit Fafa dengan mata berkaca kaca.
"Sudahlah, enggak usah nangis. Sebaiknya habiskan makan malam kamu dulu. " ujar Christian.
Fafa segera menyantap makan malamnya. Setelah selesai dia menaruh piring di meja namun di ambil alih Chris. Gadis itu meneguk segelas air putih. Dia kembali bersandar di headboard, meraih ponselnya kemudian mengirim chat pada sang sahabat.
"Setelah ini segeralah istirahat! " Chris ke luar dari kamar Fafa dan kembali ke kamar pria itu. Fafa pun segera memejamkan kedua matanya.
Tengah malam gadis itu terbangun setelah mengalami mimpi buruk.Fafa berdecak pelan, mengusap wajahnya perlahan. Kini gadis itu berusaha menenangkan dirinya, berusaha kembali memejamkan kedua matanya.
"Kenapa sih, aku sangat sulit melupakan Ezekiel. " gerutu Fafa lirih. Dia tak ingin di anggap gagal move on oleh orang lain. Fafa segera kembali berbaring, menarik selimut menutupi tubuhnya.
Cklek
"Ada apa Fa, kenapa kamu berteriak? " tanya Chris yang masuk ke kamar gadis itu.
"Aku mimpi buruk Chris. " sahut Fafa dengan lesu.
Chris lekas duduk di sebelahnya, keduanya mengobrol dengan santai. Fafa sendiri masih canggung dengan pria yang telah menolongnya itu. Chris mengatakan kisah kelamnya pada Fafa, Fafa hanya diam menjadi pendengar.
"Apa kamu masih mencintai mantanmu? " tanya Fafa yang di tanggapi gelengan.
"Kau hebat, karena bisa move on dari masa lalu. " ucap Fafa dengan senyuman mirisnya. Dia kembali terkenang momen manis antara dirinya dengan Ezekiel.
Chris menghela nafas panjang, mengusap lembut kepala Fafa. Pria itu memberikan sedikit nasehat pada gadis di hadapannya ini. Fafa tentu saja kagum dengan pemikiran dewasa dari Christian.
"Berdamai lah, lupakan apapun yang membuat kamu kesakitan termasuk mantan kamu. " cetusnya.
"Akan aku kucoba. " sahut Fafa dengan ragu. Christian lekas bangkit, pria itu pun ke luar.Fafa menatap kepergian Chris dalam diam. Hanya senyuman penuh kekaguman yang di tunjukkan Fafa untuk Christian.
Fafa menatap langit langit kamarnya. Dia berusaha menenangkan dirinya sejenak kemudian memejamkan mata. Gadis itu pasti bisa membuktikan jika dirinya bisa move on.
__ADS_1