
Pagi buta, terjadi kehebohan di kediaman Morgan. Pria itu baru saja mendapat kabar kecelakaan mengenai Marco dan Sasha.
Jerit tangis mewarnai kediaman Zarina dan Morgan. Zarina memeluk erat tubuh mungil sang keponakan.
"Aunty, Mama hiks. Kenapa mama dan papa ninggalin Terry sendiri. " racau gadis manis itu.
Drap
drap
Nyonya Imelda datang, wanita paruh baya itu menahan amarah sekaligus kesedihannya.
"Gara gara menikahi wanita murahan, ibu gadis itu putraku meninggal. " pekik nyonya Imelda emosi.
Zarina segera menutup telinga keponakannya. Dia tak sanggup melihat Terry di caci maki oleh mertua Sasha. Wanita paruh baya itu mendekat, menunjuk kearah Terry dengan tatapan penuh kebencian.
"Lihat lah bocah, ibu kamu pembawa si4l. Sekarang Marco telah tiada, ini semua gara gara ibu kamu. " bentak Nyonya Imelda.
Tangis Terry seketika pecah dalam pelukan sang aunty. Ravella mendekat, memeluk adiknya itu kemudian membawanya pergi. Zarina lekas berdiri dan berhadapan dengan mertua Sasha.
__ADS_1
"Jaga bicara tante, kematian itu takdir dari Tuhan. Tak ada seorangpun yang mau mengalami tragedi tragis seperti ini. " sentak Zarina.
"Kenapa kamu justru membela wanita murahan itu. Dia itu hanya wanita pembawa si4l termasuk anak hasil perbuatan rendahan. " umpat nyonya Imelda dengan kasar.
Oma Fera menghampiri wanita seusianya dan langsung menegur nyonya Imelda.
Plak
"Sadarlah ini semua bukan salah Sasha ataupun Terry. Ini kehendak Tuhan, tak sepantasnya kamu menyakiti hati anak kecil seperti itu nyonya. " bentak Oma Fera.
"Bukan hanya kamu yang kehilangan, tapi Terry. Bocah kecil itu harus kehilangan orang tuanya. " pungkasnya.
Zarina melepaskan pelukannya, dia pergi ke kamar. hot mommy itu masuk ke dalam kamar Terry, lekas memeluknya dengan erat. Vella dan lainnya turut bersedih dengan apa yang di alami Terry saat ini.
"Aunty hiks, aku ingin ketemu mama dan papa. " Terry menangis histeris, dia tak ingin kehilangan orang tuanya. Zarina tampak sesak melihat sang keponakan menangis histeris seperti saat ini. Ravella lekas memeluk adik sepupunya itu, dia juga sangat menyayangi Terry seperti sayangnya pada adik adiknya.
"Sabar ya dek, doakan saja semoga mama dan papa kamu tenang di atas sana. " ucap Vella pada Terry.
Sore harinya mereka segera pergi ke pemakaman. Semua orang tampak bersedih alam kepergian Marco dan Sasha terutama si kecil Terry.
__ADS_1
Selang beberapa minggu Zarina dan Morgan berusaha membawa Terry ke dokter untuk melakukan pemeriksaan. Keduanya tampak khawatir dengan mental keponakan mereka itu.
Keluarga Brighton berusaha mengembalikan keceriaan Terry yang hilang akibat kematian orang tua bocah manis itu. Zarina hampir putus asa namun Morgan selalu memberikan dukungan untuk sang istri untuk tetap semangat. Keduanya tetap berjuang menemani Terry hingga sembuh.
"Sayang, apa kamu enggak sayang sama aunty dan uncle juga yang lainnya sayang? " tanya Zarina sambil mengusap kepala Terry dengan lembut.
Terry hanya diam saja, bocah itu kembali menatap dalam foto mendiang orang tuanya. Zarina sendiri merasa sesak, wanita itu menangis melihat keadaan sang keponakan.
Zarina kembali duduk di sebelahnya, memeluk Terry dari samping. Morgan menghela nafas panjang, dia tak kuasa melihat kesedihan di mata sang istri. Kini keduanya memutuskan membawa pulang Terry.
Morgan melajukan roda empat nya meninggalkan rumah sakit. Ya keduanya baru saja menemui dokter untuk memeriksakan keadaan Terry.
Sepanjang perjalanan hanya keheningan melanda keduanya. Zarina sibuk memeluk Terry, berusaha menghibur sang keponakan.
Morgan hanya berharap waktu akan menyembuhkan luka yang di alami Terry saat ini. Kesedihan ini hanya berlangsung sementara. Sebelum pulang, mereka lebih dulu mengajak Terry jalan jalan.
Keduanya sengaja membelikan apapun yang menjadi kesukaan Terry. Zarina mengusap kepala Terry dengan halus, berulang kali dia mendaratkan kecupan manis di kening sang keponakan.
"Aunty dan semua orang sangat sayang sama kamu nak. Kami semua begitu peduli dan anggota keluarga kamu. " bisik Zarina lembut.
__ADS_1