Nona Galak & Tuan Posesif

Nona Galak & Tuan Posesif
Bab 25 Kehamilan Sasha


__ADS_3

Sasha tampak panik, dia melihat garis dua dari testpack yang dia genggam. Wanita itu menaruh benda itu ke dalam tasnya, kemudian ke luar dari mansion.


Setelah tiga puluh menit, dia akhirnya sampai di penthouse Davian. Dia langsung turun dari mobil dan bergegas menemui Davian.


"Davian, ada hal yang harus kamu ketahui. " ujar Sasha dengan raut wajah paniknya.


"Apa? " ketus Davian dengan raut datarnya.


"Aku hamil. " sahut Sasha.


Deg


Davian membulatkan mata mendengar pengakuan Sasha barusan. Pria itu lantas berdiri, menatap tak percaya kearah Sasha.


"Kau yakin itu anakku? " cecar Davian dengan nada sinisnya. Sasha tentu saja meyakinkan Davian jika janin dalam perutnya memang milik Davian.


Davian langsung menyeretnya ke luar dan mengusirnya. Sasha tampak menangis histeris, wanita itu meminta Davian untuk bertanggung jawab.


Brak


Pria itu masuk ke dalam penthouse setelah mengusir Sasha. Dia mengabaikan teriakan wanita yang mengandung benihnya itu.


"Kamu brengshake Dav. " gumam Sasha sambil menangis sesegukan. Wanita hamil itu pergi dari sana dengan membawa kekecewaan.


Sasha kini telah kembali ke mansion orang tuanya. Dia cepat cepat pergi ke kamarnya tanpa mempedulikan kedua orang tuanya.


Cklek dia telah masuk ke dalam kamarnya. Setelah menaruh tasnya, Sasha mengamuk dan memaki Davian dengan kata kata kasarnya.


"Kau benar benar brengshake Dav, aku benci kamu hiks huhu." gumam Sasha dengan nada kecewanya. Wanita itu menangis histeris di dalam kamarnya.


Sasha menyentuh perutnya yang masih rata. Brak pintu terbuka dengan keras. Papi dan mami masuk ke dalam kamar sang anak.


"Papi, Mami? " tanya Sasha dengan kening berkerut. Wanita itu turun dari ranjangnya, menatap orang tuanya dengan heran.


Plak


Papi melayangkan tamparannya membuat Sasha terkejut. Mami langsung menunjukkan testpack milik Sasha yang terjatuh. Raut wajahnya berubah pucat, Sasha berusaha mengontrol dirinya.


"Kamu harus meminta pertanggung jawaban pria yang membuatmu Hamil Sasha. " pekik Papi.


"Tapi Davian tak mau bertanggung jawab Pi. " balas Sasha dengan pelan.

__ADS_1


Plak


Papi kembali menamparnya di sertai umpatan. Pria paruh baya itu langsung menariknya ke luar, sementara mami membereskan pakaian sang anak dalam kopernya.


Bruk Di luar kedua paruh baya itu membuang koper sang anak. Sasha berusaha meminta maaf pada orang tuanya namun tak ada yang menggubrisnya. Mami dan papi justru kembali ke dalam. Sasha hanya mampu menangis sesegukan, menarik kopernya lalu pergi dari sana.


Sebuah mobil berhenti di depannya. Pria itu turun lalu mengajak Sasha masuk dan membawanya pergi dari sana.


Ternyata pria itu membawanya ke salah satu apartemen pria itu. Keduanya turun, pria tampan itu menarik koper Sasha lalu membawanya masuk ke dalam.


"Kenapa kamu bawa koper Sha? " tanya Calvin.


"Aku diusir Vin, saat ini aku hamil dan Davian tak mau bertanggung


jawab. " ungkap Sasha. Calvin tentu saja terkejut dengan pengakuan dari Sasha barusan.


"Kau yakin itu anak Davian, bukankah aku duluan yang merebut kesucianmu Sha? " ujar Calvin yang membuat Sasha terdiam.


Wanita itu menggeleng, dia kembali menangis. Calvin mengusap wajahnya kasar, dia langsung memeluk Sasha dengan erat. Keheningan melanda keduanya, pria itu melepaskan pelukannya.


Calvin segera menghapus air mata Sasha dengan cepat. Sasha sendiri mengusap perutnya, rasanya tak tega jika harus melenyapkan janin dalam perutnya ini.


"Enggak usah aneh aneh Sha. " ujar Calvin memperingatinya.


Sasha menyandarkan tubuhnya di sofa. Dia memijit kepalanya yang terasa pusing, saat ini hanya ada penyesalan dalam dirinya. Wanita itu berusaha mencari jalan lain untuk mengatasi masalahnya ini.


"Biarkan dia tumbuh dalam perutmu, setelah lahir nanti kita akan melakukan tes dna antara aku dan calon bayi dalam perutmu. " ujar Calvin.


"Untuk sementara kau tinggal di apartemen ini. "


Sasha sendiri tak bergeming. Dia hanya pasrah saat ini mengingat dirinya tak memiliki tempat tinggal. Wanita itu lekas bangkit, pergi ke kamarnya sambil menyeret koper. Calvin tentu saja mengantarkannya, dia takut Sasha berbuat nekat.


"Istirahatlah. " ujar Calvin. Sasha menaruh kopernya di dekat lemari, dia hanya menanggapinya dengan deheman. Setelah Calvin ke luar dari kamarnya, Sasha langsung mengunci pintu kamarnya.


Wanita itu memilih berendam di dalam kamar mandi. Setelah tiga puluh menit dia segera ke luar mengenakan handuk. Sasha mengambil pakaiannya dari koper miliknya.


Dia mengenakan dress, setelah itu duduk di atas ranjangnya. Terdengar suara helaan nafas berat ke luar dari bibirnya. Sasha kembali mengusap perutnya yang masih rata.


Sore harinya Sasha memilih ke luar, dia bergerak cepat menuruni tangga. Dia pun hampir kehilangan keseimbangan jika Calvin tak menolongnya. Calvin berdecak pelan, menggendong Sasha ke ruang tengah.


"Maaf. " gumam Sasha takut. Calvin kembali menatapnya tajam, pria itu menurunkan Sasha duduk di sofa.

__ADS_1


"Vin, aku lapar. " ujar Sasha.


"Bentar. " Calvin langsung pergi begitu saja. Beberapa menit berlalu dia kembali membawakan nasi goreng dan segelas air putih.


Sasha langsung menyantap nasgor buatan dari Calvin. Calvin sendiri duduk berhadapan dengannya sambil memperhatikan Sasha makan.


Selesai makan dan minum, Sasha lekas mengusap perutnya. Wanita itu menanyakan perihal kolam renang, dia lebih dulu mengganti pakaiannya kemudian mengikuti Calvin.



Sasha lekas melompat ke dalam kolam setelah melepaskan handuknya. Calvin tentu saja menyusulnya setelah melepaskan celananya. Keduanya langsung membenamkan dirinya ke dalam air lalu muncul kembali ke permukaan.


"Jangan mendekat Vin. " Sasha berusaha mendorong tubuh Calvin yang mengukung tubuhnya.


"Bukankah kamu juga merindukan sentuhan dari pria. " cetus Calvin.


Sasha memilih berenang menghindari Calvin. Selama ini dirinya hanya menjadi penghangat ranjang oleh Calvin dan Davian. Sepertinya dia perlu menjauhi kedua pria tersebut.


Calvin berenang mendekatinya, memeluk Sasha dari belakang. Tangannya menyentuh perut rata wanitanya. "Aku sangat yakin jika janin ini milikku, sementara Davian selalu menggunakan pengaman bukan? " bisik Calvin.


"Jaga sikap kamu Vin, kalau kau membutuhkan wanita penghangat ranjangmu carilah saja di Club. " ujar Sasha yang membuat Calvin tertawa.


Calvin menyugar rambutnya, dia sama sekali tak tertarik dengan wanita lain. Pria itu kembali membenamkan tubuhnya ke dalam air dan asyik berenang. Sasha sendiri tersenyum miris, dirinya begitu hina.


"Maafin mami nak, mami akan menjaga kamu dengan baik. " gumam Sasha lirih sambil mengusap perut ratanya.


Teringat dengan Zarina, dia merasa malu pada wanita itu. Dia tak memiliki muka bertemu dan meminta maaf pada Zarina.


Hiks


hiks


Wanita itu kembali menangis. Tanpa dia sadari Calvin memperhatikannya dari kejauhan. Pria itu tiba tiba telah berada di dekatnya, Calvin menariknya ke dalam pelukannya.


"Baiklah, bagaimana kalau besok kita pergi ke rumah sakit untuk tes DNA. " bisik Calvin yang di angguki Sasha.


Pria itu mengusap punggung terbuka Sasha. Dia meregangkan pelukannya, menghapus air mata Sasha kemudian memagut bibirnya sebentar.


"Berhentilah menangis Sha, semuanya sudah terjadi! "


Mereka melanjutkan berenang hingga satu jam. Setelah itu keduanya naik ke atas dan duduk di tepian kolam.

__ADS_1


__ADS_2