Nona Galak & Tuan Posesif

Nona Galak & Tuan Posesif
Bab 107 Season 3 Chap 11 Kehidupan Vivian


__ADS_3

Hari hari seperti biasa setiap pagi mommy Zarina menerima paket berisi beberapa botol asi untuk si kecil Anyelir. Wanita itu merasa bersyukur atas kepedulian Vivian pada si kecil Anyelir.


"Anyelir membutuhkan kamu Vi, kamu pergi ke mana nak? " gumam seraya menghembuskan nafas berat.


Wanita itu segera masuk ke dalam dan membaca selembar surat yang terselip.


To tante Zarina


Aku akan mengirimkan asi berjumlah beberapa botol setiap dua minggu sekali tante. Maafkan aku atas perbuatan aku selama ini pada tante dan semua keluarga tante. Tolong jaga dan besarkan Anyelir dengan baik, berikan kasih sayang yang penuh untuk malaikat kecilku. Tolong sampaikan maafku pada Erland, bilang sama dia untuk tetap menyayangi Anyelir meski putri kecilnya terlahir dari wanita penipu sepertiku.


from Vivian


Nyonya Zarina menitikkan air matanya. Wanita paruh baya itu tak kuasa menahan kesedihannya. Dia kembali melipat suratnya dan pergi ke taman samping.


Sementara itu di sisi lain Vivian tampak menangis. Wanita itu berada di suatu tempat saat ini. Dia hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk princess kecilnya.


Dia segera menghapus air matanya, seorang bocah tampan menghampiri dirinya. "Mama, kenapa menangis? " tanya bocah laki laki dengan usia lima tahun itu.


"Mama enggak kenapa kenapa, Kenzo. " jawab Vivian sambil tersenyum. Dia pun memutuskan mengadopsi si kecil Kenzo. Kehadiran Kenzo mampu menahan rasa rindukan pada bayi cantiknya itu.

__ADS_1


Kenzo menghapus air mata sang mama lalu duduk di sebelah Vivian. Vivian tampak mengulas senyumnya, melihat perhatian kecil dari sang anak.


"Kita jalan jalan yuk ma, ke taman. " ujar Kenzo dengan polosnya.


"Iya sayang ayo. " Vivi lekas bangkit, menggandeng tangan mungil sang anak.



Sore harinya mereka kembali ke mansion. Ya Theo membantunya, Vivian tentu saja berhutang budi pada temannya itu. Keduanya masuk ke dalam, Kenzo berlari menghampiri uncle kesayangannya.


"Theo, kapan kamu sampai? " tanya Vivian.


"Sudah tiga puluh menit yang lalu my wife. " celetuk Theo. Vivian langsung melempar bantal kearah temannya itu. Wanita itu berdecak pelan, merasa kesal dengan candaan yang di lontarkan Theo.


Theo langsung menjelaskannya tanpa peduli tatapan tajam dari Vivian. Vivian mendengus pelan, memperhatikan interaksi keduanya. Wanita itu lekas bangkit, dia pergi ke kamarnya di lantai dua.


Di kamar


Vivian melamun memikirkan anak kandungnya. Dia terpaksa menerima perjanjian yang di berikan Erland padanya.

__ADS_1


"Maafin mama, Anyelir. Mama harap kamu kelak mengerti alasan mama meninggalkan kamu nak. " gumam Vivian. Dia tak sanggup jika putrinya sendiri mendapat kebencian dari ayah kandungnya.


Vivian segera pergi ke kamar mandi. Usai nembersihkan diri, dia segera berganti pakaian. Theo datang menghampiri sahabatnya. Vivian langsung memeluknya dengan erat, melampiaskan apa yang dia rasakan.


"Aku ingin sekali memeluk dan menciumi putriku, Theo! " gumam Vivian penuh harap.


"Terimalah konsekuensi nya Vi, kau sudah menyetujui perjanjian gila itu. " ceplos Theo.


"Tapi jika aku tak setuju, aku tak sanggup melihat putriku mendapat kebencian dari Erland. " sahutnya lagi.


Theo hanya bisa memberikan pelukan penenang untuk Vivian. Tak lama dia melepaskan pelukannya lalu mengajaknya turun ke bawah. Vivian memilih duduk di kursi, memperhatikan Theo yang bermain bola dengan Kenzo.


Vivian berusaha merelakan sang anak di asuh Sachi dan Erland. Dia turut bahagia setelah mendengar jika mantan suaminya akan segera menikah lagi. Wanita itu tak lagi memiliki hak atas Erland.


"Aku harap kamu menepati janji kamu Erland! " gumam Vivian.


Lagi lagi terdengar suara helaan nafas panjang. Sepanjang hari dia terus kepikiran Anyelir kecil, harusnya dia yang merawat dan mengurus Anyelir.


Dia berharap kelak memiliki kesempatan untuk memeluk dan mencium anaknya.

__ADS_1


Vivian merasa ini mungkin hukuman atas perbuatannya yang lalu. Fia lekas bangkit, bergabung bersama Theo dan Kenzo.


Canda tawa terdengar renyah. Ketiganya layaknya keluarga kecil yang tampak bahagia. Vivian mencoba move on dan membuka lembaran baru meskipun sulit.


__ADS_2