
Sore harinya sepulang dari kampus, Essie lekas merebahkan dirinya di atas ranjang. Gadis itu tampak lelah saat ini. Tak lama Essie kembali bangun, meraih kartu undangan dari salah satu temannya.
"Haruskah aku datang ke sana? " gumamnya pada diri sendiri.
Essie sama sekali tak menyukai pesta apapun. Dia menaruh kembali kartu itu di atas meja. Dia lekas bangkit dan meluncur ke kamar mandi.
Usai mandi dan berpakaian, Essie kembali berbaring di atas ranjang empuknya. Saat ini dia tengah asyik chatting dengan Chelsea.
Essie menaruh ponselnya, menatap langit langit kamarnya dalam diam. dia memegangi kepalanya yang terasa pusing.
"Sudahlah, lebih baik aku datang besok. Lagipula Chelsea juga memintaku untuk menemani dia. " gumam Essie pelan.
Merasa bosan Essie bangun dan ke luar dari kamar. Gadis itu turun ke bawah dan memutuskan pergi ke dapur.
Tepat pukul enam sore, mommy dan daddy datang berkunjung. Essie langsung memeluk sang mommy tercinta kemudian mengajaknya duduk bersama.
"Sayang, apa kamu tak ingin pulang saja nak? " tanya Mommy.
"Enggak mom, aku saat ini tengah mencoba mandiri. Rencananya besok aku akan mencari pekerjaan. " ungkap Essie.
"Kau yakin sayang? " tanya Mommy sedikit ragu.
"Sangat yakin, lagipula aku ingin membuktikan jika aku juga bisa membuat mommy dan daddy bangga! "
Mommy Zarina pada akhirnya mendukung keputusan sang anak. Daddy Morgan sendiri begitu senang akan pemikiran sang anak.
Essie tersenyum ke arah orang tuanya. Gadis itu telah bulat dengan keputusannya saat ini. Daddy Morgan hanya bisa memberikan dukungan dan nasehat untuk sang anak.
Tawa renyah terdengar dari perbincangan ketiganya. Essie dan mommy lekas pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam.
Dan malam ini apartemen Essie tampak ramai berkat kehadiran mommy dan daddy. Usai makan malam mereka pergi ke kamar masing masing.
Hari berikutnya usai sarapan, Essie lekas pergi ke perusahaan yang dia kirimkan surat lamarannya. Tiba di sana dia di suruh menunggu, menanti interview dengan pemilik perusahaan.
Skip
Ruangan kerja Savero
__ADS_1
Essie tertegun melihat sosok Savero yang duduk berhadapan dengannya.
"Kau akan di tempatkan di ruangan karyawan magang. " ujar Savero dengan wajah datarnya.
"Iya Pak. " jawab Essie dengan gugup. Savero lekas menghubungi Frans dan memberitahunya. Tak lama Frans datang, meminta Essie mengikutinya. Essie tentu saja menurut dan ke luar dari ruangan Savero.
Essie kini telah berada di ruangannya. Dia begitu serius mendengarkan apa saja tugasnya. Setelah selesai Frans langsung ke luar dari sana.
"Kau harus semangat Essie, kau pasti bisa. " ucapnya pada diri sendirii. Dia lekas membuka lembar demi lembar berkas yang ada di atas mejanya.
Gadis itu begitu serius dan fokus pada hari pertama dia bekerja. Dia ingin melakukan semuanya secara sempurna agar tak melakukan kesalahan meskipun kecil sekalipun.
Beberapa jam kemudian
Essie ke luar dari ruangan tepat jam makan siang. Dia langsung bertanya pada karyawan lain setelah itu pergi ke kantin. Di sana dia duduk bersama karyawan magang lainnya.
"Hai, kau karyawan baru di sini? " tanya seorang gadis berambut pendek.
"Iya, Hai aku Esther panggil saja Essie. " ucapnya dengan ramah.
"Akilla." jawabnya sambil tersenyum simpul. Pelayan datang mengantarkan makanan mereka. Pembicaraan keduanya terhenti, masing masing dari mereka fokus pada makanannya.
Tepat pukul setengah sebelas, mereka kembali ke ruangan masing masing. Essie hanya diam saja, saat karyawan senior mengunjingkan dirinya. Selain itu mereka juga tengah membahas tentang Savero, bos bereka yang tampan.
"Ya Tuhan, kenapa sih orang orang itu suka sekali mengunjingkan orang lain. " gerutu Essie sebal.
Essie tak habis pikir dengan pemikiran wanita yang ada di perusahaan, tempat dia bekerja ini.
tok
tok
Cklek
Frans masuk ke ruangan Essie. Essie sendiri lekas bangkit dan menyapa kedatangan Frans.
"Ada apa Asisten Frans? " tanya Essie dengan canggung.
__ADS_1
"Tuan Savero memanggil anda nona, Anda di suruh ke ruangan beliau
lagi. " cetus nya. Essie mengangguk, dia lekas ke luar dari ruangannya di susul Frans.
Setelah kepergian Essie, Frans tersenyum miring. Pria itu lekas bersiul dan kembali ke ruangan kerjanya.
Setelah mengetuk pintu, Essie lekas masuk ke dalam ruangan Savero. Savero terkejut hingga tanpa sadar menjatuhkan foto milik mendiang kekasihnya. Pria itu menoleh, menatap tajam kearah Essie.
"Siapa yang mengizinkan kamu masuk ke ruangan saya sembarangan? " sentak Savero dengan tatapan menghunus tajam.
"Tapi pak, asisten Frans bilang jika anda yang menyuruh saya datang ke sini. " cicit Essie.
Savero tak peduli dengan alasan yang di berikan Essie. Pria itu langsung beranjak dan memberesi. Essie tentu saja merasa bersalah, gadis itu mendekati nya lalu membantu membereskan pecahan kaca dari figura photo.
"Pergilah." Savero menepis tangan Essie hingga tanpa sadar tangan gadis itu terkena pecahan kaca.
"Awh. " keluh Essie.
Gadis itu langsung bangkit dan memegangi telapak tangannya yang berdarah. Essie beranjak ke luar dari ruangan Savero. Savero menatap kepergiannya dalam diam.
Essie sendiri segera mengobati tangannya di bantu Akilla. Gadis itu enggan menjawab pertanyaan dari temannya.
"Tangan kamu kok bisa luka sih Essie? " tanya Akilla.
"Aku terpeleset tadi di ruangan aku, Killa. " elaknya berbohong namun di percayai Akilla. Essie hanya bisa meringis menahan sakit sebentar. Usai di obati, keheningan melanda keduanya. Akilla langsung bangkit dan kembali ke ruangannya.
Essie sendiri begitu kecewa dan marah akan dengan sikap kasar bosnya. Namun dibalik semuanya, Essie hanya bisa mengalah dan merutuki kebodohannya.
"Apa maksud asisten Frans mengerjai aku? "
Gadis itu benar benar marah pada Frans yang berani mengerjai dirinya. Dia menyandarkan kepalanya di kursi sambil memejamkan mata.
Tanpa dia sadari Essie tertidur di kursinya hingga menjelang sore. Kehadiran Savero di ruangan tak di ketahui Essie sama sekali. Raut wajah pria itu tampak tertegun melihat telapak tangan Essie yang di balut perban.
Savero berniat menggendongnya namun dia mengurungkan niatnya. Pria itu justru menaruh botol obat di atas meja Essie kemudian ke luar dari ruangan gadis itu.
Beberapa saat berlalu Essie terbangun, dia lekas gelagapan. Gadis itu merasa bosnya ada di ruangan dirinya namun dia tak menemukan sosok Savero.
__ADS_1
"Mungkin saja hanya pikiranku. " gumam Essie. Jam menunjukkan waktu pukul dua siang, Essie lekas beranjak dari sana dan bersiap siap. Perempuan itu ke luar dan mendapati kantor terasa sepi. Essie melanjutkan langkahnya hingga ke luar, lalu memesan taksi.
Tanpa dia sadari ada yang memperhatikannya dari kejauhan. Savero mengamati Essie di dalam mobil.