
Sore harinya Morgan menjemput anak anak di sekolah. Tanpa sengaja dia bertemu dengan guru dari kedua anaknya.
"Maaf Tuan, ada apa ya? " tanya wanita itu dengan malu malu.
"Saya ingin menjemput anak anak saya! " ujar Morgan.
"Siapa anak anak Anda Tuan? "
"Daddy. " Pekik si kembar menghampiri Morgan. Wanita itu tampak terkejut dengan apa yang dia lihat sekarang. Essie menoleh kearah gurunya itu dengan pandangan melotot.
"Ibu guru Rere gak usah genit sama daddy kami, kami sudah punya mommy. " ceplos Essie. Wanita itu merasa malu dengan ucapan telak yang di ucapkan anak didiknya.
Wanita itu langsung pamit pergi begitu saja. Twins E lekas masuk ke dalam mobil di susul Morgan. Pria itu melajukan roda empatnya dengan kencang meninggalkan area sekolah.
Sepanjang perjalanan Essie tampak merajuk. Gadis cilik itu tak suka ada yang menggoda sang daddy. Morgan menghela nafas panjang, sepertinya dia perlu berusaha keras lagi agar princess kecilku tak merajuk begitu pikirnya.
Mereka lebih dulu jalan jalan sebelum pamit pulang.
Di Villa
"Karena mommy dan anak anak mommy, aku kehilangan daddy. " ucap Ravella.
Plak
"Jaga bicara kamu Vella. Beginilah ajaran mommy kesayangan kamu yang berani merendahkan orang
lain. " bentak Zarina pada putri sambungnya itu.
Kedua orang tua Morgan terkejut dengan tindakan Zarina barusan. Ravella sendiri, gadis itu terkejut dan menangis mendapati kemarahan ibu tirinya.
"Saya memang bukan ibu yang melahirkan kamu harusnya kamu bisa membedakan mana yang baik dan buruk. Satu lagi yang kamu hina itu adik kamu. " tegas Zarina.
"Dan saya tahu jika kepulangan kamu karena di usir oleh ibu kandungmu bukan? "
__ADS_1
Ravella menangis tergugu, gadis remaja itu hanya bisa menangis sesegukan. Zarina meminta kedua mertuanya membawa Ravella pulang.
"Sebaiknya mommy dan daddy bawa Vella pulang daripada aku lepas kendali. Kami semua akan menemui dia setelah dia mengakui kesalahannya. "
"Vella, ayo pulang bareng oma dan opa. " tawar nyonya Amel pada sang cucu. Kedua paruh baya itu bangkit, lekas membawa Vella bersama mereka.
Zarina mengusap wajahnya kasar, dia merutuki kebodohannya. Tak seharusnya dia menampar Ravella, dia tersulut dengan ucapan Ravella tadi.
Tak lama Morgan dan si kembar pulang. Morgan meminta sang anak lalu pergi ke kamar lebih dulu, dia menghampiri istri tercintanya.
"Sayang, ada apa. Apa ada sesuatu yang membuatmu kesal? "
"Ravella kembali Dad, dia di antar orang suruhannya dari Agista. " ungkap Zarina. Wanita itu pun menjelaskan apa yang terjadi di antara dirinya dan Ravella.
"Aku merasa bersalah pada Vella Dad, tak seharusnya aku menamparnya. " ujar Zarina menyesal. Morgan terdiam, dia hanya bisa memberikan pelukan pada sang istri.
Di sisi lain dikediaman Brighton, Oma Amel berusaha menasehati cucu perempuan sulungnya itu. Dia pun mengusap dan memeluk sang cucu.
Beberapa menit berlalu Ravella menghapus air matanya. Oma Amel mengusap kepala sang cucu dengan lembut.
"Mommy sudah menikah lagi oma, mommy lebih sayang sama adik dan keluarga barunya. " ungkap Ravella dengan mata berkaca kaca.
Oma Amel merasa kasihan dengan cucunya. Wanita paruh baya itu kembali memeluk sang cucu lalu mengajaknya menuju ke lantai atas.
Tepat pukul tujuh malam Morgan dan keluarga kecilnya datang berkunjung. Mereka berkumpul di ruang tamu, Zarina memberitahu jika Ravella kakak dari Erland dan Essie.
Kedua bocah itu langsung menyapa sang kakak dengan senyuman manisnya. Ravella sendiri justru hanya diam saja.
"Vella, jangan diam saja balas sapaan dari kedua adikmu. " tegur Morgan dengan tegas.
Mata Ravella tampak berkaca kaca, dia merasa sang daddy lebih menyayangi twins E dari pada dirinya. Gadis manis itu memaksakan senyumnya menuruti perintah sang daddy.
"Kak Vella ke mana saja, kenapa kakak enggak pernah pulang? " tanya Essie dengan polosnya.
__ADS_1
"Kakak ikut mommy Agista di luar negeri. " balas Ravella tanpa ada senyuman di bibirnya.
Essie kembali bertanya pada sang kakak namun Ravella tak menjawabnya. Zarina hanya bisa menghela nafas panjang, dia memilih bangkit dan pergi ke dapur.
Beberapa saat berlalu dia selesai menyiapkan makan malam. Dia segera memanggil semua keluarganya untuk bergabung. Hot mommy itu melayangi si kembar dan suaminya lebih dulu.
"Mau pakai lauk apa sayang? " tanya Zarina pada Ravella putri sambungnya.
"Tak perlu, Vella bisa ambil sendiri. " sahut gadis remaja itu.
Zarina pun tak lagi bertanya pada Vella. Dia kembali menatap kearah anak anaknya sambil tersenyum. Mereka makan malam dalam suasana tenang.
Morgan sendiri merasa tak enak hati dengan sang istri mengenai sikap putri sulungnya. Dia hanya bisa mengumpati Agista yang telah meracuni pikiran Ravella.
Setelah lima belas menit berlalu, Ravella langsung pamit begitu saja. Si kembar tentu saja menyusul sang kakak. Zarina merasa khawatir memilih menyusul setelah memanggil pelayan.
Matanya membulat sempurna kala melihat putri sambungnya mendorong Essie.
"Ravella. " bentak Zarina dengan keras.
Tubuh Ravella tampak bergetar mendapatkan bentakan dari ibu sambungnya. Zarina lekas mengajak kedua anaknya menuju ke kamar si kembar. Lalu dia ke luar dan menghampiri si sulung.
"Kenapa kamu mendorong adik adikmu? " tanya Zarina berusaha sabar.
"Mereka terlalu berisik Tante. " sahut Ravella.
"Kau bisa menegurnya dengan lembut, tak perlu mendorongnya Ravella. " pungkas Zarina.
"Jika ingin di sayangi semua orang,rubah lah sikap nakalmu itu. Atau kau ingin tante mengantarkan kamu bertemu keluarga ibu kamu? " gertak Zarina dengan tegas.
Ravella menggeleng, gadis remaja itu lekas masuk ke dalam kamarnya. Zarina menghembuskan nafas berat, memilih pergi ke kamarnya yang di susul sang suami.
"Aku harus bagaimana agar bisa membuat Ravella mengerti. " gumam Zarina dengan putus asa.
__ADS_1
Morgan merangkulnya dari samping kemudian mengajak istrinya untuk beristirahat. Zarina mengangguk pasrah, dia masuk ke dalam pelukan suami tercintanya.