
Suasana dingin kini menghiasai pembicaraan mertua dengan menantu. Nyonya Imelda tersenyum sinis menatap kearah Sasha penuh kebencian. Selain itu dia merasa jijik dengan wanita yang di nikahi putranya.
"Kamu selain murahan, juga tak punya harga diri ya. Kau sengaja menggoda putraku agar kamu di nikahi. Sekarang rencana licikmu itu telah berhasil Sasha? " sarkas Nyonya Imelda.
"Kami berdua saling mencintai satu sama lain. Kenapa Anda begitu merendahkan saya nyonya, apa anda sudah menjadi orang yang paling suci di dunia. " balas Sasha.
"Yang menjalani rumah tangga aku dan Marco bukan Anda. Apa menurut Anda, saya hanya secuil kotoran yang tak berhak bahagia. Saya memang memiliki masa lalu yang menjijikkan, namun saya berusaha berubah. " tegas Sasha.
Cih
Nyonya Imelda melipat tangannya di dada. Wanita paruh baya itu memandang rendah ke arah Sasha.
"Sampai kapanpun saya tak pernah menganggap kamu sebagai menantu. Kau hanya wanita murahan yang menggoda putraku. " ketus Nyonya Imelda.
Sasha menghela nafas panjang, berusaha menekan amarahnya dalam dada. Dia kembali memasang wajah datarnya kearah sang mertua.
"Kenapa Anda masih berada di sini, bukankah Anda alergi dengan wanita seperti saya. Saat ini sayalah nyonya di rumah ini. " ketus Sasha.
Nyonya Imelda tentu saja marah, wanita itu mengucapkan kata kata kasarnya. Sasha hanya diam tak menanggapinya, dia justru memanggil bodyguard. Nyonya Imelda sendiri langsung bangkit,dia menghampiri Sasha.
Plak
"Kau wanita murahan tak tahu diri, akan kupastikan kamu tak akan hidup bahagia dengan putraku. " pekik nyonya Imelda.
__ADS_1
Sasha tentu saja menyentuh pipinya. Dia lekas bangkit, meminta bodyguard membawa ke luar mertuanya. Sasha tak peduli dengan teriakan dari nyonya Imelda padanya.
Huh
Matanya kini berkaca kaca mengingat ucapan mertuanya barusan. Sasha mencoba tak peduli namun tetap saja hatinya sangat sakit. Kepalanya menunduk, menyentuh cincin pernikahannya dengan sang suami.
"Kenapa mami Imel begitu jahat dan kejam padaku. Aku sangat tahu jika masa laluku begitu buruk tanpa harus di ingatkan terus menerus. "
Sasha memilih beranjak dari sana dan pergi ke kamarnya. Tanpa dia sadari salah satu pelayan melihat kejadian tadi kemudian melaporkan pada sang majikan.
Sasha menaruh ponselnya di atas meja kemudian duduk di sofa di dekat ranjang. Wanita itu menangis sendirian di sana, meluapkan kesedihannya. Dia pun mengabaikan dering ponselnya yang mulai menganggu.
"Halo sayang. " sapa Sasha dengan senyuman di paksakan.
"Kamu lagi apa sekarang? " tanya Marco pada sang istri.
"Aku lagi bersantai di kamar
sayang. " jawab Sasha dengan tenang. Dia tak berniat memberitahu sang suami. Sasha tak ingin hubungan Marco dengan ibu kandungnya rusak hanya karena dirinya.
Marco sendiri menanyakan perihal kedatangan sang mami pada istrinya. Sasha terpaksa berbohong, dia tak ingin suami dan mertuanya kembali bertengkar hebat.
__ADS_1
Beberapa menit berlalu Sasha mengakhiri obrolan nya dengan sang suami. Dia menaruh kembali ponsel miliknya di atas meja.
"Maafin aku By, aku terpaksa berbohong. Jika aku jujur, kamu pasti akan bertengkar lagi dengan mami. Mami pastinya akan semakin membenci aku nantinya! "
Bosan, Sasha memilih ke luar setelah mengambil tasnya. Wanita itu ke luar dari mansion, melajukan roda empat nya dengan kecepatan sedang.
wanita itu memilih menenangkan diri di danau. Sasha turun dari mobilnya dan berjalan kearah danau, dia memilih duduk di salah satu bangku yang ada di sana. Sasha di sana tak lama, wanita itu beranjak dan masuk ke mobil.
Brum
Perempuan itu memilih menghadiri sebuah pameran seni. Setelah memarkirkan mobil, Sasha lekas turun dan masuk ke dalam.
Tanpa sengaja Sasha bertemu dengan Calvin, mantan suaminya. Raut wajahnya berubah datar, dia berniat pergi namun Calvin menahannya.
"Sha, aku minta maaf atas sikapku dulu padamu. " sesal Calvin.
"Aku sudah melupakannya, permisi. " Sasha berniat pergi namun Calvin mencekal tangannya. Tanpa mereka sadari, ada orang yang memotret keduanya secara diam diam.
Sasha menghempas tangan Calvin setelah itu berlalu pergi menghindari sang mantan yang turut menorehkan luka padanya. Wanita itu merasa malas dan moodnya jadi down saat ini.
"Kenapa aku harus bertemu dengan dia sih. " gumamnya berusaha menghindar. Sasha tak ingin berhubungan lagi dengan masa lalunya. Dia kembali menikmati berbagai jenis lukisan yang terpajang di sana.
Satu jam berlalu Sasha buru buru ke luar, dia lantas masuk ke mobil dan pergi. Sasha berharap Calvin tak mengejarnya dan membuat dirinya dalam masalah. Wanita itu memutuskan pergi ke sekolah sang anak.
__ADS_1