
Selain bersembunyi dari kejaran polisi, Davian juga mencari keberadaan Sasha dan putrinya yang telah pindah tanpa sepengetahuan dirinya.
"Sialan, kemana Sasha membawa putri kami pergi. " desis Davian kesal.
Pria itu mengusap wajahnya kasar. Dia teringat dengan pria yang memukulinya kemarin. Davian lekas mencari informasi mengenai pria bernama Marco itu. Setelah mendapatkan nya, Davian lekas pergi menemui Marco.
Skip
Davian mengajak bertemu Marco di sebuah Kafe. Kini mereka duduk saling berhadapan satu sama lain.
"Di mana Sasha dan putriku? " tanya Davian tanpa basa basi.
"Untuk apa mencari mereka, apa belum puas kau menghancurkan kehidupan mereka tuan Davian? " cecar Marco dengan wajah datarnya.
"Aku ingin meminta maaf pada mereka terutama pada putriku yang aku sia siakan. " ungkap Davian.
Marco memberikan nasehat pada Davian dengan bijak untuk tak lagi menganggu kehidupan Sasha dan Terry. Davian menundukkan kepalanya, rasa bersalah kini bersarang di benaknya.
Pria itu lantas menghubungi polisi dan memberitahu keberadaan Davian.
"Kau harus bertanggung jawab atas perbuatanmu dulu. Tak lama lagi polisi akan datang menjemputmu Dav! "
Beberapa saat berlalu Polisi datang dan menangkap Davian. Pria itu hanya pasrah namun raut wajahnya tampak kecewa. Semua pengunjung di sana kini membicarakan mengenai Davian. Setelah kepergian polisi yang membawa Davian, Marco lekas menghubungi Sasha lalu pergi dari Kafe.
__ADS_1
Siangnya Marcho kembali ke penrhouse. Pria itu langsung menemui Sasha. Sasha terkejut saat Marco justru memeluknya dengan erat. Tak lama dia melepaskan pelukannya, meminta maaf pada Sasha atas tindakannya barusan.
"Davian hanya ingin meminta maaf sama kamu dan Terry, dia telah di bawa polisi tadi. " ungkap Marco.
"Apa aku terlalu egois hingga melarangnya bertemu Terry? " tanya Sasha pada Marco.
"Kau memiliki alasan tersendiri hingga bersikap demikian! " ujar Marco sambil tersenyum.
Sasha menghela nafas panjang, dia merasa bersalah pada sang putri. Keduanya memilih ke dalam Penthouse. Wanita itu mengeluarkan ponselnya lalu menghampiri putri kecilnya di ruang tamu.
"Sayang lihat ini papa kandung kamu, namanya papa Davian. " ucap Sasha menunjukkan foto Davian pada putrinya.
"Lalu papa sekarang ada di mana Ma? " tanya Terry dengan polosnya.
"Papa lagi menjalani hukuman sayang, apa kamu ingin bertemu dengan papa kamu? " tanya Sasha yang di angguki Terry.
Sasha menurunkan egonya, dia pun mengajak putrinya bersiap siap. Setelah itu ke luar dari kamar. Keduanya segera menghampiri Marco dan bersama sama ke luar. Setelah masuk ke mobil, Marco melajukan roda empat nya menuju ke kantor polisi.
Skip
"Dia Teresa Jelita, alias Terry. " ungkap Sasha pada Devan. Devan langsung berlari memeluk putri kecilnya.
"Papa hiks. " Ayah dan anak itu saling berpelukan sambil menangis. Sasha sendiri mengulas senyumnya, dia melakukan hal ini hanya demi putrinya bahagia.
__ADS_1
"Maafin papa sayang, papa begitu jahat sama kamu dan mama. " ungkap Davian menyesali perbuatannya di masa lalu. Hot Papa itu kini menciumi wajah sang anak, meluapkan rasa rindunya pada si kecil Terry.
Davian membawa putrinya duduk di kursi. Pria itu memberikan pengertian pada sang anak. Selain itu dia juga kembali meminta maaf dan menjelaskan jika kaburnya dirinya hanya demi meminta maaf pada Terry.
Sasha berusaha menahan tangisnya melihat interaksi Davian dengan Terry. Davian menoleh kearah Sasha dan Marco secara bergantian.
"Marco, bisakah aku minta tolong. Bahagiakan Sasha dan Terry. Aku dulu telah gagal menjadi ayah untuk Terry saat dia masih dalam kandungan. " ungkap Davian.
"Tanpa kamu minta, aku pasti akan melakukannya. Sebaiknya kau jalani sisa hukuman kamu di penjara dengan baik! "
Davian mengulas senyumnya lalu mengangguk. Pria itu menoleh kearah mantan kekasih nya itu. Hanya ucapan maaf dan terimakasih yang bisa dia ucapkan pada Sasha.
Satu jam berlalu
Waktu kunjungan telah usai, Davian pamit pada princes kecilnya. Terry sendiri di gendong Marco saat ini, gadis mungil itu menatap kepergian sang papa. Mereka bertiga ke luar dari sana dengan perasaan leganya.
Sepanjang perjalanan pulang, Sasha mendengarkan celotehan putrinya yang tampak menggemaskan. Wanita itu kini bisa bernafas lega dan berusaha memaafkan kesalahan Davian.
"Baru kali ini mama melihat kamu tertawa lepas sayang. Mungkin selama ini mama terlalu egois hingga membuat kamu tersiksa. Kamu begitu merindukan papa kamu hingga tak ingin berpisah darinya. " gumamnya pelan.
"Gimana sayang kamu senang ketemu papa? "
"Seneng Ma! " Terry menunjukkan cengiran khasnya pada sang mama. Sasha hanya bisa mengelengkan kepalanya, mengusap kepala sang anak penuh kasih sayang.
__ADS_1
Marco sendiri tersenyum tipis, fokusnya kembali tertuju ke depan.