
Seiring sejalan nya waktu Ravella luluh dengan ketulusan yang di berikan sang ibu sambung padanya. gadis remaja itu kini tampak posesif menemani sang mommy yang sedang hamil calon adiknya.
"Mommy, ayolah lebih baik duduk saja dan jangan banyak bicara. " omel Ravella pada sang mommy tercinta.
Zarina menoleh, wanita hamil itu terkekeh pelan mendapati putrinya banyak bicara. Dia sangat senang melihat Vella telah menerima dirinya sebagai ibunya meski bukan kandung.
Usia kandungan Zarina saat ini telah memasuki bulan ke tujuh. Selama ini Dia di temani anak anak agar tak bosan. Morgan sendiri tengah melakukan perjalanan bisnis ke beberapa negara untuk memperluas jaringan bisnis nya.
"Sayang, kau ingin adik perempuan atau laki laki? " tanya Zarina menggoda sang anak.
"Aku sayang dua duanya entah itu laki laki atau perempuan. " jawab Ravella sambil tersenyum. Zarina mengulum senyumnya, mengusap kepala putrinya penuh kasih sayang.
"Oh ya Mom, daddy kapan pulang dari perjalanan bisnisnya? " tanya Vella sendu.
"Mungkin saja saat usia kandungan mommy genap sembilan bulan sayang. " cetus nya dengan santai. Zarina tak menampik jika dirinya juga merindukan sosok suaminya. Tubuh Ravella langsung lemas mendengar jawaban sang mommy.
Tak lama Twins muncul bersamaan dengan Cakra dan Terry. Anak anak langsung meramaikan suasana dengan celotehan mereka.
Zarina kembali tertawa saat melihat Erland, putranya berdebat dengan Terry. Erland mendengus pelan, bocah laki laki itu menoyor pelan dahi Terry. Terry kecil mencebik pelan, dia memilih bermain dengan Essie.
Mereka terus bercengkrama dengan santai. Zarina mengusap perut buncit nya dengan penuh kasih sayang tak lama lagi anak bungsunya akan lahir ke dunia.
Malam harinya, anak anak telah masuk ke dalam kamar masing masing. Zarina tengah asyik mengganti pakaiaan tanpa menyadari kehadiran seseorang.
__ADS_1
Grep
"Aku merindukan kamu sayang. " bisik Morgan dengan lembut.
Deg
Zarina menoleh, matanya berkaca kaca mendapati suaminya kembali dari perjalanan bisnisnya. Dia lekas memeluk suami tercintanya, Morgan menciumi wajah sang istri. Pria itu berlutut didepan perut besar wanitanya.
Cup
"Daddy kembali, maaf meninggalkan kamu, mommy dan ketiga kakak kamu. " bisik Morgan disertai kecupan hangatnya.
Beberapa menit berlalu, Morgan kembali berdiri. Dia mengiring istrinya duduk di sofa setelah itu pergi ke kamar mandi.
"Sayang, kenapa kamu pulangnya tak memberi kabar aku? " protes Zarina jengkel.
"Kejutan untuk kalian semua. " sahut Morgan dengan cengiran lebarnya.
Zarina terharu, dia begitu bahagia suaminya telah kembali. Wanita hamil itu membenamkan kepala nya di dada bidang sang suami. Keduanya lekas saling melepas rindu satu sama lainnya.
"Ini sudah malam sayang, sebaiknya kita istirahat sekarang. " ujar Morgan yang di angguki sang istri.
Pagi harinya, Cakra dan Terry telah di jemput orang tuanya masing masing. Kini Morgan dan keluarga kecilnya tengah sarapan bersama di meja makan. Usai sarapan, si kembar lekas memeluk daddy mereka itu.
__ADS_1
Zarina tertawa pelan melihat anak anaknya memeluk Morgan secara bersamaan. Mereka semua langsung pamit pada Zarina untuk pergi ke sekolah.
Wanita hamil itu memilih di rumah. Dia beranjak dari sana dan pergi ke ruang tamu.
Sementara itu sepanjang perjalanannya Morgan mengobrol dengan putri sulungnya. Ravella menoleh kearah daddy nya tersebut.
"Daddy, semalam mommy Agista menghubungi aku. " ungkap Ravella.
"Lalu apa yang mommy kamu katakan, sayang? " tanya Morgan pada putrinya.
"Mommy meminta aku pulang ke negara K tapi aku menolak terus mommy Agista marah. " ungkap nya.
Morgan terkejut mendengarnya. Pria itu tak mengatakan apapun hingga tiba di sekolah. Mereka turun dari mobil, Anak anak menciumi pipinya secara bergantian. Fokusnya kembali tertuju pada Ravella.
"Daddy, aku mohon jangan bilang sama mommy Zarin ya. Aku tak mau mommy Zarin kepikiran hingga membuat calon adik bayi kesakitan. " pinta Ravella.
"Tentu sayang, ya sudah kamu masuk gih dan belajar yang rajin! " tegur Morgan yang di angguki oleh Ravella. Remaja itu langsung pamit dan masuk ke area sekolah.
Morgan menatap kepergian sang anak dengan sendu. Hot daddy itu lekas masuk ke mobil dan melaju meninggalkan area rumah sakit.
Sepanjang perjalanan Morgan kepikiran dengan ucapan sang anak. Sepertinya dia perlu memberi nasehat pada Agista. Dia sangat sedih melihat putrinya tertekan jika berbicara dengan Agista, ibu kandung Ravella sendiri.
"Agista, Agista. Dari dulu hingga sekarang tak pernah berubah sama sekali. " gumam Morgan. Dia menambah kecepatan mobilnya agar segera sampai di Villa. Pria itu telah berjanji pada sang istri untuk tetap berada di Villa.
__ADS_1
Morgan turun dari mobilnya lalu bergegas masuk ke dalam Villa kemudian mencari keberadaan sang istri.