
Berbeda dengan Zarina, Sasha membesarkan anaknya sendirian. Wanita itu telah bercerai dari Calvin setelah mengetahui rencana buruk mantan suaminya dan juga dirinya keguguran.
Anak perempuannya di beri nama Teresa Jelita alias Terry, usianya saat lima tahun. Sasha menghampiri putrinya yang tengah bermain.
"Sayang, mama bawakan hadiah buat kamu! "
Terry menoleh, bocah manis itu langsung menghampiri sang mama. Sasha menyerahkan bonekanya pada sang anak. "Terimakasih Mama! "
"Sama sama sayang. " ungkap Sasha sambil tersenyum.
Senyumnya lenyap, dia merasa gagal memberikan keluarga utuh untuk sang anak. Dia juga telah mengetahui jika Davian telah di tangkap polisi. Mata nya kembali berkaca kaca, wanita itu berusaha tak menangis di depan sang anak.
"Gimana kalau hari ini jalan jalan ke taman bermain? " tawar Sasha.
"Aku mau Ma! " pekik Terry. Sasha tersenyum, dia pergi ke kamar untuk mengambil tas dan kunci mobilnya. Dia lantas mengandeng putrinya ke luar dan masuk ke mobil.
Brum
Sasha melajukan roda empatnya meninggalkan apartemen. Setelah beberapa menit, mereka akhirnya sampai. Keduanya lekas turun, Sasha membiarkan sang anak bermain di taman. wanita itu duduk di bangku sambil mengawasi putrinya.
"Maafin mama ya nak, mama tak bisa mengenalkan kamu pada ayah kandungmu. Mama masih sakit hati atas penolakan Davian pada saat kamu masih dalam perut mama. " gumam Sasha.
"Maaf juga karena kamu harus lahir dari wanita seperti mama. "
Dia merasa semua pria tak ada yang tulus. Sasha memutuskan akan hidup berdua dengan putri tercintanya. Hot mommy itu lekas bangkit minat putrinya terjatuh. Namun seorang pria telah menolongnya, membantu Terry.
"Terry sayang. " gumam Sasha panik.
Dia lekas memeluk sang anak dengan erat. Terry memeluk tubuh sang mama dan mengatakan dirinya baik baik saja.
"Ma, Terry baik baik saja." ucap Terry dengan polosnya.
Sasha menoleh kearah pria yang menolong putrinya. Dia langsung mengungkapkan terima kasih. Dia pun kembali membiarkan sang anak bermain di bak pasir. Sasha dan pria itu memilih duduk di bangku panjang.
"Kenapa Anda di sini Tuan Marco? " tanya Sasha pada pria yang merupakan atasannya di kantor.
"Menghilangkan bosan. " balas pria itu dengan santai.
__ADS_1
"Aku suka dengan anak anak, makanya aku ke sini. " cetus Marco sambil tersenyum tipis.
Tatapan Sasha kembali fokus ke depan, memperhatikan sang anak. Setelah satu jam lebih di sana, Terry mengajak sang mama pulang. Ibu dan Anak itu langsung pamit pada Marco. Keduanya masuk ke mobil dan meninggalkan area taman bermain.
Mereka berdua telah kembali ke apartemen. Sasha membantu sang anak melepaskan pakaiannya. Terry lekas pergi ke kamar mandi. Setelah beberapa menit gadis manis itu selesai mandi, dia segera memakai piyama.
Terry menghampiri sang Mama yang duduk di atas ranjang. Sasha menoleh, tersenyum tipis menatap wajah cantik putrinya.
"Ma, Terry kangen Papa. Apa Terry masih bisa bertemu dengan papa? " tanya Terry dengan polosnya.
Senyuman di wajah Sasha seketika lenyap. Wanita itu mengatupkan bibirnya rapat, bingung bagaimana caranya memberitahu putrinya mengenai Davian. Terry pun memperhatikan raut wajah sang mama.
"Maafin Terry ya ma, Terry membuat mama bersedih. " sesal Terry dengan mata berkaca kaca.
"Enggak sayang, kamu enggak salah. Apa kamu mau bertemu dengan papa kamu? " tanya Sasha dengan berat hati.
Terry menggeleng, gadis manis itu langsung memeluk sang mama. Sasha memeluk putrinya dengan erat, mengusap punggung sang anak dengan lembut. Wanita cantik itu melepaskan pelukannya lalu mengajak anaknya ke luar.
"Sayang kamu tunggu di ruang tamu, mama mau buatkan puding dan susu cokelat untuk kamu nak. " ucap Sasha.
Beberapa menit berlalu Sasha kembali dan menaruh makanan di atas meja. Terry langsung meminum susu cokelat kesukaannya.
"Pelan pelan sayang minumnya. " tegur Sasha dengan lembut.
"Huum! "
"Oh ya Ma, tadi om tampan tadi siapanya mama? " tanya Terry.
"Dia bos mama di kantor. " balas Sasha sambil tersenyum. Terry hanya mengangguk, gadis cilik itu kembali fokus pada acara kartun di televisi.
Dering ponselnya menyita perhatian Sasha. Wanita itu meraih ponselnya, ternyata mantan suaminya menghubungi dirinya.
tut
Sasha memilih abai, dia masuk kecewa dengan Calvin dan tak ingin berurusan dengan pria itu.
tok
__ADS_1
tok
Dia taruh ponselnya di atas meja, segera bangkit dan pergi ke depan. Setelah pintunya dia buka, ternyata bosnya yang datang ke apartemen. Sasha membiarkan Marco masuk ke dalam.
"Aku ingin memberikan hadiah untuk putrimu. " ujar Marco.
"Silakan! "
Marco berjalan pelan kearah ruang tamu. Dia lekas memberikan boneka dan mainan lainnya untuk Terry. Terry tentu saja sangat senang, gadis mungil itu mengucapkan terima kasih.
"Terimakasih Uncle Marco. " ucap Terry.
"Sama sama Terry. "
Terry memeluk boneka beruang yang di belikan Marco untuknya. Marco sendiri lantas membawanya ke pangkuan, pria itu juga memberikan kalung untuk si kecil. Sasha hanya menggeleng, tak enak hati dengan kebaikan bosnya.
"Terry sini sayang, kasihan uncle Marconya. " ucap Sasha dengan lembut.
"Om Marco baik Ma, dia belikan Terry banyak hadiah. " ungkap Terry dengan senyuman lebarnya.
"Seandainya Papa ada di sini, aku jauh bahagia Ma. "
Sasha terdiam. Wanita itu tersenyum miris mendengar pernyataan putrinya barusan.
"Sayangnya papa kandung kamu tak menginginkan kamu nak. " batin Sasha terluka. Sasha akan diam saat Devan ataupun Calvin menghina dirinya. Namun jika putrinya yang di caci maki, Sasha tak akan diam begitu saja.
Wanita itu tak akan membiarkan siapapun melukai fisik ataupun mental sang anak. Dia berusaha mengalihkan pembicaraan. Tanpa dia sadari Marco memperhatikannya dalam diam.
Ucapan Davian beberapa tahun lalu masih melukainya. Sasha tak peduli jika di katakan egois, dia hanya ingin melindungi sang anak dari kata kata kasar yang tak pantas di dengar.
"Sha, kenapa kamu melamun? " tanya Marco.
"Saya tak apa apa pak! " sahut Sasha sambil tersenyum tipis.
Keduanya kembali memperhatikan Terry yang tengah asyik menonton televisi. Sasha membiarkan bosnya memberikan perhatian pada si kecil.
"Apa memang kamu benar benar butuh seorang papa sayang. Mama sangat merasa bersalah pada kamu Terry. " gumamnya.
__ADS_1