
Dua hari kemudian
River menghadiri pesta sidang perceraian orang tuanya. Ekspresi pria itu tampak datar.Ravella mengenggam tangan sang tunangan. Wanita itu bisa merasakan kesedihan yang di rasakan River saat ini.
Setelah ketok palu, Mami Salsa resmi bercerai dari Papi Dimas. Wanita paruh baya itu menghela nafas panjang. Beban beratnya selama ini telah terangkat. Dia lekas beranjak dari kursinya, menghampiri putranya.
"Maafin mami nak. " ucap Mami Salsa pada sang putra.
River langsung memeluk wanita yang melahirkan dirinya itu kemudian melepaskannya. Tuan Dimas menghampiri keluarganya dengan raut sendu.
"Maafin Papi son! "
"Percuma, semuanya sudah terlambat. Penyesalan Anda hanyalah sia sia. " sahut River. Pria itu lekas membawa pergi mami nya di susul Ravella.
Tuan Dimas segera menyusul keluarganya. Sementara sepanjang perjalanan tak ada obrolan di antara River dan Ravella. Mereka semua telah sampai di kediaman Ganeshwara. Ketiganya langsung masuk ke dalam.
"Mami memutuskan akan pindah nak! " ungkap Mami Salsa.
"Itu hak mami. lagipula jika mami ingin pindah sebaiknya mami tinggal di penthouseku aja. " timpal River.
Mami Salsa mengulas senyumnya, wanita itu lekas pergi ke kamar. Tak lama Tuan Dimas sampai, pria paruh baya itu menghampiri sang anak.
Dia tak mengizinkan mantan istrinya ke luar dari mansion. River sendiri hanya diam tak bicara begitu juga dengan Ravella. Pasangan kekasih itu pergi ke ruang tamu.
"Untuk apa Papi melarang mami ke luar dari mansion ini? "
"Apa Papi ingin mengajak mami tinggal bersama anak hasil selingkuhan Papi itu? " ketus River dengan sinis.
__ADS_1
"Papi memang salah nak namun Felicia tetaplah adik kamu. " sahut Papi Dimas.
River berdecak pelan, menatap tajam kearah Papi kandungnya. Dia sama sekali tak menganggap Felicia sebagai adiknya.
"Sampai kapanpun aku tak akan mengakuinya sebagai adik! " tegas River.
Tak lama Mami kembali sambil menarik kopernya. River dan Ravella kembali berdiri, segera menghampiri mami Salsa. Tanpa membuang waktu, keduanya lantas ke luar dari mansion milik Papi Dimas.
"Mami, enggak perlu ke luar dari mansion ini. " bujuk Papi Dimas pada mantan istrinya.
"Tak perlu. Kamu bisa menyuruh anak kesayanganmu itu untuk tinggal di sini. " sahut Mami Salsa. Wanita paruh baya itu menghempas tangan mantan suaminya lalu masuk ke dalam mobil.
Brum
Lamborghini itu meninggalkan area Mansion. Tuan Dimas menatap kepergian keluarganya dengan raut nanarnya.
Sore harinya mereka telah berada di penthouse River. Saat ini Ravella membantu calon mertuanya menata pakaian ke dalam lemari. River sendiri kini sendirian di ruang tamu.
"Baik Tuan! "
Sementara itu Ravella dan sang calon mertua pergi ke dapur. Ravella membantu calon mertuanya membuat kue. Terdengar suara perbincangan hangat diantara mereka.
Beberapa saat berlalu usai membuat kue, Ravella mengambil piring lalu membawanya ke ruang tamu menyusul calon mertuanya. Kini mereka menikmati kue nya dengan santai.
Ravella memperhatikan raut sumringah calon mertuanya. Dia berharap mami Salsa akan selalu bahagia setelah ini.
"River apa kamu akan mengundang papi kamu saat kamu menikah
__ADS_1
nanti? " tanya Mami pada putranya itu.
"Menurut mami saja bagaimana, lagipula meski aku sangat membencinya namun dia tetaplah papiku. " jawab River santai.
"Mami setuju dengan ucapanmu nak. Semoga kalian berdua selalu bahagia. " ucap Mami dengan tulus.
Ravella kembali memakan kue yang diiris kecil kecil. Tak lupa dia juga memberikan suapan pada calon mertuanya. River melongo melihat kelakuan calon istrinya.
"Vella baby, harusnya aku yang kamu suapi. " rengek River. Mami Salsa meledek kearah putranya, dia membiarkan sang anak terus merengek seperti bayi.
Ravella sendiri tersenyum geli akan tingkah River barusan. Dia pun bergantian menyuapi calon suaminya. Tawa renyah ke luar dari bibir mami Salsa. Dia sudah lama tak tertawa lepas seperti sekarang.
Usai makan, River berlutut di depan sang mami. "Mam, aku minta maaf sama mami. Karena aku, mami harus berkorban begitu besar untukku! " sesal River.
"Mami tak pernah menyesali apa yang terjadi dalam hidup mami nak. Mami minta setelah menikah nanti, jadilah suami yang bertanggung jawab pada istri dan ayah yang baik untuk anak anak kalian kelak. " tutur Mami Salsa dengan bijak.
River mendengarkan setiap nasehat yang di berikan sang mami tercinta. Dia tak akan menyakiti Rivella apapun yang terjadi kelak, begitulah janjinya pada diri sendiri.
"Cukup doakan yang terbaik untuk kami mami, nasehati aku jika aku melakukan kesalahan. " tegas River.
Mami Salsa mengulas senyumnya, dia merasa bangga pada putra semata wayangnya itu. Rivella sendiri diam diam menangis, mendengarkan obrolan River dengan Mami Salsa.
Rivella merasa dejavu dengan apa yang dia alami dulu saat waktu kecil. Dia berharap River bisa menepati janjinya dan menjadi pria yang tepat untuknya. Rivella segera menghapus air matanya dengan cepat.
Dua wanita beda usia itu kembali mengobrol, membahas tentang masa kecil River. River sendiri hanya pasrah menjadi bahan gibahan dua wanita kesayangannya.
"Aku sangat senang melihat mami kembali ceria, hanya waktu yang akan menyembuhkan luka mami. " gumam River pelan.
__ADS_1
River mengeluarkan ponselnya, dia melihat nomor pesan dari sang papi. Pria itu memilih abai, menyimpan kembali ponselnya dalam saku celana. Fokusnya kembali tertuju pada Ravella dan Mami Salsa.