Nona Galak & Tuan Posesif

Nona Galak & Tuan Posesif
Bab 12 Kembalinya sang Mantan


__ADS_3

Hari berikutnya seorang wanita tampak menyeret kopernya setelah turun dari pesawat. Wanita itu Agista Pramesti, dia baru kembali dari negara K setelah menyelesaikan urusannya.


Wanita itu lantas masuk ke dalam mobil dan meminta sopir untuk jalan. Sepanjang perjalanan Agista tak henti hentinya mengumpat. Entah apa yang membuat wanita itu berkata kasar barusan.


Skip


Agis turun dari mobil, dia lantas menyeret kopernya ke dalam. Wanita itu masuk dan menaruh kopernya di dekat lemari.


"Sial, kenapa Morgan tak bisa aku hubungi? " umpat Agis dengan raut kesalnya. Diapun melempar ponselnya dengan asal, memilih pergi ke kamar mandi.


Di sisi lain Morgan tampak resah dan kesal. Pria itu begitu malas jika harus berurusan dengan mantan istrinya itu. Kini pria itu tengah sarapan bersama kedua orang tuanya di kediaman Brighton.


"Ada apa nak, sejak tadi mommy perhatikan kamu tampak kesal dan gelisah? " tanya Mommy Amelia pada Morgan.


"Enggak ada mom, sebaiknya kita lanjutkan sarapannya. " ujar Morgan sambil tersenyum. Mereka kembali sarapan dengan tenang.


Usai sarapan Morgan langsung pamit ke kantor. Pria itu ke luar dari kediaman Brighton dan segera masuk ke mobil. Morgan melajukan roda empatnya dengan kencang menuju ke perusahaan miliknya.


Skip


Sampai di sana Morgan langsung turun dan masuk ke dalam. Pria itu berjalan dengan gagahnya memasuki perusahaan. Para karyawan wanita begitu terpesona dengan ketampanan yang di miliki Morgan.


Morgan berlalu begitu saja menuju ke ruangan kerjanya. Dia sama sekali tak menatap sedikitpun para karyawan yang menyapa kedatangannya.


"Lihat dia sangat tampan, aku begitu tertarik dengan tuan Morgan sejak lama. " ungkap seorang wanita bernama Risha.


"Sudahlah jangan bermimpi kau Risha, tuan Morgan pasti memiliki selera wanita yang tinggi. " ujar salah satu dari mereka yang lain.


"Diam, kau hanya bisa membuat mood pagiku rusak. " ketus Risha yang langsung pergi begitu saja. Teman temannya hanya bisa menggeleng melihat kelakuan Risha barusan.


Setelah membuat kopi Risha langsung membawanya menuju ke ruangan sang atasan. Wanita itu lebih dulu mengetuk pintu setelah itu masuk ke dalam.


"Permisi Tuan, saya mengantar kopi untuk anda. " ucap Risha dengan senyuman manisnya.

__ADS_1


"Taruh saja di meja. " jawab Morgan tanpa membalikkan tubuhnya. Risha mengigit bibirnya, menatap punggung kekar milik Morgan. Wanita itu menatap penuh damba pria pujaan nya itu.


"Pergilah Risha, jangan sampai aku melemparmu dari balkon. " ujar Morgan dengan nada dinginnya.


Risha menelan salivanya kasar. Raut wanita itu berubah pucat pasi, diapun langsung pamit ke luar dari ruangan Morgan. Di luar ruangan dia hanya mampu merutuki kebodohannya.


Meski begitu dia tetap saja tertarik pada Morgan, akan melakukan segala cara untuk menarik perhatian pria tampan itu. Risha segera kembali ke dalam ruangannya dengan buru buru.


Siang harinya Morgan ke luar dari ruangan di ikuti asistennya Frans. Mereka berdua pergi ke salah satu restauran ternama. Frans langsung memanggil pelayan dan memesan makanan.


Sambil menunggu, keduanya mengobrol membicarakan bisnis. Frans menjelaskan jadwal dari sang atasan besok.


"Haruskah aku menolak kerjasama dari perusahaan Dawn? " tanya Morgan meminta pendapat sang asisten.


"Maaf tuan, saya tahu anda memiliki masalah dengan keluarga Dawn. Namun Anda harus tetap profesional. jangan libatkan permasalahan pribadi. " ujar Frans menyampaikan pendapatnya.


Morgan terdiam. Pria itu mengusap wajahnya perlahan. Tak lama pelayan datang mengantarkan pesanan mereka setelah itu menyingkir. Mereka memilih melanjutkan makan siang mereka lebih dulu.


"Morgan? "


"Bagaimana kabar kamu? " tanya Agista dengan lembut.


"Menurut kamu bagaimana? " ketus Morgan dengan raut datarnya. Agista tersentak kaget, dia berusaha menenangkan diri dan terus berbicara.


Frans sendiri memilih bangkit, menunggu di luar restauran. Dia tak ingin ikut campur masalah pribadi bosnya. Agista meraih tangan Morgan namun Morgan menepisnya.


"Morgan, apa kamu tidak merindukan aku dan Ravella. " ungkap Agista dengan mata berkaca kaca.


Morgan terdiam tak menanggapi ucapan Agista. Wanita itu terus berbicara di hadapan mantan suaminya. Dia berharap Morgan masih peduli dengan dirinya dan juga Ravella.


"Cukup, sebaiknya kamu pergi dari hadapanku sekarang. Sepertinya kamu sudah tak punya urat malu lagi Agis? " ujar Morgan dengan nada dinginnya. Pria itu menaruh uang di atas meja kemudian bangkit dan ke luar dari restauran.


Agista tentu saja langsung bangkit dan mengejar mantan suaminya itu. Dia mengetuk mobil milik Morgan, dua berusaha menghentikan kepergian pria itu.

__ADS_1


Morgan melajukan roda empatnya dengan kencang tanpa mempedulikan Agista. Sepanjang perjalanan pria itu tak henti hentinya mengumpat. Dia tak menyangka akan kembali bertemu dengan Agista.


Skip


mansion


Setelah memarkirkan mobilnya, Morgan turun dari mobil dan masuk ke dalam. Pria itu melangkah gontai menuju ke kamarnya langsung. Di dalam kamar, Morgan melempar jas yang dia pakai kemudian duduk di atas ranjangnya. Dia mengeluarkan ponselnya yang berdering sejak tadi.


"Zarina. " gumam Morgan pelan. Pria itu memilih mematikan ponselnya, saat ini dia belum siap berbicara dengan sang kekasih hati.


"Sialan. " umpatnya setelah melempar ponselnya dengan sembarangan. Morgan lekas bangkit, melesat ke kamar mandi. Dia pun membiarkan tubuhnya terguyur air.


Pria itu memukul tembok di hadapannya itu dengan keras. Morgan mengabaikan darah yang ke luar dari tangannya. Setelah beberapa menit berlalu pria itu ke luar dari kamar mandi. Selesai berpakaian, Morgan memilih pergi ke balkon.


Entah apa yang tengah di pikirkan pria itu saat ini. Terdengar suara helaan nafas panjang. Morgan teringat dengan perceraian dirinya dengan Agista dulu.


"Agista, Agista setelah sekian lama kenapa kamu harus muncul lagi. Bukankah kamu yang merebut Ravella dariku. " gumam Morgan dengan senyuman sinisnya.


"Cih. " Morgan benar benar benci dengan sikap Agista yang sejak dulu egois hingga sampai sekarang.


Morgan berdecak pelan, dia merasa bingung saat ini. Teringat dengan sosok Ravella, membuat hatinya lemah. Pria itu berusaha mengontrol dirinya, lalu mengeluarkan ponselnya.


Dia langsung mengeluarkan ponselnya kemudian menghubungi seseorang.


"Halo Charles, kau awasi kediaman Dawn. Apa Ravella ada di sana saat ini. " ujar Morgan.


"Baiklah Gan. " sahut Charles singkat tanpa bertanya apapun.


Tut


Morgan menyimpan kembali ponselnya dalam saku celana. Pria itu menatap lurus ke depan, di sana dia benar benar mencari ketenangan dirinya. Diapun memilih duduk di sofa sambil menunggu informasi dari Charles mengenai keberadaan Ravella.


"Aku harus apa sekarang. " gumam Morgan dengan perasaan resahnya.

__ADS_1


Lagi dan lagi terdengar suara umpatan dari bibirnya. Morgan begitu khawatir dengan keadaan Ravella saat ini. Dia berharap Ravella baik baik saja begitu pikir Morgan.


__ADS_2