
Sementara di Mansion, daddy Morgan tengah menggoda mommy Zarina. Sontak membuat wanita paruh baya itu merasa kesal dengan sang suami.
"Oh ayolah Daddy, ingatlah umur. Sudah saatnya punya cucu, bukan produksi baby lagi. " omel mommy Zarina.
"Hehe, mumpung mansion sepi dan anak anak liburan sayang. " balas Daddy sambil mencolek lengan sang istri. Mommy Zarina mendengus pelan, dia justru mencubit tangan sang suami.
Grep Daddy sendiri langsung memeluknya dengan erat. Mommy Zarina akhirnya pasrah, diapun memekik kaget kalau tubuhnya melayang dalam gendongan sang suami.
Meski usia keduanya tak lagi muda namun urusan ranjang masihlah aktif meski tak sesering saat mereka muda dulu.
Usai berbagi keringat, keduanya lekas membersihkan diri di kamar mandi. Pasangan suami istri itu ke luar dan turun ke bawah. Mommy pergi ke dapur membuat kopi untuk suaminya. Tak lama dia segera kembali ke ruang tamu.
"Ini daddy, kopinya! "
"Terimakasih mommy. " Daddy Morgan lekas menyesap kopinya dengan santai.Pria paruh baya itu menaruh cangkirnya di atas meja.
"Daddy, kau tak mengawadi anak anak liburan? " tanya Mommy.
"Mereka sudah besar mommy, lagipula si tengil River sudah menghubungi daddy. " ungkap Daddy Morgan.
Mommy Zarina bisa bernafas lega setelah mendengar pernyataan suaminya. Wanita itu meraih majalahnya kemudian membuka nya.
__ADS_1
"Aku sudah memperingatinya untuk tak macam macam mommy. Jika River melanggar, aku akan mencoret nya dari daftar calon suami Ravella. " tegas daddy Morgan.
Mommy Zarina tergelak mendengar pengakuan sang suami. Dia menggeleng pelan melihat sikap posesif suaminya pada putri mereka.
"Dasar Daddy posesif. " goda Mommy yang di sambut dengusan oleh suaminya.
"Aku juga berlaku sama dengan Essie, dia masih muda dan sebaiknya fokus pada kuliahnya lebih dulu. " pungkasnya.
Mommy Zarina setuju dengan apa yang di ucapkan suaminya. Dia menginginkan sang anak memiliki tanggung jawabnya sendiri sendiri. Wanita paruh baya itu kembali menatap majalah yang dia pegang saat ini.
Tak lama Nyonya Fafa dan suaminya datang berkunjung. Mommy Zarina langsung bangun, menyambut kehadiran keduanya. Cakra langsung menyapa teman dari kedua orang tuanya itu.
"Hei jaga bicaramu anak muda. " sahut daddy Morgan melototi anak dari temannya itu. Cakra tersenyum nyengir, dia lekas duduk di sofa kosong.
Para wanita hanya menggeleng melihat tingkah pria beda usia itu. Mommy Zarina memanggil pelayan untuk menghidangkan makanan untuk tamunya.
"Uncle Morgan, Essie di mana? " tanya Cakra tanpa basa basi.
"Untuk apa playboy cap teri sepertimu mencari putriku? " ketua daddy Morgan.
"Kenapa sih uncle masih aja sensi, memangnya apa salahku? " ceplos Cakra dengan mimik tanpa bersalahnya.
__ADS_1
Daddy Morgan melototi nya. Nyonya Fafa langsung menegur Cakra, putranya untuk tak mencari gara gara. Cakra sendiri mengatupkan kedua bibirnya dengan rapat.
"Sebaiknya kau urus saja para kekasihmu yang ada di luaran sana Cakra. Aku tak ingin putriku Esther di sakiti playboy sepertimu! "
Mommy Zarina menengahi suami dan anak dari sahabatnya. Wanita itu tak ingin terjadi perdebatan antara kedua pihak. Pelayan datang menyajikan camilan di atas meja. Nyonya Fafa sendiri merasa tak enak hati dengan kedua temannya.
"Maafin sikap Cakra ya Morgan. " ujar nyonya Fafa.
"Hm, its okey aku masih bisa menahan kekesalanku menghadapi si playboy cap kadal. " ujar Daddy Morgan dengan lirikan tajamnya yang tertuju pada pemuda di hadapannya.
Cakra pun hanya meringis mendengarnya. Pemuda itu lekas meminum kopi yang di sediakan. Para orang tua kembali mengobrol dengan santai. Tak lama pria itu langsung pamit pada semuanya.
Sepeninggal putranya, nyonya Fafa kembali meminta maaf pada Zarina dan Morgan. Mommy Zarina tentu saja tak mempermasalahkan hal ini.
"Sudahlah kalian jangan canggung gitu. " tegur Mommy Zarina.
"Mengenai Essie, kami tak buru buru menjodohkannya. Aku hanya ingin Essie fokus pada kuliahnya lebih dulu. " ucap Mommy Zarina sambil tersenyum.
"Ya aku mengerti Rin, lagipula aku juga tak akan setuju jika putrimu yang cantik itu harus berhubungan putraku yang pemain wanita. " dengus nyonya Fafa.
Sementara para pria hanya diam, menyimak perbincangan hangat istri istri mereka.
__ADS_1