
Suara umpatan memenuhi sebuah istana megah milik seorang pria. Pria itu memiliki sebuah tato naga di lengan sebelah kiri dan juga dadanya.
"Si4l4n, bagaimana bisa kamu gagal membvnvh anak dari musuhku itu. " umpat seorang pria yang di kenal maki Mister X dengan tatapan nyalangnya.
"Maafkan saya tuan. "
Bug
Mister X langsung menghajarnya berulang kali. pria itu kembali mengusap kasar, berlalu pergi dari sana dan menuju ke kamarnya.
Di dalam kamar dia mengambil foto mendiang kedua orang tuanya. Raut wajahnya menunjukkan penuh kebencian.
"Keluarga Brighton lihat saja sebentar lagi kehancuran akan menghampiri kalian. " desis mister X.
Pria itu tak sabar membalaskan dendam kedua orang tuanya. Fokusnya kini tertuju pada foto foto yang terpajang di dinding. Amarah dalam dadanya kembali membara melihat keluarga Brighton.
"Aku harus mencari cara lain. " desis pria itu.
Mister X langsung ke luar dari kamar menuju ke ruangan bawah tanah. Entah apa yang akan di lakukan pria jangkung itu.
Pria itu langsung duduk di sebuah kursi kemudian memandang kearah pria yang dia ikat.
"Bagaimana, apa kau setuju dengan tawaranku kemarin Davian? " tanya Mister X dengan seringai miringnya.
"Baiklah aku setuju, lepaskan ikatan tanganku ini. " ujar Davian. Mister X meminta anak buahnya melepaskan tali yang mengikat tangan dan kaki Davian.
Setelah selesai, Davia lekas duduk berhadapan dengan mister X. keduanya kini tengah membahas rencana kedua mereka.
Dua jam berlalu, Davian mengulum senyum miringnya. Dia pun telah memiliki rencana matang untuk menghancurkan Morgan dan keluarga pria itu.
"Kita mulai rencana ini besok, kau harus melakukan rencana yang kuta susun dengan rapih. " ujar mister X pada partner in crime nya itu.
"Hm oke. " balas Davian sambil tersenyum.
Dering ponsel mengalihkan perhatiannya. Mister X langsung mengangkat telepon dari salah satu anak buahnya.
"Bagaimana? "
__ADS_1
"Mereka masih ada di rumah sakit mister. " ujar sang anak buah.
"Terus awasi mereka Rex! " ujar mister X penuh penekanan.
Tut Mister X mengakhiri sambungan telepon nya. Davian tentu saja sangat senang memiliki partner seperti mister X. Salah satu pengawal mengantarkan vodka. Davian langsung menuangkan ke gelas masing masing kemudian bersulang.
Setelah selesai Davian langsung pergi dari markas mister X. Pria itu menghembuskan lega, masuk ke dalam mobilnya dan melesat kencang. Pria itu memutuskan pulang ke apartemennya.
Skip
Apartemennya
"Jika aku tak bisa memiliki Zarina, Morgan juga tak bisa. " desis Davian dengan tatapan sinis nya. Pria itu berjalan angkuh memasuki apartemennya.
Davian benar sangat membenci Morgan. Dia ingin sekali melihat rival nya itu hancur tanpa sisa. Pria itu benar benar tak sabar menantikan hal itu tiba. Dimana Morgan dan keluarga besar pria itu hancur.
Davian menghela nafas panjang. Dia mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi seseorang. Dia pun mengajak Agista bertemu, sepertinya ada ide licik dalam otaknya saat ini. Pria itu lekas bangkit dan pergi dari apartemen.
Sementara di rumah sakit, Zarina tengah menemani suaminya. Dia berusaha menghibur sang suami yang tampak jenuh. Wanita hamil itu tersenyum geli melihat wajah masam suaminya.
"Kau tak pantas merajuk seperti itu sayang, lebih baik kau istirahat aja. " ucap Zarina dengan lembut.
"Ciuman sayang. " sahut Morgan. Zarina terbelalak kemudian terkekeh pelan. Wanita itu langsung bangkit, berjalan menghampiri suaminya.
cup
Zarina melayangkan kecupan tepat di bibir bayi besarnya yang merajuk itu. Morgan tentu saja tak menyiapkan kesempatan, dia memeluk pinggang sang istri Lalau memperdalam ciuman mereka.
Morgan mengakhiri ciumannya, mengusap bibir sang istri tercinta. Dia juga kembali menciumi perut wanitanya, menyapa sang calon buah hati.
"Sudah ya By, kamu enggak lagi ngambek 'kan? " ledek Zarina yang di balas dengusan oleh sang suami. Morgan bergeser pelan, dia menepuk pelan tempat di sebelahnya.
"Aku takut menekan luka kamu sayang. " ucap Zarina.
"Ayolah naik sayang. " pinta Morgan.
Zarina menurut, dia turut berbaring di sebelah sang suami di ranjang pasien. Morgan dengan puas mengusap perut buncit istrinya. Keduanya kembali berciuman dengan mesra namun tak terlalu lama.
__ADS_1
Keduanya mengobrol ringan mengenai nama calon buah hati mereka. Dia tak ingin membahas masalah mengenai kejadian yang menimpa Morgan.
Tepat pukul tujuh malam, mommy Amelia dan Daddy Kenzo datang berkunjung. Mereka membawakan makan malam untuk Morgan dan Zarina.
Zarina langsung makan, dia pun membiarkan sang mertua nenyuapi Morgan.
Selesai makan malam, Mommy Amelia menanyakan perihal keadaan sang putra. Wanita paruh baya itu langsung beralih duduk di sebelah menantunya.
"Sayang kamu di sini atau mau pulang? " tanya mommy Amel.
"Di sini saja mommy. " sahut Zarina sambil tersenyum.
"Ya sudah mommy temani kamu tidur di ranjang satunya ya. " ungkap mommy yang di angguki Zarina. Mommy lekas bangkit, membantu sang menantu bangun dan tidur di ranjang lainnya. Ya ruangan Morgan di beri ranjang satu lagi untuk beristirahat.
Morgan kembali mengobrol dengan sang Daddy. Calon hot Daddy itu masih begitu penasaran dengan siapa pelaku yang melukai dirinya. Daddy Kenzo sendiri tak bicara apapun pada sang anak mengenai pemilik tatoo naga itu.
"Dad, apa daddy tahu siapa pemilik tatoo itu? " tanya Morgan.
"Fokus saja pada kesehatan kamu son. Daddy masih mencari tahu siapa pelaku yang melukai kamu
itu. " balas daddy Kenzo.
Morgan hanya mengangguk, dia lekas memejamkan matanya. Tak lama pria itu terlelap dalam mimpinya. Daddy Kenzo menghela nafas panjang, entah apa yang pria paruh baya itu pikirkan saat ini.
"Sepertinya dendam masa lalu akan terulang kembali. " gumam Daddy Kenzo.
Daddy Kenzo lekas bangkit, memilih berbaring di atas sofa. Pria paruh baya itu segera memejamkan matanya terbang ke alam mimpi.
Dini hari Zarina terbangun, wanita itu baru saja mengalami mimpi buruk. Suara teriakannya membangunkan semua orang yang ada di ruangan.
"Nak ada apa kenapa kamu berteriak? " tanya mommy pada sang menantu.
"Aku mimpi buruk mom. " sahut Zarina lirih.
"Mimpi itu hanya mimpi buruk. " bujuk mommy Amel pada menantunya. Wanita paruh baya utu memeluk sang menantu, berusaha menenangkan Zarina. Zarina sendiri menangis dalam pelukan mertuanya.
Morgan dan Daddy saling melirik satu sama lain. Ingin dirinya memeluk sang istri namun keadaan tak memungkinkan. Mommy Amel kembali mengajak Zarina berbaring, dia berusaha menenangkan menantunya itu.
__ADS_1
"Percaya pada mommy, mimpi itu hanya bunga tidur. Kita istirahat ya sayang, suasana malam tak bagus untuk kamu. " sahutnya.
"Iya mommy, maaf telah membuat kalian terbangun. " sesal Zarina. Mommy Amel memakluminya, mereka kembali memejamkan mata.