
Sementara sore itu Erland membawa Vivian ke penthouse nya. Dia pun meminta polisi untuk terus mengawasi Vivian dari jauh.
"Pelayan. " teriak Erland.
Pelayan datang memenuhi panggilan sang majikan, setelah memberikan hormat menunggu Erland bicara.
"Bawa wanita ini ke kamarnya. " titah Erland dengan wajah datarnya.
"Ingat kamu di sini hanya menumpang. Jika kamu berani memasuki kamarku, kupastikan kamu habis di tanganku. " desis Erland dengan tatapan tajamnya.
Erland berlalu pergi. Vivian menatap kepergian suaminya dengan tatapan nanar. Wanita itu di antar pelayan hingga ke kamarnya.
Skip
Vivian duduk di atas ranjangnya. Dia mengusap perutnya dengam lembut. Wanita itu bangkit, beranjak pergi ke kamar mandi. Usai mandi dan berganti pakaian, dia memutuskan ke luar dari kamarnya.
Tatapannya tertuju pada Erland yang tampak berbincang hangat dengan Sachi. Vivian terdiam, dia tentu saja cemburu melihat Erland bersama perempuan lain. Dia memilih kembali ke kamar, tak tahan dengan pemandangan di depannya yang menyesakkan dada.
Malam harinya, suasana tampak tegang. Sachi memperhatikan sang majikan yang tampak dingin pada Vivian.
"Maaf Tuan, nona ini siapa? " tanya Sachi ragu.
"Dia Vivian, perempuan malam yang aku tebus. " balas Erland dengan nada datarnya. Vivian tertegun mendengarnya, wanita itu tampak menahan sakit hati atas uvapan Erland barusan. Namun dia memilih diam, mereka makan malam bersama di meja makan.
Setelah lima belas menit berlalu, Erland selesai makan lebih dulu. Dia meminta Sachi mengantarkan kopi ke kamarnya. Gadis itu mengangguk, menuruti perintah sang majikan.
Sachi segera membereskan meja makan setelah itu baru mengantar kopi milik Erland. Setelah selesai dia kembali menemui Vivian di ruang tamu.
"Maaf nona, sebenarnya ada hubungan apa anda dengan tuan Erland? " tanya Sachi dengan lembut.
__ADS_1
"Aku hamil anaknya Erland. " ungkap Vivian tanpa ada keraguan.
Deg
Sachi tentu saja terkejut. Gadis itu menatap kearah Vivian dengan pandangan tak percayanya.
"Apapun itu, kamu jangan suka ataupun mencintai suamiku. Erland hanya milik aku dan calon bayi
kami. " ujar Vivian dengan tegas.
Wanita hamil itu langsung pergi ke kamarnya meninggalkan Sachi. Sachi sendiri tentu saja kecewa, dia berusaha menekan perasaan sukanya pada Erland. Menurutnya rasa itu begitu salah dan tak seharusnya tumbuh.
"Kau harus ingat Sachi, sadar posisi antara kamu dan majikanmu itu. Kalian berdua layaknya langit dan bumi, tak bisa bersatu. " gumam Sachi pelan.Dia bangkit, berjalan gontai menuju ke kamarnya.
Keesokan harinya, Sachi di minta melayani Erland di meja makan. Vivian yang melihatnya tersenyum miris. Wanita itu merasa benar benar tak di anggap sama sekali oleh suaminya.
Erland melirik kearahnya denan tatapan datarnya. "Dengarkan ini baik baik Vi, aku sangat menyesal bertemu dan mengenal kamu. " ujar Erland.
"Sachi, kau awasi dia dan jangan Sampai dia memasuki kamarku. " perintah Erland.
"Baik Tuan! "
Erland langsung beranjak dan pergi begitu saja menuju ke kantor. Setelah kepergian Erland, Sachi melanjutkan sarapannya. Usai sarapan, dia hanya tak ambil pusing saat Vivian terus mengawasinya.
Gadis itu langsung membawanya menuju ke dapur. Vivian sendiri menghela nafas berat, mencoba menahan kekesalannya. Wanita hamil itu memilih pergi ke ruang tamu.
Tak berselang lama mommy Zarina datang berkunjung. Wanita paruh baya itu langsung menemui sang menantu.
"Pagi tante. " sapa Vivian.
__ADS_1
"Pagi. " balas mommy dengan singkat. Wanita itu menanyakan perihal keadaan calon cucunya. Vivian menjawab apa adanya dengan santai.
Vivian meminta maaf atas apa yang telah dia lakukan hingga membuat kerusuhan. Mommy Zarina membuang nafas berat, dia tak mungkin memusuhi wanita yang mengandung calon cucunya.
"Jaga sikap kamu, kali ini kau tak sendiri. Buktikan pada semua orang jika kamu benar benar menyesal. " ujar mommy Zarina dengan lugas.
"Iya Tante, terimakasih telah mempercayai aku. " balas Vivian.
mommy memanggil pelayan. Tak lama Sachi datang dan menerima susu ibu hamil. Dia mengangguk dengan apa yang di perintahkan nyonya besarnya. Gadis itu lekas berlalu pergi.
"Dia siapa Vi? " tanya mommy.
"Namanya Sachi tante, dia pelayan pribadi Erland. " ungkapnya. Mommy Zarina mengangguk dan kembali mengobrol dengan Vivian. Tak lama Sachi kembali, menyerahkan susu bumil dan menaruh secangkir teh di atas meja.
Vivi meminum susu ibu hamilnya. Setelah minum, dia menaruh gelasnya di atas meja.
"Sachi, duduklah di dekat tante. " ujar Mommy Zarina pada pelayan putranya.
"Eh tapi nyonya? "
Gadis itu pasrah, lekas duduk di dekat orang tua Erland. Mommy memperkenalkan dirinya dan menginterogasi Sachi.
"Selama ini tuan Erland banyak membantuku nyonya, dia sangat baik dan perhatian. " ungkap Sachi sambil tersenyum.
"Benarkah, tapi dia tak pernah berbaur kasar kan nak? " tanya Mommy yang di tanggapi gelengan.
Mommy Zarina cukup lega mendengarnya. Vivian tentu saja iri dengan Sachi yang bisa mengobrol dengan mommy Zarina.Dua wanita beda usia itu terus mengobrol dengan santai hingga mengabaikan keberadaan Vivian.
"Ehem, Sachi sebaiknya kau kembali ke belakang. " ucap Vivian dengan halus.
__ADS_1
"Tapi, mommy masih ingin bicara dengan Sachi. " sahut mommy Zarina. Vivian kembali bungkam, dia merasa malu dengan ucapan mertuanya.
mommy Zarina bangkit, mengajak Sachi pergi ke belakang. Vivian berdecak pelan, segera menyusul ke taman belakang. Dia merasa semuanya sama sekali tak peduli dengan dirinya yang hamil keturunan Brighton.