Nona Galak & Tuan Posesif

Nona Galak & Tuan Posesif
Bab 8 Liburan


__ADS_3

Keesokan harinya, Zarina, Farasya dan Morgan telah berpamitan. Kini mereka dalam perjalanan menuju ke Villa. Sepanjang perjalanan Zarina lebih banyak mengobrol dengan Farasya.


"Kau tahu Zarin, aku bagai orang ketiga di antara kamu dan Morgan. " dengus Farasya


Zarina tergelak mendengar omelan sahabatnya. Morgan sendiri hanya diam, dia fokus ke jalanan.


Beberapa menit berlalu akhirnya mereka sampai di Villa. Ketiganya langsung turun dari mobil, masing masing menyeret koper lalu masuk ke dalam. Zarina pergi ke kamar yang di tunjukkan Morgan padanya. Dia segera membereskan pakaian ke dalam lemari kemudian membersihkan diri di kamar mandi.


Selesai berpakaian, Zarina ke luar dan turun ke bawah. Dia langsung menemui Morgan yang ada di ruang tamu. Keningnya berkerut melihat kekasihnya mengobrol dengan seorang pria.


"Siapa dia Morgan? " tanya Zarina penasaran.


"Hai aku Ezekiel, teman lama Morgan. " sahut pria dengan rambut pirangnya itu. Zarina menyapanya dengan santai lalu duduk di sebelah Morgan.


Morgan melanjutkan obrolannya dengan Ezekiel. Fafa datang menyusul, gadis itu menghentikan langkahnya melihat kehadiran Ezekiel. Zarina yang melihatnya, melambaikan tangan dan memintanya bergabung bersama dengannya.


"Hei Farasya, kenapa kamu diam saja? "


"Enggak papa Zarin. " elak gadis itu. Zarina menghela nafas panjang, dia memilih mengajak Morgan jalan jalan yang di setujui pria tampan itu.


Sementara Farasya atau biasa di sapa Fafa hanya diam. Raut wajah gadis itu tampak datar menatap kearah Ezekiel. Ezekiel mengajak bicara gadis di hadapan nya saat ini.


Fafa hanya berdecak pelan, tak menanggapi pria menyebalkan yang tak ingin lihat. Merasa di abaikan, Ezekiel menghela nafas panjang.


Pria itu kembali memperhatikan Fafa dalam diam. Entah apa yang tengah Ezekiel pikirkan saat ini.


"Kau masih marah atas kejadian kemarin Fa? " tanya Ezekiel.


"Menurutmu bagaimana tuan Eze? " cetus Farasya. Ezekiel hanya bisa berdecak pelan, tak menyahuti perkataan Farasya barusan. Gadis itu memilih memainkan ponselnya, dia sangat malas jika harus berbicara dengan Ezekiel.


Berbeda dengan Farasya dan Ezekiel yang seperti tom dan jerry. Morgan dan Zarina semakin mesra, kedua insan kekasih itu tengah asyik bermesraan di dekat air terjun.


Pria tampan itu memeluk sang kekasih dari belakang. Zarina sendiri bersandar di tubuh kekar Morgan, menikmati waktu berdua mereka. Gadis itu benar benar tampak bahagia saat ini. Tangan keduanya pun saling bertautan satu sama lain.

__ADS_1


Morgan membenamkan kepalanya di ceruk leher sang kekasih. Pria itu merasa tak sabar ingin menikahi gadis pujaan nya ini. Zarina langsung berbalik, gadis itu memeluk sang kekasih dengan erat.


"Kenapa hm? " tanya Zarina.


"Aku ingin cepat cepat menikah dengan kamu baby girl. " gumam Morgan tanpa melepaskan pelukannya.


Zarina terdiam, gadis itu tampak tak memiliki jawaban atas pernyataan Morgan barusan. Morgan langsung menjauhkan wajahnya, menatap lekat wajah cantik itu.


cup.


Pria tampan itu langsung menciumnya sebentar. Zarina mengerucutkan bibirnya, merasa sebal dengan Morgan yang suka mencium dirinya seenaknya. Morgan tertawa, pria itu membawa gadisnya ke dalam pelukan hangatnya.


Zarina memilih berenang di dalam danau setelah melepaskan dressnya. Morgan tentu saja menyusulnya, pria itu melepaskan kaosnya kemudian menghampiri gadisnya. Gadis cantik itu mengalungkan tangannya ke leher Morgan. Keduanya kembali berciuman dengan mesra di sana.


"Umh. " Gadis itu meremas rambut Morgan, kala pria itu bermain dengan buah persik nya yang begitu sintal. Pria tampan itu membawa gadisnya ke tepian.


"Nikmat sayang. " gumam Morgan menjauhkan wajahnya. Pandangan pria itu berubah, penuh gairah. Zarina sangat tahu jika sang kekasih begitu menginginkan dirinya.


"Sabar ya Boo. " ucap Zarina lembut sambil mengusap wajah sang kekasih. Dia kembali mengenakan br4nya yang di lepas Morgan.


Tepat pukul tujuh malam mereka berempat berkumpul di meja makan. Kini mereka makan malam dalam suasana tenang. Zarina tentu saja menyuapi Morgan dengan mesra. Farasya tersenyum geli melihat kedua temannya yang tampak bucin itu.


Dia tentu saja bahagia melihat sang sahabat telah move on dari Davian. Farasya kembali diam, gadis itu fokus pada makanannya.


Selesai makan malam, Farasya dan Zarina segera membereskan meja makan kemudian pergi ke kamarnya. Sementara Morgan dan Ezekiel mengobrol di ruang tamu.



Zarina menghela nafas panjang, gadis itu telah berada di atas ranjangnya. Dia memilih berbaring di atas ranjangnya, teringat akan tawaran menikah dari Morgan.


"Aku tahu Morgan pasti kecewa dengan penolakan aku. " gumam Zarina.


Zarina mengusap wajahnya, dia menyentuh cincin di jarinya saat ini. Gadis itu memikirkan kembali tawaran menikah dari Morgan.

__ADS_1


Hoam


Dia merasa mengantuk, gadis itu segera berbaring dan memejamkan matanya.


Zarina terbangun di tengah malam. Wajah gadis itu di penuhi keringat, dia hanya bisa mendengus kesal. Zarina segera ke luar dari kamar dan turun ke bawah. Dia langsung pergi ke dapur untuk minum.


Ehem


"Kau terbangun Zarin? " tanya seseorang. Zarina menoleh, mendapati Ezekiel yang baru selesai membuat mie. Gadis itu langsung mengangguk.


"Kau mau mie,aku buat dua tadi? " tawar Ezekiel sambil tersenyum.


"Iya. " jawabnya singkat. Ezekiel segera membagi mie rebus nya menjadi dua kemudian membawanya ke meja makan di susul Zarina dengan dua gelas air di tangannya.


Di sana mereka berdua makan mie instan dengan lahap. Ezekiel mencoba mengajak bicara yang di tanggapi Zarina dengan santai.


Zarina meletakkan sendok nya setelah selesai makan. Fokusnya kembali tertuju pada Ezekiel.


"Kamu enggak ada niatan tersembunyi 'kan Eze? " tanya Zarina dengan curiga.


"Tentu saja tidak. " tegas Ezekiel dengan serius.


"Lagipula aku hanya menganggap mu teman. " pungkas Eze dengan tenang. Zarina bisa bernafas lega mendengar pernyataan Ezekiel barusan. Selesai mengobrol mereka lantas kembali ke kamar masing masing.


Zarina telah mengunci pintu kamarnya. Gadis itu kembali berbaring di atas ranjang, menarik selimut hingga sebatas bahunya. Dia merasa bersalah pada Ezekiel karena dirinya terlalu curiga pada pria itu.


"Ezekiel kayaknya cocok dengan Fafa. " gumam Zarina. Entah apa yang gadis itu pikirkan saat ini, sepertinya dia ingin menjadi mak comblang antara Farasya dengan Ezekiel.


Huh


"Fa, kamu juga berhak bahagia. " gumam gadis itu. Zarina menatap langit langit kamarnya, memikirkan cara agar sang sahabat bisa dekat dengan Ezekiel.


Gadis cantik itu buru buru memejamkan kedua matanya. Tak lama Zarina terlelap ke alam mimpi. Tampa gadis itu sadari, ponselnya berdering nyaring. Namun lambat laun ponsel itu mati dengan sendirinya.

__ADS_1


Hal sama tengah di rasakan Morgan saat ini. Pria itu tampak tak bisa tidur di dalam kamar pria itu sendiri.


__ADS_2