
Setelah pernikahan sang kakak, Esther memilih tinggal di apartemen yang di sediakan daddy nya. Dia memilih menjaga jarak dari Erland, saudara kembarnya sendiri.
Saat ini Essie tengah berada di teras di temani Bambi, anjing pupies berwarna putih kesayangan nya. Dia usap kepala Bambi dengan lembut, Essie banyak bercerita pada Bambi.
"Rasanya sepi ya Bam! "
Guk guk Bambi mengonggong kecil sebagai balasan.
Merasa bosan Essie memilih menyanyi lagu kesukaannya. Dia hanya ingin menghibur dirinya saat ini.
Drap
drap
"Mau sampai kapan kamu diam diam an dengan kak Erland, Kak Essie? " tanya Nolan yang tiba tiba datang dan langsung meraih Bambi ke pangkuan.
"Kamu bela kak Erland, Nol? " protes Essie dengan tatapan kesalnya.
Nolan mendengus pelan, dia langsung menjitak kepala kakak ketiganya. Essie merotasi malas, mengusap kepalanya yang di jitak.
"Aku sudah mantap untuk tinggal di apartemen ini Nolan, lagipula aku sudah minta izin mommy dan
daddy. " ungkap Essie yang membeberkan rencananya pada sang adik.
"Mengenai masalahku dengan Erland, entahlah aku masih kesal dengan dia yang justru membela pacarnya daripada aku adiknya sendiri! "
"Oh ya Nolan, ngomong ngomong kamu punya kenalan cowok ganteng gak? " tanya Essie pada sang adik.
"Enggak ada, kalau mau cari pacar cari sendiri sono. " ceplos Nolan. Essie langsung menjitak kepala adiknya yang menjahili dirinya. Nolan sendiri tertawa melihat raut kesal sang kakak.
Essie memilih jalan, dia meminta Nolan menjaga Bambi. Gadis itu ke luar dari apartemennya, segera masuk ke dalam mobil dan melesat kencang.
__ADS_1
Gadis itu menghentikan mobilnya di area mall. Essie lekas turun dari mobil kemudian masuk ke dalam mall. Dia membeli berbagai camilan yang dia sukai.
"Essie. " panggil seorang gadis berkuncir menghampirinya. Essie langsung menoleh, tersenyum melihat sang sahabat.
"Chelsea, kamu bareng siapa? "
"Oh iya kenalkan ini kakak aku namanya Savero. " ujar Chelsea. Essie lekas mengulurkan tangan pada kakak dari sahabatnya itu.
Savero hanya menyebutkan namanya dengan ekspresi dingin. Chelsea tersenyum kikuk, dia menyikut lengan sang kakak. Gadis itu meminta maaf pada Essie.
Kedua gadis itu belanja sambil mengobrol. Setelah selesai keduanya pergi ke kasir, melakukan pembayaran di sana. Usai belanja, mereka lekas ke luar dan kembali ke mobil masing masing.
Kini mereka sampai di apartemen milik Essie. Dia menyiapkan camilan dan makanan lalu membawanya ke meja. Essie memilih mengobrol dengan Chelsea. Savero sendiri hanya diam saja tanpa mengatakan apapun.
"Maaf ya Essie, kakak aku memang kaku dan dingin. " bisik Chelsea.
"Ya tak masalah Sea! " jawab Essie sambil tersenyum. Chelsea lekas menyesap jus buatan sang sahabat.
Nolan pamit pulang pada sang kakak. Essie menggeleng menatap kepergian Nolan, setelah pemuda itu berbisik bisik di telinganya.
"Tapi Nolan sangat jahil, Sea! " keluh Essie pada sahabatnya. Chelsea tertawa pelan mendengar keluhan sang sahabat. Savero hanya diam, menatap datar kearah Essie. Essie sendiri tampak canggung dengan tatapan Savero padanya.
Essie memilih kembali mengobrol dengan sang sahabat. Sore harinya Chelsea dan Vero pamit pulang. Essie bisa bernafas lega setelah kepergian adik dan kakak itu.
"Kenapa sih kak Vero ngeliatin aku kayak tadi, horor banget tahu gak. " dumel Essie.
Essie memilih tak ambil pusing, dia kembali menikmati jus apelnya. Beberapa saat berlalu, dia lekas membereskan meja makan kemudian membawa gelasnya ke dapur.
Sore harinya Essie memilih kembali ke kamarnya. Saat ini dia sibuk menghubungi Terry, gadis itu tampak senang mendapati Terry sedang hamil saat ini. Terry kini berada di negara A bersama suaminya dan memutuskan tinggal di sana.
Essie menaruh ponselnya setelah menutup sambungan telepon. Dia turut bahagia setelah mendapat kabar kehamilan Terry saat ini.
__ADS_1
"Apa aku bisa menemukan pria yang tulus mencintaiku tanpa memandang siapa aku? " gumam Essie lirih. Dia merasa tak percaya diri selama ini. Terdengar suara helaan nafas ranjang. Gadis itu merebahkan dirinya di atas ranjang.
Tepat pukul tujuh malam, Essie turun ke bawah. Dia pergi ke depan setelah mendengar suara ketukan pintu.
"Siapa yang datang malam malam, apalagi di luar hujan. "
Cklek
Essie terkejut melihat sosok Savero. Savero meminta izin dan mengatakan alasannya. Essie membiarkan pria itu masuk ke dalam apartemen miliknya. Dia kembali menutup pintunya, Essie segera mengambil handuk dan membuatkan secangkir kopi.
Setelah selesai dia lekas membawanya ke ruang tamu.
"Minumlah kopi ini Tuan, siapa tahu tubuh kamu menjadi hangat. " ucap Essie dengan canggung.
Savero meraih handuk kemudian memakainya di kepala dan tubuhnya. Setelah itu dia lekas menyesap kopi yang di bawakan oleh Essie.
Usai minum kopi, Savero melepaskan kemejanya yang basah. Essie sendiri memalingkan wajahnya, enggan melihat tubuh kekar Savero.
"Pakaianku basah, apa kau punya pakaian ganti di sini nona? " tanya Savero.
"Namaku Esther, panggil saja Essie. " sahut Essie. Dia lekas bangkit dan pergi ke lantai atas. Tak lama gadis itu kembali dan menyerahkan stelan pakaian pria pada Savero.
"Ini pakaian adikku, semoga muat di tubuhmu! "
Savero lekas bangkit dan menerima pakaian itu. Pria itu lekas pergi ke kamar mandi yang di tunjukkan Essie padanya.
Essie sendiri hanya bisa menggeleng pelan. Kenapa bisa berurusan dengan Savero. Tak lama Savero kembali dan duduk berhadapan dengan Essie.
"Apa yang terjadi hingga kamu terjebak hingga kehujanan? " tanya Essie.
"Aku pergi ke makam hingga lupa waktu. " jawab Savero.
__ADS_1
Essie hanya mengangguk pelan meski begitu penasaran dengan malam siapa yang di kunjungi Savero. Kini keheningan melanda keduanya. Essie sendiri hanya diam sambil memperhatikan Savero.
Setelah itu mereka beranjak dan pergi ke meja makan. Kali ini Essie akan di temani Savero, makan malam berdua.