Nona Galak & Tuan Posesif

Nona Galak & Tuan Posesif
Bab 45 Pertemuan Sasha & Davian


__ADS_3

"Kau sudah tahu keberadaan wanita itu? " tanya seorang pria.


"Iya Tuan, nyonya Sasha tinggal di sebuah apartemen. " ujar salah satu detektif yang dia sewa.


"Awasi terus apartemen itu. " ujarnya.


Davian kembali mengenakan kaca matanya setelah itu pergi dari sana. Penampilan pria itu sekarang tampak sederhana.


Tepat pukul tujuh malam, Sasha menemani putrinya menggambar. Suara ketukan pintu membuat wanita itu mengerutkan kening. Dia lantas bangkit, segera membuka pintunya lalu ke luar dari apartemen.


"Bagaimana kabarmu Sha? "


Deg


Sasha membulatkan mata kala Davian menurunkan penutup kepala hoodieinya. Wanita berusaha memundurkan langkahnya, menjaga jarak dari pria yang menolehkan luka untuknya.


"Aku hanya ingin bertemu dengan dia! "


"Dia siapa maksud kamu Tuan Davian. " ujar Sasha berusaha tenang.


"Putri kita! "


Sasha terdiam, dia tersenyum sinis menatap remeh kearah Davian. Wanita itu mengepalkan kedua tangannya erat, menatap kebencian pria di hadapannya sekarang.


"Kau lupa dengan ucapanmu lima tahun yang lalu? " sindir Sasha dengan kilatan di kedua matanya.


Davian kembali bungkam. Pria itu menyesali perbuatannya, memohon pada Sasha agar dirinya di pertemukan dengan Davian. Sasha tentu saja menolaknya dengan mentah mentah. Wanita itu lantas berbalik dan berniat masuk ke dalam.


"Tunggu. " Davian mencekal tangannya. Sasha menghempaskan tangan Davian dengan kasar.


"Tolong jangan ganggu aku lagi Dav, apa kau belum puas menghancurkan aku dulu. Aku ingin melupakan semua masa lalu burukku! "

__ADS_1


"Aku mohon izinkan aku bertemu dengan putri kita Sha. " pinta Davian sambil memohon. Sasha tetap menolaknya, dia tak ingin putrinya bertemu dengan Davian, ayah kandung yang tega tak menganggap anaknya sendiri.


Pria itu justru berteriak memanggil sang anak. Sasha berusaha menahan Davian agar tak masuk ke dalam apartemen. Marco turun dari mobilnya, pria itu terkejut melihat perdebatan Sasha dengan pria asing. Dia lantas segera menolong sekertarisnya itu dan menyeret Davian menjauh.


"Sasha lebih baik kamu masuk ke apartemen. " ujar Marco. Sasha mengangguk, dia segera masuk ke dalam apartemen nya.


Bug


bug


"Apa apaan kau hah? " Davian membalas pukulan dari Marco. Davian berteriak untuk berhenti dan menjelaskan siapa dirinya. Marco mengeringkan niatnya memukul wajah Davian lagi.


"Aku hanya ingin bertemu dengan putriku tapi Sasha melarangku. " ungkap Davian.


"Dia pasti memiliki alasan besar, sebaiknya kau pergi dari sini sebelum aku lapor polisi. " cetus Marco. Davian berdecak pelan, memakai kembali penutup kepalanya setelah itu pergi dari apartemen Sasha.


Setelah kepergian Davian, Marco berniat masuk ke apartemen sang sekertaris namun dia urungkan. Pria itu memilih pulang, dia sangat tahu jika Sasha perlu istirahat.


Sasha kini memeluk putrinya di dalam kamar. Wanita itu masih syok dengan pertemuannya dengan Davian yang tak dia sangka sangka.


"Bukan siapa siapa sayang. " gumam Sasha lirih. Terdengar suara isakan tangis kembali terdengar. Terry menghapus air mata sang mama.


Keduanya lekas terlelap tanpa memikirkan makan malam.


Keesokan harinya, mbak Ira menghampiri Terry dan mengajaknya mandi. Sasha membiarkan sang babysitter membantu putrinya. Hot mommy itu segera berpakaian dan menguncir rambutnya.


Dia pun ke luar dari kamar, pergi ke ruang tamu di mana Marco sudah menunggu. "Aku bawakan sarapan untuk kamu dan Terry, Sha! "


"Terimakasih pak atas perhatian bapak. " ujar Sasha yang merasa canggung.


"Tak perlu sungkan. " sahutnya santai.

__ADS_1


Marco memperhatikan Sasha yang makan, sementara Terry tengah di suapi mbak Ira. Pria itu menghembuskan nafas panjang.


"Apa pria semalam itu ayah kandung Terry? "


"Iya, pria itu juga yang menorehkan luka di masa lalu dan tak mengakui Terry saat masih dalam perutku. " ungkapnya.


Marco diam diam mengepalkan tangannya.Dia menggenggam tangan Sasha yang membuat wanita itu tersentak kaget. Wanita itu lantas menarik tangannya.


"Sebaiknya kalian ikut aku di penthouse. " ujar Marco.


"Tapi pak, aku tak ingin membuat skandal yang membuat nama Anda tercemar! "


Marco tetap kekeh dengan keputusannya. Sasha langsung memanggil Mbak Ira untuk berkemas.


Beberapa menit berlalu, ketiganya lekas ke luar dan masuk ke mobil. Marco melajukan roda empatnya dengan kencang. Tanpa mereka sadari, ada mobil yang mengikuti dari belakang.



Marco menunjukkan kamar Sasha setelah itu baru mengantar si kecil ke kamarnya. Sasha segera menata pakaiannya ke dalam lemari. Setelah selesai dia memilih pergi ke balkon, menenangkan diri di sana.


"Kenapa baru sekarang kamu menanyakan Terry Dav, dulu kamu tak menganggapnya sama sekali. " gumam Sasha dengan lirih.


"Aku masih mengingat bagaimana kamu merendahkan aku dan Terry saat dia masih ada dalam perutku. " ucapnya dengan tatapan lurus ke depan.


Sasha mengusap wajahnya pelan, memutuskan ke luar dari kamar. Marco mengajaknya jalan jalan ke taman belakang penthouse nya.


Wanita itu cukup suka dengan taman yang penuh dengan bunga. Dia pun menoleh ke arah Marco lalu mereka duduk di sebuah kursi.


"Apa selama ini Tuan, tinggal sendirian? "


"Bisakah kamu mengganti panggilanku dengan nama saja. " protes Marco dengan wajah datarnya.

__ADS_1


"Ya, aku sejak dulu memang tinggal sendirian sepeninggal mendiang istri dan calon anakku. " ungkapnya.


"Maaf Pak. " Sasha merasa bersalah telah membuat bosnya bersedih. Marco sendiri tak tersinggung sama sekali. Wanita itu mengungkapkan terima kasih atas bantuan dari Marco pada dirinya dan Terry.


__ADS_2