
cr pinterest
Malam harinya Ravella dan keluarga besarnya menghadiri pesta pertunangan Saskia dengan Ardan. Gadis itu langsung memberikan selamat pada sang adik.
"Sekarang Ardan tunangan aku kak, kak Vella harusnya sadar diri dari sekarang. " ucap Saskia sambil tersenyum.
"Sekali lagi aku ucapkan selamat pada kalian atas pertunangan ini. " sahut Ravella tanpa menanggapi ucapan adiknya barusan.
Gadis itu pergi dari sana, pergi ke sudut ruangan. Ravella memutuskan pergi ke kamar mandi, Saskia yang melihat nya tersenyum licik. Dia meminta salah satu pelayan untuk mengunci pintu kamar mandi. Pelayan langsung menjalankan perintah dari Saskia, dia langsung pergi ke kamar mandi setelah itu pergi dari sana.
Duak
"Hei buka pintunya. " Ravella yang selesai cuci muka tampak panik saat tahu pintu kamar mandi tak bisa di buka.
Bruak
Seseorang mendobraknya dari luar. Ravella lekas ke luar dengan wajah pucatnya. Pria itu memegangi pinggangnya, Ravella hampir kehilangan keseimbangan.
"Apa kau baik baik saja nona? " tanya seorang pria dengan nada bariton nya.
Ravella hanya mengangguk singkat. Pria itu mengajaknya ke luar melalui pintu di sebelah kanan. Saat ini keduanya berada di balkon hotel. Gadis itu menoleh kesamping, mendapati seorang pria tampan telah menolong dirinya.
"Terimakasih telah menolongku Tuan! "
"Hm.River Ganeswara. "
"Aku Ravella Brighton. " ucap Ravella dengan canggung.
River sendiri menatap lekat gadis cantik di hadapannya saat ini. Pria itu mendekat, mengukungnya dari belakang. Vella tentu saja terkejut, dia berusaha menyembunyikan debaran jantungnya yang semakin kencang.
"Apa yang terjadi? "
Vella menjelaskan apa yang dia alami pada River. River sendiri melingkarkan kedua tangannya di pinggang ramping Vella.
"Aku kakak sepupu dari Cakra. " bisiknya di telinga Ravella. Gadis itu tentu saja terkejut mendengar pengakuan River.Vella langsung menoleh, menatap lekat wajah tampan River.
Gadis itu berusaha menjauh namun River tak membiarkannya pergi. Vella hanya bisa pasrah kala River memeluknya dari belakang. Tak lama River melepaskan pelukannya, mengeluarkan sesuatu dari saku celana.
__ADS_1
Ravella berbalik, terkejut kala cincin berlian tersemat di jarinya. Dia hendak berbicara namun River tak menerima bantahan sama sekali.
"Melihat sikapmu saat ini membuatku teringat akan sikap Daddy Morgan pada mommy Zarin. " gumam Ravella.
"Mungkin saja aku memang di takdirkan untuk kamu baby! "
"Cih, tak usah membual. " Ravella berjalan melewatinya dan kembali ke dalam. River terkekeh pelan, pria itu menyusul gadisnya ke dalam. Kini dia turut bergabung bersama para ceo lainnya.
Dengan berani pria itu melingkarkan tangannya ke pinggang Ravella. Daddy Morgan menatap tajam kearah pria yang memeluk putri sulungnya.
"Turunkan tanganmu dari pinggang putriku, anak muda! " ketus Daddy Morgan.
"Perkenalkan saya River Ganeswara, calon daddy mertua. " sapa River sambil tersenyum tengil.
"Kau." geram Daddy Morgan. Mommy Zarina tertawa melihat ekspresi kesal di wajah sang suami. Wanita paruh baya itu mengusap lengan suaminya. Dia membalas sapaan pria yang tengah memeluk putrinya.
Mereka begitu menikmati pesta di kediaman Rathore. Tanpa mereka sadari, nyonya Agista menatap tak suka melihat keluarga putri kandungnya. Wanita paruh baya itu menghampiri keluarga brighton.
Ehem
Nyonya Agista menyela pembicaraan. Wanita itu menasehati Ravella untuk tidak melebihi batas. Kini suasana yang ceria berubah tegang.
"Maaf mommy, tapi bagiku adikku hanya Erland, Essie dan Nolan. " sahut Ravella dengan santai.
Nyonya Agista membulatkan mata mendengar ucapan putri sulungnya. Dia berniat melayangkan tamparan nya namun di cegah River. Pria tampan itu menghempas tangan calon ibu mertuanya.
"Mommy, Daddy aku pulang duluan ya. " ujar Ravella pada orang tuanya. Mommy Zarina mengangguk, mengusap wajah sang anak lalu meminta River mengantarkan putrinya.
Mommy Zarina kembali fokus pada wanita di hadapannya ini. Dia masih kesal dengan kelakuan Agista yang tak berubah sama sekali.
"Sebelum kau menyuruh Vella untuk menjaga sikap, lebih baik ajari putrimu itu untuk tak merebut kekasih orang. " ceplos nyonya Zarina. Saskia yang mendengarnya mengepalkan tangan, merasa tersinggung dengan ucapan nyonya Zarina.
"Jaga bicara kamu Zarina. " geram nyonya Agista.
"Sudahlah, lagipula putriku mana mungkin merebut kekasih orang. Dia tak akan melakukan hal yang sama seperti di lakukan Saskia. Kami semua permisi, hari sudah larut malam ! "
Keluarga Brighton pun lekas meninggalkan pesta. Mereka mengabaikan kekesalan yang di rasakan nyonya Agista saat ini.
Ravella sendiri sudah berada di kamarnya. Setelah mengganti pakaiannya, gadis itu segera berbaring dan memejamkan mata.
__ADS_1
Esok harinya, Ravella baru terbangun. Gadis itu segera mandi dan berganti pakaian. Usai merapikan rambutnya, Vella ke luar dari kamar. Dia lekas turun ke bawah, menemui keluarganya di meja makan.
"Pagi semuanya! "
"Pagi juga kak Vella bawel. " sahut Nolan dengan cengiran khasnya. Vella mendengus pelan, melirik tajam kearah adik bungsunya.
"Sudah sudah, lebih baik kita sarapan terlebih dulu sayang. " titah mommy Zarina.
Kini hanya terdengar suara dentingan sendok yang saling beradu satu sama lain. Mommy Zarina diam diam memperhatikan putri sulungnya.
Beberapa saat berlalu, Daddy dan twins E pamit. Mereka akan mengantar Essie ke kampusnya lebih dulu baru pergi ke kantor. Daddy Morgan mencium mesra istrinya di depan anak anak.
"Kami semua jomblo daddy, kalau mau cium mommy di kamar saja. " celetuk Nolan.
"Cih kau merusak suasana son. " sahut daddy dengan jengkel. Mereka lekas beranjak dari sana. Mommy Zarina hanya tergelak melihat kelakuan anak anak dan suaminya.
Nolan segera menyusul daddy dan kedua kakaknya. Kini hanya ada mommy Zarina dan Ravella. Mereka asyik membereskan meja makan lalu membawa piring kotornya di dapur.
Skip
Di dapur
"Sayang menurut kamu bagaimana dengan Nak River? " tanya mommy pada sang anak.
"Dia sangat tengil dan suka mencari kesempatan dalam kesempitan. " jawab Ravella dengan bibir cemberut.
"Haha tengil tengil begitu, dia sangat tampan lho sayang. " goda mommy Zarina dengan jahil.
"Ish mommy. " rengek Vella dengan muka memerah. Tawa renyah terdengar dari bibir mommy Zarina.
Usai mencuci piring mereka ke luar dari dapur dan pergi ke teras depan. Zarina membantu sang mommy menyirami bunga bunga mawar milik sang mommy.
Keduanya asyik mengobrol membahas masa muda mommy Zarina dan daddy Morgan. Ravella begitu kagum dengan kedua orang tuanya yang selalu mesra hingga sekarang. Ravella mengatakan perihal pria idamannya pada sang mommy.
"Aku harap calon suamiku kelak memiliki sikap tegas seperti daddy mom. Yang tak mudah di goda oleh wanita lain. " ungkapnya.
"Mommy harap, keinginan kamu itu kelak terkabul sayang. " sahut Mommy sambil tersenyum. Ravella memeluk tubuh sang mommy sambung, dia begitu menyayangi mommy Zarina. Keduanya memang sangat dekat dari kecil hingga sekarang.
__ADS_1