
"Sayang aku besok masuk kuliah lagi. " ucap Zarina pada sang suami.
"Oke aku tak akan membatasi kegiatan kamu tapi kamu enggak boleh kelelahan. " ujar Morgan dengan nada posesifnya.
Zarina mengangguk, menuruti perintah suaminya. Pembicaraan keduanya selesai kala pelayan memanggil mereka. Mereka lantas pergi ke meja makan bersama Ravella.
Kini ketiganya makan malam bersama. Zarina tampak tersenyum mendengar celotehan putrinya. Wanita hamil itu lantas melayani suaminya lebih dulu setelah itu putrinya. Kini mereka makan malam dengan tenang.
Lima belas menit berlalu mereka selesai makan malam. Ketiganya lekas beranjak dari sana setelah memanggil pelayan.
Zarina lekas naik ke atas ranjang, Ravella ingin tidur bersama mereka malam ini. Morgan tentu saja mengizinkan. Ketiganya lekas tidur, Morgan menarik selimut menutupi tubuh dua perempuan kesayangannya.
"Selamat malam sayang sayangku. " gumam Morgan sambil tersenyum. Pria itu lekas memejamkan matanya.
Paginya keluarga kecil itu telah selesai melakukan aktivitas paginya. Mereka sama sama menuruni tangga. Zarina telah menghubungi kedua orang tuanya untuk menemani Ravella.
Selesai menghabiskan susunya, Zarina langsung berpamitan pada Ravella dan orang tuanya. Morgan menggandeng istrinya, keduanya lekas masuk ke mobil dan pergi.
Skip
Zarina turun dari mobil suaminya,dia menghampiri Fafa yang telah menunggu. Keduanya lekas masuk ke area kampus dan berjalan kaki menuju ke kelas.
"Suami kamu setuju kamu masuk kuliah Rin? " tanya Fafa.
"Morgan setuju kok asalkan aku enggak boleh kelelahan dan melakukan sesuatu yang berat. " ungkap Zarina sambil mengusap perut rata nya.
Fafa tentu saja terkejut dengan kabar kehamilan sang sahabat. Gadis itu langsung memberikan selamat pada Zarina. Zarina mengangguk, keduanya lantas masuk ke dalam kelas.
Beberapa saat berlalu dosen masuk ke dalam ruangan. Suasana tampak tenang, Zarina fokus dengan penjelasan sang dosen.
"Hari ini akan ada dosen baru yang akan membimbing kalian. " ujar pak Dafri.
Tak lama seorang pria gagah masuk ke dalam ruangan. Pria itu mengenalkan dirinya pada mahasiswa yang ada di ruangan. Zarina tak berekspresi apapun, hanya wajah datar yang dia tunjukkan.
"Perkenalkan saya Julian Candra, saya yang alan menjadi dosen baru kalian hari ini. " ujar Julian dengan sopan.
Merasa cukup dengan perkenalan nya. Julian langsung memulai mata kuliahnya pagi ini. Pria itu menjelaskan dengan santai seperti layaknya teman hingga para mahasiswa bisa mencernanya.
Fafa tentu saja terkejut melihat kehadiran Julian di kelasnya. Gadis itu tak mengatakan apapun dan fokus pada penjelasan Julian.
Beberapa jam kemudian
__ADS_1
Teng
Usai jam mata kuliah ke luar, semua mahasiswi langsung ke luar. Julian langsung menghampiri Fafa dan menyapanya.
"Bagaimana kabar kamu Fa? " tanya pria itu basa basi.
"Baik Jul eh pak. " sahut Fafa dengan canggung.
Julian tertawa pelan melihat kecanggungan yang di perlihatkan Fafa. Fafa lekas bangkit, dia pamit pada Julian kemudian mengajak Zarina ke luar.
Di kantin, Fafa mengatakan semuanya perihal Julian termasuk hubungan dirinya dengan Ezekiel yang telah kandas. Zarina tentu saja terkejut, dia tampak sedih dengan apa yang di alami Fafa.
Pesanan mereka datang, mereka lekas makan siang bersama lebih dulu. Seusai makan siang, Fafa kembali bercerita mengenai masalahnya.
"Sorry Fa, aku enggak tahu masalah kamu. Kenapa kamu enggak cerita sih sama aku? " tanya Zarina dengan wajah sedihnya.
"Aku enggak papa Rin, lebih baik kamu fokus saja pada calon anak dalam perut kamu. " bisik Fafa ambil tersenyum.
Zarina menghela nafas panjang, dia mengangguk pelan. Wanita itu lekas bangkit, membayar pesanan mereka. Keduanya lekas beranjak dari kantin sambil berbicara.
Keduanya pergi ke perpustakaan, guna menghilangkan kejenuhan. Masing masing sibuk membaca buku yang dia pinjam. Zarina memilih buku novel yang tersedia. Wanita itu ingin mencari hiburan saat ini.
Zarina POV
Zarina POV.
"Aakh. " Dia menyentuh perutnya. Fafa menoleh, dia langsung bangkit dan menghampiri sang sahabat.
"Kamu kenapa Rin? "
"Perut aku sakit mungkin kram karena aku terlalu memikirkan masalahmu. " cetusnya membuat Fafa berdecak pelan.
Fafa langsung mengomelinya, Zarina berusaha tenang. Beberapa saat berlalu wanita hamil itu telah tenang. Dia mengatakan perutnya telah baik baik saja.
"Kamu harus tenang dan jangan pikirkan apapun termasuk masalah aku. Jika Morgan tahu, suamimu itu akan marah besar. " tegas Fafa.
Zarina menghela nafas panjang. Dia pasrah saat sahabatnya mengomeli dirinya panjang lebar. Fafa sendiri kembali duduk di kursinya. Suasana kembali hening, tak ada obrolan di antara keduanya.
Wanita hamil itu kembali membaca buku novelnya. Dia berusaha menenangkan dirinya tanpa memikirkan sesuatu yang membuatnya stres.
Tepat pukul sebelas, mereka kembali ke kelas dan mengikuti mata kuliah ke duanya. Belum sempat mengikutinya, Zarina mengeluhkan pusing dan mual. Fafa tentu saja langsung menarik sahabatnya menuju ke kamar mandi setelah izin pada sang dosen.
__ADS_1
Hoek
Hoek
Zarina tampak mual mual di dalam kamar mandi. Para mahasiswi lainnya mengikutinya hingga ke toilet. Mereka semua menggunjingkan keadaan Zarina saat ini.
"Jangan jangan dia hamil lagi. " celetuk mahasiswi yang melihat Zarina mual mual.
Zarina ke luar dari kamar mandi, wajahnya tampak pucat. Banyak orang yang menggunjingkan Wanita itu. Merasa tak tahan, Fafa lekas menarik sang sahabat pergi dari sana.
Keduanya langsung mengambil tas lalu ke luar dari kelas. Para gadis gadis itu mengerubungi Zarina, memojokkan Zarina saat ini atas tebakan mereka.
"Hei ada apa ini. " ujar Julian yang kebetulan lewat. Dosen tampan itu menyela para mahasiswinya.
"Ini pak, Zarina mual mual dan sepertinya dia tengah hamil di luar nikah. " ceplos salah satu dari mereka. Julian memperhatikan Zarina dalam diam kemudian mengalihkan pikirannya.
Kepala wanita itu teras pusing, Fafa langsung menahannya kala Zarina jatuh tak sadarkan diri. Julian langsung meminta izin, menggendongnya menuju ke uks yang di ikuti Fafa dan lainnya.
Fafa mengambil ponsel sahabatnya kemudian menghubungi Morgan dengan segera. Dia menaruh ponsel Zarina ke dalam tasnya.
"Iya, gadis ini memang tengah
hamil. " ujar dokter yang ada di sana. Semua orang justru semakin menggunjingkan Zarina menganggap wanita itu simpanan pria beristri.
"Tutup mulut kalian. " geram Fafa dengan tatapan tajam nya.
Brak
Suara pintu di dobrak membuat mereka semua terkejut. Morgan datang dengan nafas tersengal, pria itu bergegas menghampiri istrinya. Dia itu mendorong sosok Julian, kemudian memastikan keadaan istrinya.
"Sayang hey bangun, ini aku. " ucap Morgan panik melihat istrinya pingsan.
Pria itu menoleh, menatap orang orang di sekitarnya dengan tatapan tajam nya.
"Siapa yang menyakiti istriku? " ujar Morgan dengan wajah dinginnya.
Duarr
Semua mahasiswi terkejut mendengar nama istri ke luar dari bibir Morgan.
"Wanita ini adalah istriku dan saat ini dia tengah hamil anak kami. " ungkap Morgan.
__ADS_1
"Ap.. apaa? "
Mereka semua tampak syok dengan pengakuan Morgan barusan. Fafa sendiri tersenyum puas, Morgan telah berhasil membungkam orang orang yang menghina Zarina.