
Sasha telah selesai meminum susu ibu hamil nya. Pertemuan dengan Zarina tadi membuat dirinya tak memiliki punya.
"Calvin, sepertinya aku akan pindah dari apartemen kamu? " ungkap Sasha.
"Why? "
"Kami bukan tanggung jawab kamu Vin. Tolong hargai keputusanku kali ini, jangan siksa dirimu dengan menjaga wanita sepertiku " pinta Sasha sambil memohon.
Calvin mengatupkan bibirnya rapat. Selama sebulan ini dia mulai peduli dan sayang pada calon bayi dalam perut Sasha.
Sasha sendiri lekas bangkit, wanita itu bangkit dan pergi ke kamarnya. Dia lantas mulai mengemas pakaiannya.
Sepasang lengan kekar memeluknya dari belakang. Sasha berusaha melepaskan tangan Calvin namun tak bisa. Wanita itu pasrah kala Calvin membalik tubuhnya kemudian memeluknya.
"Aku menyayangi calon bayi kita Sha. " ungkap Calvin sambil berbisik.
Sasha menggeleng, dia tak ingin merusak kehidupan Calvin. Calvin berdecak pelan, pria itu berlutut mengusap perut Sasha lalu menciumnya berulang kali.
Hati Sasha menghangat melihat bagaimana Calvin mengusap sayang calon bayinya. Teringat realita dia tersenyum kecut, Davian sendiri justru tak peduli sama sekali.
Calvin kembali berdiri, menatap lekat wajah Sasha. "Kau lupa jika kita telah menikah kemarin. " ungkap Calvin.
"Sekarang kamu dan calon baby adalah tanggung jawabku! "
Sasha memilih tak peduli, dia kembali melanjutkan mengemas pakaiannya. Sudah cukup selama ini dia merepotkan Calvin. Calvin benar benar geram akan keras kepalanya seorang Sasha Jelita.
Pria itu mencekal tangan sang istri lalu membopongnya kemudian melempar Sasha ke ranjang. Sasha mengerutu kesal, dia benar benar tak mengerti dengan jalan pikiran Calvin.
"Kau masih mengharapkan pria brengshake itu hm?
Calvin mengeluarkan ponselnya lalu menunjukkan video pada Sasha. Sasha langsung melihat videonya, wanita itu sangat terkejut. Hatinya kembali hancur setelah mendapati Davian mengejar perempuan lain.
Calvin merebut ponselnya lalu menaruhnya di atas meja. Pria itu menarik kaosnya kemudian melemparnya. Dia lantas naik ke atas ranjang, menciumi bibir Sasha.
Sore harinya, Sasha menarik selimut yang menutupi tubuh polosnya. Dia hanya bisa menerima takdirnya saat ini, menjalani pernikahan dengan Calvin.
Calvin membalik tubuhnya, kembali memagut bibir istrinya. Sasha membalas lembut kemudian mengakhirinya.
__ADS_1
"Sudahlah Sha, kita nikmati saja apa yang kita jalani sekarang, sebaiknya kamu lupakan pria itu. " gumam Calvin.
Tangan Calvin masuk ke dalam selimut. Dia mengulas senyumnya, menyentuh perut istrinya kemudian kembali naik ke atas.
"Umh. "
Sasha masuk ke dalam pelukan suaminya. Calvin mengusap rambut istrinya, dia menatap lekat wanita yang dia cintai itu. Terdengar suara helaan nafas panjang ke luar dari bibir pria itu.
Tak lama terdengar suara dengkuran halus. Calvin meregangkan pelukannya. Dia mendapati Sasha tertidur dalam dekapannya. Calvin kembali memperhatikan wanitanya yang terlelap.
Satu jam berlalu mereka selesai berpakaian. Sasha memakai dress pendek, memutuskan ke luar dari kamarnya. Wanita itu lantas memeluk Calvin yang bertelanjang dada dan saat ini berada di dapur.
Pria itu menoleh, membawa makanan ke meja makan. Mereka makan bersama, Sasha memilih menyuapi Calvin bergantian dengan dirinya.
"Apa masih mual? " tanya Calvin yang di tanggapi gelengan oleh Sasha sendiri.
Usai makan, Sasha menaruh piring nya ke dapur lalu mencucinya. Dia berusaha menjalani tugasnya sebagai seorang istri. Dia berjalan pelan menuju ke ruang tengah.
Wanita itu memperhatikan Calvin yang sibuk dengan laptopnya. Diapun memilih duduk tanpa berniat menganggu suaminya.
"Tak ada. " gumam Sasha. Wanita itu memainkan ponselnya, entah apa yang tengah dia lakukan saat ini. Ternyata dia mencari informasi mengenai Davian di sosial media.
Sasha kembali di patahkan oleh pernyataan. Davian akan menikahi seorang wanita yang merupakan anak pengusaha. Tubuhnya langsung bergetar hebat namun Sasha berusaha mengontrol dirinya dengan baik.
Tangannya reflek menyentuh perut rata nya. Dia berusaha sekuat tenaga menahan dirinya agar tak menangis. Dia segera menghapus informasi yang dia lihat barusan. Sasha menaruh ponselnya di atas meja.
"Kau sungguh kejam Dav, bagaimana bisa kamu tak peduli padaku dan calon anak kita. " batin Sasha dalam hatinya.
Wanita itu menyandarkan kepalanya di atas sofa. Lalu dia kembali mengusap perutnya dengan lembut. Calvin menutup laptopnya, dia langsung menoleh ke samping. Pria itu menatap istrinya dalam diam, entah apa yang dia pikirkan saat ini.
"Sepertinya ada yang kau pikirkan? " tanya Calvin dengan lembut.
"Tak ada, aku hanya tak sabar ingin melihat perutku membesar. " elak Sasha sambil tersenyum.
Calvin percaya begitu saja dengan pernyataan istrinya barusan. Dia mendekat, mengusap perut wanitanya dengan halus.
Sasha menyentuh tangan suaminya, menciumnya berulang kali. dia merasa beruntung suaminya mau menerima dirinya serta calon bayi dalam perutnya.
__ADS_1
"Maaf ya Vin, kamu harus terlibat dalam masalahku yang cukup
rumit. " ucap Sasha untuk kesekian kalinya.
"Berhentilah meminta maaf Sha, aku bosan mendengarnya. " cetus Calvin. Sasha terkekeh pelan melihat raut datar di wajah Calvin. Rasa bersalah itu masih bersarang dalam benaknya.
Cup Wanita hamil itu melabuhkan kecupan di pipi suaminya. Dia akan berusaha mencintai Calvin dengan tulus. Setidaknya masih ada yang peduli padanya saat ini.
"Kenapa tidak di sini? " tanya Calvin sambil menunjuk bibirnya.
"Modus. " sahut Sasha meledek. Calvin menggeram rendah, dia nenggelitiki pinggang sang istri kemudian membawanya ke atas pangkuan.
Pria itu mencium liar wanitanya yang di balas Sasha. Seusai ciuman mereka kembali berpelukan dengan mesra. Keduanya sama sama menyentuh dan mengusap perut rata Sasha.
"Aku tak sabar menantikan perutmu membesar sayang. " ucap Calvin dengan antusias.
"Sama aku juga. "
Dering ponsel milik Calvin menyita perhatian. Pria itu menurunkan istrinya lalu mengambil ponselnya yang bergetar.
"Halo. " sapa Calvin.
"Tuan, bisnis yang di kelola tuan Davian saat ini tengah hancur akibat aib pria itu tersebar di sosial media. " ungkap Danish.
"Awasi apa yang di lakukan Davian saat ini. "
Tut
Calvin tersenyum puas, dia tak perlu bersusah payah menghancurkan Davian. Satu rencana telah berjalan mulus, dia akan melanjutkan rencana berikutnya. Sasha menatap suaminya dalam diam. Dia begitu penasaran dengan apa yang di pikirkan Calvin saat ini.
Pria itu menyimpan ponselnya dalam saku celana. Dia kembali mengobrol dengan sang istri. Calvin pamit pada Sasha, dia pergi ke ruangan kerjanya. Sasha membiarkan suaminya pergi, dia sangat tahu jika Calvin sangatlah sibuk.
Cklek
"Davian, Davian sebentar lagi hidupmu hancur. Aku akan menggunakan bayi dalam kandungan Sasha kelak untuk membalas dendam padamu. " gumam Calvin dengan seringai licik nya.
Calvin mengumpat pelan, teringat akan kejadian yang lalu di mana adiknya tewas dalam menenggak r4cun. Teringat kejadian itu membuat amarah Calvin meledak ledak dan ingin melupakannya pada Davian.
__ADS_1