
Dua hari berlalu, hari yang di nanti nantikan telah tiba. Erland tampak sangat gugup menanti pengantinnya. Sudah banyak tamu yang telah hadir di hotel, tempat berlangsungnya acara.
Tak berselang lama, Vivian datang di antar sang mami. Mami Yura menyerahkan putrinya pada sang calon menantu.
"Apa semuanya sudah siap? " tanya pendeta.
"Siap. " ujar mereka.
"Tunggu. " sahut Nolan. Kehadiran pemuda itu membuat semua orang tertuju padanya.
Nolan berdiri dengan santai, lalu menoleh. Tak lama Savero muncul bersama isyrinua membuat semua orang terkejut dam heboh. Mommy dan daddy juga terkejut akan kehadiran putri mereka.
"Essie. " gumam mommy dengan tatapan tak percayanya.
Savero mengajak istrinya menemui kedua mempelai. Tubuh Vivi menegang melihat sosok Essie di hadapannya saat ini.
Mommy dan lainnya mendekati kearah Essie lalu memastikan wanita itu nyata atau tidak. Essie pun melemparkan senyuman hangatnya pada kedua orang tuanya.
"Aku kembali mommy,daddy. " ucap Essie. Fokusnya kembali tertuju pada Vivian, raut wajahnya berubah datar.
"Kau jahat Vi, setelah berusaha menghilangkan nyawaku dan sekarang kau berniat merebut keluargaku? " ujar Essie dengan tatapan tajamnya.
"Apa maksud kamu Essie, aku tak mengerti. " elak Vivian dengan gugup. Savero tersenyum sinis melihat tingkah Vivian barusan.
Semua orang tampak kebingungan dengan situasi saat ini. Erland berusaha mendekati sang adik namun Savero meminta bodyguard menahannya.
Pria itu juga mengutus orang kepercayaan untuk memutar rekaman yang dia dapatkan selama ini.
Bukti kejahatan Vivian terbongkar di hari penikahan wanita itu sendiri. Semuanya tampak syok dengan apa yang dia tonton terutama Erland.
"Semua bohong. " pekik Vivian panik.
"Kau menyuruh orang untuk mencelakai aku dan berhasil namun sayangnya aku masih hidup Vi. " ujar Essie dengan seringai miringnya.
Plak
plak
Wanita hamil itu melampiaskan kemarahan dirinya yang telah lama dia tahan. Savero lekas menarik istrinya menjauh. Essie menoleh kearah kakaknya yang tampak terkejut.
"Inilah kejutan untuk kamu kak. Selama ini kamu membela wanita licik yang bersembunyi di balik topeng lugu dan baiknya. " tegas Essie.
__ADS_1
mommy Zarina tentu saja marah. Wanita paruh baya itu lekas mendekati Vivian kemudian menamparnya berulang kali.
"Salah putriku apa hah hingga kamu melakukan hal keji seperti ini Vi. Aunty begitu sayang sama kamu dan menganggap kamu sebagai anak aunty sendiri. " amuk Mommy Zarina dengan tatapan kecewanya.
vivian sendiri memegangi pipinya yang terasa perih. Dia menghampiri Erland sambil memohon.
"Sayang aku.. "
Erland menepis kuat tangannya di sertai tatapan tajam. Dia merasa menjadi laki laki yang paling bodoh di dunia.
"Menjauhlah dariku brengshake. " umpat Erland.
Vivian jatuh tersungkur. dia tak terima di perlakukan seperti ini, Vivian lekas bangkit.
"Aku sangat membenci Essie, dia selalu menjadi primadona di kampus. Banyak pria yang menyatakan cinta padanya. " gumam Vivian.
"Kau terlalu iri dengan orang lain Vi hingga kamu berubah licik seperti sekarang. " timpal Essie.
Vivian menatapnya penuh kebencian serta mengeluarkan kata kata kasarnya. Tak lama polisi datang sesuai perintah Savero. Wanita itu berusaha menyerang Essie namun polisi lebih dulu mengamankannya. Polisi membawanya pergi di susul Daddy Morgan.
Sementara para tamu seketika bubar. Banyak yang membicarakan tentang Vivian dan menjadi trending topik.
Essie sendiri bernafas lega, berharap Vivian mendapatkan hukuman setimpal. Mommy mendekat, memeluk aang anak tak terlalu erat. Wanita paruh baya itu melepaskan pelukannya, fokusnya tertuju pada perut sang ajak.
"Nak kamu. " Mommy tampak terharu dengan kabar bahagia ini. Ravella langsung memeluk sang adik dan memberikan selamat padanya.
Setelah mendapatkan selamat dari keluarganya. Essie melangkahkan kakinya menemui kakak kembarnya.
"Kak Erland. " sapa Essie dengan lembut.
Erland mengangkat wajahnya, menatap sendu kearah sang adik. dia tak memiliki muka setelah bertemu adiknya lagi. Penyesalan terbesar dalam hidupnya adalah menyakiti hati adik kandungnya sendiri hanya demi Vivian, wanita licik.
Pemuda itu lekas bangkit, dia mencium kening adiknya setelah itu pergi begitu saja.
"Kak Erland, Kak Erland. " panggil Essie.
Essie menangis tergugu menatap kepergian kakaknya. Savero lekas memeluk istrinya dengan posesif sambil menenangkannya.
"Erland masih terkejut, sayang. Biarkan dia menyendiri lebih dulu. " ujar Savero.
"Tapi aku telah memaafkan dia mas, kenapa dia justru pergi begitu saja. " gumam Essie pelan. Wanita hamil itu kembali menangis, semua orang tampak berusaha menenangkan Essie.
__ADS_1
Erland sendiri telah pergi ke kantor polisi. Di sana dia memperhatikan Vivian yang di masukkan ke dalam sel tahanan.
"Bagaimana bisa kau begitu keji seperti Ini,padahal aku benar benar mencintai kamu. " ujar Erland.
"Erland, aku mohon maafkan aku. " rayu Vivian.
"Kau pantas berada di dalam sana. Kini hanya ada kebencian dalam diriku terhadapmu Vi. " desis Erland.
"Seharusnya aku sejak awal tak perlu mengenalmu hingga semuanya terjadi seperti ini. "
Erland terus mencaci maki Vivian. Rasa bersalah pada sang adik kian besar. Dia terlalu buta akan cintanya pada Vivian hingga menyakiti adiknya sendiri.
Vivian terus berontak dan meminta maaf. Erland benar benar marah dan kecewa pada wanita itu. Diapun langsung pergi begitu saja setelah puas mencaci Vivian.
Sementara Essie dan lainnya telah pulang ke villa. Dia dan sang suami kini berada di ruang tamu. Mereka telah mengganti mereka.
Savero menjelaskan kejadiannya pada mertuanya tanpa ada yang di tutupi.
"Maaf karena merencanakan hal ini tanpa memberitahu kalian mommy. " ucap Savero.
Mommy Zarina menghapus air matanya. dia tak marah dengan sang menantu. Justru dia berterimakasih pada Savero yang telah menyelamatkan nyawa Essie.
Essie tersenyum hangat,memeluk suami tercintanya.Dia sudah sangat lega setelah kebenaran terungkap atas kejahatan Vivian.
mommy dan lainnya tampak bahagia melihat Essie begitu mesra dengan Savero.
"Oh ya, aku mau jenguk twins A. " pekik Essie dengan heboh. Rubella lekas bangkit dan membantu sang adik. Kedua wanita itu pergi meninggalkan ruang tamu menuju ke lantai dua.
Mata Essie tampak terharu melihat dua sosok mungil keponakan tampan dan cantiknya.
"Boleh aku menggendongnya kak? " tanya Essie penuh harap.
"Pelan pelan. " ujar Ravella. Dia memperhatikan adiknya yang trngah menggendong si kecil Axel. Essie menciumi si tampan Axel dengan perasaan bahagianya.
Kini giliran Alika yang dia gendong. Hanya beberapa menit setelah itu menaruh si kecil kembali dalam box bayinya.
Ravella kembali memeluk sang adik. Essie mengulas senyumnya, membalas pelukan hangat sang kakak.
"Terimakasih telah jadi kakak terbaik untuk aku kak. " gumam Essie dengan tulus. Ravella melepaskan pelukannya lalu mengajak bumil ke luar dari kamar si kembar.
Keduanya memilih kembali ke ruang tamu. Essie melangkah oelan menghampiri sang daddy yang haru datang. Pria paruh baya itu memeluk sang anak dan meminta maaf.
__ADS_1
"Essie sudah maafin daddy,hal wajar jika daddy marah. " bisik Essie. Daddy Morgan menyentuh perut sang anak.
"Jadi tak lama lagi daddy akan punya cucu dari kamu dan Vero? " tanya Daddy yang di angguki Essie. Pria itu tampak sumringah dan vahagia melihat putrinya ternyata masih hidup. Keduanya lekas duduk di sofa dan mengobrol.