
Tepat pukul tujuh malam, Marco mengajak Sasha ke luar. Ternyata pria itu mengajaknya dinner di dekat pantai dengan suasana romantis.
Visual Penampilan Sasha malam ini
"Marco, kapan kamu menyiapkan semuanya ini? " tanya Sasha sedikit heran.
"Tadi pagi. " elak Marco sambil tersenyum.
Sasha hanya tersenyum tanpa bertanya lagi. Keduanya memilih makan malam terlebih dulu baru setelah itu bicara. Marco diam diam memperhatikan Sasha.
Setelah lima belas menit, mereka selesai makan. Sasha menunggu apa yang ingin di bicarakan Marco saat ini.
"Sha, aku membiarkan Terry memanggilku Papa, boleh 'kan? " tanya Marco.
Sasha terkejut, dia menatap kearah Marco dengan tatapan tak percaya. Wanita itu seketika bungkam. Dia sepertinya masih memikirkan semuanya dengan matang. Sasha pun kembali menatap kearah Marco.
"Maaf Marco, aku hanya tak ingin putriku di berikan harapan besar. Kelak saat dia dewasa pasti dia akan kecewa setelah tahu kebenaran
nya. " ungkap Sasha.
__ADS_1
"Lebih baik dia tak mengenal siapa papa kandungnya. " ungkap Sasha.
Marco mengangguk, pria itu menghargai keputusan Sasha. Wanita itu juga tak melarang jika Marco ingin mengobrol dan menemani Terry ke manapun.
Setelah satu jam, keduanya memutuskan untuk pulang ke rumah. Sasha berharap, Davian tak menemukan dirinya dan Terry.
Sampai di Penthouse, keduanya lekas masuk ke dalam kamar. Setelah mengganti pakaiannya dengam Piyama, Sasha berbaring atas ranjangnya.
Skip
Keesokan harinya, Morgan dan keluarga kecilnya datang berkunjung di penthouse Marco. Para pria langsung pergi ke kantor meninggalkan para wanita dan anak anak.
"Halo aku Gyana dan ini kakak aku Arion. " sapa Gyana dengan senyuman manisnya.
Mereka bertiga bermain bongkar pasang. Ketiganya tampak mulai akrab secara perlahan. Sasha dan Zarina sibuk di dapur membuat makanan manis. Beberapa menit berlalu mereka kembali ke ruang tengah.
"Lihat 'kan sepertinya anak anak mulai cepat akrab! "
"Kau benar Rin, selama ini Terry merasakan kesepian. " ungkap Sasha dengan tatapan sendunya. Zarina mengusap punggung mantan rival nya itu dengan halus.
Arion mengacak rambut Terry dengan gemas. Bocah tampan itu berusaha menghibur teman barunya itu yang di bantu Gyana.
__ADS_1
Dia mengajak keduanya bermain ayunan di belakang. Tawa renyah terdengar membuat siapapun yang melihat nya bahagia. Sasha menghela nafas panjang melihat putrinya kembali ceria setelah memiliki teman baru.
"Jadi selama ini Terry melakukan home schooling Sha? " tanya Zarina.
"Iya, aku memiliki alasan kuat hingga memutuskan hal itu. " sahut Sasha sambil tersenyum.
"Lalu di mana papa kandung dari Terry? " tanya Zarina dengan hati hati.
Sasha terdiam, wanita itu menghela nafas panjang. Diapun menjawab apa adanya tanpa ada di tutup tutupi. Zarina tentu saja kasihan dengan takdir yang di jalani oleh Sasha.
Keduanya kembali menikmati makanan. Anak anak kembali dan turut makan. Sasha dengan sigap mengambilkan susu untuk mencari putri tercintanya.
Setelah menghabiskan susunya, Terry berbaring di pangkuan sang mama tercinta. Gadis cilik itu begitu manja pada Sasha. Zarina tersenyum tipis melihat kedekatan ibu dan anak tersebut.
"Ya sudah lanjutkan mainnya sama Arion dan Gyana, sayang. " ucap Sasha pada putrinya.
"Aku capek ma, tapi sangat senang memiliki teman seperti Rion dan Gyana. " ungkapnya sambil tersenyum lebar.
"Jadi Terry enggak lagi kesepian 'kan? " tanya Sasha memastikan yang di angguki Terry. Sasha mengusap kepala putri tercintanya dengan penuh kasih sayang. Terry langsung bangun, bermain dengan Gyana lagi.
Sasha menghela nafas lega. Dia kembali mengobrol dengan Zarina membahas banyak hal. Wanita itu juga menggoda Sasha akan kedekatannya dengan Marco.
__ADS_1
Sasha menganggapinya dengan senyuman. Dia hanya menganggap Marco sebagai teman dan bos, tak lebih dari itu. Zarina menyesap kopinya dengan santai sambil memperhatikan ekspresi Sasha.
"Sasha harusnya perlu memikirkan kebahagiaannya sendiri. Dia perlu sosok pendamping yang menjadi sandaran nya. " batin Zarina dalam hati.