
Sore harinya, Erland pulang sendiri. Pemuda itu lekas pergi ke kamarnya setelah menjawab pertanyaan sang mommy mengenai adiknya.
Mommy Zarina hanya menggeleng melihat tingkah putra itu. Wanita paruh baya itu menghubungi Essie.
"Sayang, apa kamu jadi menginap di kediaman aunty Monica? " tanya Mommy memastikan.
"Iya Mommy. " balas Essie singkat.
"Baiklah, jaga dirimu oke dan kalau ada apa apa hubungi mommy. " sahut mommy dengan bijak.
Tut
Mommy mengakhiri obrolannya dengan sang anak. Terdengar suara hembusan nafas berat ke luar dari bibirnya. Wanita paruh baya itu lekas bangkit, dia memilih pergi ke kamar putranya.
Tok
tok
"Erland, bolehkah mommy masuk. " pinta mommy.
"Masuklah mommy!
Wanita paruh baya itu masuk ke dalam, menghampiri sang anak. Kini dia duduk berhadapan dengan Erland.
" Mommy sudah dengar ceritanya, mengenai kamu yang marah marah nak pada adikmu! "
"Kenapa kamu enggak percaya pada adikmu sendiri pada gadis yang jelas jelas hanya orang asing? " cecar mommy.
"Essie membuat kericuhan di kelas mommy hingga di keluarkan dari jam mata pelajaran. " sahut Erland.
"Dia pasti memiliki alasan di balik itu semua nak, kau yakin jika Essie yang berbuat onar? "
__ADS_1
Erland kembali bungkam mendengar pertanyaan dari sang mommy. Mommy Zarina menasehati putranya namun Erland kembali membantah. Hal itu membuat mommy menghela nafas panjang. Dia lekas bangkit dan memilih ke luar dari kamar sang anak.
Di sisi lain Essie saat ini berada di kamar tamu. Ya dia sering menginap di tempat aunty dan uncle nya. Gadis itu memilih memblokir nomor kakaknya.
"Ini semua gara gara Vivian, kak Erland justru membela gadis centil itu. " gerutu Essie kesal. Dia taruh kembali ponselnya di atas meja.
Merasa bosan, Essie ke luar dan pergi ke teras samping. Dash, sepupunya datang menemuinya. Pemuda itu berusaha menghibur sang sepupu. Essie langsung mengungkapkan keluh kesahnya pada Dash. Dash sendiri mengusap kepala Essie dengan halus.
"Kamu masih kesal dengan Erland? " tanya Dash yang di angguki oleh Essie.
"Ya sudah main game yuk. " ajak Dash yang lekas berdiri, menarik tangan Essie menuju ke ruangan tengah. Keduanya asyik bermain games di sana.
Tepat pukul enam sore, mood Essie kembali membaik. Gadis itu kembali menjahili si kembar Dante dan Dash, sepupu kembarnya. Satu jam setelahnya, mereka semua pergi ke meja makan.
Makan malam kali ini semakin ramai berkat kehadiran Essie di tengah keluarga Wijaya. Aunty Monica tentu saja sangat senang dengan kehadiran sang keponakan cantiknya.
"Sayang, apa kamu besok ada jadwal kuliah? " tanya Aunty pada Essie.
"Tidak aunty, aku malas masuk. " jawabnya santai.
"Jadi pingin punya anak
perempuan. " ceplos uncle Sam.
"No Papi. " jawab si kembar D secara bersamaan. Essie tertawa melihat wajah panik sepupu kembarnya. Mereka melanjutkan makan malamnya dengan tenang.
Usai makan malam, mereka lekas pergi ke kamar masing masing dan beristirahat.
Pagi harinya, mereka semua telah berkumpul di meja makan. Selesai sarapan, Essie memilih bersantai di ruang tamu bersama aunty cantiknya. Sementara Uncle Samuel mengajak si kembar bermain golf di tempat lain.
"Essie, apa kamu tak berniat belajar memasak sayang? " tanya Aunty Monica lembut.
__ADS_1
"Kapan kapan saja Aunty, lagipula hari ini aku lagi malas melakukan apapun. " ungkapnya sambil tersenyum.
Aunty Monica hanya menggeleng, diapun membiarkan keponakannya malas malasan. Essie sendiri tengah memainkan ponselnya, saat ini dia mengirim pesan pada sang mommy tercinta.
Beberapa saat kemudian, Essie memilih bangkit dan pergi ke luar. Dia saat ini berada di Gazebo, menenangkan dirinya di sana.
"Aku kecewa sama kamu kak Erland, kenapa kakak enggak percaya sama aku. " gumam Essie lirih. Essie kembali fokus pada ponselnya, matanya membulat setelah membaca caption dalam postingan milik Vivian.
"Pantas saja kak Erland, tak percaya sama aku adiknya sendiri. Nyatanya Vivian sudah jadi kekasih kak
Erland. "
Essie memilih tak ambil pusing mengenai urusan pribadi kakak keduanya itu. Bibirnya mencebik pelan, gadis itu mengusap wajahnya pelan.
Drt
drt
Dia menoleh, meraih ponselnya kemudian menekan tombol hijau dalam layar ponselnya.
"Halo? "
"Kenapa nomor kakak, kamu blokir Essie? " tanya Erland tanpa basa basi.
"Untuk apa kamu menghubungi aku kak, bukankah kak Erland enggak percaya sama aku, adik kakak sendiri. " sindir Essie.
Tut Essie memilih mengakhiri obrolan mereka begitu saja. Dia tak ingin mood paginya jadi rusak jika harus kembali bertengkar dengan Kakaknya. Dia menghembuskan nafas perlahan, berusaha menenangkan diri. Essie berbaring di sana, menatap langit langit Gazebo.
Sementara Erland hanya bisa pasrah, kala nomor adiknya tak bisa di hubungi. Pemuda itu memilih ke luar dari mansion, lekas menemui Vivian kekasihnya. Tiba di Cafe, Vivian lekas memeluknya tanpa merasa malu jika mereka berada di tempat umum.
"Kamu kenapa sayang, kok wajah kamu terlihat kusut? " tanya Vivian pada sang kekasih.
__ADS_1
"Ada masalah kecil, tapi aku bisa mengatasinya. " jawab Erland. Vivian lekas memanggil pelayan, segera memesan minuman. Gadis itu tampak bahagia bisa berduaan dengan Erland.