Nona Galak & Tuan Posesif

Nona Galak & Tuan Posesif
Bab 65 Season 2 Part 3 Kepergian Papa Davian


__ADS_3

River mengajak Ravella jalan jalan, selain itu keduanya tampak berkencan. Saat ini keduanya berada di bioskop, mereka memilih menonton film romantis dan horor.


"Apa kau pernah berkencan sebelumnya Vella baby? " tanya River.


"Pernah, aku punya mantan sebelum di tikung dari belakang. " balas Ravella dengan santai. River menoleh dengan cepat kearahnya.


Ravella hanya melirik nya sekilas dan fokus film. River sendiri semakin penasaran dengan gadis di sebelahnya saat ini.


Satu jam berlalu keduanya ke luar dari bioskop. River menggandeng nya ke dalam mobil dan mengajaknya pergi. Ravella menarik tangannya dari genggaman River. Bukan apa apa, dia hanya tak terbiasa di genggam oleh pria yang baru dia kenal.


Ternyata River mengajak nya pergi ke salah satu museum. Tiga puluh menit mereka baru sampai di sana. Keduanya lekas turun dan membeli tiket masuk.


Selama di sana keduanya asyik berkeliling. Keduanya pun lekas pergi dari sana setelah puas berkeliling. River mengajak makan siang Ravella di restauran.


"Sepertinya hubungan kamu dan adikmu Saskia tidak baik ya? " tanya River dengan santai.


"Ya kami memang tidak akur. Saskia seringkali mencari masalah denganku. " jawabnya dengan gamblang.



Pelayan mengantarkan pesanan mereka. Ravella sangat menyukai dessert dengan campuran strawberry. Gadis itu sibuk mencicipi makanannya. River sendiri hanya memesan steak daging dan kopi.


"Apa kau bisa menghabiskan itu semua? " ceplos River.


"Iya, mood hari ini lumayan buruk dan aku perlu makan banyak. " jawabnya tanpa basa basi.


"Jika kau berhubungan denganku, bersiaplah kau akan rugi. Selain banyak makan, aku juga suka belanja di mall. " pungkasnya seraya mengunyah.


"Baguslah kalau kau banyak makan, lagipula aku suka gadis yang memiliki tubuh sintal daripada kurus kering. " ceplos nya.


Ravella menoleh, menatap tajam kearah River yang tertawa. Dia pun kembali makan dengan santai tanpa terburu buru. Pria tampan itu segera memakan steak nya.


Tiga puluh menit berlalu, keduanya telah selesai makan. Ravella bersendawa tanpa jaga image sama sekali di depan River. River mengulum senyumnya, dia merasa gadis di depannya sangatlah unik.


"Kenyang." gumam Ravella sambil mengusap perutnya. Sering ponselnya mengalihkan perhatian gadis itu. Dia lekas mengeluarkan ponselnya.


"Halo Mom, ada apa? " tanya Vella.


"Uncle Davian, papa kandungnya Terry meninggal. " ungkap mommy Zarina.


Deg

__ADS_1


Ravella terkejut, dia mengakhiri obrolannya dan menyimpan ponselnya dalam saku. Dia lekas memberitahu River kemudian mereka ke luar dari restauran setelah membayar.


Brum


Skip


Di kediaman Davian


Ravella lekas menghampiri keluarga nya. Tampak terlihat jelas jika saat ini Terry adiknya menangisi papa kandungnya. Wanita itu menghampiri sang adik kemudian memeluknya.


"Sabar ya Terry, kepergian Om Davian memang menyakitkan untuk kamu namun kamu harus kuat. " ucap Ravella.


"Sebelum pergi, Papa bilang jika aku harus bahagia kak. Katanya mereka bertiga di atas sana pasti akan sedih jika aku kembali terpuruk. " gumam Terry sambil menangis sesegukan.


Terry kembali memeluk jenazah sang papa untuk terakhir kalinya. Dia membiarkan orang orang memandikan jenazah sang papa. Mereka saat ini mengikuti tata cara persiapan pemakaman.


Beberapa saat berlalu


Kini mereka telah sama sama mengantarkan Papa Davian, ayah kandung Terry ke peristirahatan terakhirnya. Terry menangis sambil menaruh bunga di atas makam.


"Maafin Terry Pa, Terry belum bisa menjadi putri papa yang membanggakan. " gumam Terry menyesal.


Semua orang ikut iba dengan apa yang di rasakan oleh Terry. El datang mendekat, dia lekas memeluk calon istrinya itu.


Ravella turut menangis melihat sang sepupu kembali rapuh. Mereka semua terus menemani Terry di sana. Sore harinya mereka memutuskan pulang ke rumah.


Tiba di Mansion, Terry pamit ke kamarnya. Ravella dan lainnya membiarkan Terry menenangkan dirinya. Mereka semua pergi ke ruang tamu, menenangkan diri di sana.


Keheningan kini melanda keluarga Ravella. Mereka semua larut dalam pikiran masing masing. Ravella menghela nafas berat, dia cukup merasa sedih dengan apa yang menimpa Terry.


"Terasa dejavu, bukankah begitu mom, dad? " tanya Ravella pada orang tuanya.


"Kamu benar sayang, mommy harap Terry bisa berbesar hati menghadapi kenyataan pahit ini. " jawab mommy Zarina dengan bijak.


"Iya mommy! "


Mommy Zarina beranjak, wanita paruh baya itu menyusul sang keponakan. Ravella kembali menghela nafas panjang. Gadis itu menyandarkan tubuhnya di sofa.


"Daddy ke kamar dulu nak. " ujar Daddy Morgan pada anak anaknya. Ravella mengangguk, dia pun membiarkan sang daddy menghampiri sang mommy.


Drt

__ADS_1


Ravella lekas mengambil ponselnya, menekan tanda hijau dalam layar ponsel. Dia hanya diam saja saat River berbicara di telepon.


"Ciee." ledek Essie pada sang kakak. Ravella melirik nya tajam. Essie kembali mengatupkan bibirnya mendapat peringatan dari kakak sulungnya.


"Are you okey? " tanya River.


"I'm fine, it's just that Terry is now losing his biological father. " balas Ravella dengan sendu. Terdengar suara helaan berat dari River.


"Kau perlu mememberikan support pada Terry, Vella baby! "


Keduanya terus mengobrol di telepon. Ravella banyak mendapatkan nasehat dari River.


Tut


Vella kembali menyimpan ponselnya dalam tas. Fokusnya kimi tertuju pada adik adiknya yang tengah berbisik satu sama lain. Wanita itu memicingkan mata, menatap curiga kearah tiga adiknya itu. Essie hanya nyengir, berusaha tetap tenang dan gugup.


"Kalian jangan aneh aneh. Saat ini masih dalam suasana duka. " peringat Ravella.


"Ya kami tahu kak! "


setelah itu mereka langsung bubar ke kamar masing masing. Ravella kini sendirian di ruang tamu. Dia hanya bisa bertaraf Terry mampu melewati ujian ini dengan baik.


Tepat pukul delapan malam, mereka berkumpul di meja makan. Terry hadir atas bujukan aunty kesayangan nya. Terlihat gadis itu habis menangis, di perhatikan secara seksama jika kedua matanya yang memang tampak sembab.


"Please aunty tahu jika ini sangat menyakitkan untuk kamu nak. Relakan kepergian papa Davian ya sayang. " bujuk Mommy Zarina dengan sabar.


"Iya aunty, aku hanya perlu sedikit waktu. Selain itu aku kecewa dengan papa yang menyembunyikan penyakitnya dari aku. " ungkap Terry dengan lirih.


Setelah itu mereka melanjutkan makannya lebih dulu. Mommy Zarina melirik kearah sang suami. Daddy Morgan sendiri telah memaafkan perbuatan Davian di masa lalu. Dia tak ingin menyimpan dendam dalam hatinya.


"Parahnya lagi aku baru tahu jika Papa pernah berbuat jahat pada Uncle Morgan. " gumam Terry lirih.


Gadis itu menoleh kearah sang paman. Dia mewakili mendiang sang papa meminta maaf pada uncle Morgan.


"Sudahlah Terry, Uncle sudah memaafkan kesalahan papa kamu di masa lalu. " jawab Daddy Morgan dengan bijak.


Terry mengangguk, segera saja menyelesaikan makan malamnya. Dia juga telah menghapus air matanya. Usai makan malam, Mommy Zarina lekas memberikan pelukan penenang untuk sang keponakan.


Ravella dan lainnya mengulas senyumnya. Mereka semua turut memberikan dukungan semangat untuk Terry.


__ADS_1


__ADS_2