
Kara ketinggalan oleh lainnya. Juwita segera menyusul.
"Come on baby, disini kita lawan !" pekik Milo.
"Oke !" ucap Kara. Gadis itu mengikat rambutnya. Jantungnya berdegup kencang, melihat ketinggian. Tapi, tak menyurutkan nyalinya. Kara bukanlah gadis penakut, Hamparan kebun teh nan hijau siap memacu adrenalinnya.
"Ayo bebs !!! madu ku, kalo kamu sampai disini, ntar kubagi harta warisan sugar daddy !!" pekik Ica.
"Oke racun !!" jawab Kara.
"Dih, kamvreeett disebut madu, gue yang disebut racunnya !" ucap Ica. Juwita akhirnya bisa tertawa hanya karena Kara dan Ica.
Petugas memasangkan pengaman di badan Kara, Kara menghirup nafas dalam dalam dan membuangnya kasar, ia bersiap meluncur.
"Aaaaa !!!" teriaknya. Angin menerpa wajah dan badannya, ia merentangkan tangannya.
Kara sampai diujung.
"Madu ! loe paling akhir, skor loe dibawah gue !" ucap Ica.
"Ga apa apa, palingan juga disuruh ngelenong bareng loe !" jawab Kara.
"Kita lawan ya Ra !" Ica mewanti wanti.
"Iya ahh, awas loe kalo minta tolong ! ga gue denger !" jawab Kara.
Permainan demi permainan mereka lahap, apalagi para cowok. Tak perlu ditanya lagi, memang makanan mereka.
"Duh, kalo gini caranya kita kalah Ra !" keluh Ica.
"Gue capek Ca ! nyerah ahh !" jawab Kara, lututnya sudah lemas. Dia bukan tipe olahragawan, tapi rebahawan.
"Loh, Kara sama Ica mana?!" tanya Raka.
"Paling nyangkut di tukang makanan ! coba cari deh di depan sana !" jawab Ayu dan Jihad, yang memang lebih tau tipikal gadis seperti apa mereka.
Sepertinya jika ada demo pun, mereka akan menghentikan dulu orasinya demi tahu bulat.
Milo mencari bersama yang lain. Dua gadis absurd ini, jika ada bikin pusing, tapi jika tidak ada berasa ada yang hilang apalagi Milo, bisa bisa wisata ini diobrak abriknya hanya karena Caramel tak ada di sampingnya. Keduanya harus segara diketemukan jika tak mau sampai Milo memanggil SWAT untuk mencari mereka.
Kara menengadahkan kepalanya di kursi taman, merasai sejuknya udara, keringat yang mengucur dari keningnya tersapu angin sepoi sepoi. Beda halnya dengan Ica yang sudah memesan cemilan.
"Ra, yakin ga mau pesen juga?" tanya Ica.
"Engga !"
Benar saja, disaat yang lain sibuk mencari, keduanya malah asyik asyikan mejeng di tempat gerai makanan yang ada di dalam wana wisata.
Ica duduk samping Kara.
"Buruan makannya, ntar mereka nyariin !" ucap Kara.
"Biarin, capek gue ! dari atas flying fox, nih bau somay melambai lambai tau ngga !" jawab Ica.
"Ra, ka Juwi kenapa sih? ko murung?" tanya Ica.
"Sakit dia !" jawab Kara singkat.
"Boong, gue tau yang sakit sama yang engga !" jawab Ica.
"Peka banget deh temen gue !" jawab Kara.
"Udah berguru sama daun putri malu gue !" jawab Ica sambil mengunyah makanannya. Kara meraih botol minumnya,
"Kalo gitu harusnya loe peka sama perasaan seseorang !" jawab Kara.
"Siapa ? Jihad ?!"
__ADS_1
"Byurrrrr !!!" Kara menyemburkan air yang belum sempat ia telan.
"Uhukkk uhukk !!" Kara terbatuk.
"Ga usah pake drama kaget segala !" ucap Ica santai.
"Gue tau Ra, cuma gue pura pura ga peka aja !" jawabnya lagi terlampau santai.
"Loe kenal gue sejak smp Ra, loe tau gimana gue !" Kara menghela nafasnya lelah.
"Belibet tau ga Ca, pemahaman loe yang bikin ribet," jawab Kara.
"Gue mau Jihad dapetin yang jauh lebih baik dari gue, " ia lalu minum.
"Sejak kapan loe tau?" tanya Kara.
"Dulu gue sempet denger obrolan dia sama Ayu, gue pura pura budeg aja, "
"Terus loe sendiri ?" tanya Kara.
"Gue, masih nyaman dengan persahabatan kita Ra, gue masih trauma sama yg dulu Ra !" jawab Ica. Kara tau benar, dulu Ica pernah patah hati, berpacaran dengan sahabatnya sendiri, dan ujungnya putus karena dikhianati, alhasil pertemanan mereka hancur.
"Ka Revan maksud loe?" tanya Kara.
"Kalo menurut gue, semua orang ga sama Ca, apa salahnya loe coba ! gue rasa Jihad ga sejahat Revan, tapi terserah loe Ca, gue cuma mau persahabatan kita jangan sampai hancur !" Kara kembali memejamkan matanya merasai udara.
"Duh, ini cuaca enak banget buat tidur !" ucap Kara.
"Mau gue bawain kasur ?" tanya Ica terkekeh.
"Loe tidur, gue tinggal ya Ra !" Kara tak bergeming. Senyum Ica menyeringai
"Ra, ada guguk gede !!" ucap Ica, sontak Kara terperanjat naik ke atas kursi yang tadi dia duduki. Ica tergelak puas dan berlari.
"Kamvreeett Ica !!!" pekik Kara, ia melepaskan sepatunya sebelah dan melemparnya ke arah Ica.
"Dih kaya bocah !" omel Kean.
"Astaga !!! kita nyari nyari mereka malah asyik jajan sambil mejeng !" ucap Amel dan Vanya.
"Awasss !! ada doggy galak !" pekik Ica, memungut sepatu Kara dan melemparnya ke atas pohon.
"Noh kan, kalo becanda bar bar !" ujar Ayu.
"Sayang, sepatu aku dilempar Ica !" Kara berlari dengan berte*lanjang kaki sebelah.
"Loe berdua dicariin malah enak enakan jajan, mau gue kubur idup idup ?!" ucap Jihad.
"Tuh, si gembul yang jajan !" tunjuk Kara.
"Loe berdua kalah ! ga ada ngelak lagi !" ucap Arial.
"Siap siap nonton konser guys ! sambil makan malam !" jawab Erwan.
"Ambil Ca ! sepatu dapet kredit tuh !" omel Kara.
"Pantesan suaranya ga enak banget pas loe jalan !" jawab Ica. Semuanya bingung apa maksud Ica.
"Suaranya gitu loh, pas Kara injek tanah, dit...dit..dit !" jawab Ica.
"Minta di timpuk satu kecamatan nih anak !" Kara mencoba meraih Ica, namun Ica bersembunyi di balik Milo.
"Ka Milo, nih ceweknya galak !" ucap Ica. Kara dari depan Milo sudah mengobarkan api kemarahan untuk Ica.
"Ra, suer ! itu belakang loe guguk !"
"Ga percaya gue !!" jawab Kara masih mencoba meraih Ica.
__ADS_1
"By, coba nengok !" ucap Milo.
Benar saja seorang pengunjung membawa guguk peliharaannya kesini.
"Astaga !!" Kara langsung masuk ke dalam pelukan Milo, Milo refleks memeluk Kara.
"Ya !! cewek bar bar takutnya guguk lucu gitu !" ledek Arial dan Erwan.
"Kamu takut guguk by?" tanya Milo.
Kara kelimpungan saat mendengar suara guguk itu mendekat lalu melewatinya.
Masih siang saja mereka mengerjai Milo, Milo sampai harus mengambil sepatu Kara yang di sangkutkan Ica diatas pohon. Milo lalu berjongkok, memakaikan sepatu di kaki Cinderella nya.
"Orang orang tuh sepatu kaca yang dipasangin sama pangerannya, " ucap Kean.
"Ini mah sepatu kreditan !" jawab Ica.
"Beneran by, ini kreditan?!" tanya Milo percaya saja.
"Ya enggalah ! masa iya kredit, " jawab Kara.
"Lanjut ga nih?" tanya Raka.
"Sayang, aku mau coba itu !" tunjuk Kara pada wahana ATV.
"Gue juga mau !!" ucap Ica,
"Ka Raka mau kan, bonceng aku ?!" belum Raka menjawab, Jihad menarik Ica untuk ikut bersamanya.
"Oke kita balapan !" ucap Milo.
"Kenapa gue mesti sama loe mulu sih !" dumel Ica, berada di belakang Jihad.
"Duduk disini ! cuma gue yang tahan sama kelakuan loe, kali aja ntar ditengah tengah track, loe tiba tiba berubah jadi manusia serigala !" jawab Jihad.
"Tuk !!" Ica mengetuk kepala Jihad.
"Sembarangan, gue ngajaknya cowok tulen bukan cowok jejadian !" jawab Ica.
"Yang menang dapet apa nih?" tanya Erwan.
"Dapet cintanya gue !" jawab Kara. Milo langsung membungkam mulut Kara.
"Engga bisa gitu by, yang berani yo duel sama gue !" ucap Milo.
"Kalo gitu dapet cintanya gue aja!" jawab Ica.
"Ogah !!" jawab Kean membuat Ica cemberut. Jihad mencebik pada Ica, "berisik ! ga akan ada yang mau sama cewek berisik !"
"Yang menang gue traktir belanja seharian di oulet yang dia mau !" jawab Milo.
"Kalo gitu aku mau pindah ATV, mau ngendarain ATV sendiri !!" Kara hendak beranjak dari boncengan Milo. Bagaimanapun gadis ini tergiur dengan tawaran Milo, begitupun Ica. Mereka tertawa dengan tingkah kedua gadis ini.
"Sue njirrr, hejo bener denger kata traktiran !" tawa Kean.
"Eits, mau kemana ?!" tanya Milo menahan tangan Kara.
"Loe harus menang Ji, kalo sampai kalah, gue tagih traktirannya sama loe !"
"Enak aja !" jawab Jihad.
.
.
.
__ADS_1