
Kara turun dari motor, ia menengadah, melihat pagarnya saja menjulang tinggi seperti benteng takeshi.
Seorang satpam membukakan pintu gerbang, "makasih pak !" ucap Milo.
"By, ayo masuk !" Milo mendorong motornya masuk ke dalam.
Bayangan Kara tentang rumah Milo memang sesuai ekspektasinya. Novel novel yang sering ia baca tentang rumah rumah lelaki CEO bak istana memang nyangkut satu disini,
"Bukan rumahku by, rumah papah sama mamah, bener kata kamu. Aku masih belum punya apa apa buat halalin cewek, mau nunggu kan?" tanya Milo.
"Hah??!" Kara hanya mengangguk dan membenarkan kacamatanya. Semoga saja keluarga Milo tidak seperti kebanyakan tokoh antagonis di dalam cerita novel yang melarang sang pangeran memiliki hubungan dengan rakyat jelata seperti dirinya.
"Assalamualaikum, bi.. papah sudah pulang ?" tanya Milo.
"Belum den, " jawab bi Asih.
"Den, siapa ?" senggol bi Asih tersenyum geli.
"Cantik ngga bi?? Kara memang membuka kacamatanya jika sudah selesai belajar.
"Cantik, den.."
Kara melihat keduanya saling berbisik seraya melihat ke arahnya, ia tertunduk malu. Rumah sebesar ini hanya bisa menjadi impian untuk Kara, semoga saja nanti ia bisa membelikannya untuk kedua orangtuanya kelak.
"By, kamu tunggu disini sebentar aku ke atas dulu," Kara mengangguk dan duduk di sofa tamu, matanya menyipit melihat sebuah foto yang menampilkan keluarga Milo, lelaki berdasi dan berjas ini pasti papah Milo, ia terkekeh melihat satu wajah yang sangat ia kenali, betapa tidak.. ia sering melihat Milo tampil urakan bak badboy jalanan ditambah dengan otak absurdnya, sedangkan di foto ini ia seperti seorang CEO CEO muda dengan wibawa yang tinggi.
"Ga cocok sumpah !!" kekeh Kara yang sudah mengetahui betapa konyolnya seorang Milo. Matanya kembali bergeser menatap seorang perempuan, tampak jauh lebih muda dari papah Milo, lebih tepatnya cocok mmenjadi kakak bagi Milo.
"Neng, diminum dulu !" ucapan seseorang membuyarkan lamunan Kara. Segelas minuman berwarna orange tampak menyegarkan tersaji di meja, membuat Kara menelan ludahnya, cuaca hari ini memanglah panas.
Milo turun dari lantai atas sudah dengan stelan santainya,
"Diminum dulu, bi Asih udah cape cape bikin, sepaket pake pelet dan guna guna yang udah ku kasih !" ucapnya membuat bi Asih tertawa kecil sementara gadis ini berdecak dan memutar bola mata jengah.
"Canda neng, den Milo jangan dianggap serius," sanggah bi Asih.
"Udah biasa bi, udah maklum ko !" jawab Kara.
"By, makan siang dulu yu, jangan sampai telat makan nanti kamu pingsan, belum juga diijab udah pingsan duluan," kelakar Milo telak membuat Kara tak berkutik, menghadapi Milo harus dengan hati yang lapang dan full of kesabaran,hanya butuh kesadaran siapa yang lebih waras disini, ia sama saja menghadapi kucing yang kebelet kawin, berlari maka ia akan mengejar sampai dapat, tak mau kalah oleh kucing jantan lain.
"Aku kesini bukan buat minta makan Mil, " gumam Kara.
__ADS_1
"Ga apa apa, bibi baik ko ga akan minta tagihannya, iya kan bi?" tanya Milo, bi Asih pun menggelengkan kepalanya.
"Mari atuh neng, kita makan.."
"Ehh iya bi, makasih. Tapi ga sopan melangkahi yang punya rumah," jawab Kara sopan.
"Beuhh sopannya calon bini !! cocok ngga bi?" bisiknya mendekatkan mulutnya ke telinga bi Asih membuat Kara menatap Milo dengan menyipit.
"Cocok den, tapi neng Kara nya mau apa tidak?" ternyata bi Asih 11 12 dengan majikan mudanya ini.
"Tolong tanyain dong bi, abisnya kalo Milo yang nanya takut ditimpuk. Ati ati bi, dia sedikit galak apalagi kalo ga dikasih tulang !" bisik Milo namun terdengar oleh Kara. Kara hampir saja melayangkan kepalannya pada Milo jika bi Asih tidak menjadi tameng Milo,
Terdengar suara deru mesin mobil dari arah luar, pertanda si raja sudah masuk ke pelataran istana. Kara semakin mati kutu dan membeku, ia gugup, pikirannya melayang, apakah Milo sering bercerita tentangnya pada papahnya, seorang gadis yang selalu sarkas dan memukul anaknya. Ya Allah ingin rasanya Kara menciut dan masuk ke dalam toples bersama acar milik spongebob saja.
"Assalamualaikum !" suara bariton pria paruh baya sukses membuat Kara menciut seperti kismis.
"Wa'alaikumsalam," se nakal nakalnya Milo, ternyata ia tetap anak yang patuh, ternyata budaya Indonesia yang menyalami orangtua masih melekat di diri Milo.
Umur yang sudah tidak muda lagi tak mengurangi kharismatik di diri ayah Milo. Matanya menatap Kara dari atas sampai bawah, ia mendekati Kara.
"Ini siapa?" tanya om Braja.
"Pacar Milo !"
Ucap mereka berbarengan, keduanya saling bertatapan membuat om Braja mengerutkan dahinya bingung.
"Maaf om, kenalkan nama saya Caramel, saya teman sekolah lebih tepatnya adik kelas ka Armilo," ucap Kara.
"Boong pah, kenalin dia calon pilihan Milo pah !!" sontak saja mata Kara membola, jika bukan di depan om Braja dan bi Asih mungkin saat ini kepala Milo sudah menjadi sasaran empuk tasnya yang berisi beberapa buku paket.
Om Braja menatap Kara tajam, membuat gadis itu merasa dilucuti, ia merasa kecil dan kerdil.
"Kenalkan nama saya Braja Harris Aditama, pria tulen berumur 45 tahun, hobby saya main golf, orang bilang saya tampan dan keren tapi memang itu benar adanya, dan saya papahnya Armillo pemuda yang mengaku ngaku calon suami kamu !!" om Braja mengulurkan tangannya.
Kara tak berkutik mendengar perkenalan om Braja, kini ia tau sifat konyol Milo turun dari siapa. Milo tertawa melihat ekspresi lucu dari Kara. Baru saja beberapa menit yang lalu Kara ingin terjun ke jurang tapi sekarang rasanya ia ingin menjerit saja dan mengirimkan kedua anak dan ayah ini ke dalam acara stand up comedy atau Mamamia.
"Kenapa?? terpesona sama om?? tapi sebaiknya jangan, om sudah ada yang punya lagipula jangan biarkan laki laki ini nantinya mengajak om berduel kalau kamu terpesona sama om !!" kekeh om Braja.
"Bi, Marsya sudah pulang ?" tanya om Braja.
"Belum pak, "jawab bi Asih.
__ADS_1
"Sebaiknya kita makan sekarang by, yuu !!" ajak Milo.
"Kenapa ga bareng om ?" tanya Kara.
"Kalian duluan saja, om mau bersih bersih dulu !" ucap papah Milo.
Milo menarik kursi untuk tempat duduk Kara, "makasih," cicit Kara.
"Sama sama baby," keduanya makan dengan perasaan yang berbeda, jika Milo sangat senang karena makan siangnya begitu spesial ditemani pujaan hati, lain halnya dengan Kara yang gugup tak beraturan.
.
.
Keduanya selesai makan, dan sekarang sedang ada di taman depan rumah Milo,
"Ku kira ayahmu galak dan jutek, tapi sama kaya kamu !" ucap Kara.
Milo terkekeh, "papah memang menyenangkan ko, " ia menghela nafasnya, "tapi itu dulu, sebelum ia sibuk dengan pekerjaannya dan tante Marsya !" Milo terlihat menatap nanar ke depannya.
Secara garis besar, Kara tau siapa wanita dalam foto tadi. Tanpa mereka sadari mobil tante Marsya datang. Wajah Milo kembali menatap tajam, amarah sepertinya sudah memayungi lelaki ini.
Tante Marsya menatap sinis pada Kara, sepertinya tak suka pada Kara. Ia mendekat.
"Milo, ada salam dari Vio..beberapa waktu lalu ia sangat ingin bertemu denganmu tapi kamu tak pernah mau bertemu, besok mamah ada acara bersama ibu Vio dan Vio ikut, mamah harap kamu mau ya ??" ucap tante Marsya.
"Kenapa Milo harus ikut acara tak penting dan memuakkan, lagipula Milo ga suka sama tuh cewek, ga usah so so buat kenalin Milo dengan anak anak temen tante. Tante liat, dia pacar Milo !!" sarkas Milo membuat Kara tak enak hati,
"Satu lagi, jangan harap Milo panggil tante dengan sebutan mamah, karena tempat mamah tak akan tergantikan oleh siapapun !!" tambah Milo menarik Kara untuk masuk kedalam.
"Sayang, " Kara mengusap lengan kekar Milo.
"Maaf by, kamu jadi harus melihat ini..dia tante Marsya ibu tiri ku. Sebaiknya kita jalan keluar saja !" ajak Milo, ia meraih kunci motor dan berganti pakaian.
"Pamit dulu sama papah !" ajak Kara.
.
.
.
__ADS_1