
Juwita menyeka wajah putihnya, dari keringat. Latihan cheers kali ini, banyak menguras tenaganya, ia harus membimbing para juniornya. Ia meneguk air minumnya dari botol.
"Ka Juwi !" panggilnya.
"Uhukk !" Juwita mengangkat alisnya sebelah.
"Mau ngapain?" tanya nya.
"Gue anggota cheers baru, ka !" senyumnya membuat Juwita ingin menelannya hidup hidup.
"Siapa yang ijinin loe masuk, pendaftaran anggota baru udah tutup semester kemaren !" jawabnya sinis.
"Tapi bukannya kemaren ada anggota baru ya?!" paksanya. Juwita berdecak, alasan apa lagi yang harus dipakainya untuk menolak Gladys, ia tau gadis ini ular. Ia hanya ingin menempeli Milo, semua orang tau jika jadwal latihan anak cheers sama dengan jadwal latihan anak basket.
"Loe !" Juwita menarik kasar tangan Gladys, terbuat dari apa kulit wajahnya. Bisa setebal kulit badak, tak tau malu.
"Ga usah pura pura muka polos sama gue ! munafik !" jawab Juwita.
" Kenapa sih ka, gue salah apa sama loe. Loe bisa benci banget sama gue? apa gue ga layak buat ikutan cheers, bukannya gue udah modis? gue juga jago dance !" jawabnya.
"Masih nanya loe salah apa ?! hello...! loe fitnah sepupu gue, jangan so pura pura polos di depan semuanya, muka loe memuakkan !" jawab Juwita geram, jangan sampai ia mengambil tong sampah di depannya dan mengurungkannya di kepala gadis ular di depannya ini.
"What the f*ck !!!" Juwita benar benar muak dengan tampang memelas Gladys.
Pembimbing cheers datang, mau tidak mau Juwita menerima, tapi jangan harap ia akan bisa beraktivitas dengan tenang.
"Ta, ko loe masukkin si Gladys sih, bukannya loe bilang dia udah fitnah Milo?" tanya Kia, temannya.
"Bu Wiwi udah acc, dia itu muka dua, biarin aja Ki..bisa jadi ajang kita buat usilin dia !" jawab Gladys.
Milo beserta anggota tim basket lainnya sudah masuk ke lapangan, mereka menjadi daya magnet tersendiri untuk siswa siswi sekolah.
"Akhirnya apa yang dulu gue ga bisa, sekarang semuanya gue mampu ! dulu gue selalu ditindas, dulu gue ga pernah eksis, ga cantik, bahkan sekarang semua berfikir gue adalah cewek yang paling istimewa, karena pernah memiliki hubungan dengan Armillo ! kalo cuma seorang cupu kaya Caramel, gue bisa singkirkan. Buktinya sekarang mereka putus, tante Marsya sama Rayhannya aja yang pengecut, wajah tertindas gue bisa jadi senjata !" gumamnya di toilet, ia tersenyum melihat tubuh moleknya terbalut pakaian cheers.
"Mil, itu !" bisik Kean. Alis Milo menukik, melihat gadis menyebalkan itu memakai seragam cheers.
"Ta !" Milo mendekat ke arah Juwita, menarik sepupunya.
"Kenapa dia masuk ?!" Milo sudah geram.
"Dia maksa, gue ga bisa nolak..bu Wiwi disini, lagian dia ngomongnya di depan bu Wiwi, pas baru aja gue rekrut anggota baru ! tapi loe tenang aja, bakalan gue kasih pelajaran !" jawab Juwita. Juwita menyeringai, ia memiliki ide gila lainnya.
*****************
"What ??!! OGAH !!" Kara mencebik, ia tak suka kegiatan seperti itu. Memamerkan paha dan bentuk tubuh, menari nari sambil berteriak. Kaya ga ada kerjaan lain aja ! pikirnya.
"Gladys anggota cheers sekarang Ra, loe mau apa, nama dia semakin berkibar di sekolah ? menyamai nama Milo dan yang lain, dia sengaja Ra, biar nanti kalo ada kejadian apapun dia selalu memiliki pendukung !" jawab Juwita.
Apa jadinya kalau buku diganti dengan pom pom. Yang harusnya memikirkan rumus malah harus menghafalkan gerakan gerakan menantang maut. Maut karena bukan tidak mungkin ia akan dilempar lempar, maut karena nantinya ia akan membuat Milo marah.
"Gue pikir pikir dulu deh, " jawab Kara.
"Jadilah bayang bayang Gladys, Ra ! sampai dia risih dan terpancing emosi, bahkan kalo bisa sampai dia sendiri yang mengundurkan diri dari sekolah, sementara gue, Milo sama yang lain kasih bukti ke sekolah dan mengeluarkan dia !" ucap Raka.
"Gue ga mahir ka, "
"Sini, biar loe ga ribet pake kacamata, gue kasih loe softlens !" ajak Juwita.
"Ah elah !!! ribet !!" cebik Kara.
Ica tertawa, melihat Kara kesusahan memakai softlens.
"Be*go !!! malah ngetawain !"
"Lagian loe kampungan Ra ! kaya gitu aja ga bisa, loe lahir kapan sih, nih anak sd aja udah mamah papah an !"
"Perih njirrr !" jawab Kara. Kara mengerjap beberapa kali, terasa aneh awalnya, ia tak biasa, air matanya menetes. Bahkan matanya sedikit memerah awalnya.
"Udah enakan Ra?" tanya Juwita. Kara mengangguk,
"Nanti balik sekolah jadwal ekskul cheers, loe tunggu gue panggil."
"Sugar baby gue makin kece badai !" seru Jihad.
"Gara gara loe semua nih ! gue ga bisa nari nari, kalo giliran gue yang dijatohin, dilempar lempar gimana?!" tanya Kara was was. Dilempar di ketinggian 3 meter kalo sampe ga ketangkep kan berabe, alamat besoknya ia berakhir di bengkel patah tulang, syukur syukur ga gegar otak.
"Kalo ga ketangkep ya jatoh Ra, paling bengkel patah tulang H. Miun !" jawab Ica enteng.
"Panjul !! enteng banget ngomongnya !" Kara menoyor Ica.
__ADS_1
"Ya lagian, ga mungkin ujug ujug loe dilempar, dikira sampah !"
"Tapi loe bertiga temenin gue kan??" tanya Kara.
"Gue kerja Ra, " jawab Ayu.
"Loe berdua deh !" jawab Kara lagi.
"Pasti mbeb !" jawab Ica, Jihad pun mengangguk, "gue kan basket juga, Ra !"
"Ra, ini baju loe ! gue udah siapin, " Juwita menghampiri Kara di kelasnya.
"Oh iya, gue juga udah ngomong sama bu Wiwi ko, kalo loe rekomendasi dari gue !" jawab Juwita. Kara hanya menghela nafas kasar.
"Bilang sama Milo kek, ka Juwi ! cepetan kasih bukti sama geret Gladys keluar dari sini. Jadinya gue ga harus kaya begini !" ujar Kara.
"Emangnya loe ga mau apa Ra? ikutan beginian, disana mereka pada ngantri buat jadi anggota cheers loh !"
"Gue mah ga muluk muluk, cuma pengen bersekolah dengan tenang dan nyaman, mau orang bilang apa tentang gue, gue bo*do amat. Karena gue ga minta makan sama mereka. Sementara mereka sibuk menilai dan ghibahin gue, gue lebih milih belajar dan raih prestasi !" jawaban simple Kara membuat Juwita menarik senyuman puas.
"Emang ga salah sepupu gue milih loe ! ada salam dari om Braja, katanya mau disuapin lagi calon mantu !" ujar Juwita, wajah Kara merona.
"Maaf ya, jadi harus repot repot kaya gini. Kita memang bisa menggunakan politik uang, Ra..kita juga bisa memakai jabatan om Braja, tapi itu akan sangat fatal dan menyeret nama sekolah maupun nama baik om Braja sendiri. Kita benar benar harus menggunakan cara pintar dan alot. Agar dia sendirilah yang terjebak dengan permainannya, sabar ya Ra !"
"Ka, ka Juwi juga semangat ya buat keluar dari bayang bayang masa lalu !" ucap Kara memegang tangan Juwita, Juwita balik memegangnya.
"Iya, makasih..beberapa hari lalu Rayhan datang lagi ke rumah, pas ada Milo malahan. Sampai babak belur dia dibuat Milo, tapi dia ga lawan Ra. Katanya dia tulus minta maaf !" Juwita menyendu.
"Bukannya Rayhan suka sama..." belum Kara menyelesaikan ucapannya, Juwita sudah memotongnya.
"Gladys,"
"Apa dengan datangnya Gladys kembali, Rayhan bakalan cinta lama bersemi kembali?" tanya Kara.
"Gue ga tau, itu hak dia Ra. Gue cuma bisa ikhlasin aja !" jawab Juwita.
"Apa sih lebihnya cewek itu, jelas jelas dibanding sama ka Juwi, jauh kemana mana lah !"
"Maaf ya kak, ka Juwi pasti lebih sakit lagi liat Gladys, masih banyak cowok di luaran sana kak, jangan sedih..masih ada kita disini !" senyum Kara.
"Dengan adanya loe, mungkin gue akan lebih kuat lagi liat Gladys berada di tim cheers."
"Ya udah gue ganti baju dulu kak !" ucap Kara.
**************
"Ra !!! buruan napa, ga usah so cantik deh !" pekik Ica dari luar bilik kamar mandi.
"Iya ahh bawel !" Kara membuka handle pintu kamar mandi.
"Hahahaha, seksinya anak orang ! neng ikut abang dangdutan yu !" goda Ica.
"Malu gue Ca !"
"Ngapain malu, loe ga t3l4njang ! yu, Jihad udah disana ko, dia kan anak basket juga !"
"Sini tas loe !" Ica membawa tas Kara.
"Loe sama Jihad gimana Ca?" tanya Kara.
"Jihad udah bilang Ra, soal perasaannya sama gue !" Kara tercekat.
"Ko loe berdua ga bilang ?!" sewot Kara.
"Gue sama Jihad sepakat untuk nunda pacaran. Biarlah kaya gini aja dulu, gue masih nyaman kaya gini !"
"Jadi ceritanya hubungan tanpa status nih?" Ica mengangguk.
"Gue kalo pacaran suka canggung, ditambah..." Ica menjeda langkahnya.
"Kenapa?" tanya Kara.
"Jihad kayanya mau kuliah ke luar negri juga deh, Ra !" ucap Ica.
"Hah ?"
"Iya, yang penting katanya, dia udah nyatain perasaannya sama gue, dan gue udah tau sekarang. Gue cuma mau pulihin hati gue aja Ra, gue butuh waktu dulu, buat adaptasi sama hubungan kita, sama perasaan dia, pokoknya sama semuanya deh. Ga tau lah ! gue juga ga ngerti, gue cuma mau jalanin kaya air mengalir aja, entah nanti muaranya dimana," jawab Ica. (suttt ! masih rahasia ya guys, kalo di bongkar disini, ga asik..beda judul )
"Duh, Ca ! banyak orang, gue malu ! gue ga biasa jadi pusat perhatian ! males juga panas panasan, mendingan gue tidur siang !" dumel Kara.
__ADS_1
"Nih anak tidurrr mulu ! ga bosen apa tidur mulu dari orok?!" Ica malah menggeret Kara semakin cepat.
"Sini buruan !!"
Tim basket yang sedang pemanasan melihat Kara dan Ica yang sedang tarik tarikan, yang satu ogah ogahan, yang satu tak sabaran. Mereka tak mengira itu Kara.
"Bu !" panggil Juwita, bu Wiwi terlihat mengangguk.
"Panggil saja Juwita, "
Gladys yang sudah sedari tadi di lapang memakai kostum cheers nya, melirik lirik ke arah Milo. Ia pun terkadang mendapat pujian dari anggota cheers lainnya. Seketika keangkuhannya naik mengangkasa, ia senang..ini rasanya menjadi populer. Uang memang bisa membeli segalanya.
"Girls ! kita kedatangan anggota cheers baru !" ucap Juwita, Raka ikut tertawa memikirkan bagaimana nanti reaksi Milo.
"Anggota baru lagi? ini mau jadi tim hore apa mau tawuran?? banyak amat !" ujar Arial ditertawai lainnya, Milo hanya menggelengkan kepalanya. Otaknya tak fokus, memikirkan apakah baby nya sudah keluar sekolah?? apakah Iwan sudah mengantarnya pulang? apa yang sedang dilakukannya? Rasanya ingin saat ini juga menculik Kara dan menyekap Kara di kamarnya.
"Ra !!" panggil Juwita.
"Ra buruan ! gue semangatin !" ucap Ica.
Kara berjalan menuju lapangan. Tubuh kecil namun berisi di beberapa bagian, memakai pakaian yang pas body, dengan baju kuning aksen biru tanpa lengan, juga rok mini yang memakai dalaman celana ketat sepaha. Kulit putih dan mulus yang tak pernah tersentuh siapapun seakan minta di3lus, wajah bak barbienya sangat enak dipandang, rambut Kara yang di ikat satu di belakang, namun beberapa anak rambutnya mencuat dan tersapu angin. Mata bulat yang sempurna, kacamata bulat harry potternya ia tanggalkan.
"Go Caramel !!!!" pekik Ica.
"Caramel ?!" gumam Milo dan kawan kawan tak percaya, kecuali Raka.
"Bu, ini rekomendasi saya ! Caramel Violin anak X 4 !" Juwita meraih dan mengajak Caramel bergabung.
"Wit wiwww !!!" siulan anak anak basket pada primadona baru, terdengar Milo.
"Nih siulin sepatu gue ! loe !!! lari keliling 10 kali !" perintahnya.
"Mamposss loe !!" ujar Arial.
"Godain cewek, bodyguardnya ngambek, serem gue !" cicit Erwan.
Gladys sudah menghentak hentak kesal, mata Milo saja tak berkedip melihat Kara. Tapi, ada raut kesal dari Milo. Gladys mungkin mengira jika Milo kesal karena Kara masih saja selalu mengejarnya dan membayanginya. Gladys masih menganggap Milo seperti dulu, tak pernah ada satupun gadis yang ia benar benar sukai.
Anak anak basket sedang berlarian untuk pemanasan. Saat melintasi tempat dimana Kara berada,
"Awas kamu by, beraninya buka bukaan gini ?!" ucapnya sambil berlari.
"Kan kan ! gue bilang apa ! gue lagi yang kena !" gerutu Kara.
"Aku culik kamu by, dan sekap kamu di rumah !" ucapnya lagi saat kembali melewatinya.
Juwita hanya tertawa mendengar pasangan absurd ini berdebat.
"Juwita !" panggil Milo,
"Mampooss gue juga ikutan kena !" gumamnya.
"Aku tunggu kamu di rumah Juwi !" ujar Milo saat larian terakhir Milo.
Glekkk !
Kara menelan salivanya berat.
Saat ini Kara sedang mengikuti gerakan cheers yang menurutnya lebih seperti sirkus + aerobik + debus.
Ica beberapa kali menertawakan Kara yang kaku dan melenceng.
"Ini temen gue salah minum obat atau apa sih ?!"
"Asem si Ica ! minta di empanin buaya !" ucap Kara.
"Hemm ! give applause deh buat perjuangan loe dapetin Milo balik," ucap Gladys.
Mata Milo memicing pada kedua gadis yang berada di pinggir lapangan.
"Loe salah dys, bukan Kara yang ngejar ngejar gue. Gue yang lagi ngejar Kara balik !" ucap Milo.
"Stop ganggu Kara, toh Kara yang minta buat break dari gue, dan itu karena loe ! stop tebar gosip murahan loe, yang justru bikin loe sendiri dicap murahan ! gue sama Kara break bukan berarti gue memang buang Kara, tapi lebih ingin menjaga nama baik Kara dari masalah gue, gue sayang sama Kara, gue diem dan jauh dari Kara bukan berarti loe berhak buat deketin, nyentuh atau ganggu Kara, camkan itu ! " Milo menarik tangan Kara menjauh dari Gladys.
"Dan buat kamu, pulangnya, tunggu di rumah Juwi !!" ucap Milo menataptajam, tak ada toleransi.
"Kan gue lagi yang kena ! ka Juwi sama ka Raka malah ngetawain !" Kara cemberut.
.
__ADS_1
.
.