
Gadis itu duduk di depan meja belajarnya yang kecil, menyentuh dan memindah mindahkan frekuensi radionya. Seharusnya malam minggu begini, ia habiskan di luar. Bersenang senang dengan gebetan atau kekasih. Tapi apalah daya, ia hanya jomblowati tak bahagia.
"Masih dengan kita disini di 111,11 fm Radio ngakak. Buat kamu kamu yang lagi diapelin pacar jangan lupa pesan mama, jangan dua duaan di tempat gelap, dan buat kamu yang sendiri..Kapan jadi duanya. Inget jangan sampai lompat ke jurang, karena ga punya pasangan, stay tune aja bareng kita disini !!"
Malam minggu begini, bahkan nyamuk aja gandengan, dan libur ngisep dar*@h..cicak aja udah cakep berdasi, karena mau ngapel, liat buku buku tersusun rapi di meja belajarnya, seakan meletin lidah. Keadaan seakan meledek Kara. Benar kata penyiar itu, apa harus ia lompat ke jurang biar terbelah jadi dua.
Do'a Kara, semoga malam ini hujan badai dan angin topan. Biar orang orang pada di rumah, sama seperti dirinya. Do'a nya para jomblo yang menyesatkan.
Kesepian malah memuluskan otak Kara semakin mengingat Milo, minggu kemarin mereka masih kencan. Kara masih ingat, kencan terakhir mereka saat Milo membawa martabak, mendadak parfum Milo tercium begitu menyengat. Seberat ini ternyata menanggung rindu.
"Milo, gue rindu !" ia membuka galeri ponsel melihat satu foto yang ia simpan saat Milo memintanya mengabadikan potret mereka saat sedang kencan.
Kara keluar dari kamar, "ibu sama ayah lagi ngapain?" tanya Kara melihat ayah dan ibunya duduk seraya ibu yang memijit tengkuk ayah.
"Ayah masuk angin kayanya !" jawab ibu, di Indonesia...memang penyakit seperti ini dikenal dengan masuk angin, keadaan dimana perut kembung, kepala kleyengan dan pegal pegal seluruh badan, padahal bagaimana angin bisa masuk ke dalam tubuh.
"Ibu boleh minta tolong !" pinta ibunya.
"Apa bu?"
"Tolong belikan balsem sama obat masuk angin," ini kebiasaan salah, sakit itu bukannya di kerokin pake balsen sama koin, tapi katanya itu bisa membantu merelexs kan tubuh. Mereka percaya kerokan adalah obat ampuh untuk masuk angin.
"Buat apa sih bu kerokan, itu tuh justru bahaya ! mendingan balsem nya buat pijetan aja !"
"Nih !" ibu menyerahkan uang pada Kara. Jika gadis lain malam minggu begini sudah siap dengan pakaian terbaik dengan wangi parfum yang sampai menyengat hidung, biar dalam jarak 15 meter saja sudah tercium baunya, dan menunggu di jemput gebetan, lain halnya dengan gadis ini, malam minggu piyamaan, bau balsem jalan sendirian.
"Orang lain pacaran, gue mah balseman aja lah biar ga kembung !" gumamnya sedikit menggerutu.
"Hemm, gue mah kayanya ditakdirkan buat jadi jomblo abadi !" ia menatap nanar balsem dan obat masuk angin.
"Ga bagus cewek cantik sendirian di jalanan mana ngomong sendiri ! nanti disangka gila !" ucap seseorang yang duduk di kap mobilnya. Kara seperti hafal suara ini. Ia berbalik, lelaki itu mendekat.
"Akhirnya gue nemuin juga alamat loe !" ucapnya, Kara memundurkan langkahnya, seraya menatap tajam ke arahnya.
"Siapa loe ?!" tanya Kara.
"Selama itukah kita tak bertemu sampe loe lupa siapa gue?? gue Ivan sepupu Ethan, temen Armilo yang dulu ultah !" serunya.
Ahhh ! Kara ingat pemuda kurang aj*@r yang bertemu dengannya di toilet.
"Ada apa loe nyariin rumah gue? rasanya gue ga punya utang sama loe !"
Ia malah tertawa garing, "gue sengaja cari biar bisa ketemu loe, " jawabnya, ini orang kelewat gabut apa gimana sih, pikir Kara.
"Rumah loe yang mana??" ia celingukan.
__ADS_1
"Tuh rumah gue dari sini terus lurus, belok kanan nemu pertigaan sebelah kiri !" jawab Kara.
"Itu rumah loe??" tanya Ivan.
"Bukan, KUBURAN !!" jawab Kara. Ivan tertawa kecut.
" Btw, loe ga diapelin Milo?" tanya nya.
"Urusannya sama loe apa ?"
"Apa jangan jangan Milo dah bosen sama loe dan ninggalin loe kaya Celin??!!" tawanya meledek.
Kara menyipitkan matanya, ini dia penerus Jihad laki laki bibit unggul lambe turah, suka kepo masalah orang.
"Trus apa urusannya sama loe ?!" jawab Kara ketus.
"To the point aja ya, gue suka sama loe. Semenjak ketemu di acara ultah, gue ga bisa lupain loe !" jawabnya. Kara mengernyitkan dahinya, bilang suka semudah itu, seperti membeli permen di warung.
"Sepertinya yang loe butuhin tuh RSJ atau suntik mati !" Kara berbalik dan berlari,
"Caramel !!! gue bakal datang kesini terus buat nemuin loe !!" pekik Ivan.
"Gue bakal cari rumah loe yang mana !!" tambahnya lagi. Kara memutar bola matanya jengah, kenapa disaat begini ia berharap Milo ada untuknya, jika Milo ada, sudah dipastikan Ivan sudah habis di pukulnya. Sepertinya Kara harus belajar melindungi dirinya sendiri saat ini.
Kara membuka pintu dengan tergesa, takutIvan mengikutinya.
"Ra, kenapa?" tanya ibu.
"Abis ketemu se*tan !!" jawab Kara menyerahkan balsem dan obat masuk angin ke tangan ibu, lalu ia masuk ke dalam rumah.
"Bu besok besok kalo ada yang nanyain ini betul rumah Kara apa bukan,bilang aja Kara dah pindah ke Merkurius !!" Kara kembali menutup pintu kamarnya. Ibu menggelengkan kepalanya, tersenyum melihat sikap konyol anaknya.
"Siapa yang mau pindah bu?" tanya ayah yang baru datang dari toilet.
"Anaknya ayah, katanya mau pindah ke Merkurius !" ibu tertawa melihat ekspresi suaminya itu kebingungan.
"Panas dong bu !" jawab ayah membeo.
.
.
Kara masih bergelung dalam selimut kuda poni tebalnya. Iya gadis ini memang seperti bocah 5 tahun yang mengagumi dan menyukai kuda pony, mimpinya adalah terbang bersama kuda pony melewati lengkungan pelangi. Padahal setaunya pelangi itu hanyalah biasan cahaya dan air hujan, dan kuda pony adalah makhluk mitos yang tak dapat dipercaya keberadaannya.
Pagi pagi sekali Jihad, Ayu dan Ica sudah menyatroni rumah Kara, bersama Arial dan Erwan.
__ADS_1
"Itu rumah Kara !" tunjuk Ayu.
Setelah mengetuk pintu, ibu membuka pintunya.
"Assalamualaikum bu, " sapa mereka bersamaan.
"Wa'alaikumsalam, Ayu..ehh ada apa ini rame rame ?!" tanya ibu kebingungan.
"Iya bu, " cicit Ayu.
"Bu, Caramelnya ada?" tanya Erwan. Ibu ingat pesan konyol anaknya semalam.
"Ada, tapi dia sudah pindah!" jawab Ibu.
Sontak semua terkejut, tak ada info apapun tentang Kara yang mereka tau.
"Pindah bu?? kemana??" tanya Ayu sedikit melengking.
"Ke Merkurius katanya !" ibu tertawa.
"Astaga Kara !!" Ayu mendengus. Yang lain tertawa.
"Saravvv, kirain gue beneran !!" bisik Jihad pada Ica.
"Boleh kita ketemu bu??" tanya Arial.
"Hemm, kayanya masih tidur deh di kamar !" jawab ibu mempersilahkan mereka masuk.
"Ya Allah kebo !!" ucap Ica, ibu tertawa kecil.
"Gue pikir kalo cewek pinter bangunnya subuh terus !!" lirih Erwan.
"Orang pinter juga human, Wan !!" toyor Arial.
"Jadi gimana?" tanya Ayu.
"Alahhh gampang gitu doang mah !!" ucap Jihad, ia meminta ijin pada ibu Kara.
.
.
.
.
__ADS_1