
"Ra, ga kebayang deh kalo sampe ka Milo cs datang telat, loe bisa diapa apain sama tuh om om ! " ucap Ica.
"Hm, Allah masih sayang gue Ca !" jawab Kara.
"Lagian apaan juga tuh om om, udah tua juga maenannya ke club malam, umuran segitu mah harusnya jamaah di masjid, inget dosa, bentar lagi dikafanin juga! banyakin gosokin minyak angin di pelipis, soalnya suka kleyengan kaya bapak gue, Ra!" jawab Ica.
"Beda lah Ca, dia mah banyak duit ! mau mab*ok sampe muntah juga fine fine aja ! ga akan sampe ngutang sama bartender ! emangnya loe, beli pop ice aja masih ngutang sama warung depan !" jawab Kara.
"Hahaha, ga usah buka kartu !" bu Hani tertawa mendengar ocehan kedua gadis ini.
"Serius deh Ra, emang istri di rumah ga cukup apa??!" tanya Ica. Kara menggidikkan bahu.
"Kalo gue jadi bininya di rumah udah gue tendang. Nunggu harta warisan !" oceh Ica.
"Be*go, istri macam apa loe !" kekeh Kara.
"Mungkin karena tidak terpuaskan nak Ica, makanya jajan di luar ! atau mungkin hiper..sudah sudah...ga usah ngomongin itu. Kara masih 16 tahun, belum cukup umur !" jawab Ibu. Ketiganya berjalan menuju ruang ct scan dengan Kara yang berada di kursi roda di dorong ibu Hani dan Ica.
Beberapa orang berpakaian rapi masuk ke koridor VVIP.
Seorang laki laki yang sangat Jihad kenal ikut masuk, bagaimana tak kenal dia adalah Riza Kurniawan ayahnya.
Ica sedang ke toilet di dekat ruang scan, dan Kara tengah menjalani CT Scan dan serangkaian tes lainnya.
"Dimana Caramel?" tanya pria yang tengah membawa kue jajanan pasar dan buah buahan juga sebucket bunga.
"Caramel sedang melakukan scan, pak !" jawab Jihad.
"Lalu dimana bocah tengil kembaranku itu, yang sudah menyebabkan calon mantuku jadi seperti ini ?" tanya nya lagi.
"Milo sedang bersama ayah Caramel, di cafe RS," jawab Jihad lagi.
"Riza, antar saya ke cafe RS, sepertinya obrolan antar besan ini akan berlangsung seru, " jawabnya. Ica kembali dari toilet, ia tidak langsung kembali menuju ruang scan, tapi ia berjalan menuju cafe, menunggu Kara yang sedang tes membutuhkan teman, cemilan mungkin bisa menemaninya.
Langkah kakinya terhenti saat melihat Milo bersama ayah Kara, juga 2 pria lainnya memakai pakaian rapi.
Mata Ica menyipit melihatnya, salah satunya Ica ingat..itu ayah Milo. Sebenarnya ia penasaran apa yang sedang mereka bicarakan, tapi melihat dari tampang mereka dan kuasa ayah Milo, bukan tidak mungkin jika informasi apapun yang ia bicarakan tabu untuk di kepoin, bisa bisa nasib Ica mati muda di gantung di jemuran baju.
Ica memilih segera membayar belanjaannya lalu kembali, melihat Kara sudah selesai tes ia membantu Kara kembali.
"Loe ga apa apa kan Ra?" tanya Ica.
"Ga apa apa, ih bawel."
"Kali aja loe perlu gue pakein tongkat, "
"Bu, ibu sama ayah punya hutang apa gimana?" tanya Ica, sontak saja bu Hani dan Kara mengernyitkan dahi.
"Tadi di cafe ayah Kara, Milo sama ayahnya Milo lagi ngobrol, tapi ada seorang lagi. Pakaiannya rapi mirip mirip petugas bank ! cakep sih cuman udah tua gitu !" ucap Ica. Sontak saja Raka tertawa. Ayu sudah pulang duluan, karena takut ibunya khawatir.
"Siapa Ca? apa jangan jangan hutang sama pabrik ya bu, bekas dulu ayah sempat pinjam uang untuk operasi ibu ?!" tanya Kara, Raka semakin tergelak. Jihad pun menggelengkan kepalanya, bagaimana bisa ayahnya disebut pegawai bank.
"Mungkin saja Ra, apa mau nagih hutang ya? kan tiap bulan gaji ayah dipotong buat bayar, " jawab ibunya, Caramel kembali ke ranjang, ia memilih duduk saja.
__ADS_1
"Peakkk !! itu calon mertua loe Ca !" jawab Jihad menepuk jidat Ica.
"Hah??! siapa?!" tanya Ica memekik.
"Itu om Riza, bokap Jihad, Ca !" jawab Raka.
"Hah??!!" Ica menganga. Kara dan ibunya tertawa.
"Sue loe ! tuh anaknya disini, sembarangan loe bilang petugas bank !" jawab Kara.
"Nak Ica, malu bertanya sesat di jalan..." jawab ibu terkikik.
"Dia mah ga mau ambil ribet bu, udah jamannya guugle map ! ga akan tersesat !" jawab Jihad.
"Mau pake ojol bu, biar ga tersesat !" jawab Ica.
"Btw ko udah calon mertua aja ?!" tanya Kara.
"Auu, mau dijodohin sama adeknya Jihad kali ! adeknya dia kan ganteng Ra !" ucap Ica terkekeh.
"Mau gue jodohin sama kucingnya papah di rumah Ra !" jawab Jihad, bibir Ica sudah lencang depan.
Para lelaki itu masuk ke dalam ruangan.
"Hay calon mantu ! papah bawa makanan kesukaan, tadaaa !!!" seru pak Braja, memperlihatkan jajanan pasar favorit Kara. Kara tersenyum, ayah dan ibunya mengulas senyuman tipis.
"Bagaimana kabarnya Ra?" tanya pak Braja.
"Baik om, "
"Iya pah, Kara baik baik aja !"
"Lega ! setelah tau calon mantu di culik, papah langsung menghentikan rapat !" ucapnya penuh sesal.
"Ini, bunga cantik buat gadis cantik !" terlihat saat masih muda, sepertinya om Braja ini seorang playboy.
"Pah, kalo papah gombalin terus Kara, Milo mau gombalin siapa? masa harus saingan sama papah !" ucap Milo buka suara.
"Meskipun sudah tidak muda, tapi jika harus melawan anak muda macam pemuda tengil kaya kamu, papah masih mampu ! 10 pemuda sepertimu !" jumawanya.
"Percuma Kara ga akan mempan sama godaan papah, udah nempel sama Milo !" jawab Milo.
"Udah, anak saya cuma satu kalo direbutin nanti saya sama siapa?!" timpal ayah Kara.
"Siapa yang cepat datang ke rumah membawa lamaran saja yang saya terima !" jawab ayah Kara lagi.
"Ayah ihhh ! kaya anak kambing aja dikawinin cepet cepet !" Kara tak terima, Ica kikuk, mati gaya. Orang yang ia sebut pegawai bank ada di depannya.
"Loe kenapa Ca?" tanya Kara, sontak saja semua mata menatap Ica yang sedang di pojokan ruangan seraya mengunyah keripik.
"Mamposs loe !" ledek Kara tanpa suara.
"Njirr, Ra !" balas Ica tanpa suara.
__ADS_1
"Engga, terusin aja. Gue nyimak Ra,siapa tau bentar lagi jadi bridesmaid."
"Loe takut sama pegawai bank itu kan Ca?" bisik Jihad condong ke arah Ica.
"Satt ! engga, awas loe jangan ember Ji !" Jihad terkikik.
"Pah, ada salam dari Ica !" tunjuk Jihad pada ayahnya, Ica refleks memukul Jihad.
"Ih, engga gitu om ! " angguk Ica sopan.
"Katanya papah ganteng, saking gantengnya kaya petugas bank !" Kara semakin tergelak. Jangankan Raka yang sudah menahan tawanya dari tadi om Braja saja sudah tertawa.
"Za, kamu masih laku jika ingin memiliki istri muda !" kelakarnya. Ayah Jihad tertawa renyah.
"Bisa dijewer saya pak, sama ibunya Jihad !" jawabnya.
"Engga om, Jihad bohong !" ketus Ica.
Semua sudah pulang, hanya tinggal ayah dan ibu Kara saja, tidak terkecuali Milo yang enggan meninggalkan Kara.
Ayah dan ibunya pamit ke cafe untuk makan, tinggal Milo yang sedang menjaga Kara.
"Kamu pulang gih, belum makan kan?" Milo merapikan rambut depan Kara.
"Engga, sedetik pun aku ga akan ninggalin kamu lagi !" jawabnya.
"Kalo kamu ga makan terus sakit terus siapa yang mau jagain aku ?"
"Tadi ayah ada bilang apa, kalian ngomongin apa ?" Milo hanya mengulum bibirnya sambil menggeleng.
"Itu urusan laki laki, yang jelas ayah adalah orang terbijak yang pernah kukenal, " jawab Milo. Sesuai janjinya Milo akan menjaga Kara, dan membuktikan kalau ia benar benar akan berubah untuk Kara, sebagai bentuk keseriusannya bukan untuk Kara saja, tapi untuk hidupnya ke depannya.
"Tapi ayah ga minta kamu buat akhiri hubungan kita kan?" tanya Kara.
"Engga, cieee...takut disuruh putus ya?" tanya Milo menggoda Kara.
"Engga juga, cuman...ya udahlah ga usah dibahas !" Kara tak tau harus menjawab apa, salahnya yang keceplosan.
"Ciee..blushing tuh mukanya !" tunjuk Milo membuat Kara malu dan kesal.
"Sekalipun kalo ayah nyuruh putus, aku akan tetep bandel buat kejar kamu. Sampe ayah kasih restu lagi buat pacarin anaknya !" jawab Milo.
"Gladys gimana ?" tanya Kara hati hati, air muka pemuda ini berubah.
"Gladys ga akan balik lagi di kehidupan kita, papah dan om Adi sudah menuntaskan sampai ke akarnya."
"Maksudnya?"
"Ayah Gladys melanggar perjanjian, dan terjerat pasal penipuan dan pemerasan, Gladys sendiri terjerat kasus pro*stitusi, penggunaan obat obatan di atas wajar, juga kejahatan percobaan pembunuhan terhadap kamu by, belum lagi kasusnya bersama Rayhan yang menyangkut nama Juwita, " jawab Milo.
"Club malam itu ditutup, karena kasus human trafficking, pros*titusi, juga obat obatan terlarang."
Tak disangka kasus Gladys ini menyeret banyak nama.
__ADS_1
"Terimakasih sudah datang, " ucap Kara.
"Terimakasih sudah berjuang dan menunggu, " balas Milo.