
Ibu tersenyum, bukan hanya teman teman Kara saja yang memuji, bahkan Arial dan Erwan setuju jika ibu Kara memang the best, beliau tidak kuno dan bestie.
"Ko gue sih ??" Ica tak terima jadi sasaran keusilan Jihad dan yang lain.
"Ga usah banyak ngomel dan so ga terima gitu, emang loe yang paling cocok, muka loe tuh pantes terdzolimi. Kara pasti bakal percaya !" sarkas Jihad.
"Parah loe Ji !" ucap Rial, karena ia pun ikut ke dalam drama anak yang terbuang, besutan Jihad.
"Nah tuh, itung itung nolongin ibunya Kara ngupasin bawang, iya kan bu??" tanya Ayu. Ibu mengangguk sambil tertawa, ada ada saja mereka ini.
Arial dan Ica memotong motong bawang merah sampai mata mereka berair.
"Perih kamvreett !!" ujar Arial, baru kali ini ia terjun ke dapur dan memotong motong bawang merah, padahal ia tak berencana memiliki cita cita jadi chef, ia melakukan ini hanya agar dapat mengeluarkan air mata.
"Kenapa mesti bawang sih, kenapa ga pake obat tetes mata??!" tanya Erwan. Terkadang otak cemerlang tidak selalu datang di awal.
Semuanya terdiam, hanya ada suara jangkrik seraya memandang Jihad penuh kesal.
"Oh iya ya, ahh udah biarin, biar keliatan alami, lagian biar irit modal !" ucap Jihad nyengir lebar bak kuda yang abis gosok gigi. Setelah drama anak tiri ini, Arial berjanji akan mendorong Jihad ke jurang. Karena sudah menyuruhnya mengupas dan memotong bawang. Tak ada sejarahnya cowok ganteng motong bawang.
"Asem loe !" Arial mendengus, kesal dengan kedangkalan otak Jihad.
"Demi Milo sama Kara ahhh, bawel !! buruan udah ga ada waktu lagi !" jawab Erwan.
"Kenapa ga loe aja sih ?" sewot Arial.
"Gue ga bisa drama hobah kaya apa yang dibilang si Jihad !" jawab Erwan tertawa.
"Sutt !! bisa ga sih ga usah berisik, kaya ibu ibu kalo lagi nawar daleman aja !" ujar Ayu.
Setelah siap Ica dan Arial bersiap masuk ke kamar Kara. Sedangkan Ayu dan Erwan menunggu di mobil, Jihad ?? tentu saja ia menunggu sambil makan gorengan buatan ibu Kara di dapur.
"Oke !!" Ica menghela nafas mantap, matanya sudah sangat perih karena bawang merah.
"Perih mata gue, kalo udah ini Milo ga traktir gue, gue tusuk tuh anak !" gumam Arial, demi membaiknya hubungan Milo dan Kara ia rela totalitas bersahabat dengan si bawang merah.
"Ra !!! Ra !!!!" Ica mengetuk ngetuk pintu kamar Kara dengan panik.
"Ra !!! buruan buka, ini penting !!" pekik Ica.
Kara menggeliat, kupingnya terganggu dengan suara Ica yang 8 oktaf itu,
"Itu Ica bukan sih??" gumam Kara pada dirinya sendiri, ia mengucek matanya bangun.
Dengan langkah gontai Kara membuka pintu kamarnya, ia mengerjap, matanya masih susah untuk terbuka. Padahal ia baru tidur kembali satu jam yang lalu.
"Ica?? ka Rial? ngapain loe berdua ke rumah gue??" tanya Kara bingung, ditambah nyawanya belum kumpul sepenuhnya. Tak tau saja mereka Kara semalam bergadang dengan buku horor, meskipun ia penakut tapi karena sedang berusaha mengobati suasana hatinya, maka Kara mengumpulkan keberaniannya.
"Ra, gue minta loe ikut gue sama Ica, " Arial sebenarnya ingin tertawa, ia merutuki kekonyolan ide Jihad dan tampilan polos Kara saat ini.
"Ikut kemana??" tanya Kara.
"Ra, loe yang tabah ya !" ucap Ica nangis kejer, sungguh berlebihan sebenarnya. Kara mengernyitkan dahinya, tak mengerti.
"Apaan sih Ca, mewek loe kaya abis jadi korban perampokan aja !" jawab Kara.
__ADS_1
"Ka Rial, loe nangis ka??" tanya Kara melihat Arial pun sama.
Ica secepatnya menarik tangan Kara, ia sudah tak tau harus bicara apa lagi, yang pasti ia akan meminta maaf pada Kara setelahnya.
"Ca, mau kemana sih ?? ini gue belum ke kamar mandi !! "
"Milo kecelakaan Ra !" jawab Arial, menitikkan air mata. Seketika Kara diam membatu, matanya langsung terbuka lebar dan hawa panas menyergap di retinanya.
"Apa loe bilang ka??" tanya Kara.
"Ka Milo kecelakaan, Ra. Pas mau pulang ke sini buat pamitan !" pekik Ica histeris sambil mengusap air mata yang memang keluar dari matanya. Kara percaya dengan air mata para buaya jejadian ini.
Degh...
Kara memegang kalung pemberian Milo yang masih ia kenakan. Air matanya tiba tiba lolos begitu saja.
"Mendingan loe ikut kita Ra, sebelum semuanya terlambat !!" jawab Ica.
Kara langsung berlari keluar rumah dimana mobil Arial terparkir, diikuti Arial dan Ica, Arial langsung tancap gas. Jihad masuk ke dalam mobil Erwan, bersama Ayu mengekor mobil Arial dari belakang, tak lupa ia mencomot kembali gorengan dari piring, dan salim pada ibu Kara.
"Bu maaf ya, Kara kita culik !" kekeh Jihad.
"Tak apa, hati hati ya. Good luck !" jawab ibu.
.
.
"Peakk !! loe makan terus !! keenakan !! loe makan apa ngerampok??" ucap Ayu.
Kara sudah mengusap lelehan air matanya sejak tadi yang tak mau berhenti, sampai ia lupa penampilannya sendiri. Yang jelas saat ini ia hanya ingin bertemu Milo.
"Ka Milo kenapa bisa kecelakaan ka??" tanya Kara.
"Emhh kayanya pikirannya lagi kacau, ditambah kurang istirahat !" bohong Arial.
"Sorry, Ra.." benak Arial.
Memang jika hati sedang tak karuan, seseorang akan menjadi manusia paling naif sedunia, sampai ia tak dapat membedakan situasi dan kondisi.
Mobil Arial melaju ke arah sebuah taman kota dengan danau buatan dan air mancur di tengah tengahnya.
Kara turun dari mobil, ia baru sadar kenapa bukan jalanan ataupun Rumah Sakit yang ia datangi, ia mengedarkan pandangannya.
"Ini dimana ka? ka Milo dimana?" tanya Kara menyeka air matanya di sela sela tangisannya.
"Milo disana Ra ! " tunjuk Arial. Kara berlari dengan tanpa alas kaki, Ica sampai tak bisa menahan tawanya untuk pecah.
"Duh, Ra maafin gue !!" gumamnya.
Masih tersisa sesenggukan, Kara mengedarkan pandangan dan mencari Milo sambil berlari, kaki tel*anjangnya berhenti saat melihat seseorang sedang berdiri, dengan jaket kulit yang ia kenali, dan motor yang juga ia kenali. Dengan nafas yang ngos ngosan Kara meneliti lelaki di depannya yang sedang membelakanginya.
Milo berbalik, membuat Kara terhenyak kaget, ia baru sadar jika dirinya sedang dijahili oleh teman temannya dan Milo. Kara berjongkok lemas, ia menangis sejadi jadinya menenggelamkan kepalanya di lipatan tangannya.
Milo tersenyum, ia tau gadis di depannya ini memiliki perasaan yang sama padanya.
__ADS_1
Kara terisak, ia kesal, marah, bahagia, dan malu menjadi satu. Ia tak berani menampakkan batang hidungnya pada siapapun, biarlah ia disini sampai semua orang pergi, agar tak ada yang melihatnya.
" Hay Baby !" kekeh Milo.
"Diem loe !!" suaranya parau teredam. Milo tertawa, Raka dan Kean berada di sana, namun hanya melihat keduanya, begitupun yang lain baru saja datang.
"Duh berasa dosa banget gue sama Kara," ucap Ayu.
"Tuh anak ga pake sendal?" tanya Raka.
"Engga lah !! dia langsung panik lari !!" jawab Arial.
"Keliatan kan tuh anak sayangnya !" jawab Kean.
"Abis loe Ji, sama Kara abis ini !" jawab Ica.
"Loe yang abis di getok sampe bonyok Ca, loe yang nipu pake air mata buaya loe !" jawab Jihad.
"Eh ini ide ga mutu loe ya !" tunjuk Ica.
"Mata gue masih perih, tangan gue bau bawang !" omel Arial pada Jihad.
"Emang loe berdua abis ngapain?" tanya Raka tertawa.
"Tuh salahin nyi blorong !! pake ribet segala ngupas bawang biar totalitas mewek depan Kara !" jawab Ica.
"Kalo abis ini gue ga kenyang seharian, Milo gue lelepin ke sungai !" jawab Arial.
***********
Milo ikut berjongkok di depan gadis cupu kesayangannya, tangannya terulur mengusap lembut kepala Kara.
"Aku kangen sama kamu, by !" ucap Milo.
"Tega banget sama gue !!" tangis Kara. Milo terkekeh mendengarkan aduan Kara.
"Gue bahkan belum ke toilet, gue...gue ga pake sendaalll hiks !!" Milo tertawa lagi.
"Aku sayang kamu Caramel !" ucap Milo.
"Gue masih pake piyamaaaa hiks !!"
"I Love You !" ucap Milo lagi.
"Gue masih berantakan hiksss !!"
"And i need you..." jawab Milo.
Kara mendongak dengan wajah yang banjir dengan air mata dan cemberut, membuat Milo tertawa gemas. Lihatlah rambut Kara yang masih semrawut, piyama kucingnya, dan kaki putih yang tak memakai alas kaki. Sempurna sudah tampilan orang gila baru calon penghuni RSJ.
Tangan Milo terulur mengusap pipi chubby Kara, "Aku pernah bilang kan, kalo aku suka kamu yang bangun tidur daripada pake make up by, lebih gemesin !" jawab Milo.
Mata Kara menyipit, melihat penampilan Milo yang tampak keren berbeda darinya.
"Kamu gilaaak !!" jawab Kara.
__ADS_1
"Karena kamu !!" jawabnya.