Pacar Adopsi

Pacar Adopsi
Belanja bareng partner


__ADS_3

Lelah selama 3 hari, Kara bayar kontan dengan tidur seharian. Gadis dengan julukan k3bo itu masih dengan baju rumahannya sepaket mata sayunya.


Tak peduli penampilannya yang kusut, meskipun Milo datang ke rumahnya.


"Kalo telfon ga diangkat, pesan ga dibalas, mendingan loak aja tuh ponsel !" omel Milo yang duduk bersampingan di sofa ruang tamu rumah Kara.


"Iya, nanti aku loak..biar kamu ga bisa telfon sekalian," jawabnya, tercatat 50 panggilan tak terjawab dan 150 pesan dari Milo sejak kemarin.


"Bagus ! tinggal ku gantung kamu di kamarku jadi gantungan kunci lemari !" jawab Milo.


Bukannya mengiyakan atau menyesal Kara hanya mengangguk saja, biarlah cepat berlalu kaya syair lagu.


"Kamu mandi dulu deh, jangan sampai aku greget terus ku bungkus kamu !" ucap Milo.


"Iya, ini juga mau mandi, tapi kamu ngomel ngomel mulu kaya bandar arisan kalo dah jatuh tempo !" jawab Kara. Milo mengangkat kedua alisnya, tampilan sudah perfect mengalahkan Zayn Malik disamakan dengan bandar arisan.


"Ya udah sana mandi, aku mau ajak kamu ke rumah. Mumpung ada papah ! katanya papah mau ketemu calon mantu, " kekeh Milo.


Kara menyambar handuknya lalu masuk ke dalam kamar mandi.


"Bu, Kara mau jalan sama Milo..mau main ke rumahnya," ijin Kara.


"Hati hati, yang sopan disana ! kita memang tidak memiliki apa apa, selain tata krama dan nama baik," pesan ibunya.


"Iya bu, Kara berangkat. Ayah mana?"


"Ayah sedang kerja bakti, sana pergi calon besan ibu sudah nunggu !" kekeh ibunya.


"Ibu ih, Milo kedua !" omel Kara.


Kara dan Milo pergi dengan motor kesayangan Milo.


"Berangkat mas sayang !!!" seru Kara.


Milo menarik lebih erat lagi tangan Kara di perutnya.


"Ga usah erat erat juga, kamu bukan balon yang bakalan terbang kan ?!" tanya Kara.


"Terbang, terbangnya ke hatimu !" jawab Milo.


"Cih, gombal..." cubit Kara, membuat Milo mengaduh dan motornya sedikit oleng.


"Eeehhh...." panik Kara.


"Sakit ya, maaf !" lirih gadis itu.


"Engga ko, lebih sakit lagi kalo liat kamu ketawa tapi bukan sama aku !" jawab Milo.


Skak !!!


"Kamu belum ngerasain dicubit kepiting ya ?!" omel Kara.


"Belum, mau dicubitin apapun asal sambil mandang kamu aja, buat jadi obat lukanya !" kekeh Milo lagi.


"Aku turun aja disini deh, kalo kamu mau gombal terus. Ini Jakarta udah panas loh ! ga usah bikin tambah gerah !" jawab Kara yang sudah memanas di sekitaran wajahnya.


"Cie, anaknya bapak Darmawan blushing ! anget anget e3 ayam yah mukanya ?!" tanya Milo yang tak henti hentinya menggoda Kara.


"Kamu udah pernah megang e3 ayam sayang ? jorok !" jawab Kara.


Milo tertawa, mana mau pemuda ini melakukan hal itu. " Kata orang orang sih by, ga tau bener apa engganya !"


Motor Milo memasuki kompleks perumahan elite, seorang satpam membukakan pagar nan mewah itu,


"Makasih pak, " Kara tak pernah menganggap dirinya diatas siapapun, sampai melupakan hormat pada orang yang lebih tua, atau sekedar mengucapkan kata maaf, terimakasih, dan tolong. Gadis ini tak sesombong itu.

__ADS_1


"Assalamualaikum, " salam Kara pada ayah Milo yang sedang membaca koran minggu paginya.


"Waalaikumsalam mantu !" senyum pria paruh baya itu mengembang.


"Camping kemarin katanya kamu diusin Milo?" tanya ayah Milo.


"Hahaha, iya pah. Tapi sepadan ko, Kara juga berhasil bales Milo !" jawab Kara jumawa.


"Hahahah, tos ! bocah tengil itu emang mesti dibales !" jawab ayah Milo menunjuk putra semata wayangnya dengan dagunya.


"Bi, bikinin minum buat calon mantu !" ucapnya pada bi Asih.


"Bi, ga usah repot repot ! biar Kara buat sendiri aja !" jawabnya tak ingin menyusahkan.


"Eh jangan non, " tolak bibi.


"Biarin aja bi, dia kalo di tolak nanti rumah papah malah diobrak abrik !" jawab Milo, Kara menyipitkan matanya.


"Oh ya sudah ,"


"Bi, bibi mau kemana?" tanya Kara.


"Bibi mau belanja bulanan non, "


"Abis belanja mau ngapain ?" tanya Kara.


"Beres beres rumah, sama masak," jawab bi Asih.


"Kalo gitu bibi beres beres aja, biar belanja bulanannya Milo sama Kara aja yang pergi !" tawar Kara, menoleh pada Milo yang sedang mencomot kue buatan bi Asih.


"Mau kan sayang ?" tanya Kara.


"Oh boleh, "


"Jangan den, non. Biar bibi saja !"


"Yakin mau belanja?" tanya ayah Milo.


"Iya pah, itung itung belajar rumah tangga, ya ga by ?!" tanya Milo.


"Cih bocah !"


"Kara bosen di rumah terus tanpa kegiatan bi, biasanya hari minggu nemenin ibu belanja ke pasar, tapi tadi telat bangun. Jadinya ditinggal !" jelas Kara.


"Wah sering bantu ibu belanja?" tanya ayah Milo ikut bergabung dengan putranya mencomot kue. 2 orang beda generasi tapi satu raut wajah, Braja senior dan junior, terlihat kompak setelah sekian lama tak seperti ini.


"Bibi tinggal tulis aja daftar belanjaannya, nanti kita yang beli !" Kara menaik turunkan alisnya.


Bibi terlihat menimang nimang, ia mengangguk. "Baik den kalo gitu, bibi tulis dulu ya non, " jawabnya.


Milo mengambil mobil di carport, untuk membawa barang belanjaan ia membutuhkan mobil.


"Uang?" Milo menadahkan tangannya di depan pria paruh baya ini.


"Belajarlah mengeluarkan uang untuk kebutuhan rumah tangga dari sakumu sendiri !" ayahnya memijit sejumlah nominal dari M-banking yang sudah langsung terkirim ke dalam rekening Milo.


"Uang Milo lagi dikumpulin pah, " jawabnya terkekeh.


"Buat apa?" tanya papahnya mengernyitkan dahi yang sudah berkerut karena penuaan.


"Buat modal nikah, buat beliin seserahan sama mas kawin !" jawabnya.


"Tanya dulu calonnya, mau apa enggak !" ayahnya menepuk bahu Milo yang masih duduk menyamping di depannya.


"Pasti mau pah, kalo ga mau Milo culik aja ! suruh nada tanganin buku nikah di tengah tengah kolam buaya !" jawab Milo.

__ADS_1


"Husss! ceweknya denger !" bisik ayahnya, masih terdengar Kara yang tertawa melihat tingkah konyol pacarnya dan ayah pacarnya.


"Kara pura pura ga denger deh !" ucap Kara yang berdiri di belakang mereka.


"Aman pah, dia pura pura ga denger !" jawab Milo.


"Wes...wes...bapak sama anak sama sama gemblung !" gumam bi Asih.


"Thank you papah, " ucap Milo mengambil punggung tangan papahnya dan mengecupnya. Ia berdiri dan menghampiri Kara.


"Ayo neng, ikut abang beli sembilan bahan pokok !" ajak Milo.


"Kirain mau ngajak dangdutan !" jawab Kara berjalan bersama keluar rumah.


"Bocah gemblung !" gumam papahnya sambil menyunggingkan senyumnya.


*************


Milo memarkirkan mobilnya diantara deretan mobil yang sudah berjejer rapi di basemment. Kedua remaja ini masuk ke dalam mall, bukan bioskop atau stasiun permainan yang mereka tuju. Tapi supermarket. Hampir beberapa pasang mata melihat pasangan muda ini masuk supermarket, jarang jarang pasangan muda mau berbelanja. Apa keduanya nikah muda? pikir mereka.


"Belanja apa aja?" Milo melongokkan kepalanya ke arah daftar belanja yang dipegang Kara.


"Ambil troli dulu yank, yang gede sekalian. Soalnya banyak !" pinta Kara.


"Oke, " jawab Milo.


Milo mendorong troli bersama Kara.


"Kaya gini rasanya ya, kalo belanja bareng partner !" kekeh Milo dengan Kara yang tengah serius memilih milih bahan makanan yang ditulis tangan oleh bi Asih, Kara masih bingung dengan varian yang biasa dipakai oleh bi Asih. Beberapa bahan masakan masih terdengar aneh di telinga dan otaknya.


"Partner apa ?" tanya nya masih fokus mengambil botolan botolan besar kecap.


"Partner hidup, " jawabnya.


"Sayang, biasa kalo di rumah pake yang mana ?" Kara menunjukkan kedua botol yang berbeda varian.


"Ga tau, ambil aja dua duanya !" jawab Milo enteng, pantas saja ibu selalu mengeluh jika belanja ditemani ayahnya, ternyata memang benar alasan ibu, laki laki tidak mau ambil pusing.


Sudah 20 menit mereka berjalan mengitari hampir satu supermarket.


"Sayang, kayanya kalo bagian persabunan di lantai atas deh !" ucap Kara.


"Ya udah yuukk !" Milo mendorong troli yang hampir penuh setengahnya.


Kara menepuk nepuk betisnya.


"Capek ?" tanya Milo.


"Pegel dikit !" Milo menyeringai, ia kemudian mengesampingkan barang barang, membuat ruang di dalam troli besar itu. Tak lama ia mengangkat badan Kara masuk ke dalam troli.


"Eehhhh ehhh ! mau ngapain ?!" tanya Kara terkejut.


"Kamu ga pengen nyoba apa, naik ke troli ?!" tanya Milo. Meskipun nantinya dikatai masa kecil kurang bahagia atau orang gillaaa oleh para pengunjung supermarket, tapi tak ada salahnya dicoba, toh mumpung masih muda, dan Kara juga penasaran.


"Siap ya !" Milo menahan beban tubuh Kara dan belanjaan di dalam troli, troli di dorong sedikit lalu setelah di depan turunan, troli meluncur.


"Aaaaa !!! sayanggg !" Kara dan Milo tertawa cekikikan, sontak para pengunjung melihat kedua remaja ini terheran bahkan ada yang tertawa, sudah besar tapi kelakuan seperti anak balita. Apa dunia remaja tidak cukup asyik untuk mereka eksplore?


"Sayang, ke bagian daging !" tunjuk Kara yang masih di dalam troli, sedangkan kakinya mengayun keluar troli.


"Siap bos !!!" Milo mendorong troli menuju tempat daging.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2