Pacar Adopsi

Pacar Adopsi
Maling teriak maling


__ADS_3

Alhasil ibu dan ayah memanggil Milo ke rumah, menyusahkan...!


Milo masih dengan stelan kemejanya segera datang ke rumah, 2 polisi dengan gelar orangtua pacar menginterogasi Armillo, selama beberapa jam.


"Saya tidak menyangka, pak Armillo seb3jad itu, " ucap ayah. Wajah Milo sudah pucat, padahal hanya menghadapi ayah yang bertangan kosong, biasanya juga menghadapi orang dengan senjata tajam dia tak segugup ini, malah anteng anteng saja. Ibu pun sama, dengan raut wajah menahan kesal.


"Kalau seandainya nak Armillo memang melakukan itu, tanggung jawab lah dulu nak. Mungkin memang Caramel bukan jodohnya nak Armillo."


Milo semakin frustasi, saat ibu Kara menyuruhnya memutuskan hubungannya dengan Kara.


"Bu, pak...saya tidak melakukan itu. Saya memang salah, sudah melakukan tindakan bullying dulu, tapi saya tidak sekotor itu. Jika memang saya begitu, tidak perlu bapak dan ibu suruh, mungkin saya sudah memutuskan Caramel saat ini juga," jawab Milo.


"Jadilah pria sejati nak, bereskan dulu urusanmu dengan nak Gladys. Baru nak Milo memulai yang baru dengan anak saya, " ucap ayah.


"Bu, pak..saya mohon, saya akan kasih bukti, kalau saya tidak melakukannya. Tapi jangan pinta saya memutuskan hubungan saya dengan Caramel," pinta Milo. Baru kali ini Caramel melihatnya memohon. Kara tersenyum getir padanya, tapi tak lama ia tertawa tergelak.


"Ayah, ibu..udah lah, ibu sama ayah tuh ga bakat main sinetron !" ucap Kara. Sontak saja Milo mengerutkan dahinya. Ibu dan ayah tertawa kecil.


"Maaf ya nak Milo, ayah hanya ingin tau sejauh mana nak Milo menginginkan anak ayah, " cetus ayah.


"Astaga !" Milo meluruh di kursi lemas.


"Maafin ibu ya nak, aduh sampe pucat gini, Kara..buatkan nak Milo minum nak," pinta ibu.


Kara tertawa sampai dapur, lucu sekali wajahmu sayang, benaknya. Untungnya ibu dan ayah bukan tipe manusia dengan egois tingkat dewa. Mereka tidak akan mencerna berita mentah mentah, tanpa ada bukti dan kejelasan.


"Milo kira itu beneran, " ucapnya. Kara datang membawakan teh manis hangat.


"Ayah sama ibu casting sana, kali aja dapet peran antagonis !" ucap gadis itu.


"Harusnya tadi aku video in ya yank, biar yang lain liat juga !" seru Kara antusias. Milo meraih dan mengeteki Kara.


"Awas kamu by, "


"Jadi tadi Gladys kesini?" tanya Milo yang bibirnya sudah kembali memerah.


"Iya, aku heran aja dia tau rumahku darimana?" tanya Kara


"Dia ngikutin kamu sama Arial?" tanya Milo.


"Mungkin, aku ga tau."


"Kali ini ayah serius nak Milo, sebaiknya kalian jaga jarak saja sampai masalah ini selesai. Ayah tidak meminta kalian memutuskan hubungan, tapi ada baiknya sampai masalah ini selesai, Kara tidak ayah ijinkan untuk dekat dekat dengan nak Milo dulu, ayah hanya ingin menjaga nama baik. Apa kata orang nanti, jika Caramel masih dengan nak Milo kalau orang orang tau kabar itu. Anggap saja saat ini nak Milo kembali mendapatkan fitnah, selesaikan saja dulu masalah ini, yah...mungkin kalo bahasa gaulnya kalian seperti ldr, walaupun orangnya ada di depan mata." jelas ayah.


Milo menatap Kara yang juga menatapnya,


"Iya, ibu juga setuju nak, apa nanti kata orang, apalagi jika sampai kabar yang diberitakan ini sampai di kampung ini. Bukan tidak mungkin nanti mulut tetangga menganggap Caramel sama saja dengan Gladys, atau yang paling parah Caramel adalah perebut lelaki orang, atau semacamnya. Image buruk akan sampai di nama kalian berdua," tambah ibu.


"Bukan kami melarang untuk bertemu, tapi untuk saat ini sampai masalahnya selesai, rehatkan saja dulu hubungan kalian di luaran seperti yang dikatakan ayah, anggaplah lagi ldr an, biar hubungannya tidak flat, biar bisa ngerasain kalo rindu itu berat," ucap ibu, ibu Kara bukanlah orangtua kuno.


Milo kembali menunduk, gadis seperti Gladys memang benar benar toxic di hidupnya.


"Milo menghargai keputusan ayah sama ibu, dengan masih percaya sama Milo saja, Milo sudah berterimakasih," jawab Milo.


LDR ? saat orangnya di depan mata, Kara tersenyum getir saat ini, ia memegang tangan Milo.


"Ayah sama ibu masuk dulu nak, " ijin ayah dan ibu.


"Kalo aku kangen pengen peluk gimana?" Milo sudah menarik dan memeluk Kara dengan eratnya, seakan Kara akan pergi jauh dari sisinya.


"Kita kan ketemu tiap hari, aku yakin kamu pasti bisa. Bukan kamu, kita.." jawab Kara.


"Lepasin, malu diliat orang ! aku bukan guling !" ucap Kara.


"Ga mau, aku masih kangen !" jawab Milo.


"Yank.." cicit Kara.


"Bukannya kamu ada keperluan lain?" tanya Kara.


"Aku batalin, " jawabnya.


"Ko gitu, "


"Aku lagi galau, aku ga mau jauh jauh sama pacarku...soalnya mau ldr !" jawabnya lagi.


"Lebaynya anak orang, "


**************************


Milo pamit, ia berjalan dipenuhi rasa kesal. Bahkan ia membanting pintu mobil.


"Si@*lan ! kenapa dia harus balik lagi !" Milo segera melesat menuju rumah Raka.


*********


"Hah??!!" Raka duduk di tepian kolam renangnya,


"Gilakk ! nekat juga, sampe ngikutin Arial sama Kara pulang ? terus ngomong sama ibu Kara?" Raka menggelengkan kepalanya.


"Iya, gue disuruh ldr'an dulu sama orangtua Kara sampai masalah ini selesai !" jawab Milo meminum minuman kaleng.


"Apa malam ini kita bisa, Ka?" tanya Milo.


"Gue udah atur jadwal, kata si mamihnya sih, jadwal doi weekend !" jawab Raka.

__ADS_1


"Br3ngks3k !!! percuma papah biayain duit sekolah dia, kalo ujungnya dia jadi p3l4cur, " Milo menaruh kaleng sedikit dibanting.


"Orang lain yang nikmatin, gue yang dituduh !"


"Apa cowok itu udah ketemu?" tanya Milo lagi.


"Dia dil3c3hin di daerah jl. Melati kan ?" tanya Raka, Milo mengangguk.


"Erwan sama Kean lagi otewe !"


"Gue kira udah beneran clear, ayahnya bilang cuma minta jaminan uang sekolah anaknya. Ga perlu sampai diperkarakan, toh si Gladys ga hamil !"


"Yang gue ga habis pikir, Mil..dia sampai kepikiran buat jadi lont3 !" ucap Raka.


"Biar bisa kaya sekarang kali !" jawab Milo acuh.


"Jadi status Kara sekarang sendiri di luaran nih?? bisa gue gaet !" goda Raka.


"Sat !!!! loe gaet, loe hadepin gue ! Kara tetep pacar gue !" jawab Milo sewot, Raka tertawa.


"Cuma tetep aja, gue pasti bakalan pinta Arial atau Iwan buat jagain Kara, gue yakin setelah ini Gladys masih tetep bakalan celakain Kara."


"Jihad?" gumam Milo.


Ia menerima panggilan dari Jihad, bahwa ia sudah bertemu dengan ayah Gladys. Bukan hanya Milo, tapi om Braja juga merasa tertipu, merasa diperas.


Iwan sudah di depan,


"Ra, itu siapa ?" tunjuk ibu ke arah depan rumahnya.


"Itu Iwan bu, temennya ka Milo. Ka Milo ga biarin Kara jalan sendirian, katanya khawatir sama Kara !" jawab Kara.


"Ya Allah sampai segitunya sama anak ibu, "


Ayah yang mendengar tersenyum, di setiap sujudnya ia hanya berdo'a semoga putrinya senantiasa dikelilingi orang yang menyayanginya, melindunginya. Dan kini do'a itu dikabulkan dengan dikirimkannya Milo.


"Ayah sedang melihat, seberapa berharganya putri ayah untuk nak Milo," jawab ayah keluar masih dengan sarung dan songkoknya.


"Terus?" tanya Kara.


"Kalo dilihat sampe nyuruh orang jagain, berarti anak ayah sangat berharga !" jawab ayah.


"Makanya, ga mungkin kan ka Milo seperti apa yang dituduhkan Gladys, " ayah dan ibu mengangguk setuju.


"Ayah ga kerja?"


"Kerja siang !" jawabnya.


"Ya sudah cepet berangkat, ibu mau pacaran dulu sama ibu ! sebelum ibu pergi ngajar, " pinta ayah.


"Ka Iwan, yuu !!"


"Bu, pak..kita berdua pamit dulu !" ucap Iwan.


"Eh, tunggu ! ini bawa Ra !" pinta ibu membawa paper bag dan menyerahkannya pada Kara.


"Apa ini?" Kara melongokkan kepalanya, ada 3 kotak di dalamnya.


"Ini bekal, satu untuk Kara, satu untuk nak Milo, dan satu lagi untuk nak Iwan !" jawab ibu.


"Eh, bu tidak usah repot repot !" jawab Iwan tersenyum kikuk.


"Sudah makan saja, jangan jajan di luar !"


"Makasih, bu ! keduanya pamit dan salim.


Motor melaju, menuju sekolah. Motor Milo sudah berada di sekolah bersama yang lain. Serasa kembali seperti dulu, saat pertama Kara masuk sekolah, melihat Milo sebagai orang lain. Bergerombol di tempat favoritnya dulu.


"Makasih ka Iwan, oh iya ini !! aku bawa satu ! ka Iwan satu, tolong kasiin ka Milo satu ya !" pinta Kara tersenyum, Iwan mengangguk, Kara dan keluarganya memang hangat, patutlah Milo melindungi dan menjaga mereka.


"Makasih Ra, bilangin juga makasih banyak buat ibu. Pantesan aja Milo betah, ibu kamu baik !" aku Iwan.


"Anaknya juga baik ka !" keduanya tertawa di parkiran. Sorot mata Milo seperti ingin membunuh pada Iwan.


Arial dan Erwan tergelak, "yakin dia bisa jauh gitu? awas saja Iwan jadi samsak, liat ketawa tiwi bareng Kara !" goda Kean.


"Si Iwan udah bosen idup, minta dimasukkin neraka duluan !" timpal Erwan.


"Caramel !!!" teriaknya. Semua mata tertuju pada sosok gadis dengan wajah polos, sepolos bubur ayam yang belum diayamin.


Kara memutar bola mata jengah, Iwan sudah berdiri di samping Kara, siap menjauhkan Gladys dari Kara.


"Ada perlu apa sama Kara?!" tanya Iwan dingin.


"Siapa loe? bukannya Kara pacarnya Milo? apa ortu loe udah nyuruh loe putus sama Milo? bagus deh kalo gitu !" cerocos Gladys.


"Lagian Milo bakalan lupa ko sama loe ! loe cuma pelampiasan doang, yang cuma di cicip doang terus ditinggal !"


Iwan sudah hampir menampar Gladys, bahkan Milo sudah menghampiri mereka.


"Sorry gue bukan kue taster, yang bisa di cicip semua orang !


"Oyyy !! ada apa ini rame rame ??! " pekik Ica.


"Dimana taster Ra?!" tanya Ica.

__ADS_1


"Tuh depan loe !" tunjuk Kara.


"Apa loe bilang ?!" Gladys tak terima.


"Gladys !!!" bentak Milo.


"Dia nyebut gue taster Mil, " rengeknya meminta pembelaan dari Milo.


"Apa namanya kalo bukan taster, loe sendiri kan yang bilang ka Milo dah nyicip loe ! upsss, salah ya? apa besok besok, loe bisa dicicip yang lain juga?" tanya Kara.


"Loe !!!" Gladys hendak meraih Kara, namun Milo menarik tangannya.


"Loe yang udah bikin hubungan gue sama Caramel ancur ! dan siap siap loe yang bakal gue bikin ancur !" Milo sudah mengangkat tangannya saking geram, melihat wajahnya yang malah seperti terdzolimi.


"Cih, hello kitty !" decih Ica seraya menggandeng Kara untuk masuk kelas.


"Sugar daddy kita dah nunggu, Ra !"


"Hah??! so suci, ternyata punya sugar daddy, apa Milo mutusin loe karena loe cewek lont3 ?!" Kara menghentikan langkahnya, Milo pun tak terima gadis nya disebut p3l4cur.


"Mil, sabar ! jangan terlihat loe main kasar sama dia, loe lagi jadi sorotan sekolah." jelas Raka. Yap ! kabar itu seperti virus, mudah menyebar ditambahi bumbu bumbu penyedap.


"Sat !!!" buka Kara yang maju tapi Ica.


"Ca !!!" semuanya menahan, tapi tangan Ica sudah menjambak rambut Gladys.


"Hajar aja Ca !" pekik Arial mengompori.


"Loe ya lont3 !! penampilan loe aja udah kaya mamih mamih g3rm0 ! mana mau ka Milo sama modelan cewek kaya biji asem kaya loe !" ucap Ica. Seperti biasa Gladys hanya menerima, agar terlihat dialah yang sudah di bully.


"Ica !! " pekik Jihad, melepaskan tangan Ica, Jihad dan Kara memegang Ica. Sedangkan Kean dan Erwan memegang Gladys.


"Loe ga malu dys? sebagai siswi yang baru masuk ke sekolah, loe dah bikin gara gara ?!" ucap Milo.


"Loe tuh maling teriak maling, jangan pikir gue ga tau !" ujar Milo.


"Ka Milo !!" gumam Gladys. Milo melihat Kara, gadis itu mengangguk, pertanda ia baik baik saja.


"Gue acak acak tuh muka !!!" Ica hendak kembali meraih Gladys.


"Ica, ca !! ada waktunya kita balas Ca, " Kara menahan tangan Ica, yang seperti kait hook, siap mencabik cabik wajah Gladys.


"Hubungan loe sama ka Milo ancur gara gara dia kan, Ra ??!!" tanya Ica memekik.


"Ca, gue ga apa apa !" jawab Kara, ingin rasanya ia menoyor dan mencelupkan otak Ica di larutan beryodium, biar pinteran dikit.


Semalam Kara menceritakan semuanya pada teman temannya, tapi rupanya bagian yang diingat gadis yang hobby nyemil ini, hanya di bagian Kara dan Milo break saja, orangtua Kara menyuruh keduanya untuk berpisah.


"Ji, ingetin gue buat rendem otak Ica di larutan Iodium !" ucap Kara, lalu meninggalkan mereka semua untuk masuk ke kelas.


"Dudul !! ayo masuk !" ajak Ayu dan Jihad menarik dan mengacak rambut Ica. Tak ada yang menganggap Gladys, mereka pergi meninggalkan Gladys sendiri di lapangan.


"Shitttt !!!! kenapa sih, Caramel banyak temen !" tidak sepertinya dulu, tak memiliki teman.


"Nih, Mil !" Iwan menyerahkan kotak makanan di kelas.


"Apa?"


"Dari ex camer ! katanya takut loe sakit jajan di luar !" Iwan menaik turunkan alisnya. Milo tersenyum, bu Hani memang yang terbaik.


"Itu apa?" tanya Milo menunjuk paper bag bagian Iwan.


"Ini punya gue lah ! ibunya Kara rilis calon menantu baru pagi ini, " Iwan tertawa dan balik ke kelasnya.


"B4nks@t !! berani macem macem, loe gue abisin Wan !" pekik Milo.


Kean dan ketiga lainnya sudah tertawa, melihat Milo galau tak bisa berbuat apa apa adalah hiburan tersendiri.


"Kalo gitu, besok gue aja yang anterin Kara ! ibu Kara kayanya bakalan jadi ibu camer idaman !" jawab Arial.


"Bughh !!!" sebuah pukulan telak di bahu Arial yang malah tergelak.


*******


"Eh dudul ! gue sama ka Milo ga beneran putus lah ! cuma disuruh jangan deket deket dulu aja, kaya ldr !" ucap Kara.


"Gue lupa lah ! keburu emosi sih !!" jawab Ica.


"Lagian kalo emang Kara bukan lont3 ngapain harus marah, " jawab Ayu.


"Oh iya yu, loe beneran kenal Gladys?" tanya Jihad.


"Iya, gue udah bilang ko sama ka Kean, sama ka Milo juga ! dulu di night club sebelumnya gue pernah liat Gladys di booking om om ditemenin sama mamihnya ! gue ga bod*o kali, gue juga sedikitnya ngerti. Walaupun cuma pelayan !" jawab Ayu.


"Wah, saravvvvv ! lont3 teriak lont3 !" seru Ica.


"Loe pikir tuh mobil darimana?!" tanya Jihad.


"Jadi dia pake cara gitu buat dapetin duit? gue pikir beneran horang kaya ! taunya kaya..kaya lu*tunk !" ujar Ica masih emosi.


Bukannya menyimak Kara malah cengengesan, baru saja ia mendapatkan pesan dari Milo jika tak terima ibunya membuatkan sarapan untuk Iwan, ia juga tak mau sampai ibu Kara lirik pemuda lain untuk jadi menantunya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2