Pacar Adopsi

Pacar Adopsi
Uang pesangon


__ADS_3

"Dorong kalo loe berani !" jawab Kara menantang,


"Gue mati, loe mati !" ucapnya lagi tak gentar, malah melangkah memperpendek jaraknya dari tepi. Bukan nyawanya yang ada sembilan, tapi Kara tau Nina hanya menggertaknya.


"Jadi loe bertiga bawa Kara sama Ayu kesini," ucap Milo mengejutkan ketiganya.


"Milo !" gumam Moni.


"Loe jangan mendekat !" lirih Nina, saat Milo maju mendekat, Ivan menelfon kawan kawannya yang berada tak jauh di bawah.


Beberapa orang datang dengan membawa balok kayu, dan senjata tajam lainnya. Ayu semakin sesenggukan saking takutnya, ia tak pernah menghadapi situasi semacam ini, apalagi menjadi korban atau sandera begini, sudah seperti adegan adegan film yang sering ia tonton.


"Lebih baik loe lepasin Kara sama Ayu, Nin ! atau loe sendiri yang bakalan nyesel !" jawab Raka.


"Ini sudah masuk tindakan kriminal Nin, " ucap Kean.


"Gue ga minta muluk muluk ko, gue cuma minta dia tinggalin loe Mil, apa loe ga liat gue?? selama ini gue suka sama loe ! apa yang kurang dari gue Mil? " ucap Nina memelas, membuat keenam laki laki ini sebal melihatnya.


"Bukan cuma Nina dan gue yang menginginkan Caramel tersingkir, tapi ada seseorang yang lebih menginginkan Caramel lenyap. Bukan Caramel, loe tepatnya !" jawab Ivan.


Kara menatap jengah, "ini bisa dipercepat ga sih? gue capek ! loe tau kan, gue abis futsal !!!" bisa bisanya Kara malah meminta istirahat di saat saat begini.


"Dari tadi loe cuma bikin emosi, Ra !!" Nina menarik Kara kasar.


"Jangan kasar sama Kara !!!" bentak Milo.


Rupanya polisi sudah berjaga di belakang pintu. Jangan sampai salah langkah, karena Ayu berada di ujung sana. Milo dan yang lainnya, memutuskan melaporkannya pada polisi, karena mereka tau selain ada Ivan, ada tante Marsya di dalamnya. Jadi mereka tak bisa gegabah.


"Takkk !" Nina kembali membuat Kara berlutut di depan Milo. Tangan Milo dan Jihad sudah terkepal kuat, ingin mendaratkan bogeman mentah itu di wajah Nina.


"Say it Caramel !!" ucap Nina.


"Loe cewek terbo*doh yang gue kenal !" ucap Kara, membuat Kara dihadiahi toyoran keras di kepalanya. Kara sampai harus menghela nafasnya menahan amarah agar tetap sabar.


"Bukan itu be*go !!!" sarkas Nina.


"Nin, lepasin dulu Ayu. Dia ga tau apa apa !" ujar Milo, tapi tak di dengar Nina dan Ivan.


"Apa??!! terus loe dengan mudahnya nangkap kita?!" kekeh Ivan.


"Nangkap kalian gimana? Kara aja masih disitu, belum lagi temen temen loe udah siap di belakang kita kan?" tanya Keanu.


Milo dan Raka mengedip pada Kara, memberinya kode agar menuruti saja dan mengulur waktu, agar bisa menyelamatkan Ayu.


"Gue harus bilang apa ??!!" tanya Kara.


"Damnn !!!" umpat Nina.


"Gue rasa loe emang pengen liat temen loe jatoh !! Moni !!" panggil Nina.


"Oke oke !!!" Kara memandang Milo nyalang.


"Harus pake nangis ga nih??!" tanya Kara.


"Astaga Caramel !!!" gemas Ivan.


"Tapi lepasin dulu Ayu, gue janji bukan cuma bilang apa yang kalian mau, tapi gue juga bakalan ngilang dari kehidupan kalian !" ucap Kara memandang Milo.


"Mon !!" panggil Nina.


Ayu dibawa Moni, dan di dorong ke arah Jihad dan Keanu.


"Ra,"


"Loe baik baik ya Yu sama Ica !" pesan Kara.


"Armillo Dana Aditama, gue mau..gue...mau minta putus ! karena gue lebih sayang sama Ivander, siapa nama loe ?! gue ga tau lah !" jawab Kara mengaduh, ia tak jago berakting. Jihad dan Arial hampir saja meledakkan tawanya.


"Loe tandatanganin ini, surat pengunduran diri dari sekolah !" Nina dan Ivan menyerahkan sebuah kertas pengunduran diri.


"Hm, mau tanda tangan gimana tangan gue aja loe iket, peakkk !!" sewot Kara. Ivan membuka ikatan talinya.

__ADS_1


"Iya gue buka sweety," jawab Ivan membuat Kara dan Milo jengah, rahang Milo mengeras, kalau bukan karena sedang membujuk keduanya agar masuk dalam perangkap, mungkin kini ia sudah benar benar mendorong Ivan ke bawah hingga kepalanya pecah.


"Ga usah pegang pegang, " Kara menatap tajam, sedangkan Ivan hanya tersenyum puas.


"Bilang sama tante Marsya, gue udah bilang kan waktu itu ! kalo mau gue lepasin Milo, kirim uang satu lautan pasifik ! ga ada diskon ga ada nyicil, jadinya kan ga usah repot repot nyuruh loe bertiga nyulik Ayu sama gue kaya gini, pesen gue buat tante Marsya, jangan lagi nyakitin Milo sama om Braja !" ucap Kara meraih pulpen.


"Tante Marsya, denger kan?" tanya Kara memekik, sebenarnya Nina kini tengah tersambung dengan wanita ular itu. Dan Kara tau itu. Raka dan Kean pun kini mengulum bibirnya.


"Best, besok besok gue bakalan berguru sama tante, kalo mau jahatin orang !" ucap Kara lagi, tante Marsya sudah mengumpat di ujung telfon sana.


Belum Kara menorehkan tinta pulpennya di surat itu,


"Ini gue tanda tangan dimana nih, sorry mata gue burem kalo suruh nanda tangan tapi ga ada duitnya !" ucap Kara. Ivan menunjukkan letak dimana Kara harus menanda tangan, Milo mengangguk tanda semuanya sudah aman. Mata Kara melirik ke kiri dan kanan, arah Ivan dan Nina. Kara menusuk tangan Ivan dengan pulpen dan segera berlari ke arah Milo. Arial, Raka, Erwan dan Jihad segera menyerang dan memegangi ketiga orang pelaku ini. Sedangkan teman teman Ivan, sudah dibekuk polisi.


"By, kamu ga apa apa kan?" tanya Milo saat Kara menghambur ke pelukannya. Kara menggeleng, tapi Milo meneliti semua inci permukaan kulit Kara.


"Ini pipi kamu merah, kenapa?" tanya nya.


"Ditampar Nina, ka Milo !" jawab Ayu. Sebelum benar benar dibawa polisi. Milo yang marah mendaratkan beberapa pukulannya di wajah Ivan.


"Br3ngks3k !!! membu$uk loe di bui !!" ucap Milo.


"Kamu kenapa bisa tau aku disini?" tanya Kara.


"Cinta tau kemana harus mencari !" jawabnya membuat Kara mengacak rambut Milo.


Semuanya sudah selesai, Nina hanya bisa menangis memohon jangan sampe masuk bui, belum lagi ia yang akan memasuki kelas XII, apa jadinya jika nanti ia harus putus sekolah dan malah mendekam.


"Harusnya kalian pikirin itu sebelum melakukan !" ucap Raka.


"Apa mereka akan dipenjara?" tanya Kara.


"Iya, sudah dipastikan. Sekaligus dengan dalangnya !" jawab Kean.


"Tapi mereka?!" tunjuk Kara.


"Tindakan mereka sudah termasuk kejahatan Ra, umur mereka pun sudah memasuki usia 18 tahun. Cukup dewasa untuk mempertanggung jawabkan," jelas Raka.


"Si@*lan loe Mil !!!" pekik Ivan.


"Milo, Kara please...Raka !!!" ucapn Nina memohon.


"Makasih pak," ucap Raka dan Milo.


"Cowok loe ini Ra, tadinya mau datang tanpa strategi saking paniknya !" ledek Erwan, melihat Milo yang masih meneliti setiap kulit Kara.


"Gue bisa aja datengin helikopter sekalian atau Densus 88, namanya juga orang panik ! ga bisa mikir jernih !" jawab Milo beralibi.


"Tapi loe ga pinter akting Ra, " ucap Jihad.


"Ngakak gue !" jawab Arial.


"Gue ga bisa akting kalo lagi laper, cape gue Ji. Sebenernya gue takut, kalo sampe jatoh ke bawah, kira kira gue langsung innalillahi ga ya??! cuma gengsi aja ! masa iya, ikutan mewek kaya Ayu !" ucap nya.


" Ancur Ra !" jawab Jihad, mereka semua turun dari atap, mengekor para polisi yang membawa para penjahat kecil.


"Kamu gampang banget minta putus baby, mana minta pesangonnya ga kira kira !" ujar Milo.


"Kan katanya ikutin dulu aja kemana mau mereka, ya udah itu mau mereka kan, masa iya aku ga dapet apapun, udah drama ditampar sama di jatohin, ni lutut sampe lecet !" jawab Kara enteng.


"Good girl ! gue juga kalo jadi Kara mungkin bakalan mikir sama !" jawab Raka ikut tertawa.


"Putusin aja Ra, cowok kaya dia mah banyak di emperan toko !" kekeh Arial.


"Kamvrett loe !" sarkas Milo.


"Gue juga ahh, gue mau pensiun jadi temen Milo, tapi mau minta pesangon !" seru Arial.


"Mati sono loe !" dorong Milo membuat Arial terkekeh.


"Nak Milo, nak Caramel dan nak Ayu, mungkin besok kami akan meminta keterangannya. Bisa kan besok ke kantor polisi?" tanya seorang polisi.

__ADS_1


"Insyaallah bisa pak !" ucap ketiganya.


"Nak Raka, bisa ikut sekarang? untuk keterangan pelapor?" Raka dan Jihad yang ikut ke kantor polisi. Sedangkan Ayu hanya mengalami shock sedikit, memutuskan untuk langsung bekerja saja, diantar Keanu. Arial dan Erwan memutuskan pulang.


"By, kita disini dulu ! obatin dulu luka luka lecetnya sambil makan !" ajak Milo.


Milo membawa Kara ke dalam gerai makan cepat saji.


"Aku beli obat merah sama plester dulu di mini market depan itu !" tunjuknya, kebetulan di depannya ada sebuah mini market kecil dekat bioskop.


"Iya, " Kara mengangguk.


"Mas, bisa titip pacar saya sebentar. Takut diculik lagi !" pintanya pada pegawai tempat makan. Kara sontak melotot.


"Sayang, apaan sih !" cicitnya.


"Aku kesana sebentar !" pamitnya langsung berlari.


"Mbak pacarnya ya?!" tanya pelayan itu basa basi canggung.


"Hehe, iya mas..maaf ya. Jangan di dengerin aga sedikit kurang waras !" jawab Kara meringis malu.


Milo kembali, "makasih ya mas, oh iya.. sekalian saya mau minta pesen es batu ada kan?? pake plastik aja !" ucap Milo.


Semua pesanan Milo akhirnya datang termasuk es batu, Milo membersihkan luka lecet di lutut Kara, menggunakan kapas yang dibasahi air mineral, lalu membubuhinya dengan obat merah, dan plester.


"Awas rambutnya, " pinta Milo, ia lantas menggeser letak kursinya.


"Maaf kalo ngilu !" Milo dengan pelan dan lembut menempelkan es batu itu di pipi Kara, di bekas tamparan Nina.


"Enakan?" tanya Milo, Kara mengangguk.


"Maaf ya, aku janji setelah ini mereka ga akan berani sentuh kamu lagi, bahkan hanya punya niatan aja ga akan kubiarkan."


Kara mengangguk, ia percaya Milo.


"Papah sudah menggugat cerai tante Marsya, " ucap Milo.


"Oh ya? apapun keputusan kalian. Aku do'ain semoga ini yang terbaik," jawab Kara.


"Kamu ga do'ain aku juga? aku juga lagi berusaha loh !" ucap Milo.


"Apa?" Kara mengernyitkan dahinya.


"Usaha buat jadi calon suami idaman," jawabnya.


"Iya ku do'ain, kalo calon suami idaman harus pinter juga ! karena aku ga mau punya suami oon, " jawab Kara.


"Eh, iya kamu ada kelupaan kan?!" ucap Milo.


"Apa yang kulupa?"


"Mana janjinya mau jadi guru privateku?" tanya Milo menagih janji Kara.


"Emhh, aku sibuk. Mungkin nanti aja semester 2 !" jawab gadis itu melahap kentang goreng di depannya.


"Padahal aku ga lupa loh !"


"Iya, ingetin aja..." jawab Kara.


"Apa yang aku ga pernah lupa coba??" tanya Milo.


"Belajar kan?" beo nya, polos benar gadis ini.


"Aku ga pernah lupa, kalo tiap hari aku selalu bawa namamu di akhir sujudku !" jawab Milo.


"Cih, " Kara berdecih.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2