
Untuk part satu ini bocil harap nepi nepi dulu ya ππ, meskipun tidak vulgar tapi bikin hareudang apalagi kalo jomblo.
Udara subuh memang terasa dingin, bahkan hotel mahal saja tak mampu menahan masuknya udara pagi dari celah celah jendela. Tapi Kara tak merasa kedinginan, ia memiliki selimutnya sendiri, lebih tebal dari mantel berbulu beruang kutub, ataupun bulu harimau. Dekapan Milo....
"Pagi baby, " suara serak khas orang baru bangun tidur terdengar begitu sexy di telinga Kara, tidur menempel begini membuat kesehatan jantungnya terganggu, benar kata orang apapun jika sudah sah memang terasa enak dan syahdu. Beruntung sekarang ia tak perlu khawatir lagi jika mereka berdua kebablasan.
"Morning kiss ?!" Milo sudah memonyonk kan bibirnya, bukannya disambut, Kara malah menempelkan telapak tangannya sambil tergelak, menggoda Milo adalah hobby baru untuknya.
"Kiss my hand !" gelaknya. Tapi Milo tak kehilangan akalnya, menurutnya wajah Kara pagi hari jauh berkali kali lipat lebih menggoda. Rambutnya yang berantakan, matanya yang masih bening dan polos, dan juga bibirnya yang menggoda.
Milo yang lebih kuat di banding Kara, berhasil membalikkan Kara. Mengungkungnya, jelas saja otot otot bisepnya mendadak timbul menahan tenaga Kara.
"Hayoo ! kalo dah gini mau apa ?! masih mau ledekin atau lawan?" tanya Milo menyeringai. Kara yang terpojok rupanya tak pantang menyerah. Kara menjedotkan keningnya ke kening Milo sambil tergelak saat Milo mengaduh, baru saja tertawa, Milo menyumpal mulut Kara dengan mulutnya.
Kara lupa jika Milo, sudah terbiasa dengan teknik bergulat, keningnya yang terbentur ? sudah biasa bagi atlit taekwondo.
Tangan yang awalnya berontak kini mulai melemah, tak ada perlawanan lagi dari sang lawan, defense dan serangan Milo berhasil merobohkan pertahanan Kara. Sungguh strategi perang yang bagus.
Milo melepaskan pag utan keduanya, melihat bibir Kara memerah dan sedikit bengkak, karena ia gigit saking gemasnya.
Mata Kara sayu, tapi sejurus kemudian matanya memicing tajam, membuat Milo tergelak.
"Awas ! aku mau bangun, mau siap siap subuh !" sungut Kara.
"Oke kita subuh bareng ya," Keduanya masuk ke dalam kamar mandi bergantian.
Di setiap sujud keduanya, mereka tak lupa mengucap syukur atas karunia dan rejeki yang dilimpahkan, Kara meraih punggung tangan Milo dan salim, begitupun Milo yang mengecup kepala Kara. Bersyukur Kara menemukannya. Hingga saat ini, di detik ini ia tengah duduk bersimpuh di hadapan Tuhan dengan seorang makmum yang selalu mengingatkannya jika tengah berbelok dari jalan yang seharusnya. Ia sangat bersyukur papahnya memasukkan Milo ke sekolah itu, padahal tidak sesuai keinginannya, Allah memang tau yang terbaik untuk hambanya, dengan menggerakkan hati papah Braja memasukkan Milo ke sekolah itu, sampai ia dapat bertemu dengan tulang rusuknya di kemudian hari.
"By, mau nambah pahala ngga ? biar lebih afdol ?!" Milo menaik turunkan alisnya.
"Apa ?!" tanya Kara, bahkan Kara belum membuka mukenanya, Milo sudah menggendong Kara ke ranjang yang masih berantakan.
"Eh, "
__ADS_1
Milo membuka mukena dari wajah Kara yang tampak bercahaya itu, mengecup berulang kali setiap inci kulit wajah, hingga Kara tergelak karena kegelian.
"Sayang geli !" tawa Kara.
"Aku sayang kamu !"
"Aku juga," jawab Kara.
Milo menatap lekat wajah Kara, memiringkan wajahnya menempatkan soul kissing diantara keduanya, membawa Kara menyelami rasa yang pernah mereka coba sebelumnya meskipun sebentar, bayangan soul kissing pertama mereka di taman belakang sekolah selalu mereka ingat. Semakin dalam semakin Kara dibawa melayang ke atas awan berwarna merah muda, bersamaan dengan tangan Milo yang menelusuri setiap leku kan tubuh Kara, membuka setiap penutup kemo lek an tubuh Kara, dan saat sampai di puncak gunung, Milo berhenti untuk bermain disana membuat si empunya merasakan kepakan beribu sayap di perut dan hatinya. Kara sudah terbawa ke awang awang. Suara merdu yang mengalun indah di telinga Milo menyihir Milo untuk lebih menggebu lagi, membuat otaknya semakin dimabuk ke pa yang. Entah sejak kapan mereka berdua menjadi toples seperti bayi yang baru lahir.
Milo begitu mahir soal buka membuka, Kara terkesiap melihat bentukan tubuh Milo, terkesan kekar dengan otot otot bisep liat tercetak.
"Indah, " gumam Milo.
"Aku mulai ya by, " Kara tak menjawab, hanya saja wajahnya sudah memerah seperti ceri.
Kata ahhhh saat Milo mulai menyatukan dirinya dan Kara, menjadi awal pembuka perjalanan mereka, semua rasa jadi satu bagi Kara. Sakit, perih, mengganjal bahagia, membuncah. Tapi tidak untuk sekarang, yang ada adalah rasa aneh yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Seakan Milo tengah mengajaknya mengarungi samudra cinta, mengayunkannya di lembah ke nik matan yang tak ada ujungnya.
Milo semakin menambah tempo laju ayunannya, menambah ritme yang awalnya syahdu menjadi menggebu. Hingga akhirnya mereka meledak bersama di atas puncak kebahagiaan bersama dengan sejuta rasa kepuasan.
"Makasih baby, kamulah perempuan pertama dan satu satunya yang melepas statusku, the one and only, " bisik Milo di tengah helaan nafasnya yang tersengal.
Kara, bukan lagi. Ia sudah tak bisa berkata kata dan memilih untuk kembali memejamkan matanya, meskipun ia juga mendengarnya. Seharian itu Kara lebih memilih di kamar, dan kamar memang terkunci dari dunia luar untuknya.
"Udah mirip rapunzel, " protes Kara, yang duduk di ranjang menggunakan kemeja kebesaran milik Milo sambil makan di kasur seraya menyalakan tv, layaknya orang sakit, sepaket dengan bibir manyunnya dan rambut basahnya.
Milo ikut mencomot makanan yang ada di piring Kara," makan yang banyak biar tenaganya pulih lagi !" kekehnya menyeringai melihat wajah kecut Kara.
"Masih ngilu !" sarkasnya.
Milo menyerahkan sebuah map untuk Kara.
"Apa ini ?!" Kara keheranan.
__ADS_1
"Buka aja, " Kara membuka map berwarna hijau itu, halaman pertama nama hotel beserta luas tanah dan bangunan halaman kedua, ia membekap mulutnya tak percaya, saat ia membaca ada namanya diantara deretan pemegang saham hotel itu.
"Hadiah pernikahan, bukan mahar.." ucap Milo meneguk minuman soda dalam kaleng.
"Suka?" tanya Milo melompat ke ranjang samping Kara, perempuan itu mengangguk, "makasih, apa ini ga berlebihan ?"
"Ga ada yang berlebihan untuk sesuatu yang jauh lebih indah yang kudapatkan dari kamu, " Milo memegang tengkuk Kara dan menyatukan kening mereka.
"Cintamu, "
"Temani aku hingga aku tua nanti, hingga Tuhan berkata sudah waktunya aku kembali, " hembusan beraroma mint itu menembus relung hati yang paling dalam.
Kara sesenggukan dibuatnya, tak menyangka pertemuan terkamvreett nya dengan Milo berujung semanis ini. Setiap umpatannya untuk Milo adalah do'a yang berujung pengalaman manis dan berharga untuk keduanya. Ingat betul saat Kara dan Milo bertemu pada awalnya, saat mereka saling mengucap kata tidak suka, sebenarnya Allah tengah menguji perasaan keduanya.
Hubungan yang diawali dengan perjanjian pacar adopsi berujung menjadi hubungan manis antar kedua manusia yang saling menyayangi.
.
.
"Sekali lagi baby ?!" tanya Milo berbisik.
"Apanya ?!" Kara menatap dengan bola mata paling indahnya.
Milo mengalungkan kedua tangan Kara ke lehernya lalu menyerang Kara dengan cintanya.
.
.
.
.
__ADS_1
Terimakasih atas dukungannya selama ini, maaf kalo banyak typo bertebaran ataupun alur yang tidak sesuai ekspektasi, kesempurnaan milik Allah dan kekurangan jelas ada pada mimin, peluk cinta dari Mimin dan keluarga pacar adopsi jangan lupa mampir di karya lainnya ya πππβ€