
Kara sudah dari jauh jauh hari mengepack keperluannya termasuk hal hal kecil sekalipun, gadis ini memang termasuk gadis yang perfeksionis dan detail. Jadi hari ini memang sengaja ia khususkan waktunya untuk ia habiskan bersama Ica. Bahkan Milo pun ia larang untuk datang hari ini.
Ica sudah datang sedari pagi, sepaket dengan wajah sembabnya. Yup ! ia mewek semalaman, karena ditinggal Kara sama saja ditinggal kekasih hati, Ica dan Kara berteman sejak smp, Kara pindah di tahun ketiga, lalu mereka bertemu lagi di sma.
Kebersamaan mereka sudah seperti saudara kembar. Dimana ada Kara disana ada Ica.
"Ra, " Ica sesenggukan.
"Ca, ihhh ingus loe itu jangan dipeperin kemana mana !" ujar Kara, mengusap kasar ingus Ica dengan tissue.
"Ra, gue pengen ikut ! tapi imposibble !" ucapnya.
"Gue masih di muka bumi, Ca ! ga selamanya, cuma 4 tahun, ortu gue aja ga sampe mewek kejer yang sama gue dari orok ! nah loe ?" tanya Kara.
"Kalo ga ada loe, gue gimana Ra? kemana mana gue sama loe, kalo gue ada apa apa pasti loe ada, " jawabnya.
"Makanya sekarang loe mesti bisa apa apa sendiri, Ayu kan ada..Amel, Vanya ada...loe samperin lah mereka, " Kara sudah kembali memberikan lembaran tissue pada Ica.
"Ayu ga asik ahhh, ga bisa canda, ga satu frekuensi otaknya sama gue !" jawab Ica.
"Vanya sama Amel juga, " jawab Ica.
"Kalo loe mau cari yang satu frekuensi mah di rsj, yang sama sepemahaman sama loe cuma orang kurang waras !" jawab Kara.
Ica tergelak di tengah tangisnya, "loe mah gitu !" Ica menoyor kepala gadis jenius ini.
"Ya lagian loe nyarinya yang bar bar sama kurang waras kaya loe, ya ga akan nemu !" Kara ikut tertawa.
"Gue mau ngabisin hari ini sama loe, nge mall yuu ! gue mau abisin tabungan gue hari ini !" ucap Ica menghapus air matanya.
"Ga malu, tuh mata sembab? kaya abis kena kdrt ?" tanya Kara.
"Tinggal pake kacamata sampe mata gue berkurang sembabnya, " jawab Ica.
"Ya udah, ayooo !" jawab Kara.
Kedua gadis ini sudah berada di dalam sebuah mall, dengan menaiki taksi online.
Kara melirik lirik ke sampingnya, ia sedikit kurang srekk.
"Ca, ini kita pas banget tau ngga?!" dari tadi Kara ingin berkata ini.
"Pas apanya ? ko hari ini gelap Ra?" kekeh Ica.
"Si kamvreettt, gelap lah ! loe pake kacamata item di tengah hari gini !" Kara menoyor Ica yang tergelak.
"Pas apaan?"
"Pas banget kaya si buta sama tenyomnya, " jawab Kara, Ica tergelak dan membuka kacamatanya, terlihat jelas matanya masih sembab.
"Loe pake mewek lagi ahh, udah gede juga !"
"Toilet bentar yu, " ajak Ica. Kara mengangguk saja setuju.
"Duh mata gue, pake apaan ya Ra ?" Ica memegang lingkaran sekitar matanya yang masih terlihat sembab.
__ADS_1
"Pakein perban !" jawab Kara asal.
"Sembarangan ! emang gue buta !"
"Ya udah lah entar juga ilang ! makan yu ! kali aja abis makan sembabnya ilang," jawab Kara.
"Bentar ahh malu, "
"Ini kalo kita jauh jauh ke mall cuman mau ke toilet ngapain harus capek capek kesini, di rumah gue juga toilet mah ada !" Kara menarik Ica keluar dari toilet.
"Udah lah, palingan juga orang orang yang liat, ngira loe abis diputusin pacar !" ujar Kara.
Keduanya memilih masuk ke dalam gerai makanan cepat saji. Keduanya memesan makanan pilihan mereka.
Kara memberikan kartu atm, bukan miliknya.
"Ra, tumben punya atm ?" tanya Ica.
"Kalo atm baru dibikinin, soalnya kan biar ibu sama ayah gampang kirim uang nantinya. Tapi sayangnya yang ini bukan punya gue, ini kartu kredit punya Milo !" kekeh Kara.
"Hah??! sejak kapan loe berani morotin ka Milo?" tanya Ica.
"Enak aja, dia sendiri ko yang dengan sukarela ngasihin kartu kreditnya, maksa malahan ! ya udah sii, rejeki ga boleh ditolak kan ? katanya buat hari ini, selama dia ga ngikut bawa aja sebagian dari dirinya sama gue, biar dia tau gue kemana aja belanja apa aja seharian ini !" jawab Kara.
"Hm, masih aja dipantau, kaya tahanan kota !" decih Ica.
"Udah makan ! jangan ngomel di depan makanan, nanti ga berkah !" jawab Kara.
Selesai makan kedua gadis ini menghabiskan waktunya berkeliling untuk bermain dan berbelanja mengobrak abrik mall ini.
"Ca photobox yuu ! biar ada kenang kenangan !" ajak Kara. Mereka juga membeli barang barang pernak pernik yang mereka pikir lucu meskipun minim faedah.
"Besok loe berangkat jam berapa ?" tanya Ica.
"Jam 7 pagi, "
"Pagi banget ?!" omel Ica yang menghentikan sedotannya di minuman berbobba nya.
"Kan biar nyampe sana ga terlalu malem, "
"Berarti loe dateng ke bandara jam berapa ? gue masih tidur Ra, "
"Jam 6 udah di bandara, gue berangkat jam 5, loe kalo mau anter gue nginep aja !" jawab Kara, Ica mengangguk, benar seharian ini Ica memang menghabiskan waktunya bersama Kara, bahkan tidur pun Kara digelayuti makhluk gemoy satu ini.
**************
Meskipun sudah seharian kemarin menangis, air mata Ica kembali meleleh melepas sahabatnya ini pergi jauh untuk mengejar pendidikannya di London.
"Loe jangan sampai lupa jalan balik Ra, bawa oleh oleh mau salju pun ga apa apa, asal judulnya oleh oleh aja, biar gue bisa sombong sama orang orang di kampung, kalo gue punya temen yang kuliah dan tinggal di LN, " Ica sesenggukan.
"Iya ntar gue bawain es satu truk, biar loe bisa bikin usaha es kepal, " jawab Kara.
"Loe hati hati di negri orang, jangan lupa makan, jaga kesehatan karena disana susah cari orang yang bisa kerokan !" petuah Ica.
"Iya ah bawel !"
__ADS_1
"Loe juga hati hati disini, waras dulu deh buat sekarang sekarang, biar hidup loe ga susah !" ucap Kara.
"Ka Milo, titip temen gue, jangan dijual ke Ratu Elizabeth !" ucap Ica, Milo tertawa renyah.
"Hahahah, ini duo kamvreet tetep aja somplak !" gumam Arial.
"Ko gue miris gini ya, ga akan jadi duo lagi dong kalo yang satu pergi," Erwan berujar membuat yang lain ikut merasakan aura kesedihan.
"Iya Ca, tenang aja. Temen loe bakalan gue jagain, kalo bisa gue kekepin tiap hari !" jawab Milo merangkul Kara.
"Ibu, " rengek Kara seketika pelupuk matanya buram dan tergenang.
"Hati hati disana, belajar yang bener, pintar pintar jaga diri, jangan lupa makan, sholat dan yang terpenting kabari ibu sama ayah tiap waktu !" ucap ibu mendekap Kara, sebenarnya ia tak kuasa melepas anak semata wayangnya mengenyam pendidikan di negri orang.
"Iya bu, ibu sama ayah jaga kesehatan, "
"Tenang saja bu, pak..disana selain ada Milo, ada Jihad, ada pula orang orang saya yang menemani Kara, " jawab om Braja, beliau sampai ikut mengantar kedua muda mudi ini ke London.
"Terimakasih pak, " jawab ayah Kara.
"Caramel, " ayahnya merentangkan tangannya daan memeluk anak tunggalnya.
"Kembalilah dengan gelar sarjanamu nak, ayah dan ibu akan terbang menyusul saat mendengar kamu siap memakai toga, " ucap ayah.
"Iya yah,"
"Hati hati, jaga kesehatan, jaga diri, dan jaga sholatmu !" ucap ayahnya lagi.
Panggilan untuk penerbangan yang akan Kara dan Milo naiki sudah menggema keras. Kara merapikan kopernya. Dan mereka memeluk Kara sebagai tanda perpisahan.
"Hati hati Ra, " Ayu dan Ica memeluk Kara untuk terakhir.
"Kara berangkat bu, ayah..assalamualaikum !" Kara mengecup punggung tangan kedua orangtuanya.
"Ca, Yu gue berangkat !"
"Ka Raka, ka Rial, ka Kean, ka Erwan, gue berangkat ya !" pamit Kara. Raka dan yang lain bergantian memeluk Kara, untuk pertama kalinya mereka bisa memeluk gadis ini tanpa amukan Milo, benar...Kara memang nyaman untuk dipeluk, aroma gadis ini begitu menyenangkan penciuman dan hangat.
"Udah ga usah dilama lamain !" tangan Milo sudah menjauhkan Kara nya.
****************
Kara yang baru pertama kali naik pesawat, merasa aneh sekaligus excited.
Wajahnya tegang dan pucat, tangannya mendingin. Milo tersenyum menoleh, tangannya meraih tangan Caramel.
"It's okey baby, aku ada disini. Relax aja !" Milo menarik kepala Kara untuk bersandar di bahunya dan tangan Kara yang ia genggam.
Tangan gadis itu meremas tangan Milo saat pesawat take off.
.
.
.
__ADS_1
.
.