Pacar Adopsi

Pacar Adopsi
Dispensasi


__ADS_3

"Do'ain ya by !!" ucap lelaki ini.


Susah susah ijin pada guru sampai sampai Kara harus menahan malu, kala guru pengajar di debat Milo, hanya untuk 3 kata ini. Give applause untuk pemuda satu ini, menantang maut versi Milo, kalau kata si kotak kuning Hidup ala Larry lobster, menantang maut demi sebuah tantangan yang mendebarkan jiwa.


30 menit sebelumnya.


Tok..tok..tok...


"Assalmualaikum !!" seorang pemuda tampan dengan baju seragam yang keluar dari celana dan tas yang di sampirkan di sebelah bahu, mengetuk pintu kelas Kara.


"Armillo, ada perlu apa kesini? bukankah kamu kelas XI ?" tanya bu Farida.


"Iya bu," tanpa permisi ataupun ijin, pemuda ini menyelonong masuk seperti kelas ini ruangan miliknya sendiri. Ia berbisik pada bu Farida meminta ijin. Bu Farida mengerutkan dahi, kalau bukan anak komite sekolah, mungkin bu Farida sudah melayangkan penghapus white board ke kepalanya.


"Maaf adek adek.. minta waktunya sebentar, saya atas nama kapten basket SMA Xxxx meminta do'a dan dukungannya agar tim basket kita jadi juara lagi!"


"Aamiin !!"


Bu Farida bertanya pada Milo, "apakah sudah orasinya?" tanya bu Farida,


"Udah bu, tapi sebenernya tujuan utama saya kesini bukan untuk orasi minta dukungan !" jawab Milo.


Bu Farida bengong, sepertinya hak sepatunya cukup untuk menampar anak bau kencur satu ini, lalu buat apa tadi meminta ijin untuk minta dukungan, bu Farida tak bisa berkata kata selain memaklumi.


"Lalu apa tujuan utama kamu? kenapa bukannya tadi langsung saja to the point? kelas ini sedang belajar Milo !" geram bu Farida. Kira kira jika hari ini ia menampol wajah tampan Milo, apakah keesokannya sekolah akan langsung bangkrut? bu Farida terkenal akan julukannya guru dengan penggaris besi, kemanapun ia berada maka penggaris besi selalu ada di tangannya untuk menghakimi siapa saja murid yang bandel.


Bu Farida sudah meraih senjata pamungkasnya, hanya tinggal satu kibasan maka vant@*t Milo menjadi samsak tinjunya.'


Kara sudah meringis menahan cemas, ingin rasanya ia memanaskan otak Milo agar encer, dan berfikir bijak. Ia kehilangan fokus untuk mengerjakan tugas, Ayu dan Ica melirik Kara.


"Saya mau minta restu dan do'a nya sama calon mamah anak anaknya saya bu !" ucap Milo tanpa ragu. Kara sudah menunduk menutup wajahnya.


"Eaaaaaa !!" sorakan teman sekelasnya,


" Pletak...pletak !!!" suara penggaris besi memukul permukaan datar meja kayu, para siswa tercekat kaget sekaligus takut.


"Diam berisik !!!"

__ADS_1


"Milo ! kamu mengganggu jam pelajaran saya hanya untuk hal konyol yang tidak penting??!!" tanyanya menaikan nada oktafnya.


"Cih, ibu nih gimana si ! ibu sudah menikah kan?? kalo suami ibu tiba tiba pergi tanpa pamit dan meminta do'a bagaimana perasaan ibu? lalu apakah perjalanannya akan barokah? karena setau saya rejeki suami itu atas restu dan do'a istri bu !" jelas Milo sudah bosan hidup.


Mata bu Farida berkilat kilat, jangan mendalilnya dengan bab ridho istri. Ia hafal betul akan itu, perjalanan rumah tangganya sudah 17 tahun.


"Saya sudah menikah, dan itu memang betul. Tapi apa hubungannya sama kamu ? kamu belum menikah ? tidak akan berpengaruh, Milo !!!" ia berkacak pinggang,


"Ibu, ibu.... jelas ada lah, do'akan ya semoga selulus nanti kami menikah ! berarti kan dia calon istri saya bu, maka rejeki saya juga atas ridho dan restunya !"


Memang susah mendebat anak dengan status calon CEO, tapi dengan kekonyolannya macam begini, mau dibawa kemana perusahaannya?? ke jurang ??!!


"Baru calon kan? belum sah??!!" bu Farida geram dengan menggertakan giginya menekankan nada di kata kata terakhirnya.


"Makanya ibu aamiin kan, siapa tau besok lusa sah, jadi sekarang latihan saja dulu bu, biar besok besok tidak lupa !!" kekehnya. Hampir semua temanku sudah mengulum bibirnya menahan tawa, sepertinya sisa waktu pelajaran akan dihabiskan untuk menyaksikan debat antara bu Farida dan Milo.


Bu Farida sudah mengatur nafasnya, menghadapi Milo memang butuh kesabaran ekstra. "Ibu sesak nafas bu?? atau ibu akan melahirkan??" tanya Milo dengan polosnya.


"Seenaknya kamu bicara, saya tidak punya penyakit asma, saya juga tidak sedang hamil !!" jawabnya.


"Saya sudah telat bu, saya mau ijin dulu !!" ucapnya meninggalkan bu Farida dengan semua emosinya yang sudah memuncak, berjalan mendekat ke arahku.


"Dari tadi juga saya sudah menyuruh, tak usah bertele tele, cepat selesaikan urusanmu dan keluar !!" pekik bu Farida.


"By, minta do'a dan restunya ya !!" ucapnya singkat sambil mengacak rambut Kara gemas dan beralih mencubit pipinya.


"Cieee !!!" sorakan yang lain, Kara mengangguk saja tak mampu berkata kata, benar julukan siswa lain tentang Milo, ia memang seorang legenda yang patut di acungi jempol, keberaniannya tak ada yang menandingi.


"Diam !!"


"Pletak !!!" penggaris itu kembali memukul permukaan meja.


"Bye by, belajar yang bener, nanti pulangnya akan ada Iwan yang jemput dari kelas XI IPS, inget hanya pulang bareng Iwan !!" ucapnya mewanti wanti. Ia menjauh, "bu, jangan marah marah..ibu itu cantik. Nanti luntur cantiknya kalo ibu marah !" ucap Milo mengedipkan matanya sebelah.


"Milo !!!" pekik bu Farida, Milo langsung ambil langkah seribu sambil berteriak, "Assalamualaikum !!"


"Hahahahah !!"

__ADS_1


"Darah tinggi saya kumat ini kalau menghadapi anak ini setiap hari !" gerutunya.


"Hofff !! " belum juga menyelesaikan pelajaran yang ia berikan bel sudah berbunyi.


"Astagfirullah !!" ia menghela nafas lelah.


"Oke anak anak kita lanjutkan saja di pelajaran berikutnya, berdo'a saja supaya yang seperti tadi tidak terulang !" ucap bu Farida frustasi, membereskan buku bukunya. Termasuk murid murid sekelas.


Pergantian jam pelajaran pertama, guru belum masuk ke kelas, membuat para siswa malah sibuk bolak balik keluar melihat tim basket sekolah yang menyiapkan kebernagkatannya bersama tim cheers. Keberangkatan mereka di lepas bak melepas prajurit ke medan perang. Kara melongokkan kepalanya di jendela yang terbuka sedikit. Melihat tim basket dan tim cherrs yang sudah siap masuk ke dalam mobil van milik sekolah. Disana ada Milo juga, ia bak pangeran yang di elu elukan oleh semuanya, tak lupa Nina and the genk begitu cerianya bisa pergi bersama sang pujaan hati yang enggan di dekati tanpa ada gangguan dari siapapun.


"Hey guys !! kata pa Dirwan bawa buku paket dari perpus, oooyyy !! denger ga sih, malah sibuk liatin yang mau tanding !!" pekik Jihad tak ada yang mendengar, ketkel ini kesal melihat kelakuan teman temannya.


"Udah ga usah marah marah, yu gue bantu !!" ucap Kara menepuk bahu bintang tik tok ini. Aneh nya pemuda yang tak pernah absen membuat konten kekinian itu dipilih jadi ketkel.


"Ra, Ji !!! ikut !!" pekik Ayu.


"Ra, loe ga ngenes apa liat ka Milo pergi sama tim cherrs, setau gue ka Milo sempet ada skandal sama salah satu anggota cherrs yang cantik itu !" ucap Jihad, Kara menaikkan alisnya.


"Siapa? Nina?" tanya Kara.


"Bukan, ka Juwita!" jawab Jihad, jika tentang update siswa siswa eksis Jihad memang jagonya.


"Tuh orangnya !!" tunjuk Jihad memakai dagunya.


Kara mengarahkan pandangannya pada arahan dagu Jihad, seorang gadis cantik yang baru Kara tau, kenapa selama ini ia tak pernah melihatnya, paling paling hanya ada Nina, Moni dan genknya.


Memang gadis itu sangat good looking, tampilannya pun modis, cocok bersanding dengan Milo. Milo pun terlihat akrab dengannya, tiba tiba Kara merasa hatinya panas.


"Kalo mereka jadian juga gue ga apa apa, mereka emang cocok !!" Kara mempercepat langkahnya meninggalkan Jihad dan Ayu,


"Peakkk loe !!" Ayu menyenggol lengan Jihad dan menepuk punggungnya, sambil berlari menyusul Kara.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2