
Ica tergelak puas melihat wajah menunduk Kara. Ini dia yang ia sebut pacaran membuatnya tidak bisa bebas berekspresi.
"Ga nyangka Mil, ini duo kamvret bintang pantura !" kikik Arial.
"Enak aja !" jawab Kara.
"Apa loe bilang ka, duo kamvreet ?!" Ica yang ingin meraih dan menjambak rambut Arial, tapi dihalangi Jihad.
"Mau ngapain?!"
"Ka rial jahat sama gue, daddy !" adu Ica.
"Diem, udah dikasih duit, anteng aja disini !" Jihad menarik Ica untuk duduk di sampingnya.
"Ca, bagi 2 ! jajan es jeruk ! biar ga seret !" Ica mengibas ngibaskan uang pemberian Jihad.
"Wihhh, keren lah kalian. Kenapa ga jadi biduan dangdut aja !" ucap Amel.
"Ga boleh !" tolak Milo duluan mendekap tangan Kara.
"Ogah !!" sarkas keduanya.
"Dicolek colek gitu, no way ! di sawer aja mesti di pepet pepet, " jawab Ica jumawa.
"Ntar kalo gue hajatan manggil loe berdua aja deh, buat jadi artis nya !" jawab Vanya.
"Wani piro ? kalo gue ga masalah, kalo Kara, loe berani minta ijin sama ka Milo?" tanya Ica., Vanya meringis.
"Kara, Ica," panggil Bu Wilam. Bukan hanya keduanya saja yang menoleh, tapi juga semuanya.
"Iya bu, "
"Suara kalian bagus, berbakat juga..ga punya niatan buat gabung di ekskul musik ?" tanya bu Wilam.
Milo menatap tajam pada Kara sambil menggelengkan kepalanya. Jihad, Raka dan Kean melihatnya tertawa.
"Kekepin aja sendiri Mil !" bisik Raka.
"Hehehe, Kara takut ga bisa konsisten pasal waktu bu. Soalnya ngajarin anak anak les juga, " nyengir Kara.
"Oh gitu, sayang banget !" jawab bu Wilam.
"Ada duitnya ga Ji, kalo engga mah gue ga mau ahh, " bisik Ica pada Jihad.
"Duit mulu, nanti gue kasih sekarung buat loe bikin baju tuh duit !" jawab Jihad.
******************
Hari senin datang, Kara dan yang lain sudah bersiap untuk melaksanakan upacara bendera, tampilannya layaknya paskibraka kenegaraan, pin garuda dan bendera Indonesia sudah tersemat di peci/topi paskibranya dan kaki kerah kemejanya. Sarung tangan putih terpasang di tangannya berikut rambutnya yang di kepang dan di sematkan. bendera merah putih menutupi leher putih mulusnya. Mereka tengah bersiap siap menunggu waktu dimulai.
"Gugup gue !" ucap Amel. Jihad membagikan permen di ruangan paskibra.
"Gue...gue..!" Ica sibuk mengambil permen. Berharap bisa mengurai kegugupan.
"Guys 5 menit lagi, yu keluar !" ucap Dion.
"Udah kaya pramugari gue !" ujar Ica. Ica tak mau diam, ia sangat gugup, padahal seharusnya para petugas pengibar lah yang gugup.
Kara keluar, mendadak nyalinya ciut dan pucat melihat para guru dan semua murid.
Upacara sudah dimulai. Ica yang gugup malah tak mau diam. Alhasil ia tersedak permen yang tengah ia 3mut.
"Uhukkk, njirr !! Mel gue keselek permen !" Ica memegang dadanya.
"Loe ada ada aja ahh Ca !" jawab Amel. Amel berlari ke arah Kara saat Kara menanyakan Ica kenapa dengan gestur wajahnya.
"Ra, Ica keselek permen !" jawab Amel, sebelum semuanya terlambat Kara berbalik ke arah Ica.
"Itu Kara balik lagi mau kemana ?" bisik Erwan. Rupanya Kara membantu Ica dengan menepuk nepuk tengkuk Ica. Jihad mengusap wajahnya kasar.
"Si Ica, "
Pluk !!! permen berwarna merah terjatuh dari mulut Ica.
"Aahhh, alhamdulillah !"
"Loe ada ada aja ! ga usah bertingkah kenapa si Ca !" Kara kembali ke tempatnya.
"Thanks, " Ica nyengir
Upacara dimulai, semua berjalan dengan baik dan lancar.
__ADS_1
"Breetttt !!!" Kara membentangkan bendera dengan sempurna, Lagu Indonesia Raya mengiringi penggerekan bendera hingga berkibar di langit sekolah ini. Kepala Sekolah tersenyum puas begitupun pak Rian. Hingga tak lama pandangan Kara begitu kabur, badannya oleng.
"Caramel !!!" Milo berlari dari barisan peserta upacara, menyongsong Kara. Padahal gadis itu sudah di ambil alih oleh tim PMR dan teman teman yang lain.
Kara mengerjap beberapa kali saat tercium bau minyak kayu putih yang menyengat di depan hidungnya.
"Hey, by..." Sejak tadi pagi badannya memang sudah tidak enak, ibunya malah menyuruhnya untuk tidak bersekolah, Kara memang memiliki penyakit anemia. Mungkin karena aktivitasnya yang padat, membuatnya jadi sakit.
"Aku udah bilang ga usah masuk hari ini, apalagi ikut upacara, " ucap Milo.
"Aku ga apa apa, amanah itu harus di jalanin yank," jawab Kara, bibirnya memucat.
"Pak Rian udah ijinin buat pulang, tadi aku ngomong sama guru, kalo kamu lagi sakit, "
"Pulang yu, aku temenin bolos ! aku mau jadi nanny sampai kamu sembuh !"
"Kara !!! my baby !!! selir gue !!" seru Ica.
"Loe sakit ko ga bilang sih !!" Ica menempelkan punggung tangannya di sekitaran kulit Kara.
"Ga usah semuanya di pegang juga Ca, " jawab Kara lemah.
"Nih tas loe Ra, pulang...istirahat !!" ujar Jihad.
"Makasih !" Kara di bawa Milo untuk pulang.
Milo merawat Kara layaknya suster merawat pasien.
"Kalo susternya seganteng ini, aku mau dirawat di rumah sakit tiap hari !" kekeh Kara.
"Kalo mau tiap hari sama aku, nikah muda yuk ! biar bangun tidur yang pertama kuliat bukan guling, tapi kamu !" kekeh Milo sambil menyuapi Kara.
"Udah ahh, " jawab Kara.
"Sekali lagi, buruan by ! ini pesawat mau lepas landas !" bujuk Milo.
"Engga mau, kamu aja yang nelen tuh pesawat !" jawab Kara menutup mulutnya, bila saat sehat Kara selalu rakus lain halnya dengan saat sakit.
"Makasih, " ucap Kara menggenggam tangan Milo.
"Sama sama, sekalian gladi resik !" ucapnya.
"Gladi resik kalo istri sakit !" kekehnya.
**************
Semester 2 sudah dilalui tanpa terasa, Milo dan kawan kawan menyandang status kelas XII dan Kara juga teman teman kelas XI.
Bila awal masuk sekolah begini, anak anak OSIS sudah pasti akan sibuk dengan persiapan MOS. Namun bedanya, jika dulu Milo mencari mangsa baru untuk ia bully lain halnya jika sekarang, bisa dikatakan badboy insyaf, dan sudah menemukan tambatan hatinya. Hubungan mereka sudah berjalan 1 tahun, bukan tanpa godaan, terkadang Kara yang risih dengan sifat posesif Milo ataupun Milo yang sering kesal karena Kara yang selalu menguji kesabarannya. Tapi selama ini Kara belum pernah cemburu yang berlebihan seperti layaknya dirinya terhadap Kara.
Kabar the mostnya sekolah ini sampai ke luar sekolah. Banyak calon adik adik kelas yang sudah mengetahui Milo cs. Tapi tak banyak yang tau yang mana Caramel.
"Itu tuh ka Armillo !" tunjuk mereka.
"Ih kerennya ! ganteng loh ! " puji mereka. Tanpa tau bahwa Kara berada di belakang mereka, Iwan sudah lulus, jadinya Kara berangkat bersama Ica dan Ayu. Milo tak sempat jika harus menjemput Kara dahulu, Jihad pun sudah di dapuk menjadi ketos selanjutnya setelah Raka.
"Ra, ga pengen tampol tuh anak anak ganjen ?" tanya Ayu.
"Biarin aja lah ! gue males urusan sama yang kaya begituan, " jawab Kara yang berjalan menuju kelasnya.
"Temen gue mah kelewat santuy !" ucap Ica.
"Kalo gue, udah gue sumpal pake daun tuh !" tunjuk Ica pada pohon mangga.
Di setiap angkatan pastilah ada the most nya tersendiri, begitupun dengan angkatan para adik kelas ini. Seakan tradisi ini terus saja turun temurun, ada yang menjadi bintang ada pula yang tersisihkan seperti Kara dulu, alias murid yang selalu menjadi bahan bullyan.
"Ga pengen nolongin ?" tanya Kara pada kedua temannya.
"Dulu aja loe ga ada yang nolongin kan Ra?" tanya Ayu.
"Siapa nama loe ?" tanya Kara melihat name tagnya asma akut dan menghampirinya.
"Astri kak, "
"Astri, loe ga boleh berkecil hati. Loe sekolah disini bayar kan ? tunjukkin kalo loe pun punya kelebihan, masalah bullyan mereka.. selama masih dalam batas wajar ga usah di dengerin, kalo sudah main fisik dan keterlaluan loe bisa aduin sama pihak sekolah ! kuatkan mental, jadi cewek tangguh memang ga mudah, tapi percaya deh loe pasti bisa !" ucap Kara sebelum akhirnya Kara berlalu bersama Ica dan Ayu. Astri memandang tersenyum pada Kara.
Gaya Kara sudah tak secupu dulu, sedikit demi sedikit ia mulai berubah, walaupun tetap saja kacamata bulat bertengger manis di hidungnya, yang justru menjadi pelengkap kecantikannya.
"Kaya biasa ! gue paling ga suka nih perploncoan kaya gini, " ucap Kara duduk di pinggir lapang memperhatikan para anggota OSIS beserta para peserta MOS, kesibukan sekolah ini sangat terlihat jelas, sedangkan Kara hanyut dalam pikirannya sendiri, mengenang masa masa MOS dulu. Ia menggelengkan kepalanya lalu kembali fokus pada buku yang ia pegang, nilai raportnya harus selalu bagus untuk tetap menjadi kandidat penerima beasiswa.
Matanya melihat para kumpulan siswa baru yang berpakaian modis tengah memandangi kagum Milo, malah terkesan cari cari perhatian.
__ADS_1
"Ra, calon saingan loe tuh !" tunjuk Ica menyenggol bahu Kara.
"Hay girls, sugar baby gue !!!" seru Jihad mengacak rambut ketiganya.
"Ihh, Ji ! ga usah di acak acak ihh !" omel Ica.
"Kantin yu !" ajak Ica.
Mereka berjalan sambil bercanda dan tertawa.
"Dughh !"
"Ehhh !" Ica bertabrakan dengan seorang gadis yang masih memakai seragam putih biru.
"Maaf kak ! ga sengaja, " ia menunduk.
"Eh, iya ga apa apa "
"Ini Astri kan ?" tanya Kara.
" Eh ka....siapa namanya ?" tanya Astri mendongak berbinar melihat Kara.
"Gue Caramel, " jawab Kara.
"Gue Ica, " Ica meraih tangan Astri memaksa mengajak berkenalan.
"Ka Jihad kan ? maaf kaka boleh minta data diri sama tanda tangannya ?" tanya Astri hati hati.
"As, ga usah nunduk sawan, kaya mau ditagih utang gitu ! walaupun galak, daddy kita ini baik kok !" kekeh Ica.
"Oh iya boleh, " Jihad menyebutkan biodatanya dan membubuhkan tanda tangannya. Astri tersenyum senang, "makasih ka ! oh iya maaf mau tanya tapi jangan marah ya ka, ka Caramel ini pacarnya ka Armillo itu kan ?" tanya Astri.
Keempatnya saling melirik.
"Hahahaha, tau dari mana? bukan Caramel gue kali !" jawab Kara.
"Oh bukan ya, kirain ka Caramel yang ini, "
"Tau darimana ?" tanya Ayu.
"Jangankan anak sini kak, anak anak di sekolah luar saja tau ko. Tapi sampai sekarang Caramel yang mana belum tau, " kekeh Astri.
"Wowwww ! se terkenal itu nama Caramel ya ?!" gumam Kara.
"Tapi orangnya ga terkenal !" Ica tertawa.
"Njirrr ! sue, " Jihad dan Ayu ikut tertawa.
"Udah ahhh, jadi ngga ke kantin nih ?!" tanya Kara mengerucutkan bibirnya sambil berjalan duluan.
"Baby !!!" teriaknya.
"Kan kan mamposss loe ! ketauan boong !" ledek Ica.
"Ga usah teriak gitu yank, image kamu yang cool jadi amblas !" jawab Kara.
"Lupa by, " jawabnya.
"Pasangan sengklek, " gumam Jihad.
Astri masih bisa memperhatikan kaka kaka kelasnya itu.
"Ka Caramel emang cantik, pake kacamata bulet gitu malah keliatan cantik banget, " gumam Astri.
"Blugghhh !" Astri jatuh karena sengaja ditabrak oleh satu genk anak kelas X lainnya.
"Heh cupu ! jangan bengong di tengah jalan ! nanti loe kesambet !" ucapnya melipat kedua tangannya sombong. Astri menunduk, ia langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Ia melihat pantulan dirinya di cermin kamar mandi.
"Gue juga ga kalah cantik, kalo di kaya giniin, gue mirip ga sih sama ka Caramel ?!" ucapnya.
.
.
.
.
.
__ADS_1