Pacar Adopsi

Pacar Adopsi
Kepergok kabur


__ADS_3

Siapa sangka jika orang kaya tak pernah nakal yang receh, horang kaya juga manusia. Cuaca panas dengan angin yang bertiup sepoi sepoi juga suasana yang sepi, karena semua sudah masuk kembali ke kelas untuk belajar, sukses membuat beberapa muridnya bak di ayun ayun dalam buaian.


Jangankan seorang Milo, godaan pelajaran setelah jam istirahat itu enak jika berbekal bantal, survei membuktikan 75 persen orang Indonesia, jika perut sudah kenyang bawaannya ya ngantuk ! apalagi jika pelajarannya memusingkan bikin orang pengen jedotin pala ke meja, guru yang menerangkan seperti sedang menina bobokan.


" Bang Rak ! ngafe..." bisik Milo menaik turunkan alisnya. Segelas besar ice coffe dan satu mangkuk kue chesscake akan membuat harinya semanis Caramel.


"Syaitan !" jawab Raka, dimana ada manusia baik disitu selalu ada godaan syaitan yang terkutuk. Raka menggelengkan kepalanya, seraya kembali fokus pada penjelasan bu Wilda. Meskipun tak dapat ia pungkiri, tawaran Milo memang menggiurkan. Sebagai ketua OSIS, adalah suatu tanggung jawab untuknya memberikan teladan bagi siswa yang lain.


Jika Raka kuat iman, imannya sekokoh batu karang, tak mudah diterjang ombak, lain halnya dengan keempat pemuda lainnya. Iman mereka jauh merosot tajam terbawa debit air terjun, dan mudah sekali dihasut rayuan maut si bapak calon CEO ini.


"Bu, ijin ke toilet..cuci muka soalnya ngantuk !" interupsi Milo, bu Wilda mengangguk, ia dan Kean duluan keluar. Tas mereka biarkan disana, isinya hanya ada buku dan alat tulis saja, lagipula tak ada yang berani macam macam dengan mereka.


Milo sudah sumringah dengan Kean, selalu bisa keluar dan lolos, wajah mumpuni dan power of duit selalu bisa meluluhkan kerasnya sikap guru, dengan sedikit wajah suntuk seperti orang habis bergadang karena nontonin wayang kulit.


"Ini dia nih yang Kara ga tau kelakuan cowoknya, suka bolos !" tawa Kean renyah.


"Pelajaran Kimia bikin empet, lagian profesor sama apoteker udah banyak, salah jurusan kalo gue belajar itu ! gue ini calon CEO jadi jangan serakah pasal ilmu, cukup diambil yang perlunya saja, " ucap Milo pada Kean. Pelajaran dari bapak Milo hari ini. Mereka berjalan di lorong, tiba melewati kelas lain yang terbuka pintunya. Keduanya menunduk dan terkesan berlari cekikikan. Sudah seperti hiburan tersendiri, menguji adrenalin dan nyali. Masa masa putih abu abu tak akan datang dua kali, jadi harus dilewati dengan kesan emejing. Suatu hari mereka akan menceritakan dan mengenang masa masa gold setiap fase kehidupannya sebagai manusia pada anak dan cucunya. Jika mereka memiliki masa SMA yang seru.


Merasa sudah lolos, keduanya berjalan menuju belakang sekolah. Dimana tembok pembatas antara sekolah dan dunia luar tak terlalu tinggi, bukan tembok menara rapunzel, tak terlalu tinggi untuk ukuran mereka.


"Sutt, Ra !" tunjuk Ayu pada kedua siswa yang celingukan bak maling tabung gas melon. Kebetulan Kara dan Ayu baru saja kembali dari toilet.


"Mau kabur kayanya !" lanjut Ayu, Kara menggelengkan kepalanya. Jika hanya ia datangi dan jewer, maka lelaki ini punya 1000 alasan untuk menyangkal, tak akan membuatnya jera.


"Ra, mau kemana ?" tanya Ayu.


"Sini Yu !"


Sepulang dari toilet bukan kelas yang Kara tuju, ia malah masuk ke ruang tata usaha, dimana disana ada sebuah mic yang biasa digunakan untuk memberikan informasi tertentu untuk para siswanya, terutama masalah informasi sekolah, mic itu tersambung langsung ke pengeras suara tiap sudut sekolah.


"Assalamualaikum bu, maaf mengganggu !" Kara membungkuk hormat.


"Eh, iya ada apa ?!" tanya karyawan TU.


"Saya disuruh kesiswaan untuk menyampaikan sesuatu, dari pengeras suara itu kepada seluruh warga sekolah terkhusus siswa."


Ayu yang mengerti apa yang akan dilakukan temannya ini tertawa cekikikan.


"Ra, loe udah gila apa? " Ayu mecolek pundak Kara.


"Ngadepin orang crazy kaya Milo harus pake kegilaan juga Yu !" jawab Kara. Kalau Ica sudah pasti akan setuju dengan Kara, otak mereka satu frekuensi, sayang Ica sedang serius mengerjakan tugas. Jadi Kara meminta Ayu menemaninya ke toilet.


Petugas TU sedikit kebingungan.


"Bagaimana bu ? ada hal penting yang harus disampaikan soalnya, " melihat seorang Caramel, yang notabenenya adalah siswi berprestasi, tidak mungkin ia main main.


"Ya sudah tunggu sebentar, saya nyalakan dulu !" pintanya, Kara tersenyum lebar dan mengekor. Sedangkan Ayu terkejut, semudah itu ijin didapatkan Kara.


"Silahkan," ucap pegawai TU mempersilahkan Caramel untuk menggunakannya.


Di sudut sana Milo dan keempat temannya sudah bersiap untuk memanjat tembok.


"Ekhemm, " Kara berdehem cek suara.


"Assalamualaikum, selamat siang ! panggilan kepada saudara Armillo Dana Aditama beserta kawan kawan, silahkan kembali ke kelas, dilarang memanjat tembok sekolah dan kabur, terlebih waktu belajar masih berlangsung, " ucap Kara.


Ayu tertawa kecil, pasangan sengklek.


Sekolah yang sedang hening heningnya, membuat suara Kara dari pengeras setiap speaker semakin terdengar jelas di telinga para penikmat suasana yang tengah berjuang melawan kantuk dan soal soal dari guru masing masing.

__ADS_1


"Itu, suara siapa Mil? manggilin loe bukan sih ?" tanya Kean.


"Shittt !!!" umpat Milo.


Bu Wilda yang tengah duduk mengawasi setiap muridnya di kelas mendadak merasa terpanggil, karena Armillo adalah anak didiknya di jam itu.


Kara mengulangi perkataannya yang tadi.


Jihad tertawa saat tengah mengerjakan tugas, begitupun dengan Raka dan Ica.


"Njirr, Kara kan itu ?!" tanya Ica.


Mendadak mereka keluar kelas untuk melihat seleb sekolah yang kepergok sedang berbuat dosa besar.


"Mil, cabut..cabut....!!" pekik Arial kembali, padahal ia sudah memanjat tembok. Terpaksa mereka belingsatan mencari tempat bersembunyi.


"Itu Kara kan, Mil ?" tanya Erwan.


Milo kembali mengingat, memang rasanya ia sangat hafal suaranya. Sesaat kemudian ia tertawa.


"Awas kamu by, " gumamnya.


"Disini rupanya kalian ?! bohong ya ?!" bu Wilda menjewer keempatnya bergantian.


"Ini ide Milo, bu ! saya cuma dihasut !" jawab Arial.


"Kamvrettt ! giliran kaya gini saling tuduh," gumam Erwan tertawa.


"Empat empatnya ibu hukum !"


"Aduduh bu, awas kuping saya copot bu, " aduh Milo.


"Makasih bu, maaf mengganggu waktunya, " ucap Kara pada karyawan TU.


"Baby !!!" lirih Milo dengan mata menyorot tajam san menyeringai.


"Bye sayangkuhhhh !!" balas Kara.


"Ra, loe cari gara gara !" bisik Ayu.


"Ga takut gue, yuu balik kelas !" Kara menepuk nepuk tangannya,


"Done, beres satu !" ucapnya. Masalah nanti dengan Milo, ia pikirkan nanti.


"Satu !!!"


"Dua !!!"


Begitulah seterusnya, guru guru pun sudah bingung, hukuman apa yang harus mereka berikan untuk murid satu ini. Semua hukuman tak mempan untuknya untuk tak kembali mengulangi kesalahan.


Semua murid sekolah baru saja selesai belajar, bell pulang baru saja berbunyi, tapi mereka heboh ingin segera keluar. Bagaimana tidak keempat most wantednya sekolah sedang di hukum push up dan sit up di lapangan, di hukum dibawah teriknya matahari membuat keempatnya berkeringat, justru hal ini membuat mereka terlihat semakin keren. Banyak siswi yang menjerit gemas karena kagumnya.


"Ini kenapa heboh gini sih ?!" tanya Kara.


"Jangan kaget Ra, loe salah bikin Milo dihukum, siapkan hati dan jiwa. Kalo niat mau cingkuh daddy ada disini baby, " Jihad menaik turunkan alisnya dengan tangannya merangkul pundak Ica.


"Bini muda sama bini tua !" Ayu tergelak.


"Itu bini tua bibirnya minta disambit !" lanjut Ayu, Ica manyun..karena nilainya barusan hanya 5.

__ADS_1


"Loe salah peakkk ! tuh ga liat laki loe, malah dikerubunin diliatin cewek ?" tanya Ica menunjuk Milo dan keempat curuttt lainnya.


"Dihukum push up ? ga ada hukuman lain apa ?" tanya Kara kini malah berbalik manyun.


"Nah kan, kepanasan sendiri si konah !" jawab Ica.


Kara melesak masuk ke deretan gadis, melihat Milo yang tengah dihukum.


Milo mengedip sebelah pada Kara. Mereka tau jika Milo sudah pacaran dengan Kara. Tapi apa daya jika hati meronta ronta liat cowok keren, lagipula selama ini Kara tak pernah sampai melabrak seseorang karena cemburu.


Kara mencebik kesal, senjata makan tuan ini namanya.


Milo sedang meneguk air dalam botol, ia menyeka peluhnya. Push up 50, sit up 50 dan lari keliling lapangan hal biasa untuknya.


"Si Kara tega !" omel Arial yang mengipas ngipas badannya dengan seragam, karena ia sudah melepas seragam atasnya, menyisakkan t shirt biru dongker.


"Bukan tega, justru gue bersyukur..ada yang bantuin gue buat ngamanin sekolah, dari kenakalan lor ber4 !" jawab Raka. Juwita sudah tergelak menyaksikan ketiga laki laki ini terkapar, wajahnya merah bak ebi katsu.


"Bagus tuh loe jadiin tim tatib keamanan sekolah bang Rak, loe rekrut deh tuh si Kara !" usul Kean.


"Wah itu mah aman banget, biang keroknya cowoknya sendiri ! ga akan berani, otomatis sekolah mendadak aman, damai, sejahtera !" Juwita kembali tertawa.


"Tuh pelakunya !" tunjuk Erwan, Keanu berbaring di sebelahnya. Melihat kehadiran Kara dan cs mereka mendongak sejenak lalu kembali rebahan.


"Saat nya ngasih pelajaran untuk baby tersayang, " gumam Milo beranjak.


Caramel sepaket wajah cemberutnya malah mendatangi Raka.


"Ka Raka, besok besok kalo ngasih hukuman sama nih cowok 4 jangan push up atau sit up gitu ! keenakan mereka jadi pusat perhatian !" ketus Caramel. Raka terbengong tak mengerti.


"Ko gue, itu mah bu Wilda, " jawab Raka menyunggingkan senyuman, mencium aroma aroma cemburu.


"Cemburu !!" gerakan mulut Jihad dan Ica dari belakang.


"Keenakan atau kamu yang cemburu?" tanya Milo.


"Engga ih !!! sejak kapan aku cemburuan !" sewot Kara dengan wajah gelagapan, tak bisa menyembunyikan bahwa ia tengah cemburu.


"Gemes banget gue, gue makan juga nih !" gumam Milo.


"Udah ahh males !" Kara berbalik badan.


"Mau kemana? urusan kita belum selesai. Yang tadi suara kamu kan ?!" tanya Milo menahan gadis ini, ia tau semua trik Kara jika ketauan salah.


"Mau pulang ! ga tau, ga ngerasa !" kilahnya. Semua tertawa melihat gadis polos ini sudah terpojok.


"Hahaha, dorrrr ! ketauan, siap siap kamu Ra !" ucap Juwita.


"Itu itu kepala sekolah !" tunjuk Kara menunjuk ke arah belakang mereka, yang lain menoleh tapi tidak dengan Milo.


"Ga akan mempan lagi, kenapa? mau nyeruduk lagi ?" tanya Milo menangkap Kara.


"Nakal kamu by, bikin aku dihukum !" Milo mendekap Kara erat.


"Engap ih !!!" keluh Kara.


"Lipet aja Mil, kaya origami !" jawab Rial mengompori.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2