Pacar Adopsi

Pacar Adopsi
Rencana nonton drama


__ADS_3

Cinta karena paksaan tidak selalu berujung seperti Siti Nurbaya, begitupun Kara..Milo yang terkesan memaksa, lambat laun mulai terbiasa dengannya. Entah Kara yang kelewat pasrah, tak bisa menghindari Milo.


"By, istirahat..jangan kemana mana, makan yang banyak. Tapi jangan pake sambel lagi !" Milo mencolek hidung perosotan waterboom milik Kara, hidung kecil namun mancung.


"Iya, makasih !" ketus Kara.


"Kalo ga ikhlas ngucapin mending ga usah !" jawab Milo.


"Kata siapa?? ikhlas ko ikhlas dari lubuk hati paling dalam !!" jawab Kara menekankan kata katanya.


Milo meraih tangan Kara, ia mendekatkan tangan Kara ke depan bibirnya dan mengecup bekas infusan yang ada disana, "bukti kalo loe cemburu sama gue, cup ! sembuh ya baby," Kara segera menarik tangannya,


"Apaan sih!! ngaco !!" sarkas Kara.


"Ya udah aku pulang ya, " Milo mengacak gemas rambut Kara. Milo berbalik sambil cekikikan, ia tau apa yang terjadi dengan Kara, ia suka..tentunya bukan suka Kara yang masuk ke klinik, tapi ia suka Kara yang cemburu, walaupun tindakannya di luar batas, ia suka saat gadis itu melakukan hal konyol karena mendengar dirinya dan Juwita. Itu tandanya ada namanya tersemat di hati Kara.


Tentulah Milo tau apa yang terjadi pada Kara, walaupun raganya tak bersama Kara, selalu banyak mata dan mulut yang mau berbagi informasi dengannya.


.


.


"Eh, anak ibu sudah pulang, ko pucat gini. Kamu sakit?" ibunya menangkup wajah Kara, melihat wajah anaknya yang seperti kelelahan.


"Ibu dan ayah sudah bilang, jangan terlalu capek mengajar les anak anak. Insyaallah ayah dan ibu masih mampu membiayai kamu hingga kuliah nanti !" ucap ibu.


"Bukan bu, Kara bukan sakit karena capek ngajarin anak anak. Tapi emang Kara udah waktunya sakit aja, Kara kan manusia bukan dewa," ingin Kara jujur tapi ia tak bisa, mungkin nanti ibunya akan menertawakan kekonyolannya, sekaligus memarahinya. Oh tidak..lebih baik ia terlempar dan terasing ke planet saturnus saja.


"Kalo gitu masuk kamar, istirahat terus minum obat. Ibu ambilin !" Kara mengangguk saja, biar ibunya tak curiga jika ia sudah memiliki obat sendiri dari dokter.


Kara menghempaskan tubuhnya ke ranjang, menatap langit langit dan tertawa cekikikan sendiri,merutuki sikap konyol nya tadi.


"Udah gila kali gue, bo*doh banget sih gue !! ngapain juga mesti makan sambel satu mangkuk sampe masuk klinik!!" ia mengetuk ngetuk jidatnya sendiri sambil tertawa.


.


.


"Yakin sudah sehat?" tanya ibu, ayah seperti meminta penjelasan dengan Kara.


"Kara ga apa apa bu, ayah..cuma ga enak badan dikit aja !" jawab Kara meyakinkan kedua orangtuanya.


"Apa Milo menjemput?" tanya ayah, Kara mengernyit, bahkan ayahnya pun mengandalkan Milo. Seberapa kuat pelet Milo terhadap ayahnya. Sampai sampai tiada hari mengucap nama keramat itu.

__ADS_1


"Kenapa harus Milo sih, yah !"


"Bukannya Milo pacar anak ayah ini?" Kara cemberut, harus disebut apa hubungannya ini, ga jelas kaya rupa gado gado.


"Assalamualaikum, " baru saja di bicarakan orangnya sudah datang, kaya jel@ngkung. Datang tak dijemput pulang tak diantar.


"Eh, nak Milo..sini masuk ! sarapan bareng !" ajak ibu, sudah seperti pada anaknya sendiri, sebentar lagi Milo diadopsi jadi anak menyingkirkan Kara. Kangan sampai ada drama cinderella nantinya.


"Makasih bu, ayah !" jawab Milo berseru. Kara mengangkat kedua alisnya.


"Sejak kapan panggilan itu berubah, kemana om dan tante, kemana ibu dan bapak!!" batin Kara.


"So akrab !" decih Kara.


"Bukan so akrab by, tapi mengakrabkan diri, biar nanti waktu lamar kamu diterima !" bisik Milo.


Kara ingin segera menyelesaikan sarapannya, dan membawa makhluk dari planet merah ini pergi dari rumahnya.


"Bu, ayah..Kara pergi dulu !"


"Hati hati ya !"


"Bu, ayah.. Milo pergi ya, do'ain hari ini Milo dan tim menang biar mengharumkan nama sekolah. Do'a kan juga Kara makin sayang sama Milo !" ucapnya.


Kara heran apa isi otak lelaki satu ini, apakah isinya buku kahlil gibran, atau rayap yang sudah menggigiti otaknya, sampai sampai tindakan dan ucapannya kaya orang koslet.


"Ra, loe udah baikan kan?" tanya Ayu.


"Yu, ngapain sih pake ngomong sama ka Milo kalo aku masuk klinik gara gara...." ayolah bahkan Kara saja malu mengucapkan kekonyolannya kemarin.


"Sorry, abisnya ka Milo maksa maksa keliatan khawatir, bukan cuma gue aja ko yang ditanyain, Jihad sama Ica juga pake dikasih voucher makan gratis lagi, siapa yang ga mau !" jawab Ayu. Memang sungguh hebat mereka, dasar duo serigala..


"Ica, Jihad !!" pekik Kara.


"Oo..Ca bu bos datang ! mereka tenggelam di bawah bangku.


"Ga usah ngumpet lagian sepatu loe keliatan Ji, " ucap Kara melipat tangannya di dada.


Mereka terkekeh, "Iya Ra, mau gue pesenin baso lagi?" tanya Ica.


Kini keduanya duduk memainkan jarinya di depan Kara yang sudah menatap tajam.


"Sorry deh, Ra..lagian ka Milo keliatan khawatir, kan bukan aib juga Ra !" jawab Jihad.

__ADS_1


" Kalian ngomongnya berlebihan, coba gue pengen denger kalian bilang apa !!" tanya Kara manyun.


"Ka Milo nanya kenapa loe bisa masuk klinik, ya kita bilang aja loe makan baso pake sambel," jelas Jihad dan Ica.


"Ka Milo bukan pemuda bo*doh Ra," tambah Ayu.


"Iya Ra !!" seakan mendapat pembelaan dari Ayu, keduanya mengangguk angguk cepat.


"Iya, dia curiga ga mungkin cuma gara gara sambel sampe masuk klinik, iya bisa lah karena sambelnya satu mangkuk !!" Ica memainkan kedua tekunjuknya.


"Dia nanya kenapa, ya kita bilang aja abis denger skandal dia sama ka Juwita," ucap Jihad meringis hati hati, melihat Kara yang sudah berkilat bersiap menghujamkan panah suku sentinelnya pada Jihad dan Ica.


"Itu yang kalian so tau !!" Kara kesal memukul mukul lengan Jihad.


"Ampun Ra, ampun !!" aduhnya meminta ampun.


"Kenapa sih Ra, ga apa apa kali kan kalian pacaran toh wajar kalo loe cemburu ?" ucap Ica.


"Hooh betul, " jawab Jihad ditengah tengah aduh nya.


"Lagian gue yakin ka Milo ga seperti apa yang digosipkan, ka Milo baik ko..katanya sebagai tanda terimakasih aja kasih kita voucher makan !" ucap Ica.


"Emang ka Milo ga kasih penjelasan sama loe, Ra ?" tanya Ayu. Kara menggeleng, ia duduk "ga tau, udah lah ga usah bahas masalah kemaren !" jawab Kara. Ia tak mau harinya buruk seperti kemarin. Lelaki itu emang nyebelin, kalau memang dia tau alasan Kara begitu, kenapa tak ada penjelasan apapun untuknya. Kara cemberut, pagi cerah tapi mendung untuknya, Kara sekacau ini, kenapa cemburu bisa sekamvreet ini.


Jam istirahat siswa siswi heboh, berita kalo tim basket sekolah mereka masuk final menjadi trending.


"Ra, anak anak mau nonton babak final tim basket, ikut yuu !! sekalian nyemangatin ka Milo and the genk !!" ajak Ica, diangguki Ayu dan Jihad. Ini cowok satu nyempil terus diantara cewek cewek.


"Gue ga suka tempat rame rame kaya gitu, berisik !" tolak Kara,


"Namanya juga pertandingan Ra, kalo mau yang khusyuk mah di masjid, Ra !" jawab Jihad. Sudah pasti Kara akan bertemu dengan Juwita dan Nina.


"Masa iya Ka Nina sama ka Juwita hadir terus loe engga, Ra !" ucap Ica mengompori Kara agar ikut.


" Oke, tapi bukan karena mereka ya ! gue datang cuma buat semangatin sekolah kita, catet !" jawab Kara.


"Yeeee, iya Ra..."


"Hahaha, bakal seru nih..kalo gue rasa roman romannya nanti bakalan ada drama sinetron ikan asin !! ga tau pintu barokah !!" goda Jihad.


"Pletak !!!" Kara menampar punggung Jihad, bukan Kara yang suka mencari cari masalah di depan umum.


"Itu mah ka Nina sama ka Juwita kali, bukan gue !!" jawab Kara.

__ADS_1


"Iya, Ji yang bakal gontok gontokan bukan Kara, Kara mah pinter kaya kancil, mereka berdua berantem. Lah dia yang menang banyak pulang bareng ka Milo ! iya kan Ra? " jawab Ica, ditertawai Jihad dan Ayu


"Pinter Ica, tau aja rencana Kara !" tambah Jihad semakin membuat Kara memupuk rasa sabarnya, Kara menggelengkan kepalanya, teman teman aneh bin absurd.


__ADS_2