Pacar Adopsi

Pacar Adopsi
Sawan kan loe !


__ADS_3

Jika ada orang yang paling bahagia di dunia saat ini, Ica lah orangnya. Ia sangat excited untuk liburan di tempat berjuluk HOTEL, sampai sampai ia tak bisa tidur semalaman.


Apalagi hotel yang disediakan adalah hotel bintang lima, milik keluarga Aditama. Bukan seperti rumah susun yang sering Ica atau Kara datangi, bukan pula apartemen yang sering mereka lewati jika car free day. Banteran nginjek juga paling parkiran doang ! Kecuali Kara yang pernah menginap disana.


"Ra, sumpah demi apa ! gue bisa bebas dari bocil, kaya merpati keluar dari sangkar kayunya, " ucapnya berulang kali.


"Ga usah lebay Ca, malu maluin tau ngga ! loe udah ngomong ke berapa kalinya ini ?! kenapa ga sujud syukur sekalian? " jawab Kara, risih dengan temannya yang satu ini.


Jihad membawa mobil yang berisikan anak tim futsal putri melewati jalanan yang menanjak, rupanya hotel ini terletak di daerah puncak, tempat biasa orang menikmati liburannya.


"Gilaakk sejuk banget !" jawab Vanya, begini nih jika yang dibawa anak gadis yang tak pernah keluar dari kandang. Bawaannya semua yang dilihat adalah emejing.


"Loh ! ka Milo ga ikut Ra?" tanya Amel.


"Nyusul katanya, " jawab Kara, diantara semuanya, hanya Juwita saja yang diam menyimak obrolan mereka sambil tersenyum getir, Kara pun tak terlalu fokus karena ada hal yang ia khawatirkan saat ini, terakhir ia dengar kabar, jika semalam Milo mendatangi Rayhan. Entah apa yang akan ia lakukan.


"Ka Juwi, are you ok? have fun ka, buang semua pikiran buruk jauh jauh !" ucap Kara, memegang tangan Juwita, gadis berambut lurus sepunggung ini tersenyum nanar, "i'm ok."


Jihad melirik Kara dari kaca spion depan, sangat jelas raut tak nyaman dari Kara.


Saat ini Milo tengah berada di satu ruangan, seperti bekas gudang bersama keempat lainnya, setelah semalam ia menjadi tamu tak diundang, dan mengobrak abrik arena balapan, menyeret Rayhan, yang sudah dengan lancang mendatangi lagi Juwita untuk kesekian kalinya, memaksa Juwita untuk kembali, membuat Juwita kembali merasakan traumanya dulu. Saat kehormatannya direnggut Rayhan, karena dendamnya pada Milo.


"Gue masih berbaik hati untuk ga laporin loe ke polisi !!! tapi stop ganggu Juwita !! jangan pernah muncul di kehidupannya lagi !!" balok kayu ia layangkan di kaki Rayhan yang sudah tak berdaya, lalu membuangnya ke sembarang arah.


"Argghhhh !!" pekik pemuda itu,


"Gue bakal tanggung jawab Mil, kasih gue kesempatan buat tanggung jawab !" jawabnya.


"Loe tau !! gara gara aksi loe ini, Juwita harus masuk lagi ruang psikiater ??!! gue udah peringatkan loe dari awal Ray, jangan main main sama gue, ataupun keluarga Aditama !" ucap Milo. Rayhan diam, rasa bencinya pada Milo, rasa cemburu dan irinya pada Milo, telah menjadikannya makhluk tak memiliki perasaan.


"Dengan menghancurkan Juwita maka gue menghancurkan loe, tapi gue baru sadar, ternyata gue sayang sama dia !" ucapnya.


"Bukan karena gue takut sama loe, atau gue yang terlalu baik, tapi Juwita yang meminta agar loe ga masuk bui !" ucap Milo, sesak..disaat begitu saja Juwita masih memikirkannya, laki laki yang telah baji ngannya merenggut satu satunya harta berharga milik wanita.


Pemuda yang telah berlumur darah karena serangan Milo ini menunduk terdiam.


"Dulu loe ga kaya gini Ray, " ucap Raka.


"Loe cowok baik baik, sampai loe mengenal minuman, dan obat obatan terlarang, loe juga mengenal yang namanya persaingan dan ambisi !" tambah Kean.


"Apa yang loe cari dengan mengalahkan Milo? apa yang bikin loe benci sama Milo? apa karena Gladys?" tanya Raka.


"Jika ada sumpah paling ampuh dari sumpah pocong, gue mau lakuin itu Ray, gue tidak seperti apa yang dituduhkan Gladys, " jawab Milo.


"Gue memang salah sudah membully dia, tapi gue juga ga sangka Gladys bisa berfikiran untuk masuk ke jalan itu, di saat hari naas itu ! bukan gue pelakunya Ray, gue ga sebejat itu, " jawab Milo.


Rayhan menyukai Gladys saat masih smp, selama ini ia percaya apa yang menjadi kabar burung yang berhembus tentang Gladys yang telah digauli Milo.


"Sebaiknya loe intropeksi diri Ray, jika loe rasa, loe bisa rubah pribadi loe jadi lebih baik, loe bisa bilang ke gue, untuk temui Juwi.." Milo pergi dari sana, Arial dan Erwan membantu Rayhan untuk berdiri.


"Loe mau ke klinik atau langsung balik?" tanya Arial.


"Gue bisa balik sendiri !" Rayhan menolak tawaran Arial, berjalan tergopoh gopoh ke arah luar. Setelah duel dengan Milo, dan akhirnya ia yang terkapar, Rayhan masih mampu untuk bangun.


*****************

__ADS_1


Ica sudah melompat lompat di atas kasur berukuran king size, kasur yang tak pernah ia rasakan sebelumnya, ranjang di rumahnya saja tidak seempuk ini, malah terkesan keras dan membuat tulang punggung terasa sakit, seperti habis digebukin, "gilaaakk, kalo gini mah gue betah ! mau deh tinggal disini, biar disuruh nguras kolam renang nya juga gue mau !" ucapnya.


"Cihh, ngisinin !" gumam Ayu. Ketiganya satu kamar, hanya Ayu dan Amel yang berbeda kamar, Juwita memesan kamarnya sendiri. Kara menopang dagunya di jendela hotel yang langsung menghadap ke arah kolam renang dan taman hotel, belum lagi pemandangan yang langsung ke arah kebun teh. Benar kata Ica, betah berlama lama disini, rela jika harus jadi tukang cuci piring sekalipun. Saking memujanya, oksigen yang dihirup saja berasa kaya oksigen di hutan amazon, suegerrrr !!! otak matematikanya mulai berhitung, menerka nerka..kira kira berapa harga permalam disini, kalau dilihat lihat pengunjungnya ramai kali 10 orang saja sudah bisa membeli kambing berapa puluh ekor.


"Ci cuit....!!" bersiul.


"Hey cantik ! jangan ngelamun sendirian disitu ! nanti kesambet jin ganteng !" teriaknya dari bawah. Kara melihat ke arah bawahnya, panjang umur ! orang yang sedang dilamunkannya ada di bawah.


"Mana jin ganteng nya ?!" tanya Kara.


Milo menunjuk dirinya sendiri, membuat Kara terkekeh.


"Come to mas sayang, baby !!" pekiknya merentangkan tangannya membuat Kara malu oleh pengunjung lainnya. Kara masuk ke dalam kamarnya, hendak turun menemui mas sayangnya.


"Ini telfon bisa dipake buat nelfon keluarga di rumah ga sih?" tanya Ica. Kara menahan tawanya.


"Bisa Ca, bisa telfon raja Arab juga !" jawab Ayu.


"Loe mau nelfon siapa Ca? itu telfon buat layanan kamar !" ujar Kara.


"Maksudnya?" tanya Ica.


"Loe mau makan ga? pesen apa kek gitu ?!" tanya Kara. Jelas jika mendengar kata makan, Ica selalu jalan tol, alias gas teruss, jangan kasih kendor !


"Mau Ra ! gue mau spageti Ra, mau dibawain makan siang ke kamar !" jawab Ica.


Kara melirik jam tangannya, baru pukul 10 pagi.


"Ini jam 10 Ca, belum masuk waktu makan siang ! lagian nyusahin amat, kaya tuan putri aja mesti dianterin !" ucap Kara.


"Sekali kali ngerjain orang enak Ra, jangan kaya emak gue di rumah deh ! ngomel ngomel mulu, sdkali kali si upik abu ini kepengen jadi tuan putri kali, Ra.. " jawab Ica.


"Ra, berenang yu !" ajak Ayu.


"Gue ga bisa Yu, " jawab Kara.


"Masa ga bisa renang Ra, timbang gaya batu doang ?!" tanya Ica.


"Mati dong gue !" jawab Kara.


"Yook renang yokk !!" ajak Ica merengek pada Kara, seperti anak kecil minta digetok pake centong sayur.


"Dih apa apaan loe ! bukannya iba, malahan eneg gue !" Kara keluar kamar hendak menemui Milo yang berada di luar bersama Jihad dan keempat lainnya, Vanya dan Amel saja sudah mengeksplore hotel, masa iya dia hanya di kamar saja.


"Ayo dong Ra ! " bujuknya mengekor Kara.


"Engga Ca, " Kara memencet tombol lift dengan Ica yang mengekor, pantang mundur sebelum Kara bilang kuy !!


"Ayo dong Ra, loe kan emak gue. Anak entok mah ngikut emak entoknya !" bujuk Ica, sampai Kara memasuki taman dan kolam renang pun Ica sampai tak lihat jalanan dan fokus membujuk Kara.


"Kalo gue nyebur ke empang lele, loe ikut juga??!" tanya Kara.


"Ica kenapa by, " tanya Milo melihat Ica yang manyun.


"Bareng Ayu, sama yang lain aja Ca, gue liatin doang !" jawab Kara.

__ADS_1


"Entar gue ajarin gaya kodok be*go deh Ra !" ucap Ica.


"Hahahahaha ! yang be*go tuh loe Ca !" ujar Jihad menimpali dan duduk di kursi taman.


"Indukan kodok ga usah ikut ngomong !!" sarkas Ica pada Jihad.


"Sat !! indukan kodok ! sini loe Ca, gue lelepin juga loe ke kolam, " Jihad tak terima, mengejar Ica.


"Au nih, maksa banget ngajak berenang !" omel Kara.


"Emang kamu ga bisa renang by, " Kara menggeleng.


"Mau kuajarin?" tanya Milo.


"Nanti aja !" Kara malah melengos melihat pemandangan luar hotel yang nampak lebih indah, dengan kebun teh dan pepohonan pinusnya.


"Sayang, coba samperin ka Juwi deh, dari tadi murung terus, mau ketok pintu kamarnya, tapi ga enak takut ganggu istirahatnya !" ucap Kara pada Milo.


"Udah lama?" tanya Milo.


"Dari tadi pas waktu pertama datang, udah 2 jam yang lalu," jawab Kara.


"Kamar berapa ?"


"301, "


"Gjubarrrr !!!!" seperti dentuman bom Hiroshima dan Nagasaki, air meluber luber ke luar kolam, Raka dan Kean menggelemgkan kepalanya, namun Arial dan Erwan malah tertawa.


"Astaga, tuh bocah 2 !!" Kara berdecak. Jihad dan Ica sudah saling memasukkan kepala satu sama lain ke dalam air kolam, keduanya sama sama tercebur dalam kolam dengan masih memakai pakaian lengkap.


"Loe berdua pulang gih ! ga malu apa diliatin orang orang ?!" Kara berkacak pinggang, diatas keduanya.


"Nih nyi blorong nya, Ra !" omel Ica.


"Yah ! loe berdua ngeduluin kita mandi basah !" ucap Arial.


"Loe yang narik gue, Ca !!" Jihad menyugar rambutnya dan membuka t-shirt nya, perut dan dada yang atletis terpampang nyata, dengan air yang mengucur.


"OMG !!" Ica melongo, sedangkan Kara, Milo yang melihat segera memalingkan wajah Kara ke dalam dadanya.


"Kamu ga boleh liat punya orang duluan by, harus punyaku dulu !" ucap Milo.


"Ji, ah elah !! jangan bikin kesan pertama buat cewek gue !" omel Milo.


"Saaloh !!! mata gue !! ternodai !" ucap Ica. Arial tertawa puas melihat Ica melongo.


"Ngakak si Ica, " gumam Kean menggelengkan kepalanya.


"Lebih ngakak temen loe Kean, " tunjuk Raka pada Milo yang mendekap Kara, seperti ayah yang melindungi anak gadisnya dari godaan syaitan.


"Sawan kan loe, makanya jangan sebut gue nyi blorong, kalo loe ngiler liat gue !" kekeh Jihad keluar dari kolam renang dengan bertumpu pada pinggiran kolam renang.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2