
Disinilah Kara saat ini, tidak Milo tidak temannya sama sama pemaksa. Kara mengalami kram perut, dan diare akut, tak mungkin Kara bilang ini pada kedua orangtuanya. Karena aksi konyolnya hanya akan membuatnya malu seantero jagat bima sakti.
Apa kata dunia? jika gadis dengan gengsi dan image selangit bertindak konyol, sakit hanya gara gara menenggak hampir semangkok cabai dalam kuah bakso, besok besok mungkin ia akan mengambil formulir pendaftaran anggota debus, lengannya lurus tak dapat bergerak bebas, ia harus mendapatkan cairan infus untuk membuat badannya bisa kembali bertenaga. Akibat ulahnya tadi ia hampir saja dehidrasi.
Iwan berdiri menjaga Kara dengan menyender pada meja sebelah ranjang klinik, memainkan ponsel yang ada di tangannya.
"Loe ngapain sih Ra, sampe kaya gini?" tanya Iwan. Jangankan Iwan, Kara saja tidak tau apa yang dilakukannya, ia hanya menuruti emosi dan adrenalinnya saja. Tanpa berpikir panjang, sepanjang jalan tol. Kalau tau makan sambel bisa sampai begini, besok besok kalau marah ia akan meneguk jus jeruk saja sepuluh gelas, palingan juga pipis terus.
Pikirannya masih terusik dengan skandal Milo, ingin mencari kebenarannya tapi rasa malu dan gengsi yang sekebun jagung mengalahkannya.
Kara berbohong pada ibunya, ia beralasan mengajar les, padahal kini ia tengah diberikan cairan infus.
Tap...tap..tap...
Suara langkah kaki cepat masuk ke dalam bilik rawat Kara, seseorang yang masih memakai pakaian basket hanya terbalut jaket hoddie hitam.
"Baby, " sapanya mendekat melihat Kara penuh raut khawatir. Beberapa jam ditinggal saja, sudah masuk klinik, bagaimana jika seminggu ditinggal mungkin masuk ruang UGD.
Kara terperanjat kaget dengan kedatangan Milo, " baru berapa jam pisah aja masuk klinik, ga bisa ya kalo ga bareng aku?" kekeh Milo memegang tangan Kara.
"Thanks Wan, loe boleh pulang sekarang !" angguk Milo disetujui Iwan.
"Oke Mil, Ra gue duluan !" pamitnya.
Milo menarik kursi dan duduk di samping ranjang klinik. Seketika rasa kesal, marah dan kecewa hinggap di hati Kara. Kata siapa makan hati enaknya minum teh botol sasra, kalo makan hati itu enaknya nyemilin pondasi rumah.
Kara memalingkan wajahnya ke arah lain, demi apapun gadis ini tak ingin melihat wajah rupawan Milo. Sampai Milo berfikir apakah jatuhnya dia tadi saat bertanding membuat wajahnya jadi bonyok dan berubah??
"Ngapain disini? bukannya lagi tanding basket? pulang sana ! aku bisa pulang sendiri, ko !" ucap Kara.
Milo mengernyitkan dahinya, apa yang terjadi dengan gadisnya, perasaan saat ia pamit Kara masih baik baik saja.
" Babak penyisihan udah selesai, lanjut besok babak perdelapan final sampai grand final. Liat kamu lah, Iwan yang bilang kamu sakit di sekolah dan perlu ke klinik !" jawab Milo memegang tangan Kara, tak ada respon darinya. Mulut boleh mengatakan kalau ia tak memiliki perasaan lebih terhadap Milo, tapi sikapnya menunjukkan bahwa Kara saat ini sedang tidak baik baik saja mendengar Milo dekat dengan gadis lain.
"Menang?" tanya Kara.
__ADS_1
"Alhamdulillah, makasih do'anya ya !" jawab Milo, berbeda dengan Kara yang memiliki pikiran sendiri, bukan do'a gue yang bikin loe menang selain kemampuan loe karena disana ada Juwita juga. Kara menyendu, tapi ia tak mau berlarut larut.
Dokter masuk ke bilik rawat Kara, "setelah cairan infus habis boleh pulang ya, jangan lupa obatnya dimakan !" ucap dokter perempuan berjilbab.
Sontak Kara bangun terduduk mencari tasnya, ia berfikir apa uang yang ia bawa akan cukup membayar pengobatannya barusan. Sia sia cape mengajar seminggu ke belakang.
"Mau ambil apa?" tanya Milo, melihat Kara yang berusaha turun dari ranjang.
"Tas !" jawabnya singkat.
Milo membantunya, "makasih, " ucap Kara sambil mengaduh memegang perutnya.
"Ko bisa sampe kram perut dan diare akut gitu, abis makan apa?? nyemilin makanan sisa apa gimana?" tanya Milo, mata Kara menyipit.
"Nyemilin nasib buruk !" sarkas Kara, sembarangan saja ucapannya.
"Tadi pagi masih ga apa apa kan? makan apa dikantin?" tanya Milo lagi mendikte seolah Kara adalah terdakwa kejahatan maling kotak amal masjid.
"Kevoo ! ga usah kepo, tau ga kalo kepo bikin kamu cepet meninggal??" jawab Kara merogoh tas mencari cari dompetnya.
"Simpen dompetmu yang kempesnya kaya balon yang keabisan hidrogen !" lirih Milo menahan gerakan tangan Kara membuka dompetnya.
"Sembarangan kalo ngomong, kempes kempes gini hasil sendiri !" jawabnya tak terima.
"Iya gadis mandirinya gue !!" Milo mencubit pelan pipi chubby Kara.
"Biaya klinik udah ku bayar, " tambahnya lagi.
" Nih, aku ga mau jadi utang !" jawab Kara menyodorkan beberapa lembar uang merah dan biru, sisa sisa jejak kemakmuran dompet gadis ini.
"Engga, cukup jadi gadis manisnya kepunyaan mas sayang udah cukup buat nebus !" jawab Milo.
Kara cemberut, untuk apa lelaki ini menahannya seperti di penjara Alcatraz jika ia memiliki wanita yang lebih perfect kemana mana. Apa jangan jangan Milo punya kebiasaan buruk, senengnya koleksi cewek buat kepuasannya sendiri, Kara menggelengkan kepalanya, ternyata dehidrasi membuat otaknya tidak berfikir waras dan berprasangka buruk, istighfar Kara !!!
Cairan infus sudah habis sampai tetes terakhir, Milo masih setia menemani gadis cantik nan jutek ini. Kara bahkan sudah tertidur karena lelah.
__ADS_1
Dokter mencabut jarum dari tangan Kara, dan memperbolehkannya pulang. Kara bangun, melihat jarum jam sudah mengarah ke pukul setengah 5 sore.
Belum Kara turun, tubuhnya tiba tiba sudah diangkat oleh Milo, dan refleks mengalungkan tangannya di leher Milo.
"Eh..eh..kamu mau ngapain? turunin !" ucap Kara.
"Ga usah bawel dan berontak, kamu itu berat ! bisa anteng sampe depan motor ngga? atau mau kulempar ke ranjang pengantin?" tanya Milo membawa Kara menuju motornya. Kara yang menatap Milo jadi salah tingkah, pipinya blushing.
" Cihh, mending dilempar ke jurang sekalian !" jawab Kara.
"Oke, kalo kamu ga mau nikah sama aku nantinya aku bakal lempar kamu ke jurang !" lirih santai Milo membuat bola mata Kara membulat sempurna.
Seketika gadis ini diam tak berani berkata apapun lagi, ia selalu kalah oleh Milo.
Milo menaruh Kara diatas jok motornya, merapikan rambut Kara yang mencuat keluar dari ikatan. Menatap wajah pucat Kara.
"Kata Ayu, kamu makan bakso sambelnya semangkok?" tanya Milo, Kara gugup..Ayu rese, kenapa ia bermulut ember.
"Ga penting ! ga usah so peduli !" jawab Kara menggerutu, ciri ciri orang yang gengsinya tinggi jika ketauan belangnya ya malah berbalik marah.
"Ga usah marah gitu, malah bikin gemesin, jadi pengen cepet lulus terus lamar !" Milo menarik hidung Kara manja.
" Ngapain bertindak konyol kaya gitu??" tanya Milo geli menumpukkan tangannya di jok mengurung Kara,
"Mau uji nyali, seberapa kuat lambungku !!" sarkas Kara memajukan dan menjedotkan jidatnya di jidat Milo yang jaraknya hanya setipis kulit bawang.
"Roman romannya ada yang mulai cinta dan cemburu sama aku nih ??!!" ledek Milo melengkungkan bibirnya.
"Siapa?? ga ngerasa!!" jawab Kara, Milo terkikik. Ia menempelkan keningnya dan kening Kara, beradu hawa nafas.
"Ga usah ngeles dan jangan menghindar Caramel, sejauh mana kamu pergi, dimanapun kamu berada, dan apapun yang kamu lakukan aku pasti tau !" jawabnya.
.
.
__ADS_1
.